07 November 2009

Kulkas, Pispot dan Superman

Panggung Indonesia Raya belakangan ini sedang menyelenggarakan pentas akbar. Tontonan bak pergelaran wayang kulit yang sarat dengan pelajaran, teladan namun juga penuh banyolan di sana-sini.
Pergelaran ini dicermati oleh banyak penonton; dengan berbagai kesukaan dan minat masing-masing. Ada yang senang dengan tokoh-tokoh wayang tertentu, ada yang suka dengan ajaran dan filosofinya, ada yang senang dengan adegan perang antara Buto Cakil dan Raden Janoko-nya, ada yang sangat suka dengan dagelannya, ada juga yang sekedar senang melihat para pesinden yang cantik-cantik dan merdu suaranya. Ada pula yang datang bukan untuk menonton wayang tetapi karena mencari peluang untuk dapat mencopet penonton yang lengah-keasyikan.
Hari berikutnya setelah pergelaran usai, di warung-warung kopi dan di tempat-tempat orang banyak berkumpul, timbul banyak forum diskusi yang seru. Topik utamanya adalah lakon yang digelar kemarin. Beberapa orang tampak bersemangat menyampaikan pendapat sesuai dengan minat dan persepsi masing-masing. Ada pula yang tak kalah bersemangat mengompori diskusi tanpa peduli alurnya. Sebagian lagi sekedar duduk dan tertawa-tawa menyaksikan adu pendapat antara para pihak yang berbicara.
Lalu, ketika mereka sudah capek berbicara, satu demi satu pulang ke rumah masing-masing dan melupakan semuanya: lakon wayangnya, pesindennya, dagelannya, kemahiran dalangnya bercerita. Dan kehidupan kembali ke kesehariannya, tak tampak adanya perubahan perilaku menjadi lebih baik, seperti pelajaran yang telah disampaikan oleh pak Dalang dalam pentas wayangnya.

Indonesia sedang sangat berhasrat untuk berubah menjadi lebih baik. Menjadi lebih beradab, seperti cita-cita sejak ketika negeri ini masih menjadi sebuah mimpi. Semua ingin keadaan yang lebih tertata, terbuka, aman, sejahtera, merdeka – bukan hanya dari penjajahan bangsa asing tetapi juga merdeka dari segala kesulitan dan ancaman, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri sendiri.
Kemelut yang muncul ke permukaan pada saat ini lakon bakunya adalah: hukum. Salah satu instrument penjaga sistem, yang mungkin sedang diterapkan oleh masing-masing organ penjaganya dengan berbagai cara dan tafsir masing-masing, dan karena fihak lain tidak ('belum') sefaham terhadap alur, tafsir dan cara memperlakukannya, sehingga kemudian timbullah pertentangan dan friksi.

Ada sebuah anekdot lama, tentang orang dusun yang kaya, datang ke kota membeli kulkas sepuluh pintu (saking kayanya) dan menggunakannya di rumah sebagai lemari pakaian moderen, yang ’lebih beradab’. Ada pula cerita tentang pispot yang digunakan sebagai wadah sayur asem, dan cawat bikinan luar negeri yang dikenakan di luar celana panjang bak Superman. Semua mereka berpandangan bahwa barang-barang tersebut adalah lambang peradaban, yang ketika digunakan maka martabat menjadi meningkat. Tetapi penerapan yang salah akan menggelikan, menyinggung martabat dan bahkan akan membahayakan bagi yang lain.

Demikian pula dengan instrument berbangsa dan bernegara yang bernama hukum. Kekeliruan penerapan berpotensi membahayakan salah satu fihak, kedua fihak, orang banyak, dan bahkan dapat menggoyahkan negeri beserta segenap isinya.

Indonesia sedang berproses. Semoga kita semua yang ada dan terlibat di dalamnya tetap menjaga keutuhan bangsa dan negara dan tetap setia kepada cita-cita kemerdekaan.

Selamat menyongsong Hari Pahlawan. MERDEKA!

.

8 komentar:

  1. jare mas petruk "jeruk makan jeruk"
    mas bagong nglabuhi sampe ngantuk
    mas gareng montak manthuk
    romo semar mung wotak watuk

    BalasHapus
  2. Saya setuju pendapat panjenengan bahwa kesemuanya itu melalui proses.Proses perlu waktu dan pembelajaran. Ada kisah sebut saja karyawan yang gajinya paspasan, suatu ketika mendapat uang yang menurutnya sangat besar, dia langsung belanja, apa yang dibeli.....ternyata rokok yang jumlahnya amat sangat banyak, sehingga uang yang didapat tinggal beberapa rupiah saja, hampir sama kisahnya dengan yang panjenengan tulis diatas.Kita sering melihat panggung sandiwara yang dipentaskan para petinggi dan elit politik, sehingga kita sering terjebak dengan dengan benar salah pentas tersebut.Ada pepatah Jawa yang mengatakan"seneng ora kurang pengalem, gething ora kurang panacat" ya begitulah proses yang membutuhkan waktu, salam.

    BalasHapus
  3. Proses, mau tak mau, suka tidak suka, akan tetap berproses. Ya iseng2 saja, kalau lagi suka, buka mata buka kuping, tonton dan dengerin, kalau tidak suka, matiin TV/radio atau pindah chanel lain. Karena tidak ada kejujuran diantara kita. Saat ini orang lagi berdebat tentang bentuk gajah, yang memegang belalai bilang gajah itu bulet panjang. yang memegang kaki bilang gajah itu kaya pohon kelapa. Sebaiknya samakan persepsi, jangan merasa paling benar sambil mengatakan yang lain salah. Semua berpangkal pada kejujuran.
    Nuwun

    BalasHapus
  4. Kita tundukkan kepala dan heningkan pikiran untuk mendoakan mereka mereka yang gugur berjuang tanpa pernah bisa mekihat dan menikmati alam kemerdekaan

    BalasHapus
  5. Keliru, tidak masalah. Bisa diperbaiki. Namun, masih adakah kejujuran di Indonesia ini ?

    BalasHapus
  6. ki tembul:
    ati2 nek omahe ambruk
    pak pur:
    jujur, hati nuraninya tidak diingkari sendiri
    mas sito:
    proses yang on the right track
    ki ageng:
    mereka sudah tdk bisa bicara, apalagi angkat senjata
    pak ugeng:
    anak2 kita menyimaknya, kita bantu membacanya

    BalasHapus
  7. Salam,
    Heran juga siy, mereka yang bikin aturan mereka juga yang langgar padhl itu sudah kehendak dan hasil karya serta idealisme para pembuatnya, perangkat hukum yang sebagus apapun tanpa ada will dari manusianya ya, akhirnya cuma jadi pajangan,tetap aja penjara makin penuh aja tuh, ah bahkan penjara juga ndak ngefek toh, jadi gimana doong!!!!!
    Ya..ya.. tetap semangat menjadikan negeri ini lebih baik. Amien.

    BalasHapus
  8. nenyok:
    "melanggar":
    1. melanggar jelas melanggar
    2. membiarkan adanya pelanggaran adl juga melanggar
    3. memberi peluang kpd orang lain utk melanggar juga melanggar
    "semangat":
    1. asal semangat, berpotensi tabrakan
    2. semangat tp hati2, berkesan lamban
    3. memberi semangat, tergantung kpd fihak yg mana

    banyak pilihan agar negeri ini menjd lbh baik, selama kita semua mempunyai semangat sbg satu bangsa
    salam

    BalasHapus