12 Juli 2013

Becak Tandem untuk Mertua


“Saya beli becak ini biar mertua saya bisa kerja antar-jemput anak sekolah. Jadi dia tidak perlu lagi keluar malam untuk jualan mainan”.

Usia bapak mertuanya sudah lebih dari enampuluh tahun. Ibu mertuanya yang usianya lebih muda punya gangguan paru-paru. Laki bini itu sudah bertahun-tahun tinggal di rumah petak sewa, sejak anak mereka baru dua. Sekarang, anaknya yang ke lima -yang terkecil- sudah menjelang kawin. Sudah lama sekali mereka tinggal di tempat itu, dan sekarang sebagian dari anaknya yang sudah kawin juga tinggal di tempat yang hampir sama, berdekatan.

Malam itu, usai waktu tarawih, beberapa anak kecil riuh mencoba becak tandem. Becak empat roda dengan empat pedal kayuhan. Becak seharga empat juta kurang seperempat, yang dibawa pulang dari penjualnya dengan didorong sepeda motor sepanjang jalan ramai, sejauh lebih dari dua puluh kilometer. Didorong dan dikemudikan ganti-berganti oleh mertua-menantu, karena dengan cara itu akan lebih hemat daripada menyewa angkutan dengan ongkos seratus limapuluh ribu rupiah.

Mertuanya dulu juga menarik becak, dan ketika anaknya satu demi satu bekerja dan kawin tidak lagi menarik becak, tetapi berjualan mainan anak-anak, juga wayang karton yang dibuat sendiri.
Barang itu dijajakan di tempat-tempat rekreasi, di keramaian ketika ada pertunjukan, di bazaar-bazaar kampung dan sejenisnya. Laki-bini berangkat dan pulang bersama. dengan gerobak kayu seadanya yang ditarik motor. Bininya dibonceng dibelakangnya, dengan jaket tebal dan selendang melilit di lehernya.
Terkadang mereka berangkat sore dan pulang agak malam, Pakai jaket, terkadang jas hujan.

“ Kasihan mertua saya, pak, sudah tua, apalagi ibu mertua saya kurang sehat. Biar kerja antar-jemput anak-anak yang sekolahnya dekat-dekat sini saja”.

Di langit, awan tipis mengambang, bergerak pelan. Ini tarawih puasa yang ke tiga. 

05 Juli 2013

Blekok yang Bersyukur

Burung blekok menceritakan kepada burung hantu, betapa dia amat bersyukur atas nikmat yang diterima.

Anak-anaknya hidup sebagai blekok yang sukses, punya sarang sendiri-sendiri di lingkungan yang lebih bagus dan nyaman ketimbang habitat bapak dan emak blekok. Punya posisi cukup terpandang di kehidupan masing-masing, sehingga ada jaminan masa depan yang lebih baik di kelak kemudian.
Salah satu anak blekok, bahkan menjadi incaran head-hunter untuk didudukkan pada posisi strategis beberapa perusahaan multiblekok yang mempunyai jaringan seluas udara, darat, laut (dan kepolisian). Blekok muda yang lain mendapat jalan yang lapang untuk meniti jenjang akademiknya, dari S-3 yang pertama (SD-SMP-SMA) ke S-3 yang ke dua (doktor-sarjana sungguh sempurna).

Burung hantu  mendengarkan dengan mata menerawang jauh. Cerita berikutnya tentang blekok-blekok muda hanya masuk ke sebelah telinganya, sementara pikirannya teringat kepada (burung) hantu-hantu muda yuniornya. Para yunior yang mengusik hatinya, karena dia cemas masa depan mereka yang tidak akan sesukses (burung) hantu tua.
Sementara sebelah telinga mendengar cerita blekok muda yang ketika sakit mendapat fasilitas kamar VVIB (very very  important  birds) yang dibayar oleh Blekok Incorporated, sebelah pikirannya teringat bahwa ketika anaknya sakit, biaya berobat dan ngamarnya ditomboki oleh besan hantu.
Dan bla-bla-bla yang lainnya. Dan cerita ‘syukur’ burung blekok itu sudah didengarnya untuk yang kesekian kalinya sementara mereka bertemu di sore hari.

