06 Juli 2019

Gagal Maning, Man

Musuh bebuyutanku sudah terkapar dengan luka-luka menganga di tengah pertempuran, tinggal satu-dua tarikan nafas lalu jiwanya akan melayang ke Langit, kembali ke Negeri Asal-muasal.
Keris pusaka sudah tinggal sejengkal untuk aku hunjamkan ke dadanya, dada kesatria anak Arjuna, yaitu Abimanyu......
Ya...., Abimanyu, yang beberapa kali telah membuat aku menjadi pecundang hina.
Aku, Lesmanamandrakumara namaku, putera mahkota pewaris tahta kerajaan Hastinapura, anak satu-satunya dari Prabu Duryudana, , putera yang telah disepakati oleh paman-pamanku semuanya, seluruh pembesar kerajaan, oleh para Raja seantero sewu negara, untuk nantinya menggantikan ayahandaku sebagai Raja-diraja penguasa delapan penjuru mata-angin. Kemuliaan yang sungguh sudah tampak di depan mata.
Memang, sejarah pernah mencatat beberapa kali aku telah telah dipermalukan oleh wangsa Amarta, oleh Pandawa dan anak-anaknya, meskipun aku didukung oleh Paman Mahapatih Sengkuni dan bahkan oleh Eyang Maharsi Durna guru dan penasehat utama kerajaan yang juga adalah mahaguru para Pandawa.
Aku kalah oleh Abimanyu ketika memperebutkan Wahyu Cakraningrat, wahyu yang akan mengukuhkan pemiliknya sebagai calon Raja-diraja penguasa Jagad, yang tercabut kembali karena kelengahanku lantaran berpesta-pora merayakannya. Dan akhhirnya wahyu itu mencari tempat, membenam dalam raga sempurna milik Abimanyu.
Tiga kali pula aku gagal mempersunting para puteri kerajaan maupun brahmana pinunjul yang dilamar oleh paman Sengkuni untukku. Gagal mendapatkan Titisari karena dia dan keluarganya lebih memilih Bambang Irawan anak dari paman Arjuna, yang ke dua kalinya kalah pula oleh Gatutkaca ketika memperebutkan Endang Pergiwa. Dan 
untuk ke tiga kalinya lebih menyakitkan lagi ketika  aku gagal mendapatkan Dewi Siti Sendari yang akhirnya dinikahi oleh Abimanyu. Hmmm.... Abimanyu.
Berapa kali lagi aku perlu menangis meraung-raung kepada paman-pamanku, kepada paman Sengkuni, kepada para Raja sahabat ayahku untuk mendapatkan bantuan menuju kemenangan sempurna sebagai calon Maharaja? sementara sebenarnya aku memiliki segalanya:  kekayaan, martabat, ketenaran, kehormatan, tampang yang sedap dipandang, pengaruh serta kekuasaan?
Jangan pernah menilai hanya dari lagakku, karena itu konon sudah menjadi pembawaanku sejak lahir. Dan demikianpun orang-tua serta seluruh keluarga menerima keadaan diriku, tetap menempatkanku di tempat yang mulia sebagai Putera Mahkota. Kalaupun ada kegamanganku dalam menghadapi setiap masalah, kurangnya rasa percaya diri, mudahnya patah semangat, toh dapat dengan mudah ditutup oleh bantuan mereka semua.
...
Dan, inilah saatnya, saat pelampiasan kesumat yang sejak lama telah aku tunggu-tunggu........
Kuhunus keris pusaka, tepat ke depan jantung Abimanyu yang terkapar lunglai, penuh luka menganga tanpa daya. Matanya setengah terpejam.... inilah saatnya, ketika sekejap tiba-tiba aku melihat mata itu berkilat cepat dan sesaat kemudian,
keris Abimanyu sudah terhunjam di dadaku...... Ooooo..... lunglai tubuhku, gelap pandanganku, hanya terasa desir suara darah menghambur....
Selesai sudah semuanya.
Gagal sempurna.

... ..... pojok kampung
... ..... kopinya pahit
Surabaya, 21 Juli 2018

17 Juni 2019

Bukan Rahasia

Ketika aku ditanyai tentang sesuatu urusan sedangkan sebenarnya aku tidak terlalu memahaminya  lalu aku menjawabnya keliru, maka mungkin aku dianggap tolol.
Dan karena aku adalah tolol, maka aku tidak lagi menjadi bagian dari dirinya.
Itulah pangkal dari silang-sengkarut pada saat ini.
Karena ada hal-hal yang 'rahasia', yang hanya dia yang boleh tahu dan orang lain tidak, termasuk aku.
Sudah faham maksudku? Sudah tahu penyebab ketololanku karena aku tidak tahu hal 'rahasia' itu?
Sejak kapan hal yang berkaitan dengan kepentingan banyak orang menjadi sesuatu yang dirahasiakan?
Itu saja.



