02 Mei 2013
Pak Wied yang membuat saya menjadi lebih kaya
"Keruwetan memang adalah bawaan bagi dunia, dunia memang harus ruwet karena kalau tidak ruwet namanya bukan dunia"
Sepertinya beliau pernah tamasya ke "bukan dunia" saja.
Guyonan itu setelah direnung-renungkan benar juga adanya, dengan catatan bahwa yang memandang dunia tersebut adalah seorang 'manusia dunia', yang masih disibukkan dengan cita-rasa, cara pandang, sikap, keinginan (nafsu) dunia. Tetapi mungkin bagi teman yang lain dunia yang itu tadi sama sekali tidak ruwet, justru sangat sederhana dan baik-baik saja adanya.
Teman saya memang orang yang menurut saya amat istimewa, karena beliau telah melakukan perjalanan hati panjang dan lama, sehingga mampu memperbandingkan apa-apa yang telah dilihat dan dirasakannya selama dalam perjalanannya. Lalu melakukan perenungan mendalam atasnya.
Pada awalnya cukup sulit saya memahami perkataan-perkataannya yang terkadang tajam menusuk dan terkadang amatlah lembut. Namun setelah belajar mencocokkan ungkapan-ungkapannya dengan 'catatan perjalanan' teman yang lain, saya menjadi amat suka mendengarkan dia bicara dengan segenap kejutan di sela-selanya.
Pak Wied, terima kasih.
Anda telah memperkaya khasanah saya.
Anda telah kadang-kadang menyeret saya keluar dari kesuntukan, meskipun sebagian lain dari diri saya masih bersikukuh di dalam ruang kesuntukan saya.
05 Desember 2012
Nostalgia MG 69
Mas Amir menyarankan agar sementara blog saya digunakan untuk menampung tulisan-tulisan tersebut, sebelum nantinya ( bila telah memungkinkan ) dibuatkan media baru. Saya mempersilakan.
Untuk itu,.........
saya mengundang teman-teman yang ingin menulis, monggo manfaatkan media temporer ini sampai nanti diboyong ke tempat lain. Kontak saya, saya akan mencoba membantu semampu saya.
Beberapa tulisan semacam, sudah saya tulis di label "Di antara Teman", meskipun sebagian diantaranya adalah tentang "teman" saya yang lain.
Salam untuk semua.
01 Oktober 2012
Aliran Sesat
Sepatunya hak tinggi, seperti sepatu John Lennon. Rambut kelimis tebal, disisir rapi. Namanya Yono, murid baru, pindahan dari Jakarta. Ganteng dan gaya. Trendy abisss.
Gaya serta perilakunya di jaman itu ternyata membuat beberapa teman lain seperti mendapat semangat, maka pemakai celana sempit dan sepatu berhak tinggi bertambah dua-tiga orang, dan kelompok kecil mereka itu mendapat julukan aliran sesat, yang setiap saat terancam sanksi untuk dirobek celananya oleh guru pengawas.
Kami tetap berteman secara baik dan biasa, tak ada perlakuan beda terhadap mereka, dan teman-teman dari 'aliran sesat' itupun juga demikian. Hanya beda gaya serta perilaku.
Ketika bertemu kembali setelah empatpuluh tahun lebih berpisah, sisa-sisa ketrendiannya masih terasa, tetapi rasa kerinduannya terhadap masa-masa berkumpul bersama di SMA lebih kuat lagi.
Wajah-wajah sudah menua, sebagian menjadi cukup sulit untuk dilacak dan dikenali kembali. Kearifan sebagai hasil perjalanan hidup tertangkap dalam obrolan-obrolan yang berlangsung.
Tahun depan direncanakan akan bertemu kembali, semoga semua tetap sehat dan tambah pinter, agar lulus ujian di sekolah kehidupan. Terutama dalam mata-pelajaran "Diri Sendiri".
Hery Haryanto, Sonhaji, Achmad Nangim, Tri Istiningsih, Tiauw Hing, Kwat Lok, Farchan, Wahib, Sri Subiyati, Sunarman, Djumharti, S Widjaya, dan yang lain ditunggu kehadirannya, semoga tetap sehat.
Sampai jumpa......
( mas Amir Faisol dan mbak Titik Isnaeni terima kasih, juga Paula, Wibisono, Yono, Kanapi, Suparjo, Iskak, Suparman, Sukamto, Darmini, Kenul, Djoko Muljanto, Heru Irianti, Painah, 'Paijo' Aminin, Sun Liang, para bude-pakde lainnya yang saat ini aku masih lupa wajah dan namanya, menunggu publikasi dari foto reuni MG 69 yang diambil kemarin di Kutoarjo, 30 September 2012. )
27 September 2012
Tawuran? Satu-lawan-satu, dong......
...ono murid sing pecicilan ... senengane gelut ... ditantang duel karo pak Dartoyo... mengkeret.. plembas-plembis..
Ketika ada seorang siswa sok jagoan yang suka berkelahi, oleh pak Dartoyo ditantang duel satu-lawan-satu, langsung hilang nyali..
