11 Agustus 2008

Dua Hati


Rahwana:

Andaikata Trijatha, gadis kecilku, tak lagi bersetia kepadaku, barangkali telah kuledakkan kerajaan Alengkadiraja ini karenanya.
Dialah mutiara hatiku, penghiburku di kala hatiku kacau. Trijatha, gadis kecilku, sitawar-sidingin ketika hatiku gundah resah gelisah. Dialah satu-satunya yang telah membuatku dapat tetap bertahan dalam keadaan yang paling sulit, hanya dengan kata-katanya yang terucap sedih: Uwa Prabu, kepada siapa lagi aku berlindung, ketika engkau tiada nanti ? Pandanglah aku, uwa Prabu, bertahanlah demi diriku.
Demikian setiap saat, ketika kemarahanku sudah sampai pada puncaknya, sehingga tak lagi kupedulikan segala sesuatu. Kerajaanku, rakyatku, adik-adikku, bahkan diriku sendiri. Dalam keadaan galau-hati seperti itu, tak peduli rasanya aku akan segala sesuatu, akan kulabrak-hancurkan segala yang menghalangi kehendakku, tak peduli andai aku terbunuh karenanya.
Bukan aku yang meminta kepada Hyang Akarya Jagad, untuk dititahkan sebagai manusia berwajah raksasa, bermuka ganda-berganda lambang segala sifat buruk yang pernah ada. Bukan kehendakku, melainkan demikianlah adanya aku tercipta. Dan ini tak pernah kusesali, kuterima apa adanya.