16 Juni 2019

gurit ampang


o ati
ingkang ngubeng-ngingerake panyawang
mulata marang Hyang Kang Ngasta Samubarang
ngrerepaa, sesambata, nyenyuwuna
supaya wadining urip
tinarbuka dadi lelipur

Kegaduhan Politik

Suasana pasca Pilpres 2019 masih berlanjut dengan kegaduhan politik, entah sampai kapan meskipun tentunya semua berharap untuk segera mereda dan kemudian bersiap untuk kembali fokus kepada aktifitas normal yaitu bekerja pada posisi masing-masing.
Semakin ke sini tampaknya dampak dari pemihakan sulit untuk dikendorkan, karena siapapun dengan sangat mudah menunjukkan pilihannya kepada publik melalui media sosial yang gampang sekali diakses maupun dipublikasikan.
Kalau pada jaman dahulu, berpendapat diekspresikan dengan bicara kepada publik, dengan pidato, menulis  pernyataan atau opini di media cetak, maka dengan internet semua itu sekarang menjadi 'imbuhan' saja. Tinggal tulis atau rekam gambar, unggah dan dalam bilangan detik sudah dapat diakses orang lain.

Tapi biarlah, yang ingin aku tulis di sini bukan tentang isu politik, tetapi tentang ekses polusi yang diakibatkannya terhadap pikiran (mungkin) setiap orang.

Sebel juga sih, membaca opini maupun komentar yang disertai makian dan hujatan. Yang ditulis dengan gaya guyonan, gaya merah-marah, gaya pinter-pinteran, gaya sok-hebat sendiri dan berbagai gaya lainnya. Yang semua tidak memberi nilai tambah untuk memberikan pemahaman yang cukup apalagi mendalam terhadap topik yang dikomentari.
Ada hal-hal yang tidak dibuka dan dikemukakan secara jelas, ada hal yang disembunyikan, ada hal yang dikaburkan, diplesetkan, dibaurkan, dibelokkan. Secara sengaja, secara ikut-ikutan, secara membebek membabi-buta (eh, bebek atau babi ya?).
Akhirnya, ketrampilan menulisnya berhenti hanya pada mampu berkomentar atau terpancing untuk berkomentar.
Originalitas tulisan menjadi sangat dangkal, karena berangkat pada sesuatu yang umum, yang konon, yang katanya. Itu-itu saja. Dan itupun kalau menulisnya benar masih agak lumayan untuk dibaca. Selebihnya, sampah melulu.
Celakanya, tulisan-tulisan itu menyusup dengan sangat mudah dan lancar pada saat kita membuka akses internet, yang melalui handphone bahkan di tengah malam menjelang tidur atau terbangun dari tidurpun langsung terbaca dan masuk dalam pikiran.
Geregetan juga sih. Handphone kita sendiri, pulsa juga dibayar sendiri, baterai di-cas sendiri, tetapi yang datang sampah, menggerojok tanpa permisi.
Salah sendiri juga, sih. Kenapa juga terus dibaca dan ditonton.
Lalu, mau jadi apa kita? Itu kalau bicara tentang nanti dan kelak.
Yang pasti, saat ini kita sedang apa? Merusak diri sendiri? Atau menjadi bagian dan alat dari yang merusak banyak orang? Yang di antaranya adalah keluarga, sanak, karib, sahabat?

15 Januari 2019

...


diamku dalam sunyi
mencari
celah di mana ada kedip cahaya 
dari jauh sana
diamku di kedalaman sunyi
menanti
cahaya mentari pagi


surabaya, 11 agustus 2018

Entah Bagaimana

Suntuk.
Itulah kata yang terlintas, mengapa akhir-akhir ini membuat enggan menulis.
Mungkin terpapar dengan huru-hara dan hura-hura di medsos, mungkin juga karena suasana hati sedang tidak ingin 'muncul' di permukaan.
Mungkin juga karena lagi menemukan keasyikan baru, dengan menikmati guyub-rukun dan kegotong-royongan bersama tetangga di kampung, yang jauh dari hal aneh-aneh. Serba apa-adanya.
.....
Lalu tiba-tiba terusik oleh sahabat lama, yang berharap untuk kembali menulis, kali ini 'puisi'.
Ah,
apa iya sih,
menulis puisi itu kan butuh fokus, seperti menyeduh kopi, terasa kopinya tapi tidak tertelan ampasnya, bukan seperti membuat es sirop.
Lalu teringat komentar senior SMA, seorang penyair kondang yang pernah mengomentari bahwa puisiku ini puisi 'penyair karbitan'.
Betul 100 persen. Mutlak.
Tapi biar sajalah, toh setiap orang memiliki hak asasinya untuk mengemukakan 'isi jiwa'-nya. Sepanjang itu tidak membahayakan atau berkibat buruk bagi kemanusiaan. Dan aku juga tidak kepengin jadi 'penyair', apalagi menjadikan itu sebagai cita-cita. apalagi untuk meraih gelar sebagai Penyair. Samasekali mboten, ora, tidak, nehi.
Ya sudah.
Aku cuma pengin berasyik-asyik dengan sahabatku, yang suka berpuisi.
Mas Buyono di Medan.
Bismillah.
Tak molai yo cak, sepurane lek puisiku bantat tah gosong.