Itulah sosok pak Dartoyo, guru saya di SMA Negeri Purworejo dulu. Beliau mantan Tentara Pelajar. Keras, tegas, bijak. Dan sekarang oleh para mantan muridnya amat dirindukan.
10 September 2012
Reuni MG 69 Setelah Empat puluh Tahun Lebih Berpisah
06 Juni 2010
Tokek
Contohnya, suatu kali dia mengabarkan bahwa tetangganya baru saja membeli mobil baru. Kinclong.
"Orang kaya beneran dia, beli dari toko, dibawa pulang dengan pelat nomor masih putih. Itu tandanya memang bener-bener mobil baru, bukan bekas." katanya.
Teman yang satu lagi paling sebel omongan soal kaya dan miskin.
Bagi dia kaya dan miskin bagaikan bunyi tokek.
Tokek.... kaya
Tokek......miskin
Tokek ....kaya
Tokkkkk..... mampus!!!
Sekian tahun kemudian, ketika keduanya sudah pergi ke alam baka, ternyata tokek memang bisa membuat orang jadi kaya-raya, konon.
Saya sih cuma mau cerita tentang teman-teman sepuh saya, bukan tentang kaya, miskin apalagi tentang tokek.
16 Juli 2009
Masih Diberi Waktu
Setelah menempuh perjalanan dengan bus Surabaya-Kutoarjo selama nyaris 10 jam (plus istirahat makan dan menunggu jam keberangkatan), saya menetapi janji kepada mas Amir Faisol untuk hadir di pertemuan reuni 39 tahun perpisahan di antara kami. Malam itu saya menginap, di rumah beliau (eh, rumah beliau dan mbak Titik, isterinya), di jalan Diponegoro 61, kidul alun-alun Kutoarjo, persis di tepi lintasan bus Jogja-Purwokerto. Tahun kemarinnya saya tidak bisa hadir, tetapi sekeping VCD rekamannya yang dikirim telah menjadi pengobat rindu.
Momentum ini adalah sebagai ajang saling melepas kangen dan bicara tentang kenangan indah masa lalu, demikian malam hari itu mas Amir Faisol rasan-rasan dengan saya, ketika teman-teman yang mempersiapkan acara untuk besok pagi sudah pulang.
Pagi harinya,
Satu demi satu teman-teman hadir. Wajah-wajah yang harus direkonstruksi ulang muncul di depanku. Arithmatical and Logical Unit di otakku bekerja keras untuk membongkar kembali file lama, mengcompare image lama dengan image baru. Dan ketika ‘match’, wah, jabat-tangan dan rangkulan serta pelukan (bukan mukhrim dilarang!) di antara kami begitu erat.
Wajah-wajah yang jahitannya sudah sangat berubah, tubuh yang ikatannya semakin longgar, rambut dan gigi yang sudah pamitan dari formasinya, membuat kami saling terbahak. Ingat nama - lupa wajah. Salah satu pengingatnya adalah rekaman peristiwa antar-kita di masa lalu.
Beberapa sosok dan wajah yang diharapkan dapat ditemui ternyata tidak dapat hadir. Nama-nama disebutkan, kabar diberitakan.
Mengharukan tetapi sekaligus menyenangkan..
Perjalanan kami semua semakin jauh beranjak dari titik awal keberangkatan. Tahun 2009 ini berarti 40 tahun, sejak kami berpisah dari keakraban masa SMA.
Semoga masing-masing tetap sehat dan dikaruniai kelonggaran untuk dapat hadir nantinya. Saya menunggu, dan semoga saya juga ditunggu, dan semoga
masih diberi waktu
salut setinggi-tingginya untuk mas Amir Faisol dan mbak Titik Isnaeni, mas Kacuk Sukamto dan mbak Pawit Hartini, mas Setyo Haryadi dan Isteri, mas Haryanto Aminin dan Isteri serta teman-teman lainnya yang mungkin saya tidak tahu, atas segala totalitas mental, fisik dan materinya yang telah ditumplek-bleg untuk suksesnya acara ini, sehingga saya dan teman-teman lain dapat saling bertemu kembali
.
25 Juni 2009
DOG-DOG-DOG
kulonuwun,
sepada,
salamlekum,
masih baik-baik saja, kok
terimakasih atas atensi seluruh kerabat sanak-saudara handai-tolan
08 Oktober 2008
Mlebetipun Medal Pundi?
Tapi bahasa Indonesianya ternyata ada yang bolong. Suatu ketika, beliau sambil senyam-senyum berdiri dari kursinya dan bertanya kepada saya dan teman-teman:
“Dik, dik; bahasa Indonesianya ‘lemah jeglong’ itu apa ya?”
Melihat ekspresi beliau dan mendengar pertanyaan ‘aneh’ tersebut, semua tertawa. Saya mencoba untuk meng-Indonesiakannya:
“Tanah jeglong adalah sebidang tanah yang permukaannya turun lebih rendah dari bidang di sekelilingnya”
“Lho kalau panjang begitu, saya juga tahu. Maksudku yang ringkas saja, dik, dua atau tiga kata saja”
Sampai sekarang, ketika beliau sudah pensiun lama sekali, terjemahan itu tak pernah bisa saya selesaikan.