Telah kulewatkan hari-hariku untuk menantikan datangnya titisan Dewi Widowati dengan sabar hati. Kulalui hari-hari dengan berlaku sebagai raja yang memerintah negeri dan melindungi segenap kawula alit dari segala gangguan musuh. Kucoba memenuhi kebutuhan rakyatku dengan sebaik-baiknya. Kutegakkan keadilan, kubasmi para pengacau dan perusuh yang mencoba mengganggu ketenangan hidup rakyatku.
Ooo, Trijatha, anak dari adikku, Gunawan Wibisana.
Kuasuh dia semenjak kecil, kucintai laksana anakku sendiri. Ketika jalannya masih tertatih-tatih, ketawanya mengusik pendengaranku untuk bersegera meninggalkan sidang agar cepat bisa menimangnya. Dalam dekapanku, dirabanya muka uwanya ini, dicolok-coloknya lubang hidungku dengan jari-jemari mungilnya seraya tertawa-tawa. Ditarik-tariknya kumisku, yang siapapun gentar karenanya, tetapi tidak bagi Trijatha mungilku. Kupeluk dia dengan segenap rasa cintaku kepadanya, kutimang dan dia memelukku manja hingga terlelap. Segenap emban dan para abdi terheran-heran setiap aku bercanda dengan Trijatha, mereka takjub melihatnya, seakan bukan Rahwana lagilah aku, bukan lagi seorang Raja-Gung yang terkenal pemberang-pemarah sebagaimana sediakala, tetapi Rahwana yang menjadi sangat pecinta serta pengasih. Luluh hatiku oleh keberadaannya. Murka aku, apabila kulihat seseorang mengasarinya, bahkan kalaupun itu adalah ayahnya sendiri, Gunawan Wibisana. Apalagi emban atau abdi, pasti akan kusuruh hukum atau kutendang sampai ke sudut halaman istana. Tetapi kalau lantaran itu Trijatha menangis, maka aku panggil emban dan abdi tadi, kusuruh tertawa dan akan kuberi bebana demi Trijatha.
Ketika Trijatha mulai dapat berjalan dan berkata-kata, kadang-kadang dia menyela masuk persidangan agung di balai singgasana sambil tertawa-tawa, terkadang dengan sekuntum bunga untuk ditunjukkan kepadaku.
Kuhentikan persidangan, kububarkan serta-merta di tengah pandang mata takjub seluruh mantri-bupati dan punggawa kerajaan. Larut sudah segala ketegangan dan kemarahanku, kutinggalkan singgasana untuk bercanda dengannya sampai ia lelah dan tertidur di pangkuanku. Kunina-bobokkan dengan tembang Kinanti Subakastawa, meski suaraku serak dan parau, ditingkah suara burung-burung piaraan istana dan bunyi ayam bekisar serta burung merak di halaman.
Trijatha, ooo, Trijatha, anakku, anak Gunawan Wibisana adikku, dikaulah embun bagi jiwaku.
Kupercayakan Dewi Sinta dalam pendampinganmu, karena hanya engkaulah yang paling kupercaya untuk menjaganya, dan bukan seribu prajurit Alengka yang gagah perkasa, karena engkaulah yang mampu mencuri hatinya, sehingga Sinta merasa tenang berada di taman istana Kerajaan Alengka. Kutitipkan keberadaan Sinta padamu, wahai Trijatha, jagalah sebaik-baiknya, luluhkan hatinya, bukakan pintu kesadaran hatinya bahwa Rahwana amat mencintainya dan ingin mempersembahkan apapun yang ingin dimilikinya, asal Sinta bersedia meninggalkan Ramawijaya untuk diperisteri oleh Rahwana. Bujuklah Sinta, katakan bahwa dialah puteri yang telah kutunggu sepanjang waktu untuk menjadi isteriku, dialah puteri titisan Dewi Widowati yang telah dijanjikan para Dewa untuk menjadi pendampingku.
Trijatha,
Kalau bukan karena engkau, telah kubunuh Sinta karena penolakannya yang sungguh menyakitkan hatiku, atau telah kuhancurkan mahkota hidupnya dan kulecehkan kehormatannya serendah-rendahnya, karena bukankah sebenarnya keberadaannya ada dalam genggaman kekuasaanku?
Kalau bukan karena tangismu Trijatha, yang mencegahku berbuat demikian, yang telah membuka kesadaranku untuk tidak mengulangi perbuatan cemar dengan mempedayainya, dan menculiknya dari tangan Rama, seraya engkau memeluk kakiku dan memohon kesabaranku, dengan tangismu, dengan rasa sayangmu kepadaku Trijatha, tentulah kejadiannya akan lain. Tak ada lagi Sinta, tak ada lagi Rahwana, karena kematian Sinta akan kususul segera dengan kematianku, agar aku dapat menyertainya berangkat ke Kahyangan Suralaya bersama-sama.
Trijatha, engkaulah mutiara dalam kehidupanku, yang telah begitu ikhlas tetap berada bersamaku, menyertaiku dengan setia, bahkan ketika ayahmu yang juga adalah adikku yang kusayangi, telah menyeberang berpihak kepada Ramawijaya, untuk bersiap-siap merebut kembali Sinta dari tanganku, dan kalau perlu akan dilakukannya dengan meluluh-lantakkan negeri ini, Alengka diraja. Kerajaan di mana ayahmu dilahirkan, dibesarkan, di mana ayahmu berhutang air, udara, bumi dan kehidupan.
Ketika ayahmu berpihak kepada musuh negeri kita, engkau bertahan untuk tetap bersamaku di sini, sambil melaksanakan tugasmu untuk menjaga Sinta.
Oooo, Trijatha, Trijatha.....
Apa yang pantas untuk kuberikan balasan padamu atas segala rasa cintamu kepadaku, kesetiaan mutlakmu kepada uwakmu ini, Trijatha ? Andai engkau minta hidupku, niscaya akan kuserahkan bilah keris pusakaku, akhirilah hidupku olehmu, aku rela, anakku. Tetapi engkau tak pernah mengatakannya, bahkan kau katakan, tak sedikitpun engkau pedulikan kata orang tentangku, selain hanya engkau inginkan aku bersabar, aku lebih bersabar, untuk mendengar kata-katamu yang selalu menyejukkan hatiku.
Andai bukan engkau yang berkata seperti itu, tentu telah kutampar sampai robek mulutnya, atau kulempar tubuhnya hingga ke laut, atau kucabik-cabik menjadi serpihan luluh-lantak. Tetapi ketika engkau yang berkata, runtuhlah segala benteng kedigdayaanku karena pandang-matamu yang penuh kasih kepadaku, uwakmu, Raja Alengkadiraja yang sedang diamuk rasa.
Terlebih lagi ketika kau menangis seraya berkata menyayat hati : Uwa Prabu, kepada siapa lagi aku berlindung, ketika engkau tiada nanti ? Pandanglah aku, uwa Prabu, bertahanlah demi diriku.
Luluhlah hatiku.

