19 Juni 2008

Suasana Hati

Aku membayangkan, kalau nanti aku sudah pensiun, maka aku tak akan lagi menikmati pagi hari duduk rapi dengan gelas teh dan kopi bersama teman-teman di kantor ini * waduh, mencoba sebuah prosa berima*.
Celoteh ramai ketika goreng pisang datang, semua merubung dan mengambilnya lalu kembali ke meja kerja, melanjutkan aktivitasnya sambil sesekali bicara pada teman di sebelahnya.
Ketika ada tamu datang, senyum dipasang dan tangan berjabatan. Ah ! Suasana yang sungguh akan sangat kurindukan nanti.
Perdebatan dan pertengkaran kecil karena laporan yang lambat disampaikan, berkas dipinjam lupa dikembalikan, dan urusan yang dilempar-lempar ke orang yang semestinya tak berkaitan, seolah menjadi bagian yang mesti ada, kalau tidak ingin dibilang komunitas yang beku romantika.
Lirak-lirik teman dari ruang sebelah yang datang bertandang, karena di ruanganku ini banyak yang sedap untuk dipandang-pandang lagian suka agak menantang-nantang, amboi! bikin pagi-pagi ingin bersicepat sampai di sini saja.
Canda kebablasan, sampai-sampai sebuah kue terlempar hampir kena kepala bos yang untung saja bosnya nggak tahu, tapi akhirnya setelah tahu semua ketawa si bos juga ketawa dan justru pelemparnya pucat-pasi, mmmmm teman-teman yang sungguh menyenangkan.
Suara dot-printer yang merengek-rengek seolah minta perhatian manusia sekitarnya untuk menunjukkan bahwa si empunya lagi bekerja keras, terdengar dari kebisingan yang timbul darinya *emang itu printer atau mesin potong keramik?*
Duduk berhadapan untuk bicara kecil-kecil diseling dengan corat-coret kode rahasia, yang disampaikan gara-gara komunikasi yang buntu dan mencari saluran untuk penampungan dari luapan rasa sesak di dada, *aku sudah bilang kalau aku ini siap jadi tas kresek, wadah muntah iya, untuk wadah belanja apel-anggur-eskrim-nasi pecel-gado-gado pun juga iya, asal jangan sumpah-serapah yang ditumpah, itu bisa bikin aku murka semurka-murkanya* banyak rahasia baru yang aku dengar dan harus aku simpan rapat-rapat, tapi akhirnya bocor juga karena si empunya rahasia mengobralnya di beberapa meja bahkan hampir semua dengan pesan yang sama ' ini cuma di antara kita saja'.
Melihat ada yang bercuriga-curiga, karena kawatir ketahuan sesuatunya padahal aku tak peduli terhadapnya, lucu rasanya.
Bertabrakan pendapat dan saling cari dukungan di antara sesama, macam kampanye pilkada saja agar idenya sukses diterima dan didukung semuanya.

Menghadapi bos yang ribut memasalahkan titik dan koma, cuma karena selera dan tidak PD saja menghadapi rapat besar yang harus dihadirinya.
Bos yang terkadang menjungkir balikkan norma dan kaidah di luar kompetensinya, semata agar hipotesisnya diterima melalui rasionalisasi yang begitu naifnya.
Memandu yunior yang begitu semangat, maunya main bersicepat, kalau perlu dengan memotong sistem yang ada.

Dari sudut ini, semua kupotret sefokus-fokusnya untuk nanti dipigura dalam ingatan menjadi sebuah kesan yang akan tetap kurindukan.
Lalu dengan itu, bekerja terasa ringan dan menyenangkan, terasa sayang untuk ditinggalkan.

Hmmm,
pada saatnya, akan kutinggalkan itu semua.
Dan hanya akan tertinggal jejaknya di memoriku yang semakin cekak speisnya.

Paling-paling kalau rinduku sudah memuncak, nantinya aku akan datang ke sini menengok lagi semuanya. Itupun kalau teman-teman ini masih sudi menerima aku dan tak merasa terganggu oleh kedatanganku.
Atau, masihkah aku punya cukup nyali untuk bertemu dengan mereka yang akan menerimaku dengan setengah hati karena toh aku sudah tak punya status lagi di sini?