Lain lagi senior saya yang satunya, Pak Karyoso, seorang yang “sangat Jawa”. Yang ini memang banyolannya suka bikin kaku perut pendengarnya.
“Hayo, siapa bisa meng-Indonesiakan : Mlebetipun medal pundi?”
Dijawab oleh seorang teman:
“Masuknya lewat mana”
“Salah, to, kalau itu kan : Mlebetipung langkung pundi. Bukan seperti pertanyaan saya tadi: Mlebetipun medal pundi”
“ Masuknya ... keluar .. mana”
“He he he....., bingung kan? Kok jadi lucu!”
Bahasa memang unik. Penterjemahan secara kata-per-kata terkadang menjadikan aneh, apalagi kalau dilakukan secara plesetan. Demikian pula dengan kata-kata kiasan.
Mas Slamet, teman kakak saya, suatu kali secara guyonan bertanya:
“Dik, ada kata kiasan yang terkenal di jaman perjuangan, bunyinya : Wahai Pemuda, kalian semua adalah tiang negara. Begitu kan?”
“Terus?”
“Lha kalau Pemuda adalah tiang negara, lantas Pemudi bagaimana?”
“??? Mbuh, yo!”
Ketawa ngakak dia melanjutkan: “Pemudi adalah tiyang estri”
Semprul!!!
Kepada seluruh teman baik, pembaca blog ini,
usai Puasa Ramadhan ini perkenankan saya mohon maaf setulus-tulusnya atas segala kekhilafan dan kekurang-nyamanan yang diakibatkan oleh kejahilan saya ...
(yang barangkali akan berkelanjutan,
tapi mudah-mudahan, kedepan saya bisa lebih berhati-hati)
25 Juni 2008
Guruku Berkejaran dengan Waktu
Pikiran saya sedang terusik oleh sebuah cerita sedih tentang guru SMA saya yang sudah sepuh, yang ketika dua tahun lalu kami kunjungi bersama teman-teman, beliau baru saja pulang opname, dan harus ganti merawat isterinya yang sakit di rumah. Beliau adalah salah satu dari sekian mantan guru kami yang masih ada, dan memiliki hubungan cukup dekat dengan para bekas murid-muridnya.
Tahun lalu teman-teman alumni SMA saya (dari beberapa angkatan kelulusan) berencana untuk meluncurkan sebuah buku yang berisi rekaman perjalanan selama 50 tahun usia sekolah kami. Peluncuran dilakukan di Jakarta - karena sebagian besar alumni berada di sana – dengan sebuah perhelatan besar yang barangkali dimaksudkan sebagai ungkapan terima kasih kepada sekolah yang telah mengantarkan teman-teman saya menjadi ‘orang’, dan mungkin juga dimaksudkan sebagai ungkapan rasa bangga luar-biasa.
Cerita tentang guru saya, yang terselip di balik segala kemeriahan tersebut sungguh mengharukan hati saya. Dan baru dua minggu lalu cerita tersebut saya dengar dari seorang teman.
Guru saya tersebut, ketika itu berhasrat benar untuk ikut datang menghadiri acara di Jakarta tadi. Keterbatasan-keterbatasan yang sangat dapat dimaklumi menyebabkan beliau mengalami kesulitan untuk dapat berangkat ke Jakarta. Sampai terucap sebuah pertanyaan kepada teman kami itu “ Mas, bagaimana ya caranya supaya saya bisa ikut ke Jakarta?”. Sebuah pertanyaan yang menurut saya lebih bernuansa sebuah permohonan kepada bekas muridnya, agar dapat difasilitasi untuk ikut menyaksikan acara besar yang diselenggarakan dan dihadiri oleh beratus-ratus para bekas muridnya. Sebuah kerinduan yang amat sangat untuk bertemu mereka, harapan yang demikian kuat untuk ikut menjadi saksi sebuah rekaman peristiwa teramat besar di mana beliau pernah menjadi bagian di dalamnya.
Disampaikan dalam sebuah keluhan, sebuah permintaan setengah putus-asa.
Beliau akhirnya tetap tak dapat berangkat.
Pesta peluncuran buku konon berhasil dilangsungkan dengan sangat meriah, amat membanggakan dan meninggalkan kesan yang teramat dalam bagi yang menghadirinya.
Mendengar cerita tersebut, hati saya merasa perih.
Guru saya ini telah sangat lama berpisah dengan para muridnya yang sekarang entah sudah menjadi apa mereka semua.
Maafkan teman-teman, kalau saya menjadi sentimentil mendengar kabar ini.
