21 Januari 2008

Ukuran

Kemarin seorang teman harus bekerja di hari libur. Panggilan urgen untuk persiapan sebuah rapat. Beberapa hal harus diset oleh seorang Manajer yang sumber datanya berasal dari teman tadi.
Ketika materi pokok sudah dicopy, maka pesan selanjutnya adalah: jangan keburu pulang dulu, tunggu saya selesai, mungkin ada data lain yang saya perlukan. Maka teman saya dengan setia tetap berada di tempat.
Ketika sudah jam tiga sore tidak ada order lagi, teman saya mencoba cek ke ruang Manajer. Sepi. Ruang pembantunya. Juga sepi.
Beliau sudah pulang dengan tidak memberitahu teman saya, untung saja dia tidak menunggu sampai maghrib. Sebuah kesetiaan yang terlupakan oleh sesuatu yang lebih besar barangkali. Saya cuma bilang kepada teman saya yang baik tadi: Jadikan itu sebuah ukuran.
Mudah-mudahan dia melupakan peristiwa itu, tetapi tetap mengingat alat-ukurnya.

2 komentar:

  1. Aduuh, turut berduka cita atas kejadian ini....

    Semoga rekan yang tertimpa musibah ini menjadikan sebuah pelajaran, dan akan selalu ingat pada saat dia menugaskan anak buahnya kelak saat dia ada posisi manajer.

    Semoga...

    BalasHapus
  2. hikmah yang ada di balik kejadian ini: kita mendapat sebuah contoh yang perlu disikapi

    BalasHapus