13 November 2008

Langit Kuning

(inspirasi: novel The Kite Runner - Khaled Hosseini )

(sebuah evaluasi tujuhbelasan) : Lomba mewarna untuk anak-anak kecil di RT Tiga berlangsung dengan sukses. Artinya selesai. Seadanya. Pesertanya tidak lebih dari lima belas orang. Pelaksana kegiatannya anak-anak remaja.Jurinya dicari di antara siapa yang mau, itupun baru ditemukan ketika lomba sudah berlangsung.

Oleh juri dipilih tiga gambar terbaik.

Ketika hasil lomba diumumkan, komplain mulai dilayangkan, bukan ke panitia tetapi ke jalanan.

‘Masa, langitnya diwarna kuning kok menang, sedang yang biru malah dikalahkan’ ujar seorang nenek.

‘Yaa, mesti saja gambar yang ini menang, kan anak ini pas keponakan dari jurinya’

‘Warna gambar yang ini lebih rata, kok enggak menang ya, yang belepotan malah menang’

Macam-macam.

Vonis jalanan: Juri dan panitia tidak fair, tidak pandai menilai, hasil penilaian tidak wajar, dan lain-lain.

Hehehehe....

Para balita kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, menyaksikan ibu, nenek, bapak, kakek berbicara dengan nada tinggi di antara sesama orang tua. Ada apa ya, para kakek-nenek, pakde-bude ini?, begitu kira-kira pikir anak-anak ini.

Melihat anak-anak kecil yang sehat dan ceria, yang mengelesot ketika mewarna dan menggambar, rasanya hati ini sangatlah bahagia. Wajah dan ekspresi yang lucu, gerakan tangan dan jari mungilnya, antusiasme dalam menggambar (NB: ikut bertujuhbelasan), ah! bukankah ini adalah hal yang menyenangkan?

Mereka mau ikut tanpa rewel dan tanpa pretensi apapun saja, seharusnya sudah mengajarkan kepada kita bahwa nilai kebersamaan lebih indah ketimbang kemenangan.

Bukankan event perayaan ini adalah suatu ekspresi kebersamaan di antara anak bangsa? Merdeka yang artinya bebas dan menang dari ketertindasan, bukan berarti menang dari saudara sendiri, kan. Karena di antara saudara memang tidak layak untuk menang-menangan.

Dalam hal ‘lomba’ (namanya kok lomba, ya) mewarna untuk anak-anak ini, kalau perlu justru kita semua (para orang-tua yang anaknya berlomba) masing-masing menyiapkan hadiah dari rumah untuk mereka semua. Ya. Mereka semua, tanpa ada urusan menang dan kalah di antara anak-anak itu, karena belum saatnya mereka menderita lantaran dipertandingkan dan diadu untuk menang oleh yang tua-tua. Mereka kan bukan jangkrik.

Aaah,

merdeka

(masih tetap huruf kecil dan tanpa tanda seru.... sabaaar, sabaaaaar)

13 komentar:

  1. langit kuning?
    pesan sponsor ni ye?

    BalasHapus
  2. Protes memang sering terjadi pada orang-orant tua atau dewasa. kalau gitu pilkada dan pilkades biar diselenggarakan oleh anak-anak saja biar gak ada protes, kan kalau capek bisa main layangan. he he he gitu ya

    BalasHapus
  3. tahun depan coba diubah saja lombanya menjadi lomba menggambar "persis" pasti nggak ada yang protes.

    BalasHapus
  4. ya udah lah pak, namanya juga lukisan anak2, kan terserah mereka mau warnain langitnya biru , kuing, malah merah sekalian..kan itu bentuk dari kreatifitas anak2 yang masih pure...

    BalasHapus
  5. "belum saatnya mereka menderita lantaran dipertandingkan dan diadu untuk menang oleh yang tua-tua"
    ==> ini harusnya diumumkan sebelum bertanding ya pk..

    *anw, pecinta khaled hosseini juga pak? udah baca a thousand splendid suns belum? bagus juga lho critanya

    BalasHapus
  6. Saya pingin jadi anak - anak lagi Pak De...indahnya melihat dunia apa adanya

    BalasHapus
  7. Oh ya Pak De...mohon maaf dan mohon izin sebelumnya, alamat pak de saya masukkan blogroll-nya blog saya yang berwarna pink (http://muridkehidupan.blogdetik.com). Boleh nggak pak?

    BalasHapus
  8. @ eyang: lain kali tentang sakit kuning, ah
    @ mas moko: boleh saja, tapi caleg cabub cagub dan capresnya balita juga
    @ www: balik jaman orba, semua serba seragam
    @ shanti: tul! ngeblog juga bolah-boleh saja kan?
    @ ndahdien: baru saja saya umumkan lewat blog, buku bagus, saya suka. tks mbak
    @ roby: usia bertambah, cara pandang berubah, ke arah yang salah, bubrah. tukar link ok

    BalasHapus
  9. sebenarnya banyak yang bisa kita pelajari dari anak-anak ^_^

    BalasHapus
  10. coba diliat aja beberapa tahun ke deapn, kalo makin banyak orang yg hatinya penuh kebencian dan dendam dan tidak mau menerima kekalahan, maka itulah hasil kerja tangan2 kotor kita.

    BalasHapus
  11. @ elys welt: lebih banyak lagi, dari flora dan fauna, dari seluruh alam, juga dari posting2 mbak elys ...
    @ endangcinta: kok serem banget sih, bu! andil saya paling banyak, jee ...

    BalasHapus
  12. waduh ..kehabisan kavling mau naruh komen...

    paling buncit sajalah .... " untung langitnya masih diwarnai "

    BalasHapus
  13. @ raf: kejadian kecil, ada dlm kehidupan se-hari2, tkadang membuat saya trpancing untuk menyelami makna yg ada di dasarnya
    mdh2an saya tdk tersesat atau trpasung oleh pikiran dangkal yg ada dlm diri sendiri

    BalasHapus