Karena saya membayangkan bahwa diri saya adalah Guru Anda, guru renta yang ingin sekali menyaksikan sinar mata kebahagiaan di muka Anda sekalian di hari yang amat bersejarah itu, pada usia tua saya ini, pada sisa usia saya yang tinggal sedikit ini. Dan harapan saya ini tak dapat terlaksana, karena saya tak mampu ke sana. Tak dapat bertemu dengan Anda sekalian, yang sekarang sudah bak Laksamana Hang Tuah di anjungan kapal , di samudera raya kehidupan yang teramat luas, seperti yang dulu saya ceritakan ketika Anda masih menjadi murid saya.
empati untuk Mas Amir dan segenap teman-teman di Purworejo:
berlalunya waktu untuk kita, adalah berlalunya harapan untuk beliau
19 Juni 2008
Suasana Hati
Celoteh ramai ketika goreng pisang datang, semua merubung dan mengambilnya lalu kembali ke meja kerja, melanjutkan aktivitasnya sambil sesekali bicara pada teman di sebelahnya.
Ketika ada tamu datang, senyum dipasang dan tangan berjabatan. Ah ! Suasana yang sungguh akan sangat kurindukan nanti.
Perdebatan dan pertengkaran kecil karena laporan yang lambat disampaikan, berkas dipinjam lupa dikembalikan, dan urusan yang dilempar-lempar ke orang yang semestinya tak berkaitan, seolah menjadi bagian yang mesti ada, kalau tidak ingin dibilang komunitas yang beku romantika.
Lirak-lirik teman dari ruang sebelah yang datang bertandang, karena di ruanganku ini banyak yang sedap untuk dipandang-pandang lagian suka agak menantang-nantang, amboi! bikin pagi-pagi ingin bersicepat sampai di sini saja.
Canda kebablasan, sampai-sampai sebuah kue terlempar hampir kena kepala bos yang untung saja bosnya nggak tahu, tapi akhirnya setelah tahu semua ketawa si bos juga ketawa dan justru pelemparnya pucat-pasi, mmmmm teman-teman yang sungguh menyenangkan.
Suara dot-printer yang merengek-rengek seolah minta perhatian manusia sekitarnya untuk menunjukkan bahwa si empunya lagi bekerja keras, terdengar dari kebisingan yang timbul darinya *emang itu printer atau mesin potong keramik?*
Duduk berhadapan untuk bicara kecil-kecil diseling dengan corat-coret kode rahasia, yang disampaikan gara-gara komunikasi yang buntu dan mencari saluran untuk penampungan dari luapan rasa sesak di dada, *aku sudah bilang kalau aku ini siap jadi tas kresek, wadah muntah iya, untuk wadah belanja apel-anggur-eskrim-nasi pecel-gado-gado pun juga iya, asal jangan sumpah-serapah yang ditumpah, itu bisa bikin aku murka semurka-murkanya* banyak rahasia baru yang aku dengar dan harus aku simpan rapat-rapat, tapi akhirnya bocor juga karena si empunya rahasia mengobralnya di beberapa meja bahkan hampir semua dengan pesan yang sama ' ini cuma di antara kita saja'.
Melihat ada yang bercuriga-curiga, karena kawatir ketahuan sesuatunya padahal aku tak peduli terhadapnya, lucu rasanya.
Bertabrakan pendapat dan saling cari dukungan di antara sesama, macam kampanye pilkada saja agar idenya sukses diterima dan didukung semuanya.
Menghadapi bos yang ribut memasalahkan titik dan koma, cuma karena selera dan tidak PD saja menghadapi rapat besar yang harus dihadirinya.
Bos yang terkadang menjungkir balikkan norma dan kaidah di luar kompetensinya, semata agar hipotesisnya diterima melalui rasionalisasi yang begitu naifnya.
Memandu yunior yang begitu semangat, maunya main bersicepat, kalau perlu dengan memotong sistem yang ada.
Dari sudut ini, semua kupotret sefokus-fokusnya untuk nanti dipigura dalam ingatan menjadi sebuah kesan yang akan tetap kurindukan.
Lalu dengan itu, bekerja terasa ringan dan menyenangkan, terasa sayang untuk ditinggalkan.
Hmmm,
pada saatnya, akan kutinggalkan itu semua.
Dan hanya akan tertinggal jejaknya di memoriku yang semakin cekak speisnya.
Paling-paling kalau rinduku sudah memuncak, nantinya aku akan datang ke sini menengok lagi semuanya. Itupun kalau teman-teman ini masih sudi menerima aku dan tak merasa terganggu oleh kedatanganku.
Atau, masihkah aku punya cukup nyali untuk bertemu dengan mereka yang akan menerimaku dengan setengah hati karena toh aku sudah tak punya status lagi di sini?
Ah,
Biar nantilah saja pada saatnya, kalau aku sudah berada pada saat pensiunku nanti.
