17 Februari 2016

Sudah Terlalu Lama

Terlalu lama aku tidak mengisi rumahku yang satu ini.
Bukan lantaran aku tak suka lagi, tetapi entah kenapa, di sini aku merasa terlalu sepi.
Mungkin memang perlu sebuah tempat lain untuk menikmati sepi, jauh dari kebisingan yang terkadang sangat mengganggu.
Kebisingan informasi, maksudku, yang terkadang arahnya tidak jelas meskipun saling berkelindan dalam komen-komen di medsos.

Ya sudah, setidaknya aku masih punya rumah lain, di mana aku bisa merasa lebih bebas untuk apa saja, karena toh yang sudi berkunjung di sini memang para sahabat yang lebih serius, bukan sekedar untuk numpang lewat.
Meskipun, kepada siapapun yang secara tidak sengaja kemudian singgah ke tempat ini dan kemudian sudi meninggali rumahku dengan 'sesuatu', aku juga sangat berterima kasih.

Baik, rumahku tetap terbuka untuk siapapun, mari kita berbincang dan bercengkerama di sini.
Agak sepi, memang, tapi yang terpenting hati kita tetaplah ceria.

28 November 2013

Keputusan

Mike Tyson  kalah,  kemudian  memutuskan  untuk  tidak  bertinju,  dan  akan  pergi  ke Afrika  untuk  melakukan  aktivitas  di bidang  keagamaan.
Yang  menjadi  pertanyaan  adalah : Mengapa  setelah  kalah ?  Apakah  sebelumnya  dia  sudah  merencanakan : apabila  nanti  aku  kalah  maka … bla … bla … bla … Bagaimana  seandainya  dia  tidak  atau  belum  kalah  juga ?
Hidup  adalah  sebuah  kompetisi,  bahkan  adalah  sebuah  perjuangan  ( apabila  seseorang  sadar  tentang  beban  tanggung-jawab  yang  terpikul  di pundaknya ).  Sehingga  harus  dijalani  dengan  melalui  serangkaian  keputusan,  baik  yang  dibuat  sendiri  maupun  keputusan  yang  diambil  karena  ada  keputusan  lain  dari  luar  dirinya  yang  mempengaruhi  hidupnya.
Ketika  krisis  minyak  goreng  terjadi  beberapa  tahun  lalu,  ibu-ibu  pernah  memasak  tanpa  minyak,  karena  Presiden  mengeluarkan  petunjuk :  gorenglah  telor ceplok  di atas  wajan  dengan  air.  Ada  yang  mengikuti  cara  itu,  tetapi  sebagian  yang  lain  tidak.
Sebagian  orang  memutuskan  untuk  benar-benar  memasak  tanpa  minyak  goreng,  sebagian  lagi  ada  yang  membuat  sendiri  minyak  goreng,  dan  sebagian  lainnya  berjuang  untuk  mendapatkan  minyak  goreng  dengan  cara  dan  pengorbanan  masing-masing.
Namun  apapun,  keputusan  harus  dibuat  supaya  hidup  tetap  nyaman.

Masalahnya  adalah :  ada  yang  membuat  keputusan  setelah  sesuatu  terjadi,  dan  ada  yang  membuat  keputusan  karena  memperhitungkan  bahwa  sesuatu  akan  terjadi.

Selamat memutuskan.

19 November 2013

Pak Tukang Las

seorang teman menceritakan pengalamannya:
kemarin dia pergi ke tukang las, dan melihat seorang 'bapak' agak berang berdebat dengan pak tukang las yang sudah selesai ngelas barang si bapak

pak 'bapak': masak ngelas begini saja ongkosnya duapuluh ribu! tahu cuman gini aku juga bisa, ngga usah minta tolong sampeyan..., itu namanya meres...

pak Las: itulah pak, bapak tolong jangan bicara begitu... kalau bapak ikhlas ya dibayar, kalo enggak ya silakan itu dibawa pulang saja toh sudah dilas dan bisa bapak pake....

dengan bersungut-sungut si 'bapak' ambil duit limapuluh ribuan sambil berkata: kembaliannya!!

oleh pak Las diberi kembalian beberapa lembar lima ribuan, dua ribuan dan seribuan berjumlah tiga puluh ribu
si 'bapak' mukanya merah, barangkali tidak senang dompetnya terisi uang receh yang tidak baru, tanpa bilang apa-apa lagi beliau ngeloyor pergi.
pak Las: Terima kasih pak, maaf uangnya recehan......

teman saya bertanya ke pak Las: Bapak ini sabar amat...
pak Las: mas, tugas saya di sini ada dua, melayani orang dan mencari nafkah untuk keluarga... dua-duanya harus saya lakukan dengan baik dan benar... dan apa adanya...