20 Juli 2018

Cinta Bisma


Bau sangit daging terbakar memenuhi seluruh hamparan padang terbuka. Beberapa pancaka masih membara, mengantarkan raga para prajurit yang gugur ke nirwana. Ini adalah saat semua harus meletakkan senjata, sampai dengan besok pagi ketika terompat perang ditiup dan ditingkah oleh terompet lain dari seberang sana, pertanda keduanya sudah kembali bersiaga untuk berlaga.
Malam makin larut, dari sudut-sudut yang diterangi obor terdengar lantunan puja-bakti memohon keselamatan untuk perang yang akan berlanjut entah sampai kapan.  
Dua sosok berbaju putih melintas di antara kemah-kemah dan kerumunan prajurit yang masih terjaga. Mereka berjalan tanpa bicara, ke kemah besar di mana Senapati Bisma berada, senapati sepuh berambut dan berjanggut putih, yang wajahnya teduh penuh kedamaian, menyejukkan hati siapapun yang berhadapan dengannya.
Kembar Nakula dan Sadewa mengemban tugas yang sangat berat, hanya mereka berdualah yang pantas dan sesuai untuk menjalaninya. Menghadap eyangnya, kakek yang dikasihi da sangat mengasihinya, yang besok akan dihadapi sebagai sesama prajurit untuk beradu nyawa di pertempuran hingga terbunuh salah-satunya. Langkah mereka berdua tergugu, ketika tenda dibuka dan di dalamnya tampak eyangnya dengan gagah duduk bersila, dengan mata setengah terpejam.
Langkah kembar berdua menjadi berat, lalu mereka terduduk bersimpuh di mulut tenda, air mata menggelayut di pelupuk mata, tenggorokan tercekat, dan pandangan jatuh tertunduk. Mereka beringsut pelan, maju hingga menyentuh lutut Resi Bisma. Ambruk menangiskan sejuta duka ke pangkuannya.
Sang Resi menarik nafas panjang melihat kedua cucu tercintanya, sambil membelai kedua bahu mereka dengan lembut penuh cinta. Terbayang ketika keduanya masih bocah, bermain manja di pangkuannya.
Si kembar mengenakan busana putih, yang mengisyaratkan bahwa keduanya sudah bersiap untuk menjemput kematian di medan laga esok harinya. Kedua cucu ini seperti mewakili cucu yang lainnya, Pandawa bersama seluruh anak-anaknya yang tersisa, berserah darah, mati di ujung senjata Senapati Bisma, kakek yang dicintainya, yang kali ini berada berseberangan sebagai prajurit lawan.
Ooooo..... kehidupan, demikian jauhkah engkau membawaku di ujung usiaku ini, sehingga tak ada lagi kesempatan untuk membalik keadaan ....?
Lalu Sang Resi menangkap isyarat langit, bahwa besok adalah saatnya untuk pulang dalam kemuliaan, membebaskan diri dari segala ikatan dunia.
Dunia, tempat di mana sebagian manusia menjadikannya untuk mengejar keinginan, tempat untuk menghamburkan kata-kata hampa penuh kepalsuan, tempat di mana segala sesuatu dibalik-balikkan, tempat yang sebenarnya adalah pijakan untuk meraih kemuliaan namun diabaikan.
Diangkatlah kedua wajah cucunya, Nakula dan Sadewa, wajah tampan dan gagah prajurit perkasa, yang saat ini basah oleh airmata duka. Dipandanglah keduanya bergantian, lalu eyang Bisma memejamkan mata sambil bersabda:
.... Pulanglah kalian berdua dengan restuku, sampaikan pula kepada saudara-saudaramu bahwa aku tetaplah kakek yang mencintai kalian semua, dan tak pernah tergerus oleh sesuatu keadaanpun selamanya....
.... Aku sudah menerima isyarat Langit, bahwa besok adalah saat kepulanganku yang akan dijemput Amba yang datang dari Nirwana....
.... Aku minta ipar kalian, Srikandi, yang mengantarku di medan laga.... dia harus menghadapiku di pertempuran besok sebagaimana berhadapan dua Senapati dengan semestinya....
.... Jadikanlah semua darah yang tertumpah, semua raga yang tumbang, semua jiwa yang melayang sebagai catatan sejarah, yang akan membuat peradaban lebih mulia sesudahnya....
.... Pulanglah kalian sebagai cucu yang aku cintai, dan hadapilah aku besok dengan tegak sebagai sesama prajurit yang menunaikan darma-bakti...

