Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

07 Desember 2017

rasanya (3)

Menulis yang agak serius tetapi leluasa itu memang di sini tempatnya.
Bukan di fb, wa atau yang lainnya, karena di sana pada umumnya berisi tulisan pendek.....

Kelindan hidup antarmanusia ini pada umumnya dikaitkan oleh kesepahaman dan ketidaksepahaman, yang permanen maupun tidak permanen. Dan dengan itulah sepertinya yang namanya hidup bermutu diperjuangkan, baik untuk kepentingan ragawi maupun batini.....

Kemampuan dalam berinteraksi secara positif dengan sesama, memposisikan diri dan melihat dan membuka celah peluang serta menutup celah ancaman amatlah menentukan tercapainya mutu yang menjadi target.

Kesalahan bukanlah bencana, tapi modal untuk dapat menghindarinya di kemudian hari sehingga sebaiknya kita tidak perlu berlama-lama berhenti karena sebuah kesalahan. Jangan lupa, waktu terus berjalan tanpa peduli kita sedang apa....

Tidak pernah ada yang namanya sesuatu yang sia-sia kalau kita mampu memahaminya. Sejelek apapun hasilnya, itu tetap sebuah hasil dari apa yang sudah kita pikirkan dan upayakan, jadi tentu tetap adalah sebuah hasil.


Kalaupun kita sedang lelah, berhentilah agar setelah lelahnya hilang mampu bergerak kembali
Tetaplah semangat, dengan itulah kita maju ke arah yang sudah ditentukan....

30 November 2017

rasanya (1)

Besar atau kecil adalah persepsi dalam melihat sesuatu. Dan itu didapat dengan membandingkan sebuah obyek dengan obyek yang lainnya, dan akan sangat mudah ketika obyek itu bersifat terlihat atau kasat mata.
tetapi sangat berbeda ketika obyek tersebut adalah obyek yang hanya bisa ditangkap indera dengan merasakannya. Di sinilah peran indera perasa.
Namun indera perasa juga ada dua jenis, indera perasa yang berada di tubuh fisik, dan indera perasa yang berada di tubuh nonfisik, yang disebut perasaan.
Dan perasaan inilah yang bermain ketika kita sedang menangkap sesuatu yang dirasakan sebagai masalah.
Bukan hanya itu, seringkali justru kita sendiri yang bermain-main dengan perasaan ketika berhadapan dengan masalah.
Bermain dengan menjadikannya besar untuk sesuatu yang sebenarnya kecil, dan sebaliknya mengecilkan sesuatu yang sebenarnya besar.
Mengajari bagaimana perasaan untuk jujur tentang yang sebenarnya memang tidak mudah, karena selama ini kita sudah sangat terbiasa menerima segala sesuatu seperti kebanyakan orang lain menerimanya. Dan sebaliknya pula kita mungkin terbiasa menolak karena kebanyakan orang menolaknya. Kita sering terlalu malas untuk berpikir keras menggunakan hati karena lebih mudah mengikuti perasaan seperti orang yang lainnya.
Berpikir keras memang melelahkan. tetapi bukankah rasa lelah itu juga adalah suatu anugerah? Rasa lelah itu membuat sesuatu menjadi kembali seimbang ketika kita memberinya ruang dan waktu untuk rehat, agar ketika kita memulai lagi kita menjadi lebih segar dan bersemangat.
Berpikir sangat berbeda dengan mengikuti perasaan, karena berpikir adalah menggunakan indera jiwa untuk bekerjasama, sedangkan mengikuti perasaan hanya sebagian kecil daripadanya.
Mungkin, "tidak berlebihan" dalam berpikir dan menyikapi sesuatu adalah cara yang paling baik, agar kita terbebas dari kendali perasaan.
Termasuk bebas dari rasa takut akan kehabisan waktu maupun ruang, karena keduanya memang bukan milik dan hak kita untuk menguasainya melainkan milik Allah Yang Mahamenguasai segalanya.
Semoga semuanya akan sampai di tempat di mana seharusnya berada dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kehendakNya.
Aamiin.


12 Juli 2013

Becak Tandem untuk Mertua


“Saya beli becak ini biar mertua saya bisa kerja antar-jemput anak sekolah. Jadi dia tidak perlu lagi keluar malam untuk jualan mainan”.

Usia bapak mertuanya sudah lebih dari enampuluh tahun. Ibu mertuanya yang usianya lebih muda punya gangguan paru-paru. Laki bini itu sudah bertahun-tahun tinggal di rumah petak sewa, sejak anak mereka baru dua. Sekarang, anaknya yang ke lima -yang terkecil- sudah menjelang kawin. Sudah lama sekali mereka tinggal di tempat itu, dan sekarang sebagian dari anaknya yang sudah kawin juga tinggal di tempat yang hampir sama, berdekatan.

Malam itu, usai waktu tarawih, beberapa anak kecil riuh mencoba becak tandem. Becak empat roda dengan empat pedal kayuhan. Becak seharga empat juta kurang seperempat, yang dibawa pulang dari penjualnya dengan didorong sepeda motor sepanjang jalan ramai, sejauh lebih dari dua puluh kilometer. Didorong dan dikemudikan ganti-berganti oleh mertua-menantu, karena dengan cara itu akan lebih hemat daripada menyewa angkutan dengan ongkos seratus limapuluh ribu rupiah.

Mertuanya dulu juga menarik becak, dan ketika anaknya satu demi satu bekerja dan kawin tidak lagi menarik becak, tetapi berjualan mainan anak-anak, juga wayang karton yang dibuat sendiri.
Barang itu dijajakan di tempat-tempat rekreasi, di keramaian ketika ada pertunjukan, di bazaar-bazaar kampung dan sejenisnya. Laki-bini berangkat dan pulang bersama. dengan gerobak kayu seadanya yang ditarik motor. Bininya dibonceng dibelakangnya, dengan jaket tebal dan selendang melilit di lehernya.
Terkadang mereka berangkat sore dan pulang agak malam, Pakai jaket, terkadang jas hujan.

“ Kasihan mertua saya, pak, sudah tua, apalagi ibu mertua saya kurang sehat. Biar kerja antar-jemput anak-anak yang sekolahnya dekat-dekat sini saja”.

Di langit, awan tipis mengambang, bergerak pelan. Ini tarawih puasa yang ke tiga. 

05 Juli 2013

Blekok yang Bersyukur

Burung blekok menceritakan kepada burung hantu, betapa dia amat bersyukur atas nikmat yang diterima.