Ah,
Biar nantilah saja pada saatnya, kalau aku sudah berada pada saat pensiunku nanti.
Yang jelas, aku sedang sangat menikmatinya.


di antara tumpukan berkas
yang seperti tempat pembuangan akhir sampah kota

12 komentar:

  1. lagi melankolis po mas? emang udah deket pensiun mas? kalo dari foto belum saatnya deh.... hehehe

    BalasHapus
  2. ketik REG spasi RAMAL kirim ke bethoro Indro....
    .... nglamun sambil angon bebek kok mbak, ngebayangin orang yang mo pangsiyun

    BalasHapus
  3. Salam
    Hmm mending gitu pak Dhe, mengingat, menuliskan segala laku hari ini untuk dijadikan kenangan kelak, pasti hanya kan buat tersenyum :)
    eh btw boleh ga sie panggil Pak Dhe nie :D

    BalasHapus
  4. boleh atawa ga, tergantung alasannya apa...
    *biar seru sazzaaaa...

    BalasHapus
  5. Pangsiyun artinya lulus...... jadi ya dinikmati saja.
    Pangsiyun artine wis mblenger segala macam rasa sudah dicicipi, jadi ya tinggal menikmati saja.
    Pangsiyun artinya bebas merdeka, jadi ya terserah saja.
    Pangsiyun artinya dah bau tanah, jadi ya banyak2 ngibadah.

    BalasHapus
  6. Pensiun adalah hal yang alami, semua karyawan akan mengalami, nyatanya saya menikmati, enuuak tenaan.. asal dipersiapkan jauh hari sebelum pangsiun.
    Mau tau rasanya pangsiun? Ketik REG spasi PANGSIUN kirim ke Mbah Suro 99 rahasia dijamin

    BalasHapus
  7. Wah saya malah selak pengin pensiun je. Rasanya iri orang pada mulai pensiun. Bisa ngalamun sepuasnya, mbayangkan yang bagus2

    BalasHapus
  8. @ki ageng: di hanyamasa: ngelamun sepuasnya
    @si mbah: pangsyun ternak teri ? nganter anak nganter isteri
    kaki bethoro: kontemplasi...

    BalasHapus
  9. laah koq kaya saya, karena harus memberhentikan diri ikut suami....tiap pulang pasti nyempati ke bekas kantor....bikin huru hara disana....pokoknya nyari perhatian..malah ditarik teman2 ke kantin..di kantin makan gratissss wong tamu jeh

    BalasHapus
  10. @wieda: coba tiap hari ke bekas kantor, bisa makan gratis terus yaaa...

    BalasHapus
  11. PENSIUN.
    P endapaatan sudah pasti menurun
    drastis, tapi itu bukanlah masa
    lah asalah kita sudah siap sejak
    awal ketika bekerja.
    E sok hari pasti datang,tugas baru
    pun telah menghadang, pensiunan
    bukanlah sampah yang terbuan.
    N egeri ini membutuhkan pensiunan,
    nyatanya peraturan dibuat untuk
    membuat status pegawai jadi pensi
    unan.
    S amudera itu luas, tapi lebih luas
    dadamu sayang. jelajah kaki tak
    kan mampu mengukur jarakmu. Itu
    lah kuasa Tuhan.
    I Itu bukti bahwa pensiunan bukan
    lah merupakan keranjang sampah.
    tapi mereka adalah orang-orang
    yang lurus dengan sumpah.
    U kuran kebahagiaan bukanlah secang
    kir kopi, tetapi isi cangkir itu
    bagaimana menikmati isi cangkir
    itu bukan terletak sebarapa bagus
    cangkir itu. maknai hidup ini de-
    ngan isi cangkir bukan cangkirnya
    maka menjadi riellah hidup ini.
    N egara masih butuh anda sayang, ja
    ngan buang percuma ilmumu. beri-
    kan kepad anak cucu.Ingatlah per
    juanganmu selama ini sampai kau
    pensiun kegigihanmu yang membuat
    dirimu tak pernah sampat gemuk.
    Itulah pengorbanan sejati, kau re
    lakan kau tetap kurus dan kau ba-
    hagia ketika menatap rekan-rekan
    mu yang menjadi gemuk, tapi mak-
    nailah, betulkan mereka bagia, ha
    nya Allah semata yang meha menge
    tahuinya. SEMOGA BABAP SEKELUAR
    GA BAHAGIA DALAM PENSIUN.

    BalasHapus
  12. @mas moko: aku sampek ga iso komentar balik, glagepen!

    BalasHapus