lantas soal tarip tadi?
pak Las: tarip dua puluh ribu itu saya kira sepadan dengan kemampuan saya yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang lain

sahabat,
teman saya merasa mendapat pelajaran berharga tentang menjadi makhluk (titah-jw) yang disebut manusia

dan saya juga
salam

16 Juli 2013

Padang Kurusetra


Pertempuran berlangsung dalam senyap dan gerakan lambat. Tak terdengar denting dan desing besi beradu atau suara geram dan raungan.
Besi roda kereta yang beradu dengan bebatuan dan benturan senjata bola besi bertali rantai dengan perisai tak ada bunyinya. Senyap.
Hanya bunyi lirih,sayup, jauh,  
degup jantung seperti ombak di pantai landai 
dan tarikan nafas seperti desau angin di pesisir yang berbukit. 
Senyap.
Medan laga diselimuti warna kabut, abu-abu.
Bendera perang tak terlihat berwarna-warni lagi. Teropong kepala yang bersalut emas seperti warna debu batu. Tak ada lagi aroma kemegahan warna-warna. Sirna.
Padang Kurusetra sedang menuju akhir pergelarannya. Permukaannya bukan lagi tanah berumput dan berbatu, tetapi kubangan darah, serpihan daging dan potongan besi. 
Dan para panglima bersiaga untuk saat-saat akhir ketika pertempuran sudah semakin dekat pada ujungnya, para panglima yang berdandan seelok-eloknya laksana pengantin hendak ke pelaminan, bersiaga menjemput takdirnya di medan laga.
Padang Kurusetra seperti bola debu yang sedang meluncur turun menuju ke dinding gunung batu. Semakin lama berguling semakin kencang, menyapu segalanya yang berada diperjalanan.
Padang Kurusetra seperti kumpulan sejuta badai bergerak lamban dengan mata badai seperti ujung belalai, menghisap apapun yang dilintasinya.
Padang Kurusetra yang sedang bertiwikrama dengan segala isinya,
tiba-tiba mengambang di atas awan tanpa cahaya, mengapung menjadi hanya sejumput kabut yang berkehendak menjadi titik air.

......

Hujan rintik datang bersama pelangi.

Perang sudah usai.
Warna-warni sudah kembali.
Bunyi sudah kembali lagi.

Damai.



12 Juli 2013

Becak Tandem untuk Mertua


“Saya beli becak ini biar mertua saya bisa kerja antar-jemput anak sekolah. Jadi dia tidak perlu lagi keluar malam untuk jualan mainan”.

Usia bapak mertuanya sudah lebih dari enampuluh tahun. Ibu mertuanya yang usianya lebih muda punya gangguan paru-paru. Laki bini itu sudah bertahun-tahun tinggal di rumah petak sewa, sejak anak mereka baru dua. Sekarang, anaknya yang ke lima -yang terkecil- sudah menjelang kawin. Sudah lama sekali mereka tinggal di tempat itu, dan sekarang sebagian dari anaknya yang sudah kawin juga tinggal di tempat yang hampir sama, berdekatan.

Malam itu, usai waktu tarawih, beberapa anak kecil riuh mencoba becak tandem. Becak empat roda dengan empat pedal kayuhan. Becak seharga empat juta kurang seperempat, yang dibawa pulang dari penjualnya dengan didorong sepeda motor sepanjang jalan ramai, sejauh lebih dari dua puluh kilometer. Didorong dan dikemudikan ganti-berganti oleh mertua-menantu, karena dengan cara itu akan lebih hemat daripada menyewa angkutan dengan ongkos seratus limapuluh ribu rupiah.

Mertuanya dulu juga menarik becak, dan ketika anaknya satu demi satu bekerja dan kawin tidak lagi menarik becak, tetapi berjualan mainan anak-anak, juga wayang karton yang dibuat sendiri.
Barang itu dijajakan di tempat-tempat rekreasi, di keramaian ketika ada pertunjukan, di bazaar-bazaar kampung dan sejenisnya. Laki-bini berangkat dan pulang bersama. dengan gerobak kayu seadanya yang ditarik motor. Bininya dibonceng dibelakangnya, dengan jaket tebal dan selendang melilit di lehernya.
Terkadang mereka berangkat sore dan pulang agak malam, Pakai jaket, terkadang jas hujan.

“ Kasihan mertua saya, pak, sudah tua, apalagi ibu mertua saya kurang sehat. Biar kerja antar-jemput anak-anak yang sekolahnya dekat-dekat sini saja”.

Di langit, awan tipis mengambang, bergerak pelan. Ini tarawih puasa yang ke tiga.