Yang jelas, aku sedang sangat menikmatinya.
di antara tumpukan berkas
yang seperti tempat pembuangan akhir sampah kota
08 Maret 2008
Unggun Api untuk Pandu Kami
Mas Bing,
Kuantar engkau di depan gerbang tanah lapang penuh bendera
Satu bendera adalah satu di antara kami
Sosok-sosok kecil yang telah kau semai di tengah belantara
Beratus beribu jumlahnya
Kujabat erat tanganmu
Gumam kami memenuhi angkasa
Mengantarmu dalam diam duka tetapi bangga
Panduku yang pergi membawa panji-panji kehormatannya
Mas Bing,
Tatap matamu meneguhkan hati kami
Sentuhan tanganmu, sentuhan hatimu, tertinggal di sini
Dan tetap begitu adanya hingga kini hingga esok hari
Tak lekang digerus waktu
Wahai pandu abadi yang menebar semangat di dada kami
Engkau telah menyentuhkan nyala dalam jiwa
Nyala yang menjadi beribu mungkin berjuta unggun api
Andai bisa, kami akan bernyanyi bersama untukmu
Kami Jadi Pandumu
Mengantarmu kembali ke Jamboree Abadi
Selamat jalan Mas Bing,
Kenanganmu abadi di hati kami
Menyala bagai unggun api
In memoriam Ir RP Suprijanto – Jogja –
19 Februari 2008
Abdul Butun
Kocak juga tulisan di kaca belakang angkot di kota saya ini! Dalam hati saya berkata nyindir ni yee !!!!
Saya pernah bekerja di bagian yang nama singkatnya PPAB. Bagian ini banyak ibu-ibunya dibanding dengan bagian lain. Nah Anda tahu sendiri, kerja dengan para ibu ini banyak enaknya lho, paling tidak: ada saja camilan yang tersedia. Dan setiap saat, bukan lagi setiap hari. Cemilan tersedia dengan kategori : Berat dan Ringan. Yang berat: Nasi Ayam Pedes, Nasi Soto Ayam, Nasi Ikan Bakar, Nasi Campur Tambakb...., dan nasi-nasi yang lain, paling tidak nasi dan sayur dari kantin yang didampingi oleh sambel 25 biji lombok rawit. Huaaaaahhhsssssss.
Yang golongan cemilan ringan: Tahu goreng, tempe goreng, bakpia, pisang rebus, kue-kue lebaran dan natalan yang tidak laku di rumah karena bosen.
Anda pernah lihat kambing atau sapi memamah-biak? Nah, perhatikan gerak mulutnya. Itulah teman-teman saya yang baik hati. Mulutnya bergantian saja mengunyah makanan. Kadang-kadang kalau lagi sepi dari makanan lalu nyeletuk: kok kaga ada cemilan ya?, adaaa saja yang kemudian jatuh kasihan lalu membuka dompet dan : diiiiikkk, tolong beli ABCDEFG, ada yang kelaparan nih!
Dari itu maka kemudian Bagian PPAB ditahbiskan dengan kepanjangan baru: Pasukan Abdul Butun! P yang satunya dianggap nggak ada. Rupanya butunnya bukan lagi berisi cuma cacing, tapi sudah kesusupan wong mbambung, yang tiga hari nggak makan nasi. Gelandangan kelaparan yang menyusup di dalam lambung.
Pernah suatu saat terjadi huru-hara di kantor oleh Pasukan ini. Ketika isengnya sudah tidak ketulungan lagi karena wong mbambung yang ada di butun sudah sangat kurang ajar, dilakukan acara masak ketika jam istirahat. Bikin martabak mie, yang baunya menelusup menyusuri lorong-lorong bangunan lalu mengusik cacing yang ada di lambung teman-teman lain. Pada kali yang lain, terciumlah aroma yang lebih dahsyat mengguncang lingkungan kerja: steik!
Dampaknya.
Pelan tapi pasti BMI naik. Body Mass-Index. Terutama para ibu yang sangat sensitif terhadap perilaku ngemil. Ngemil 50 gram naiknya satu ons.
Pakaian kerja mulai terasa sesak di badan. Ndut-pun mulai mencemaskan hati karena berpotensi mengganggu kemolekan.
Lalu?
Sampai sekarang tradisi masih berlanjut. Seakan mulai berubah jadi ritual, terutama kalau lagi ada yang berulang tahun, karena di ruangan kerja dipasang kalender dengan angka penanggalan yang buesar-buesar, dibongkar dan ditempel di satu papan besar untuk setahun penuh. Dan pada setiap tanggal kelahiran seorang rekan, maka tanggal tersebut distabilo.
Katanya sih, biar kita tidak lupa memberi ucapan selamat ulang tahun, tetapi ada maksud yang lain, itulah agenda pasukan Ngawulo Wadhuk.
Menjadi Ndhut adalah soal masing-masing, tapi yang jelas melalui acara ngemil dan memamah-biak bersama ini diusahakan terjalinnya kerjasama yang baik melalui kedekatan hubungan di antara anggota tim.
Bikin kangen yang sudah pensiun lho!
09 Februari 2008
Sebuah Toko Buku
Musik lembut bernuansa kecapi suling berhanyut-hanyut nadanya menenangkan hati sekaligus seperti membasuh pikiran dari haru-biru suasana di luar sana. Luas sekali toko ini, seakan mau bertanding dengan hypermarket yangmenjual sayur, daging sampai beton blok. Tapi ini: buku!