Trijatha:
Uwa Prabu Dasamuka; apapun kata orang tentangnya bagiku tak ada artinya. Beliau adalah kakak dari ayahku, Gunawan Wibisana, beliau adalah rajaku, tetapi lebih dari segalanya, beliau adalah orang-tuaku.
Uwa Prabu sangat menyayangiku, demikian pula aku terhadapnya.
Ketika semua orang takut kepadanya, aku justru bergayut manja, ketika kecil dahulu. Di tengah kemarahannya, beliau dapat segera tertawa panjang melihatku datang kepadanya dengan setangkai kembang puspanyidra merah-merona. Serta-merta akan digendongnya aku dan diajaknya bercanda. Bahkan ketika masih dengan segenap pakaian kebesarannya.
Barangkali Dewata telah menentukan hidupnya, menjadi raja, berwajah raksasa, berperilaku angkara. Meskipun kakekku, yang adalah ayahnya adalah seorang pandita- pertapa.
Bukanlah semata-mata kesalahannya, ketika dia memperjuangkan janji hatinya, sehingga dia harus melakukan hal tercela, menculik Dewi Sinta isteri Ramawijaya.
Di balik sosok angkaranya, Uwa Prabu Rahwana adalah seorang manusia yang masih memiliki kelembutan hati, paling tidak dihadapanku, kemenakan yang telah diasuhnya, dimanjakannya, dan disayanginya setara dengan kasih-sayang dari orang-tuaku sendiri. Kata-kataku akan didengarnya baik-baik, seperti juga ketika beliau memberiku nasehat baik tentang kesetiaan, tentang keteguhan hati, tentang tanggung-jawab. Beliau adalah orang-tua ke dua bagiku, di mana aku merasa harus berbakti pula, harus menjaganya, harus menemaninya, mendengarnya, menghibur galau-hatinya, mengasihinya.
Uwa Prabu sering meminta pendapatku terhadap tindakan dan keputusannya, dan ketika kusampaikan tidak seperti yang lainnya, sering berkerut keningnya, tetapi ketika kujelaskan bahwa aku berpendapat demi kasih-sayangku kepadanya, biasanya beliau akan tertawa panjang lalu dijenggungnya dahiku pelan penuh kasih, sambil berkata: “ Guoooblog, semuaaa... ha ha ha ha, semuanya guuuwwobloooggg! Ha ha ha ha, tetapi Trijatha telah menyampaikan pendapat yang baik, jujur! Baguss, ndukk! Anakku memang panddddaiii ! Ha ha ha ha .....!!!
Juriiiiiiitttt .....!”
Beliau lalu memanggil pengawal :
“Panggil Paman Patih Prahasta !!”
Biasanya ketika itu pula sidang segera dilakukan, tak peduli kapanpun saatnya, bahkan ketika malam hari. Dan keputusannya tak jauh dari pendapat yang telah aku sampaikan.
Uwa Prabu sebenarnya adalah seorang raja yang layak untuk dikasihani. Karena pembawaan dari sifatnya yang pemberang, maka tak seorangpun berani berbeda pendapat dengannya, apalagi menentang keputusannya. Sehingga semakin kentallah sosok dur-angkaranya di mata dunia.
Sebenarnya di mataku tidaklah sepenuhnya demikian. Beliau adalah raja yang teguh memegang janji, setia kepada negerinya, gigih dalam meraih cita-citanya dan bertanggung-jawab atas segala perbuatan dan keputusannya.
Aku sangat mengenalnya, karena mungkin aku satu-satunya orang yang paling dekat dengannya, melebihi siapapun, bahkan melebihi adik-adiknya. Karena itu, akulah satu-satunya orang yang dapat melihat sisi lain dari Uwa Prabu Rahwana, yang juga bergelar Dasamuka.
Aku merasa harus senantiasa ada setiap saat dia membutuhkannya, untuk mendengarkan keluhannya, kemarahannya terhadap keadaan yang ada, memahami kegalauan hatinya, menghayati cita-citanya. Karena hanya dengan itulah aku mampu membalas kasih-sayangnya yang telah dicurahkannya sejak aku ada hingga kini. Hanya dengan itulah aku dapat berbuat untuk mengawal kehidupan batiniahnya, agar tak terhempas dalam kekosongan.