Anak-anaknya hidup sebagai blekok yang sukses, punya sarang sendiri-sendiri di lingkungan yang lebih bagus dan nyaman ketimbang habitat bapak dan emak blekok. Punya posisi cukup terpandang di kehidupan masing-masing, sehingga ada jaminan masa depan yang lebih baik di kelak kemudian.
Salah satu anak blekok, bahkan menjadi incaran head-hunter untuk didudukkan pada posisi strategis beberapa perusahaan multiblekok yang mempunyai jaringan seluas udara, darat, laut (dan kepolisian). Blekok muda yang lain mendapat jalan yang lapang untuk meniti jenjang akademiknya, dari S-3 yang pertama (SD-SMP-SMA) ke S-3 yang ke dua (doktor-sarjana sungguh sempurna).

Burung hantu  mendengarkan dengan mata menerawang jauh. Cerita berikutnya tentang blekok-blekok muda hanya masuk ke sebelah telinganya, sementara pikirannya teringat kepada (burung) hantu-hantu muda yuniornya. Para yunior yang mengusik hatinya, karena dia cemas masa depan mereka yang tidak akan sesukses (burung) hantu tua.
Sementara sebelah telinga mendengar cerita blekok muda yang ketika sakit mendapat fasilitas kamar VVIB (very very  important  birds) yang dibayar oleh Blekok Incorporated, sebelah pikirannya teringat bahwa ketika anaknya sakit, biaya berobat dan ngamarnya ditomboki oleh besan hantu.
Dan bla-bla-bla yang lainnya. Dan cerita ‘syukur’ burung blekok itu sudah didengarnya untuk yang kesekian kalinya sementara mereka bertemu di sore hari.

Burung hantu berpikir, andaikata sahabat blekok ini punya perusahaan koran atau TV, mungkin topik sebagian tulisan atau tayangannya  adalah tentang blekok muda. Burung hantu berpikir, adakah sahabat blekok ini lupa bahwa serial tayang-ulang cerita tentang blekok-blekok muda bisa jadi akan mengiris hati burung-burung yang lain ketika mereka mendengarkannya?

Dalam suatu kesempatan bertemu dengan sahabat senasibnya yang lain yakni  burung kucica, ternyata kucica juga punya teman perkutut yang juga termasuk golongan ‘perkutut yang bersyukur’. Kucica sendiri punya sakit sesak nafas, yang sangat gampang kambuh kalau pikirannya terganggu karena berpikir tentang kucica-kucica muda.  
Saking kerasnya berpikir tentang yunior blekok dan membandingkan dengan yunior hantu, gula darahnya meningkat……


20 September 2012

Rumah sepi

Rumah saya ini sekarang sepi, terlalu lama saya tinggal pergi dan jarang saya tengok. Kalaupun saya tengok, hampir tak pernah saya bersihkan halaman dan ruang serta isi di dalamnya. Maunya sih ngisi dengan sesuatu, tetapi entah kenapa, saya agak malu hati. Apalah artinya isi yang baru, kalau hanya sesuatu yang remeh-temeh saja. Apalagi saya merasa semakin tidak bermutu, yang kalaupun menyajikan sesuatu mungkin tidak akan begitu laku. Rumah saya sekarang sepi. Biarlah, saya akan menyepi di sini.

21 Maret 2012

Setahun lebih

Ditahan-tahan rupanya gak betah juga.
Di luar huru-hara riuh, di dalam hati juga gegap-gempita.
Teman-teman,
saya minta maaf, kalau selama ini saya menghilang seperti ditelan bumi, meskipun saya juga tidak yakin apakah 'kemunculan' saya kembali ini masih ada yang peduli.
Tidakpun juga sudah sepantasnya. Tetapi kalaupun panjenengan masih sempat membacanya, yang pertama saya sampaikan adalah:

Maafkan saya,

mungkin panjenengan sudah membelanjakan waktu, perhatian,
dan tentu saja pulsa
sesedikit apapun itu, untuk masuk ke rumah saya ini, sementara saya justru pergi.
Maafkan saya.

Saya ingin kembali bertegur-sapa, tapi rasanya tak pantaslah saya mengetuk-ngetuk pintu, menarik-narik ujung baju panjenengan, untuk sekedar dilihat dan didengar.

Bahkan,
ketika saya membayangkan panjenengan membaca tulisan ini pun, saya sudah sangat malu hati. Rasanya, saya sudah berkhianat habis, pergi tanpa penjelasan.

Tak tahulah.

Sekali lagi, maafkan saya.

18 November 2010

Di setiap butirnya

"Mari mampir, to!" setengah memaksa dimintanya kami mampir ke rumah beliau. "Monggo kalau mau lihat telur asin buatan saya"
Di bagian samping belakang rumah ada beberapa panci besar dengan gundukan berwarna hitam.
"Satu panci isinya kurang-lebih duaratus-tigaratus telur".
Lalu diceritakannya cara membuat telur asin yang bahannya telur bebek (itik) itu secara rinci. Juga di mana beliau beli telur mentahnya; " Yaaa sambil jalan-jalan dan silaturahmi ke desa sana sesekali. Biar ndak bosen di rumah terus"
Beliau sudah cukup lama pensiun. Tinggal berdua di rumah yang sebagian kamarnya disewakan sebagai kamar kost bagi para mahasiswa. Putra-putrinya sudah 'mentas', bekerja, menikah dan tinggal di tempat lain. Hari-hari panjang dilalui ke dua bapak-ibu ini antara lain dengan membuat telur asin sebagai sambilan.
Dicertakan behwa pengetahuan membuat telur asin ini ditiru dari almarhumah ibunya dulu sekali.
"Panjenengan ini telaten sekali, ya bu, setiap butir dibungkus dengan abu; padahal jumlahnya ratusan butir...."
"Ya sambil wiridan, nanti kan ndak terasa nglangut....." katanya.

Malam hari di rumah, ketika saya mencicipi telur asin buatan beliau yang dibawakan ketika kami pamitan, saya berpikir:

Di setiap butirnya, telur ini berbalur doa permohonan berkah dan keselamatan, di setiap panci gundukan telur itu: bertimbun-timbun doa penyerahan-diri yang ikhlas, di samping belakang rumah itu: bergema puja dan puji untuk kebesaran Allah swt yang terpantul pada dinding-dindingnya dan di rumah itu saya merasakan ada kehangatan, kedamaian dan ketulusan serta kepasrahan...