Berderet-deret rak buku dengan warna kuning gading di sini, hijau pupus di sana. Ooooii apiknya, memanjakan mata. Berseling dengan standing poster artistik: Indonesia : Layar terkembang 2008.
Di beberapa sudut berdiri pramuniaga berkostum pramugari seperti yang ada di pintu masuk dan, tunggu dulu, ada pin tersemat di dekat leher: Deutsche, dengan gambar bendera Jerman. Ada lagi seorang pramuniaga lelaki, berkepala plontos rapi, dengan pin bergambar bulatan merah dan tulisan kanji, Jepang mestinya. Ah mereka mestinya pramuniaga yang menguasai bahasa-bahasa tertentu.
Meja kaca bulat agak tinggi dengan tiga kursi putar tinggi menebar di beberapa tempat, dan di sudut selalu ada tempat duduk untuk satu orang yang kelelahan mengantar anak, isteri, suami atau cucu. Enak juga duduk di sini. Pejamkan mata, dengarkan musik lembut. Tidurlah. Toh anak atau cucumu juga akan mengajakmu pulang nanti.
Nah, ini sudut pelepas penat. Ada teh hangat, kopi susu, lemper ayam, lumpia. Goreng pisang juga ada, atau lebih suka wedang jahe wangi? Mejanya dua lapis kaca. Sebelah bawah untuk minumannya, lapis yang atas : untuk bukunya.
Beberapa bapak dengan busana Jawa lewat bersama seorang ibu.
Waktu seakan merambat lambat di tempat ini, meskipun buku-buku yang ada membawa perjalanan waktu melesat dari abad ke abad, dari bacaan tentang Sejarah Arab Jazirah sampai Bank Syariah, dari O Anak-nya Kahlil Gibran sampai Obama yang berkampanye untuk jadi presiden Amerika. Begitu konsen membaca, mereka yang ada di sini.
Sudut Musik.
Alunan bunyi gamelan Jawa full stereo mengalun lembut. O, ternyata live music! Dalam volume yang pas: Ladrang Rahayu, lantunan puisi musikal yang menenangkan jiwa dan sarat doa. Di sudut ini bapak-ibu berbusana Jawa yang tadi lewat menyajikan karyanya dengan legawa. Di sebelahnya baris demi baris teks disorotkan oleh LCD projector. Ladrang Rahayu dalam bahasa Jawa dan terjemahan bahasa Indonesia. Beberapa pengunjung yang setengah umur, yang berambut putih seperti larut menyimak paparan teks dan musik yang beriringan dalam harmoni. Satu-dua anak muda duduk mengelesot di dekat bapak pemetik siter dan gambang. Matanya lekat menatap teks di layar.
Dering hp dengan ringtone : Over the Rainbow.... Mas, aku Didin. Nanti jam sebelas aku diminta presentasi. Doakan ya ...
... Ok,ok, semoga sukses ya!
Dalam hatiku: Bikin toko bukumu seperti yang baru saja aku mimpikan tadi ya!
Bangun ah! Sudah siang. Lagian juga aroma tempe goreng terlalu menggoda untuk dibiarkan begitu saja.
(Untuk Didin: Memang sudah saatnya, memang sudah saatnya!!)
03 Februari 2008
Intermezzo
JANGAN MAIN-MAIN DENGAN DOKTER THT
Karena:
Hari masih belum begitu malam. Sekitar pukul sembilan sore. Pak dokter
baru saja ngaso dia kecapekan karena tadi siang nggantoli amandel dan
pasen sore ini agak banyak.
Baru dia leyeh2 sebentar... datanglah bapak2 yg agak kurang etis lah
di mata pak dokter: sudah cuma pake celana pendek, agak srogol, tanpa ketuuk
pintu, lahh, pake sandal jepit lagi. Padahal sebenarnya dia kaya (apa orang kalau sudah merasa kaya lantas boleh sombong ya?) .
Telinganya kemasukan kapas cotton bud. Segera pak dokter memeriksanya dan
kapas diambil. Setelah itu dia oleh pak dokter ditarik sejumlah uang.
" Lo kok mahal dok ... masa, kapas saja segitu...... kalau kedele
berapa dok..."
Pak dokter yang lagi suntuk (dan sebenernya SEBEL POL) tadi menjawab. " Iyalah pak, kalau kedele nggak mahal.. anda tetesi saja air tiap hari.. nanti kalau sudah
tumbuh ditarik sendiri.."
Bung pasien kena batunya...dia ngloyor pergui tanpa permisi... ( tapi
sudah ninggali koomiisi......he he..)
Nah, inilah humornya dokter THT yang suntuk, tapi tarikannya okepunya! maksudnya tarikan cotton bud yang nyangkut di kuping tadi lo!
Dicontek dari humor pak dokter, tapi huruf miring tambahan dari saya yang ........................................................... langsung kabuuur.....!!!!!