Tetapi,
Dunia telah mencatat kisah dan sejarah menurut cara pandangnya sendiri,
Hari itu kerajaan Alengkadiraja luluh-lantak hancur berantakan oleh serbuan pasukan monyet yang dipimpin Prabu Ramawijaya ketika akan merebut kembali Dewi Sinta dari sekapan Rahwana.
Rahwana gugur tercabik-cabik oleh ribuan bala-tentara di bawah pimpinan Panglima Sugriwa, setelah sebelumnya tubuhnya terhempas rubuh tertembus panah Ramawijaya.
Hari itu, kerajaan Alengkadiraja kelam berselimut asap, bau anyir darah dan tumpukan bangkai prajurit yang gugur. Rintih kesakitan dan ratap tangis memenuhi angkasa.
Rahwana gugur dalam kebesarannya.
Di balik taman, Trijatha duduk bersimpuh dihadapan Dewi Sinta, menangis haru atas gugurnya Uwa Prabu yang dicintainya. Saat yang pernah ditakutkannya kini benar terjadi.
Ketika kemudian ayahnya, Gunawan Wibisana, menjemput dan mendatanginya dengan pakaian perang yang masih bersimbah darah, Trijatha berkata:
“ Ayahku, kusampaikan kata-kata Uwa Prabu, bahwa sampai saat terakhir Uwa Prabu tetap mengasihiku, dan dimintanya aku tetap mengasihimu, seperti dia tetap mengasihimu pula .....”, di sela sedu tangisnya yang tertahan.
Gunawan Wibisana tercekat hatinya, dan berpikir tentang apa yang telah diperbuatnya.

Dari sebuah sudut, sepasang mata hati mengamati, segala yang telah dan sedang berlangsung, dengan diam-diam.

6 komentar:

  1. Se jelek2 manusia masih ada sebiji sawi hatinya yang bagus.
    Se kasar2 manusia masih ada sebutir pasir budinya yang halus.

    BalasHapus
  2. Kasih sayang dan cinta kasih yang tulus dapat mengalahkan segalanya, termasuk kekerasan hati dan emosi.
    Rahwana dan Trijatha gambarannya....

    BalasHapus
  3. Kulo nuwun Mbah Nggolo, kulo putu ingkang manggen ing nagari Kanigoro. Mbok bilih wonten kalonggaraning penggalih Mbah Nggolo Dalem aturi pinarak dumateng wismanipun thenmasmoko, utawi alamat lengkapipun http://thenmasmoko.blogspot.com. Mugi-mutgi Mbah Nggolo dipung paringi kesehatan. Amiiinn (gak pakai nasution)

    BalasHapus
  4. Bahkan terhadap hatipun manusia ternyata tidak punya kuasa sendiri atasnya , masih ada Yang Maha membolak- balikkan hati manusia

    wassalam

    BalasHapus
  5. Salam
    Ada sisi baik dan buruk..cinta bisa mengurangi angkara ah satu lagi sejarah itu tergantung siapa penguasa dibaliknya :)

    BalasHapus
  6. @eyang: njelimet atau justru sederhana, ya?
    @si mbah: cinta juga bisa membunuh akal, jiwa atau raga
    @denmase: sendiko denmas, sampun. kantun wara-wara
    @raf: saya sedang terbalik-balik
    @nenyok: cilakanya, saya sebagai penguasa blog ini mencatatnya seperti yang saya inginkan.....

    BalasHapus