Burung hantu berpikir, andaikata sahabat blekok ini punya perusahaan koran atau TV, mungkin topik sebagian tulisan atau tayangannya  adalah tentang blekok muda. Burung hantu berpikir, adakah sahabat blekok ini lupa bahwa serial tayang-ulang cerita tentang blekok-blekok muda bisa jadi akan mengiris hati burung-burung yang lain ketika mereka mendengarkannya?

Dalam suatu kesempatan bertemu dengan sahabat senasibnya yang lain yakni  burung kucica, ternyata kucica juga punya teman perkutut yang juga termasuk golongan ‘perkutut yang bersyukur’. Kucica sendiri punya sakit sesak nafas, yang sangat gampang kambuh kalau pikirannya terganggu karena berpikir tentang kucica-kucica muda.  
Saking kerasnya berpikir tentang yunior blekok dan membandingkan dengan yunior hantu, gula darahnya meningkat……


02 Mei 2013

Pak Wied yang membuat saya menjadi lebih kaya

Secara guyonan seorang teman berkata:
"Keruwetan memang adalah bawaan bagi dunia, dunia memang harus ruwet karena kalau tidak ruwet namanya bukan dunia"
Sepertinya beliau pernah tamasya ke "bukan dunia" saja.
Guyonan itu setelah direnung-renungkan benar juga adanya, dengan catatan bahwa yang memandang dunia tersebut adalah seorang 'manusia dunia', yang masih disibukkan dengan cita-rasa, cara pandang, sikap, keinginan (nafsu) dunia. Tetapi mungkin bagi teman yang lain dunia yang itu tadi sama sekali tidak ruwet, justru sangat sederhana dan baik-baik saja adanya.
Teman saya memang orang yang menurut saya amat istimewa, karena beliau telah melakukan perjalanan hati panjang dan lama, sehingga mampu memperbandingkan apa-apa yang telah dilihat dan dirasakannya selama dalam perjalanannya. Lalu melakukan perenungan mendalam atasnya.
Pada awalnya cukup sulit saya memahami perkataan-perkataannya yang terkadang tajam menusuk dan terkadang amatlah lembut. Namun setelah belajar mencocokkan ungkapan-ungkapannya dengan 'catatan perjalanan' teman yang lain, saya menjadi amat suka mendengarkan dia bicara dengan segenap kejutan di sela-selanya.
Pak Wied, terima kasih.
Anda telah memperkaya khasanah saya.
Anda telah kadang-kadang menyeret saya keluar dari kesuntukan, meskipun sebagian lain dari diri saya masih bersikukuh di dalam ruang kesuntukan saya.

19 Desember 2012

Empat puluh lima tahun yang lalu

Hari ini tulisan pertama dari keluarga MG69, dikirim oleh mas Kanapi;
kita baca sama-sama, judulnya ada di atas.