Semoga Allah swt senantiasa memberkati Pak Wien dan Ibu. Amien.


.

09 September 2010

Latah dan Basa-basi? Bukaaaaann...

Tapi ini benar-benar serius.
Teman-teman: Meskipun seharusnya yang namanya minta maaf dilakukan setiap saat, tetapi saya sungguh ingin memohon kepada Anda, maafkanlah kesalahan saya manakala tulisan-tulisan saya telah membuat rasa hati Anda terkoyak, terluka, teriris, terganggu, dan tercederai.

Saya ingin belajar lebih banyak untuk menjadi lebih arif, tetapi mungkin kemampuan saya jauh dari memadai untuk keinginan itu, sehingga selalu saja ada duri yang terpasang dalam tulisan-tulisan di blog ini maupun komen saya pada blog Anda.

Saya mohon maaf,
lahir-batin,
tulus.

Semoga Anda tetap ada dan menginspirasi saya dengan segala yang telah dan tetap Anda tuliskan,

Selamat Idulfitri 1431 H.

Salam.


.

03 Agustus 2010

In Memory

Lelaki sepuh itu duduk menghadap meja kecil yang sama sepuhnya dengan usianya. Sebuah poci tanah-liat berwarna coklat kehitaman dan beberapa cangkir mungil yang isinya seseruput teh kental bergula jawa ada dihadapannya.
Rambut di kepalanya dicukur nyaris pelontos, yang mestinya kalau dibiarkan pasti berwarna putih keperakan. Punggungnya yang bungkuk dibalut kaos oblong putih kusam.
Senyumnya terkembang berhias gigi yang masih berderet rapi.
Ketika kucium tangannya, dia menatapku dengan pandang berbinar: Pada becik tekamu?
Baik-baikkah saja kalian? demikian sapanya menyejukkan jiwa.
Lungguha kene, aku kangen sira... Duduklah disampingku, aku rindu kepadamu.
Tercekat kata-kataku, tertunduk pandanganku. Tak kuat rasanya menahan haru menerima berkat dan doa yang terpancar dari pandang matanya yang menyiratkan rindunya yang bergulung-gulung menerpaku.
Ingin rasanya bersujud mencium kakinya yang kini langkahnya tak lagi segesit dulu.
Seperti terpana dia menatapku, semakin kelu pula aku ketika tangan tuanya merangkul pundakku seakan ingin menyatukan jiwa.
Matahari yang mulai miring ke barat menyusupkan cahayanya lewat lubang-lubang di antara anyaman dinding bambu, dan aroma rokok kelobot jagung yang terbakar bak harum dupa yang menghiasi drama pertemuan ini. Senyumnya masih juga tersungging dibibirnya.
Tangan yang kulitnya telah mulai kisut perlahan menuangkan teh dari poci.
Sira wis tambah gede, ya.... Kau bertambah dewasa pula...
Seakan dia berkata: Masih cukupkah sisa umurku untuk menyaksikan perjalanan hidupmu, cucuku?
Setitik air mata membayang dari sudut matanya yang telah berkerut dimakan waktu...

Ya Allah, ampunilah dia, ampunilah aku...
Berkatilah sisa usianya, bimbinglah aku menjalani hidupku....

Ketika aku hadir lagi dihadapan nisannya, seakan masih terdengar sapanya lembut:
Pada becik tekamu.....

.

29 Juli 2010

Tenggelam

Rupanya hujan deras yang akhir-akhir ini mengguyur di berbagai tempat telah menyebabkan beberapa kawasan tenggelam. Tenggelam oleh genangan air. Ada yang surut dalam waktu pendek, ada pula yang berhari-hari. Korbanpun berjatuhan. Ternak, binatang liar, manusia, kebun, sawah, harta-benda, dan mental manusia.....
Kesedihan, keputus-asaan, kemarahan, rasa kasihan, duka cita, semua bercampur-aduk di dalamnya.
Drama yang digambarkan seperti ini, tampaknya sangat mirip dengan keadaan lain yang mungkin serupa.

Transportasi di Jakarta diramalkan bakal lumpuh total. Banjir pengguna jalan telah mengakibatkan penyumbatan di banyak ruas jalan, dan lalu-lintas macet.

Demokrasi yang memberikan ruang sangat luas untuk berpendapat telah mengakibatkan lalu-lintas pendapat berkeliaran, dan banyak yang dengan itu dapat memobilisasi gerakan-gerakan, dan kemudian berpotensi saling bersinggungan atau bahkan bertabrakan.

Berbagai informasi yang datang mengguyur indera penglihatan, pendengaran dan kemudian diserap oleh perasaan berpengaruh luar-biasa kepada perilaku seseorang. Apalagi bila nalarnya berjalan tertatih-tatih, dan nuraninya telah disandera oleh pengaruh keadaan sehingga tidak lagi mempunyai daya yang cukup untuk menjadi pandu. Pikiran dan tindakannya tenggelam oleh keadaan. Lalu hidupnya terbawa kemanapun arus berlalu.


.

03 Mei 2010

Bergunjing, mengapa?

Ada dua kelompok generasi karyawan di atas saya, generasi ‘ambil-alih’ yang pertama yaitu para beliau yang mengalami episode pengambil-alihan dari perusahaan milik Belanda, dan yang ke dua adalah generasi AGN yang mulai bekerja pada era 65-70an. Saya sebut generasi AGN karena sebagian dari mereka oleh Perusahaan disekolahkan di Akademi Gula Negara Jogja, sebuah pendidikan ikatan dinas kala itu yang mendidik mahasiswanya menjadi ahli gula terutama di bidang proses pengolahan gula dan satunya lagi di bidang ketata-usahaan gula. Lulusannya bergelar B.Sc. Jumlah mereka cukup banyak, dan sangat diharapkan menjadi ujung tombak di era kemudian setelah pendahulunya pensiun.
Ada sebuah istilah menarik untuk mereka yang B.Sc. proses. Di lingkungan pergulaan saat itu mereka disebut juga sebagai ‘Dokter Gula’, bukan dokter ahli penyakit gula ataupun bukan ahli mengobati gula yang berpenyakit, tetapi sebutan itu mungkin karena pakaian kerja mereka yang seperti jas dokter. Kalau anda punya anak gadis dan tinggal di lingkungan Pabrik Gula, para dokter gula bujangan ini adalah calon menantu idaman, lho. Karena mereka punya kans terbesar untuk menjadi pimpinan PG (pabrik gula) alias Administratur atau bahkan menjadi Direktur di Kantor Pusat. Tapi itu zaman dulu.

