27 Desember 2007

Icang

icang adalah seorang muda, yang sedang mencoba untuk bergelut didunia bisnis masa kini, yakni forex dan saham, sebagai advisor atau konsultan, atau broker atau apalah, yang saya sendiri juga tidak begitu faham.
sebuah bisnis yang menurut ayahnya ‘tidak jelas’
karenanya, dalam beberapa diskusi di rumah, selalu saja tidak ada titik temu, sang ayah melihat sebuah bisnis adalah pertukaran antara produk dengan uang atau sebaliknya; atau jasa dengan uang dan sebaliknya. sesuatu yang lebih nyata.
saya mendengar bahwa diskusi berkembang menjadi perdebatan antara ayah dan anak yang lebih bernuansa antara rasa khawatir seorang tua dan perjuangan mencari jatidiri dari seorang muda.
sang ayah ingin menghalau rasa khawatirnya dengan berusaha mengembalikan cara berpikir icang untuk ‘kembali ke bisnis pada umumnya’, sedangkan icang berusaha menyampaikan pemahaman bahwa ini adalah juga bisnis biasa, dengan risiko lebih kecil dari bisnis pada umumnya tadi karena posisinya sebagai advisor, yang modalnya adalah kepercayaan klien.
namun telah beberapa lama belum juga dicapai titik-temu antara ayah dan anak.
ketika saya mendengar kejadian besar di keluarga ini, saya coba untuk memahami apa yang sedang terjadi, dan yang saya temukan adalah bahwa bagaimana masing-masing harus mencoba memberikan rasa aman, kepercayaan, dan setelah itu saling memotivasi antara keduanya.
mudah-mudahan semua membaik, dan yang dicari segera ditemukan.

1 komentar:

  1. Adalah hal yg biasa........
    Sebagaimana di patenkan Chalil Gibran ® Ortu bagai busur sxedang anak itu mata panahnya. Jadi ortu cukup tut wuri handayani.
    Hukum bisnis mengatakan makin besar keuntungan makin besar resiko. Sekarang tinggal bagaimana memanage resiko sehingga menjadi peluang untuk mencapai keuntungan.
    Ini butuh seni.. pengalaman ..dan keberanian.
    (om jarkoni)

    BalasHapus