Halo shohib-shohib MG 69
Awal tahun 1967, kita lulus seleksi masuk SMA Negeri Purworejo,  sekolah yang paling bergengsi, satu-satunya SMA yang berstatus Negeri di Kabupaten Purworejo, dengan rasa senang dan bangga tentunya.
Awal menjadi anggota keluarga besar SMAN Purworejo kita diplonco oleh kakak kelas . Topi besek , kalungan karton yang bertuliskan nama kita masing-masing, membawa sapu lidi , pengki dll. menjadi atribut kebesaran wajib tiap hari. Dipadati dengan berbagai acara, seperti apel pagi,  pengarahan dengan intonasi yang bergaya galak, kerja bakti,  dan kegiatan lainnya, kita tetap patuh walau menggerutu dalam hati . Bila kita melanggar tata tertib, kursi pesakitan menunggu di pengadilan Mapras. Eksekusi hukuman dijatuhkan pada hari inagurasi. Hukuman 20 tahun berarti si terhukum diharuskan menari potong bebek angsa di panggung; hukuman mati berarti si terhukum harus minum jamu brotowali .
Tiga tahun kita lalui bersama merupakan masa yang paling indah dalam kehidupan remaja yang penuh dengan keceriaan, walaupun rasanya sebagian besar dari kita belum mengenal  indahnya masa pacaran karena masa remaja kita masih belum berani naksir teman dan mungkin  masih belum punya andalan. Tetapi keceriaan tetap saja menemani kita tiap hari. Hampir tiap hari ada saja peristiwa atau cerita yang membuat kita tertawa, apakah itu dari pak guru yang menyelipkan joke di sela waktu mengajar , atau tingkah polah teman kita , atau kita ngglendengi tingkah laku atau gaya guru waktu mengajar .
Tiga tahun itu pula bapak dan ibu guru membimbing kita. Pak Darno – Kepala Sekolah sekaligus guru Diffrensial dan Integral, Pak Kosasih - Bahasa Indonesia , Pak Sugiarto  - Bahasa Inggris, Pak Wardoyo dan Pak Dartoyo - Civics , Pak Sriyono - Ilmu Hayat , Pak Jamil - Ilmu Alam dan Mekanika, Pak Karmin - Aljabar Analit dan Stereometri , Pak Winoto Sugeng - Goniometri , Pak Wardi  - Kimia , Pak Hadi   - Sejarah, Pak Sumitro - Ilmu Bumi, Pak Asmuni - Geografi,  Pak Kusen - Menggambar ,  Pak Warsito - Bahasa Jerman dan last but not least Pak Margono dengan Pendidikan Agama Islamnya. Dan masih banyak bapak dan ibu guru lainnya yang membagi pengetahuan yang beliau miliki kepada kita. Beliau-beliau adalah begawan yang tulus mendidik kita , membekali kita dengan berbagai ilmu dan ajaran budi pekerti dan moral yang luhur . Kita tidak dapat membalasnya, kecuali hanya dengan doa , semoga darma baktinya dicatat sebagai amal sholeh dihadapan Allah SWT.
Akhir tahun 1969 kita lulus dan meninggalkan SMAN Purworejo tercinta. Sebagian dari kita, ada yang langsung bisa menikmati bangku kuliah perguruan tinggi di fakultas kedokteran, tehnik, ekonomi, fmipa, hukum, fisip, ikip,  atau fakultas lainnya. Sebagian lagi  memasuki akademi kedinasan yang berikatan dinas dan sebagian lagi berjihad mencari pekerjaan, baik di Purworejo atau hengkang ke kota lain, dan terus berjihad untuk mengejar cita-citanya yang tertunda.
Perjalanan selanjutnya, kita mengarungi samudra kehidupan dengan menaiki bahtera takdir kita masing-masing.
30 September 2012 kita bertemu kembali di rumah Mas Amir Faisol dan Mbak Titik Isnaeni di Kutoarjo. Fisik kita sudah berubah, bahkan hampir tidak saling mengenal lagi. Garis kerut di dahi, pipi yang sudah mlorot, bandul dibawah mata sudah menggelayut, rambut yang sudah putih memplak, itu semua karena Sunnatullah, hukum alam yang tidak bisa dihindari. Namun semua ini bukan merupakan halangan bagi kita untuk saling bertemu kembali, walau hanya sejenak. Kenangan lama membangkitkan kita untuk tetap bertemu lagi. Silaturahim.
Semoga jalinan silaturahim ini tetap terjaga.  Aamiin.

Tangerang, akhir Desember 2012 - Kanapi - ex B2 

Catatan dari yang berwajib: ada yang mau nyusul untuk posting?

                                                                    

05 Desember 2012

Nostalgia MG 69

MG 69 yang ini bukanlah merek gitar, tetapi komunitas alumni SMA Negeri 1 Purworejo. Dalam pertemuan terakhir, September 2012 di rumah mas Amir Faisol, disampaikan beberapa ide yang diantaranya adalah perlunya media untuk menampung tulisan-tulisan nostalgia para alumni.
Mas Amir menyarankan agar sementara blog saya digunakan untuk menampung tulisan-tulisan tersebut, sebelum nantinya ( bila telah memungkinkan ) dibuatkan media baru. Saya mempersilakan.

Untuk itu,.........
saya mengundang teman-teman yang ingin menulis, monggo manfaatkan media temporer ini sampai nanti diboyong ke tempat lain. Kontak saya, saya akan mencoba membantu semampu saya.

Beberapa tulisan semacam, sudah saya tulis di label "Di antara Teman", meskipun sebagian diantaranya adalah tentang "teman" saya yang lain.

Salam untuk semua.