Kembali ke generasi AGN.
Merekalah para sarjana muda pemegang tongkat estafet berikutnya, yang akan mewarisi norma-norma dan budaya warisan generasi sebelumnya yang notabene rata-rata ‘hanya’ lulusan STM ( Sekolah Teknik Menengah ) atau MTS (Middelbare Technishe School) dan SMA atau AMS (Algemeene Middelbare School) plus pelatihan-pelatihan sangat intensif dari para Belanda pendahulunya.
Pada masa ini terjadi beberapa perubahan gaya kerja karena pengaruh politik, sosial maupun ilmu pengetahuan di bidang pergulaan. Mereka mulai berusaha mengembangkan diri dan menjawab tantangan zaman. Pabrik yang makin tua, lahan yang semakin terbatas karena wajib tanam tebu sudah tidak ada, eksperimen-eksperimen untuk meng-Indonesiakan cara kerja warisan Belanda mulai dilakukan. Di masa ini pula terjadi beberapa kali reorganisasi dan regrouping. PG-PG yang dulunya milik beberapa Maskapai Belanda dan keberadaannya tersebar, mulai dikelompok-kelompokkan menurut wilayah geografis dan dikendalikan oleh seorang Inspektur. Berubah lagi menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) lalu PNP, menjadi PTP.
Generasi ‘ambil-alih’ mulai habis, pensiun.
Oleh generasi AGN, Prosedur dan Standar Kerja (SOP-Standard Operating and Procedure) yang ada kemudian dikaji dan disesuaikan, tentu saja dengan memperhatikan kebutuhan lapangan dan ketentuan Pemerintah, yang sejak medio 70-an mulai menghilangkan sistem sewa lahan milik petani menjadi sistem Tebu Rakyat, di mana petani menanam dan mengelola sendiri tebunya dan kemudian menyerahkan kepada PG untuk diproses dengan bagi hasil produksi.
Ini adalah masa sibuk. Jaman normal telah lewat. Satu demi satu PG mengalami kerugian. Kondisi mesin dan peralatan yang semakin uzur (ada yang mulai tahun 1870-an lho!), kendali produktivitas yang semakin sulit ( cara petani mengelola tentu beda dengan Sinder PG mengelola kebunnya) dan likuiditas yang semakin terbatas ( harga gula ‘dikendalikan’ Pemerintah sementara inflasi berakibat naiknya ongkos produksi) membuat industri gula megap-megap bagai ikan di sungai keruh. Dan ini tugas berat bagi generasi AGN yang saat itu sebagian telah menjadi pimpinan strategis untuk mengatasinya, meskipun (dalam dugaan saya) mungkin hal-hal seperti ini tidak pernah diajarkan ketika mereka belajar di Akademi. Tentu hasilnya sangat tergantung kepada kepiawaian para Manajer. Namun dalam perjalanan sejarah terbaca satu demi satu PG pingsan dan kemudian mati atau paling tidak koma dan dinfus terus-terusan.
Belum sempat menuntaskan tugas, generasi ini pensiun. Mereka meninggalkan Perusahaan dengan segudang pengalaman, kesan, kenangan, dan yang jelas: tugas yang masih harus diselesaikan oleh generasi berikutnya, yang entah apa pula yang akan dihadapi.
Generasi berikutnya datang pada era 80-an. Generasi ‘sekolahan’, yang mengenal zaman Belanda hanya dari pelajaran. Yang bahkan tiba-tiba kaget ketika kecebur di dunia antah-berantah industri gula. Di mana mimpi sangat beda dengan kenyataan. Di mana teori tergagap-gagap ketika berhadapan dengan praktek. Di mana segala cerita masa lalu ternyata sudah sangat berbeda keadaannya dengan masa kini.
Mereka belum cukup dikelonin oleh para seniornya, ditulari ilmu-ilmu dasar dan mendapat dongeng bermakna, barangkali karena para seniornya terlalu sibuk mengatasi masalah lain sehingga mengajar yuniornya tidak begitu intens dan strict (seperti sewaktu Londo yang ngajar). Tentu masih ada juga senior yang baik, mengajar dan menghajar yuniornya agar menjadi cukup handal untuk nantinya menggantikan mereka.
Saya menyimak keadaan ini, dan saya prihatin, karena secara umum yang terjadi akhirnya adalah lemahnya kendali dan semakin lebarnya kesenjangan. Baik senjang wawasan maupun sikap. Dan buntutnya adalah kerja yang tidak terkonsolidasi dengan baik.

Sekarang cerita ‘diadili’.
Datang seorang senior yang akhir-akhir ini disewa Perusahaan untuk memandu sebuah pekerjaan. Senior tersebut baru pensiun sekitar empat-lima tahun lalu. Beliau menyampaikan kritik kerasnya terhadap pelaksanaan kerja di lapangan, yang nota bene pernah menjadi ladang kerjanya pula.
“Bagaimana bisa baik kalau SOP tidak dilaksanakan dengan benar, kontrol lemah, dsb,dsb, dsb” Banyak, dan sambil memandang saya dengan pandangan geram, seperti beberapa orang senior lain sebelumnya ketika ketemu saya. Dilanjutkan oleh beliau, bahwa kemunduran-kemunduran yang terjadi adalah karena cara-cara yang baik, yang telah dilakukan ‘pada zamannya’ telah ditinggalkan dan diganti dengan cara lain, kualitas SDM tidak sehandal dulu, banyak hal dilakukan secara coba-coba, dan banyak hal lain lagi. Pembicaraan berkembang dengan membicarakan praktek-praktek yang dinilai tidak bagus, meningkat menjadi komentar terhadap kebijakan-kebijakan manajerial, bergesar menjadi bergunjing tentang orang.
Saya kok jadi panas (hehehe..... padahal sebelumnya agak kedinginan karena AC disetel terlalu rendah suhunya), karena saya merasa diadili. Bagaimana tidak! Saya merasa tidak bisa menerima pendapat beliau yang cenderung menganggap para yunior ini ‘under performance’, tidak menghormati ajaran-ajaran seniornya, tidak bekerja sebaik para senior, dsb. Saya kok tiba-tiba mempersonifikasikan diri sebagai yunior. Yang diadili. Padahal saya juga sudah pensiun.
Karena tidak kuat memendam rasa, dari mulut saya terlontar komentar bernada bantahan dan pembelaan:
Sudah tepatkah cara kita dulu mengajar para yunior ini, seperti cara para senior sepuh mengajar kita? Masih samakah medan kerja mereka dengan medan yang dulu kita hadapi? Apakah mereka mendapat pembimbing yang berkualitas, seperti kita dulu mendapat pembimbing yang berkualitas?
Perbincangan yang potensial menjadi arena perbantahan mirip tayangan di televisi ini terputus karena batasan waktu. Dan kemudian saya menemukan sesuatu:

Ikatan emosional seseorang dengan institusi tempat dia pernah bekerja akan berwujud sebuah kebanggaan, manakala (1) dia tahu bahwa institusi tersebut berkembang menjadi lebih baik sepeninggalnya, (2) ketika kembali berada di lingkungan institusi tadi, dia masih dikenal dan disapa dengan baik, apalagi karyanya masih diakui
Dan apabila sebaliknya: yaaa tahu sendirilah. Minimal sedih atau selebihnya: Bergunjing!
Demikianlah, saya sudah selesai diadili. Dan karena ini tidak termasuk pelajaran sejarah yang ilmiah, maka referensinya hanya berdasar ingatan belaka, dan yang jelas tidak akan keluar dalam soal ulangan apalagi ujian nasional.


(salam hangat untuk teman-teman: para yunior dan senior)

30 April 2010

Bergunjing, ah !

Saya cuma mau nyambungkan judul dengan tulisan kemarin.

Episode nyaman yang dialami oleh para senior saya, rupanya tertanam sebagai kesan yang amat membanggaken hati ('ken' bukan 'kan). Zaman emas, di mana sebagian mereka telah menyelesaikan masa bekerjanya tanpa terganjal oleh kesalahan.
Pengambil-alihan bisnis dari maskapai Belanda yang dinasionalisasikan pada penghujung tahun 50-an, mengharuskan para manajer dan staf Belanda untuk menyerahkan tugas dan tanggung-jawab mereka kepada para staf lokal, senior-senior sepuh (tua)saya. Sebagian besar dari mereka ketika itu berusia sekitar tigapuluh-empatpuluhan tahun, dengan pengalaman kerja sekitar lima-sepuluh tahun. Mereka tiba-tiba harus mengelola bisnis dengan segala permasalahan yang sebelumnya barangkali belum pernah diketahui dan diperkirakan.
Bisnis unik ini (yang sekarang populer disebut agribisnis) berawal dari kebun atau lahan.
Benih ditanam, dirawat, dilindungi dan kemudian dipanen secara cermat. Kendala irigasi, hama-penyakit dan cuaca, berdempetan dengan kualitas-kualitas pemeliharaan, lahan, petani yang menggarap dan ahli yang mengkoordinasikan dan mengawasinya.
Penanganan pasca-tebangpun harus prima; ancaman waktu dan cuaca (lagi-lagi!) harus dicermati dan diantisipasi.
Banyak deh pokoknya!
Belum lagi urusan proses pabrikasinya, penyimpanannya, mengatur sumber dan penggunaan duitnya. Wah, pusing.
Tetapi itu semua dapat dilakukan pada masa itu, dengan bekal pengalaman pendek yang mereka miliki, berbasis panduan yang pernah didapatkan dari para Londo baik secara tertulis maupun praktek.
Ada sebuah perbedaan prinsip tentang kepemilikan bisnis; yang sebelumnya milik sebuah maatschappij (nulisnya bener gak ya?) atau company sekarang menjadi milik negara. Kalau dulu ibarat milik seseorang yang riil sosoknya, pemilik sekarang menjadi abstrak, sehingga cara pertanggung-jawabannya menjadi sedikit berbeda.
Dan, lagi-lagi 'mereka' para senior sepuh saya itu merasa sukses. Bisnis berjalan dengan baik, progresnya masih tetap positif, dan secara nyata imbalan kerjanya tetap bagus. Gaji dan fasilitas memuaskan sekali. Masa jabatan sebagai manajer relatif amat panjang; bagaimana tidak, saat itu mereka menggantikan posisi strategis yang ditinggalkan oleh para Londo ketika rata-rata masih berumur tigapuluhan tahun dan pensiun pada usia lima-lima: hampir seluruh usia kerjanya jadi manajer! Hebat, kan. Itulah yang dialami oleh generasi 'ambil-alih'. Era di mana kondisi industri masih seperti sebelumnya, kecuali manajemennya. Finansial masih kuat, sistem dan prosedur pengelolaan masih tetap cocok dan dijaga, dan yang mungkin menjadi fondasi dari segala hal tersebut: budaya kerja dan lingkungan belum terkontaminasi, tetap seperti semula yang sering disebut 'budaya feodal' (entah apa maksudnya!).

Stirahat lagi ya, dongengnya dilanjutkan besok ah, mudah-mudahan tetap enak dibaca. Kalaupun tidak, ya, maafkan saya.

29 April 2010

Bergunjing

Berada di antara para senior yang telah pensiun, saya merasa 'diadili'. Ceritanya:

Lima-enam orang senior saya yang sudah pensiun lebih dulu, sekarang sering kumpul-kumpul di rumah salah-satu dari mereka. Acara rutinnya bersepeda-ria. Dan itu telah berjalan intens kurang lebih empat tahunan ini. Kelompok 65++ ini dulu berasal dari angkatan kerja yang sama, sekitar tahun 1966, di mana ketika itu Perusahaan lagi berada pada zaman 'keemasannya', sampai-sampai beberapa di antara karyawan pada era itu berasal dari para karyawan bank dan akuntan yang akhirnya memilih menyeberang untuk bekerja di industri gula.
Pada saat itu, jaminan kesejahteraan relatif sangat baik bila dibanding dengan instansi lain. Dibandingkan dengan 'instansi' karena Perusahaan Perkebunan dan Pabrik-pabriknya masih sangat kental bau 'pegawai' semacam pegawai negeri. Pesaing yang lebih bergengsi paling-paling adalah Pegawai Kantor Pajak. Atau Colibri (begitu Unilever biasa disebut ketika itu). Gaji bagus, jaminan kesehatan sip, fasilitas kerja aduhai. Contoh:
Seorang Kepala Tata-usaha Pabrik Gula pernah cerita: ketika menerima amplop gaji bulan ini, amplop gaji bulan sebelumnya masih utuh dan belum dibuka! Kalau dinas ke Kantor Pusat (jaman itu mereka menyebutnya : dines ke Direksi) maka dipilih kendaraan dinasnya pick-up, bukannya station atau jeep, karena selesai urusan dengan Kantor Pusat mereka akan belanja kulkas, tape-deck yang segede kulkas juga, itupun masih harus belanja titipan pesanan serupa dari kolega-kolega yang lain.
Sakit dan opname juga membanggakan. Aneh ya! Ketika sebagian tetangga yang pegawai biasa sakit diopname di RSU milik Pemerintah, mereka dirawat di RS Swasta yang terkenal, yang lantainya kencang bau lisolnya. Yang 'bezoek'nya amat disiplin, yang tempat makan pasiennya bukan baki ompreng aluminium dengan cekungan tempat bubur, sayur dan daging, dan sendok bebek; tapi disajikan di atas baki beneran, dengan piring, mangkuk dan sendok 'alpacca'. Kebanggaan tuh, bagi yang sakit dan keluarganya, dan layak dipamerkan ketika sanak famili serta beberapa tetangga datang menyambangi.
Berangkat kerja juga keren. Sementara yang lain berangkat bersepeda (jaman itu motor belum banyak) atau naik angkutan umum, mereka dijemput dan diantar pulang dengan bis pegawai yang catnya abu-abu terang (warna yang lagi ngetren saat itu) dan sisi kanan kirinya ada tulisan "BIS PEGAWAI". Berangkat rapi, pulang tetap rapi ( gak kerja kali, ya) karena kantornya gedung kuno warisan Londo, yang bersih mengkilat megah sampai ke kakus-kakusnya. Sejuk dengan plafon tinggi ventilasi lebaar ditambah 'waier' (entah gimana nulisnya yang benar, maksudnya adalah 'fan' alias kipas angin.

Pantesan, beberapa karyawan bujangan lelaki ketika itu mencadi calon mantu idaman, tempat calon mimpi digantungkan oleh para calon mertua. Para bachelor ketika itu pesaingnya cuma satu: kadet, calon perwira angkatan laut yang masih dididik di AAL, Akademi Angkatan Laut, yang kalau malam minggu 'pesiar' dengan seragamnya yang menarik hati, jalan dengan langkah rapi berdua-dua. Cuma itu kompetitornya.

Tapi ternyata keadaan berubah. Pelan dan pasti. Pasti berubah, maksud saya. Sangat mengejutkan bagi mereka, senior-senior saya ketika mereka tiba-tiba harus dibangunkan dari mimpinya oleh gegap-gempitanya kenyataan. Saya adalah salah satu produk yang berada pada era sesudah mereka, ketika perubahan drastis datang.

Kok melantur ya; diadilinya kapan? Sabar dulu ah, capek!
Bikin minum anget dulu yuk! disruput pelan.... segaaaaaar.
Semoga Anda semua dalam keadaan sehat, doakan juga saya.

.

31 Maret 2010

Salah Makan

Saya pikir, saya ini lagi kena dampak salah makan. Entah macam makanan seperti apa, yang ketika masuk ke dalam lambung kemudian mempengaruhi syaraf ngotot saya. Maunya nggak suka dikalah-kalahkan. Dalam segala hal. Contoh:

Ketika orang melempar saya dengan kerikil, saya akan balas dengan batu yang lebih besar, yang akan saya bidikkan ke kepalanya supaya dia tumbang.
Ketika orang mencela perkataan saya, saya akan balas dengan mengumpatnya.
Ketika saya lagi bicara dan orang menyelanya, saya akan terus bicara tanpa peduli bahwa pembicaraan akan jadi tumpang tindih.
Ketika saya merasa terancam entah oleh siapa, saya akan menghantam siapapun yang saya anggap pantas saya hantam.

Entahlah.

Seakan sudah mati kesadaran saya, bahwa saya yang semula selalu harus berpikir sebelum melakukan sesuatu, sekarang menjadi abai akan hal tersebut. Hantam saja, nggak ada urusan. Begitu.
Rasa takut yang sepertinya tidak beralasan, telah menteror, merasuk dan menjadi bagian dari kepribadian saya akhir-akhir ini, dan membuat saya menjadi mudah beringas dan seolah tak punya lelah mengulangnya.

Saya jadi curiga.
Pasti ada sesuatu yang salah yang telah dan selalu saya makan.
Paling tidak, ada sesuatu unsur dalam makanan saya yang tidak benar. Entah itu memang bawaan dalam makanan tersebut atau ditambahkan dalam makanan tersebut entah oleh siapa.

Adakah itu diri saya, yang Anda lihat di tayangan-tayangan berita TV atau berita media lainnya?

Bakar, serang, lempar, umpat, musnahkan !!!!!

Adakah itu karena salah makan?

.

24 November 2009

Demi Sebuah Tanggung-jawab (lanjutan)

Sebelum berangkat isterinya berpesan: “Usahakan bisa dapat uang ya pak, Si Didi sudah ditagih SPP-nya, paling lambat besok harus dibayar, kalau tidak, dia nggak boleh ikut ulangan”
“Pagi ini aku ngga jadi kulak gula sama sabun, duit warung udah terpakai, lagian si Roni kan musti ditungguin, badannya masih panas” Ya, sepulang dari dokter semalam Roni sempat bisa tidur, tapi lepas tengah malam panas badannya naik lagi dan muntah sampai tiga kali.
Joni berangkat kerja dengan harapan uang ganti obat bisa didapat, meskipun dia tidak yakin. Hari ini tadi dia tidak bisa bekerja dengan konsentrasi yang baik, apalagi ketika ternyata uang yang diharapkannya tidak diproses oleh bu Janti. Untung saja bosnya memahami kebutuhannya yang sangat mendesak tadi. Baru kali ini dia curhat masalah ’kebutuhan’ kepada bosnya. Terpaksa.

Sesampai di rumah uang Rp 20 ribu dia berikan kepada isterinya, yang menerima dengan ekspresi datar-datar saja. Barangkali isterinya berpikir bahwa demikianlah seharusnya, tanpa tahu proses di balik uang Rp 20 ribu tadi. Si Roni panasnya sudah turun, mulai mau makan dan sekarang tidur nyenyak.