28 Januari 2008
Bertemu kembali (11) Misteri
Ketika bertemu dengan teman lama, diinformasikan bahwa Dwiyanto bekerja di Solo, di sebuah BUMN yang ‘sesaudara’ dengan tempatku bekerja.
Pada suatu ketika yang lain, teman sekantorku cerita bahwa Dwiyanto adalah temannya seangkatan pada waktu pendidikan profesi di Jogja. Mereka sempat bersama lebih kurang tiga tahun.
Dan yang mengejutkanku adalah bahwa Dwiyanto beberapa waktu yang lalu sempat datang ke kantorku untuk rapat tanpa aku tahu! Tanpa sempat bertemu! Karena saling tidak tahu kalau kami masing-masing berada di bangunan kantor yang sama! Bukan main. Barangkali pada saat itu jarak kami tidak lebih dari sepuluh meter, tetapi tidak sempat saling tahu. Benar-benar sebuah misteri.
Beberapa waktu kemudian ketika aku ditugasi oleh Perusahaan untuk datang ke kantornya di Solo, kusempatkan untuk berusaha menemuinya, tetapi kebetulan pada saat itu beliau sedang tugas ke luar kota. Ya, sudah. Keinginanku untuk bertemu muka gagal jadinya.
Dwiyanto yang wajah adiknya pernah kugambar dan gambar itu menjadi maskot kami, regu Pramuka bercelana pendek. Dwiyanto yang senyumnya kaleeeemmmm, sepertinya selalu no probleeeeeem ...............
19 Januari 2008
Bertemu Kembali (10) - Hilang
Ketika mereka selesai, kami bertiga lantas mengerjakan PR fisika klas tiga SMP. Hari itu kami belajar di rumah, tidak seperti biasanya yang memilih tempat gubug di tengah sawah atau di atas batu besar yang datar di kali Lamat. Ujian SMP sebentar lagi akan sampai, dan kami harus belajar. ( Eh, jadi ingat Laskar Pelangi – Andrea Hirata)
Usai ujian, tiba saat berpisah, sementara dua petarungku tetap tinggal, aku pindah ke luar kota, tinggal di rumah kakek dan bersekolah di Purworejo. Komunikasi lewat surat berlangsung sangat intens antara dua anak remaja. Aries sang Petarung yang adalah sahabatku Widayanto, sangat rajin berkirim surat, sampai-sampai kakekku hafal tulisannya yang bergaya di setiap sampul suratnya.
Lulus SMA aku pindah lagi. Kali ini ke Surabaya. Komunikasi putus. Suratku tak berbalas.
Sampai kemudian tiba-tiba Widayanto muncul begitu saja ke rumah dengan wajah resah. Penuh masalah. Ternyata untuk waktu lama, dia tinggal di sebuah rumah yang kira-kira cuma sepuluh menit jalan kaki dari tempat-tinggalku. Dan kami baru tahu itu ketika bertemu.
Kami berpisah lagi. Widayanto lenyap tak terlacak bagai tertiup angin pancaroba. Dan bertemu lagi bertahun kemudian. Mengejutkan sekali.
Ketika itu adik iparku diterima bekerja di sebuah perusahaan farmasi, dan diundang untuk wawancara. Manajer yang akan mewawancarai: Widayanto !
Malam sebelum wawancara, kuantar adikku ke rumah beliau, dan kami sama-sama kaget. Widayanto-ku, pendekar bercemeti pendek, ada dihadapanku. Memori masa kecil berkilas-kilas. Pertemuan dan perpisahan silih berganti tanpa diduga.
Teringat dialog antara almarhumah ibuku dengannya: Piye nak Hwie? Kok suwe ra dolan rene? – Inggih bu, lha Paromo rak mboten wonten mriki – Dadi, nek Suko ra ono terus nak Hwie ra niliki aku, ngono to? – Wah, nggih mboten to bu ......
Widayanto kemudian menghilang lagi dari jangkauanku. Tak terlacak lagi. Sampai sekarang.
Teman, dimana kau berada, wahai pendekar angin pancarobaku ?
18 Januari 2008
Bertemu Kembali (9) - Bengong Dua Jam
Dulu, sering sepulang sekolah, selesai makan aku ngibrit bersepeda ke rumahnya, toko mas Kuning di selatan pasar Baledono Purworejo, bukan untuk belajar, meskipun dari rumah bawa buku, tapi karena dia langsung buka player PH maka acaranya lalu diganti: dengar musik dari piringan hitam. Yang diputar mulai dari klasik, mars tentara Amerika, sampai musiknya the Ventures ( ingat Baby Elephant’s Walk!). Dan yang tidak lupa: buku silat. To Liong To dan yang lainnya. Sudah lupa.
Wasisto Raharjo sekarang sudah jadi mertua dan kakek, tetap suka musik. Dan tetap lucu. Terutama pada awal kami bertemu setelah berpisah lebih dari 35 tahun.