Petang itu, Joni duduk berdua dengan isterinya di beranda rumahnya yang sempit. Tanpa saling bicara, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Joni masih berpikir tentang bu Janti.
Perempuan ’penguasa’ yang mengurusi penggantian uang dokter dan obat di kantornya. Hampir semua karyawan tahu bahwa tidak gampang mendapatkan pelayanan yang baik dari bu Janti, bahkan kebanyakan pernah disemprot dengan kata-kata yang tidak enak didengar. Konon suaminya seorang adalah seorang staf dengan pangkat lumayan di BUMN lain, yang tentunya dengan gaji yang lebih dari cukup untuk hidup layak meskipun bu Janti tidak usah bekerja. Rupanya bu Janti bekerja bukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan, namun lebih karena dia seorang sarjana hukum yang memang sudah bekerja sejak sebelum menikah, sehingga baginya bekerja adalah sebuah kebutuhan untuk mengisi waktunya dan melanjutkan kebiasaannya di luar rumah.
Bu Janti tidak pernah merasakan sebagai seorang ibu rumah-tangga yang kekurangan uang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, belanja, bayar SPP anak-anak, listrik, iuran kampung, amplop ketika diundang teman dan tetangga hajatan dan lain-lain. Beliau tidak punya tolok ukur terhadap hal semacam itu, karena baginya hal-hal semacam itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan kesehariannya.
Sehingga empatinya nyaris tidak ada ketika dalam melakukan tugasnya dia banyak berhadapan dengan karyawan kecil macam si Joni.

Joni memandang isterinya dan membayangkan, andai saja yang berada di kantor itu adalah perempuan macam isterinya, maka ketika pagi-pagi tadi Joni datang dengan kuitansi tentu akan disegerakan memprosesnya, karena isterinya faham benar bahwa kedatangan Joni sepagi itu pasti demi sebuah tanggung-jawab. Dia membayangkan lagi perusahaan di mana dia bekerja penuh dengan orang-orang baik, lurus, penuh tanggung-jawab, dan ...... Ah, tentu akan menjadi tempat bekerja yang menyenangkan, bukan semata-mata karena penghasilan yang diterimanya.

.
salam untuk peserta KMPM Angkatan 23/1995

.

23 November 2009

Dua Puluh Ribu

Tahun 1995.
Joni, seorang karyawan sebuah perusahaan Negara pagi-pagi sudah menunggu di kursi tamu bagian SDM. Di tangannya ada dua lembar kertas, kuitansi pembelian obat dan copy resep dari apotek. Siapapun di kantor itu akan segera sadar bahwa Joni menunggu kedatangan bu Janti di bagian SDM agar kuitansi pembelian obatnya dapat memperoleh penggantian.
Beberapa saat kemudian ketika bu Janti dating, Joni segera menghampiri dan menyerahkan dokumen yang dibawanya. Bu Janti segera faham maksud si Joni. Tentu minta agar hari itu juga penggantian dapat dicairkan. Nilainya Rp 20 ribu. Bu Janti berkata agar kuitansi tersebut dimasukkan ke map “Kuitansi” dan Joni diminta meninggalkannya. Ketika Joni membuka map tersebut, dia sempat melihat ada sekitar tujuh atau delapan kuitansi serupa. Hatinya terkesiap, jangan-jangan kuitansinya tidak bisa dicairkan hari ini, padahal sebelum berangkat tadi isterinya sudah wanti-wanti berpesan agar diusahakan uang tersebut dapat dibawa pulang hari ini, karena besok harus dibayarkan untuk SPP anak sulungnya. Uang yang tersisa di rumah hanya cukup untuk belanja tiga hari lagi.
Joni dengan lemas meninggalkan ruangan SDM. Dia tahu betul watak bu Janti yang galak. Namun harapannya tidak padam. Nanti jam sepuluh dia akan menengok nasib kuitansinya. Mudah-mudahan sudah diselesaikan oleh bu Janti.
Jam 10 lebih sedikit, Joni melongokkan kepala di sela pintu ruangan SDM. Bu Janti sedang makan di mejanya berhadapan denga bu Nelly. Ketika melihat Joni mendekat, bu Janti berkata: Beluuuuum, nanti!
Joni balik dan berencana nanti setelah jam istirahat dia akan kembali.
Ketika usai jam istirahat, bu Janti berkata: Belum sempat. Besok saja. Aku hari ini repot sekali. Sambil berdiri di sebelah meja bu Syane yang sedang mendisplai baju anak-anak, dagangan yang dibawa dari rumah.
Pandangan Joni gelap sesaat. Ia harus memutuskan: meminta penjelasan dari bu Janti atau mencari jalan lain untuk mendapatkan uang Rp 20 ribu.. Putusannya, daripada berdebat yang tak akan menang dengan bu Janti, dia memutuskan untuk mencari pinjaman kepada bosnya sendiri.
Bosnya dengan senyum meminjamkan uang Rp 20 ribu kepada Joni. Meskipun di kantongnya sendiri tinggal tersisa Rp 5 ribu.
( to be continued)

20 November 2009

Benang Kusut


Kalo benang sudah kusut, cuma ada tiga cara :

1. buang yang kusut, cari benang baru yang tidak kusut
2. yang kusut diputus dan dibuang, sisa yang tidak kusut gunakan untuk menjahit
3. uraikan dan gulung kembali dengan rapi, lalu lanjutkan menjahitnya

Setidaknya itulah ke tiga pilihan yang bisa diambil salah satu agar dapat segera menjahit kembali. Masing-masing pilihan membawa konsekuensi finansial, waktu dan tenaga. Mana yang harus dipilih juga sangat tergantung seberapa mendesaknya kebutuhan untuk menjahit. Semakin mendesak mungkin pilihan no. 1 yang layak untuk dipilih. Itupun kalau duitnya cukup untuk membeli benang baru.

Kekusutan yang terjadi di negeri ini tidak sesederhana benang yang kusut. Sudah kusut, masai pula (apakah itu masai?), super-kusut, biang-kusut, mbahne kusut, sehingga pantaslah kemudian banyak orang dan pemimpin terjebak di dalamnya. Dan lalu hanya terbengong-bengong, lalu malah berputar-putar di tengah benang, menjadikan keadaan yang sudah kusut jadi mangkin kusut lagi.