Ketika tugas selesai, di Semarang waktu itu, kutelepon beliau. Katanya: lho hotelmu ada di dekat rumahku. Aku jalan kaki saja, kita ketemu di kamarmu. Ngapain di kamar? aku tunggu di lobi saja (soalnya: kamarku seperti kapal pecah, penuh berkas). Ngotot minta di kamar. Oke! Sambil kontak dua teman lain, Junianto dan Farchan untuk join.
Akhirnya kamarku diketuk. Pintu kubuka: inilah wajah lamanya yang aku masih sangat ingat. Sementara itu beliau memandangku dengan bengong. Kita bicara-bicara sambil tunggu teman lain, bengong.
Junianto datang dan menunggu di lobi.
Kami berdua turun, beliau masih bengong.
Junianto ngajak ke mal untuk cari pizza sambil ngobrol dan menunggu Farchan, Wasisto masih juga bengong.
Sampai akhirnya kembali ke lobi hotel, dan akhirnya setelah hampir dua jam, teman ku yang luar biasa ini, baru memberikan pengakuan yang mengejutkan kepadaku di depan publik: Ya, ya, ya. Aku sekarang baru ingat persis kamu ini Paromo Suko yang dulu itu. Wah! Kebangetan ni teman, pikirku... Perasaan, gua sih kaga pernah ganti kulit atawa operasi plastik, bleh!
Rupanya komputernya rada ngadat, atau karena kelewat sering diforce ketika memakainya (beliau pernah jadi eksekutif di sebuah perusahaan besar) sehingga performanya turun ke kelas 286. Pantesan butuh dua jam buat merecall wajah dan profilku dari memorinya. Atau aku yang memang berubah menjadi semakin tidak karuan dari yang sebelumnya memang sudah tidak karuan juga .......
15 Januari 2008
Bertemu Kembali (8) - Di Seberang Jendela
Teman yang satu ini aya-aya wae ....
Dulu di SMA duduk di kelas yang berseberangan dengan kelasku. Kelas kami berjendela rendah, yang sering dibuka untuk sirkulasi udara dan buang bosen ketika pelajaran berlangsung. Mungkin karena beberapa orang terlalu sering menoleh ke luar lewat jendela, akhirnya beberapa menikah antar teman seangkatan. Yang jelas aku dan pak dokter Indro Saswanto tidak termasuk dalam daftar pernikahan lantaran jendela ini.
Perkenalanku dengan beliau waktu SMA sebenarnya tidak bisa disebut sebagai perkenalan, maklum, masih sama-sama culun, beda kelas, kumpul juga cuma satu semester. Karena kelasku pindah ke kompleks baru yang di tengah sawah (sekarang udah bagus oi, yang lama malah hilang, sayang sekali, mestinya itu cagar budaya yang harus dilestarikan lho).
Ketika kelas dua dan kami kembali ke sekolah induk, beliau ternyata sudah pindah. Ya terus ilang begitu saja. Tapi rekaman namanya yang kondang sebagai superstarnya SMP 2, tidak bisa hapus.
Demikianlah, dimulai dengan sms yang sampai sekarang masih terus berlanjut, aku banyak belajar dari beliau tentang banyak hal. Apalagi setelah beliau buka blog ( di awal tadi sudah kutulis, tengok-tengoklah, seru di sana).
Lalu kenapa kok komunikasi kami pakai sms? Supaya jari dan jempol tetap sehat. Karena sampai sekarang fakultas kedokteran belum ada yang buka program untuk spesialisasi Jari dan Jempol, yang -kalau ada- mungkin tarip konsulnya bisa mahal, soalnya jumlahnya kan semua 20, apalagi kalau penyakitan semua....
14 Januari 2008
Bertemu Kembali (7) - Membaca Tanda-tanda
Bisa kita ketemu di hotel Simpang?
Wah, ya harus bisa. Maka kuajak isteri dan dua orang anakku menjumpai temanku ini. Kuperkenalkan beliau dengan tim-ku yang tiga ini, dan ketika omong-omong sedang berlangsung di lobby, kolega pak (!) Hery datang bersama para bule, kami diperkenalkan kepada beliau-beliau dengan tambahan info penting : ini teman sekolah saya dulu, telah dua puluh delapan tahun kami tidak pernah bertemu. Pakai bahasa Inggris, tentunya.
Wah sesak juga dadaku. Terharu, nih. Sekian lamanya terpisah, masih bisa bertemu dalam keadaan sehat.
Yang di luar dugaanku, jagoan fisikaku ini akhirnya berkarier di BMG, yang produk dari lembaganya sering aku tonton di televisi (bahkan sejak tv-ku masih hitam-putih), yaitu ramalan cuaca, tanpa aku tahu bahwa di balik itu, ada 'sentuhan' otak dan tangan beliau yang luar biasa.
Sepulang dari pertemuan itu, ke dua anakku berkomentar: oom Hery hebat ya ....
Dan jawabanku kepada keduanya: Untuk sampai ke sana, perjuangannya pun luar biasa ...
Beliau adalah Hery Haryanto, Sang Pembaca Tanda-tanda, yang sorot matanya tetap bersinar-sinar seperti puluhan tahun yang lalu.