Musyawarah serta diskusi dengan adu argumentasi yang kalau di forum-forum akademik/kajian dilakukan secara beradab (adab intelektual), di sidang-sidang parlemen serta forum-forum publik sudah dilakukan secara vulgar dan memalukan. Suara makin keras, tangan jepaplangan (apa ya bahasa Indonesianya?), bahasa santun dilupakan, komunikasipun menjadi ikut kusut. Dan hasilnya seringkali tidak dapat disimpulkan. Tidak ada secuilpun yang dapat menjadi pelajaran dan contoh baik bagi penonton maupun pengamat, apalagi bagi generasi muda, kecuali sebuah pertunjukan sirkus: otot itu perlu, ngotot itu penting, macan itu bisa dijinakkan dengan kerangkeng, daging segar dan latihan dipukul sejak ketika masih bayi.

Ketika Profesor Arif Rahman diminta menyampaikan tanggapan oleh Andy Noya pada acara Kick Andy yang menampilkan beberapa guru dan pustakawan, pak Profesor bertanya: berapa banyak di antara kita yang lebih mudah mengeluh dibanding dengan yang bersyukur? Ternyata lebih banyak yang mengeluh.

Saya menarik kesimpulan sendiri: barangkali oleh karena itu maka keadaan menjadi semakin kusut karena sebenarnya pikiran kita yang terjebak dalam pola pikir yang kusut.

Mengapa harus tetap menjahit ketika benangnya ternyata kusut? Toh baju bisa dibeli atau suruh orang untuk menjahit tanpa harus menjahit sendiri?
Memang bisa, tetapi cukupkah uang untuk membeli? Dan lagi, fit-kah baju kodian dengan tubuh kita?

.

08 Oktober 2009

Malioboro, Kuda dan Saya

Entah siapa yang salah, kudanya atau pejalan kakinya.
Tiba-tiba sebuah dokar (andong, sado, delman) hampir menabrak sekumpulan pelancong yang nyelonong masuk ke jalur becak dan andong di malioboro.
Untung kusir dokarnya waspada, tepat sebelum boom (boom konon adalah dua batang kayu yang mengapit kuda dokar), tepat sebelum boom mengenai muka para pejalan kaki, mas kusir menahan laju andongnya dengan sigap.

Hari raya kemarin, seperti biasa Malioboro penuh pengunjung. Karena emperan toko terlalu disesaki para pembelanja, sebagian orang pindah berjalan ke jalur sebelahnya, jalur andong dan becak. Lumayan lega, meskipun di sudut-sudut tertentu bau pesing, entah bekas kencing kuda atau kencing manusia. Dan ada pula yang basah, entah sisa minuman orang entah pula anunya kuda tadi.

Tapi ya itu tadi. Musti ekstra waspada. Salah-salah keserempet becak atau andong.

Di Malioboro beberapa hari lalu itu, saya mendapatkan "pencerahan" bahwa : kemeriahan lebaran yang disambut dengan wisata ke Malioboro sesungguhnya azab bagi kuda-kuda yang menarik andong.

Dia harus bekerja keras, dan oleh karena itu bossnya dapet duit banyak.
Dia harus menahan sakit, karena berkali-kali kekang di mulutnya ditarik bossnya supaya menahan langkah dan berhenti atau berbelok.
Dia harus menahan capek akibat berlama-lama berdiri dan berjalan, karena kuda dilarang tidur rebahan di jalan Malioboro.

Dan oleh karena itu, dia tidak pernah minta maaf, ketika andongnya menyerempet orang yang berjalan meleng.
Dia juga tidak minta maaf ketika "ilernya" yang menetes ketika dia berjalan, mengenai orang di dekatnya.
Dia juga tidak minta maaf, ketika tiba-tiba dari arah bawahnya keluar air dan menciprati pejalan kaki di sebelahnya.

Untuk semua ha-hal yang salah dilakukannya maupun tidak pantas dilakukannya, dia tidak pernah minta maaf.

Tapi saya kan bukan kuda,
untuk itu,
karena saya tidak ingin menjadi dan seperti kuda maka:

bersama ini saya menyampaikan permintaan maaf karena:

saya sudah menggilas, menabrak dan menyerempet banyak teman dan saudara saya
saya sudah mengencingi dan meludahi banyak teman dan saudara

Semoga saja andika semuanya sudi memaafkannya, agar saya tidak tampak seperti kuda di hadapan andika sekalian, teman-teman dan saudara saya.

Saya merindukan andika semuanya,
siapa tahu kita lebaran depan bisa bertemu di Malioboro,
untuk bersama-sama melihat, apakah para kuda di sana sudah berubah perilakunya.

.

06 Juli 2009

Maunya.......

Setelah beberapa saat mengistirahatkan jempol yang keriting, maka aktivitas ngeblogpun dimulai lagi.
Itu maunya .....
Istirahatnya hampir saja kebablasan, dan nyaris jadi males ngeblog. Entah 'setan' jenis apa yang lagi mampir di kepala.
Dulu, ketika beberapa blog teman tiba-tiba stagnan, dalam hati timbul pertanyaan: kok bisa ya ?? Tapi setelah mengalami sendiri, he he he .... Seru juga, ternyata.
Itulah manusia, eh, sori, saya.
Ok. Sekarang, saya mau lihat diri saya sendiri.
Sambil ngeblog. Maunya .....

19 November 2008

Kupu-kupu


Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau terbang

Hilir-mudik mencari, bunga-bunga yang kembang

Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah

Tidakkah sayapmu, merasa lelah


Anda masih bisa menyanyikannya, kan?

Lagu anak-anak di atas, adalah salah satu lagu favorit saya karena relevansi syairnya. Tersindirkah saya? Ya banget, sih.

Bagi saya, lagu sesederhana itu ternyata mengandung banyak faset yang dapat direnungkan. Periodisasi perjalanan hidup misalnya, dimulai dari periode saya masih kupu-kupu yang ‘lucu’ sampai dengan periode saya menjadi ‘makin lucu’ seperti sekarang.

Aktivitas, dari sejak saya terbang untuk berlucu-lucu sampai ketika saya terbang untuk mencari sesuatu.

Batas-batas, tangkai lemah di mana saya harus berayun-ayun dengan hati-hati, dan sayap saya yang lelah tetapi tetap saya gunakan untuk terbang.

Saya kagum dengan penciptanya, Ibu Sud yang demikian cerdas dan arifnya memotret perilaku orang dewasa serta sekaligus memberikan peringatan agar tidak menjadi kupu-kupu yang mati sia-sia pada akhirnya. Potret dan peringatan tersebut mampu disajikan dalam sebuah lagu anak-anak.

Jadi, ketika mendengarkan seorang anak kecil menyanyi : Kupu-kupu yang lucu .....

Saya bertanya kepada diri sendiri:

.................. ke mana engkau terbang?