Nakula dan Sadewa  ambruk untuk kedua kalinya, dengan rahang terkunci kehabisan kata-kata, mereka menjerit dalam hati: ..... duh Eyang, bagaimana bisa semuanya menjadi seperti ini?
Kembali Resi Bisma menegakkan pundak keduanya. Memandang dengan sorot mata panglima, lalu mengangguk kecil sebagai isyarat bahwa semua perintah sudah disampaikannya.
Nakula-Sadewa beringsut mundur, bersujud di hadapan Eyangnya, Senapati Agung yang besok akan berlaga.

Keduanya pulang untuk mengabarkan berita dukacita, bahwa Eyangnya besok akan menunjukkan cintanya yang teramat besar dengan caranya. Di Padang Kurusetra, tempat di mana kemanusiaan diuji dan nurani berbicara sejujurnya.

07 Desember 2017

rasanya (3)

Menulis yang agak serius tetapi leluasa itu memang di sini tempatnya.
Bukan di fb, wa atau yang lainnya, karena di sana pada umumnya berisi tulisan pendek.....

Kelindan hidup antarmanusia ini pada umumnya dikaitkan oleh kesepahaman dan ketidaksepahaman, yang permanen maupun tidak permanen. Dan dengan itulah sepertinya yang namanya hidup bermutu diperjuangkan, baik untuk kepentingan ragawi maupun batini.....

Kemampuan dalam berinteraksi secara positif dengan sesama, memposisikan diri dan melihat dan membuka celah peluang serta menutup celah ancaman amatlah menentukan tercapainya mutu yang menjadi target.

Kesalahan bukanlah bencana, tapi modal untuk dapat menghindarinya di kemudian hari sehingga sebaiknya kita tidak perlu berlama-lama berhenti karena sebuah kesalahan. Jangan lupa, waktu terus berjalan tanpa peduli kita sedang apa....

Tidak pernah ada yang namanya sesuatu yang sia-sia kalau kita mampu memahaminya. Sejelek apapun hasilnya, itu tetap sebuah hasil dari apa yang sudah kita pikirkan dan upayakan, jadi tentu tetap adalah sebuah hasil.


Kalaupun kita sedang lelah, berhentilah agar setelah lelahnya hilang mampu bergerak kembali
Tetaplah semangat, dengan itulah kita maju ke arah yang sudah ditentukan....

06 Desember 2017

Magnet dari Masa Lalu

Kenang-kenangan jaman SMA yang ditulis sahabat saya Kanafi di blognya sangat membuat saya takjub. Beliau dengan sangat rinci masih mengingat nama-nama para guru beserta mata pelajaran yang diasuh. Mungkin juga catatan jadwal pelajaran ketika itu masih beliau simpan sampai sekarang.
Beberapa teman yang hadir kembali  'dari masa lalu' dalam reuni tahun lalu kebanyakan sedikit demam panggung pada awalnya, karena bayangan tentang wajah teman-teman lama berubah dalam kenyataan masa kini. Butuh waktu beberapa detik sampai beberapa menit untuk mereview kembali, sampai dikenali kembali, sampai pecah menjadi tawa meriah ketika dari wajah misterius tadi terbayang kelucuan dan kekonyolan dari masa SMA.

Mas Indrosaswanto sudah lama sekali minta kepada saya untuk mengupload foto masa kini tadi.
Nah, ini dia... ada teman yang yang lebih rajin mengumpulkan foto itu....

(tulisan ini tertunda di-upload lebih dari sepuluh tahun)

30 November 2017

rasanya (2)

Entah karena suntuk, moody atau pas lagi lebay saja menulis yang aneh2 seperti tadi...
Toh semua itu hanya catatan untuk menandai kejadian-kejadian dan kemudian menangkap tanda-tanda yang ada di dalamnya....
Hanya itu saja, tanpa pretensi apapun juga.
Salam
rasanya (1)

Besar atau kecil adalah persepsi dalam melihat sesuatu. Dan itu didapat dengan membandingkan sebuah obyek dengan obyek yang lainnya, dan akan sangat mudah ketika obyek itu bersifat terlihat atau kasat mata.
tetapi sangat berbeda ketika obyek tersebut adalah obyek yang hanya bisa ditangkap indera dengan merasakannya. Di sinilah peran indera perasa.
Namun indera perasa juga ada dua jenis, indera perasa yang berada di tubuh fisik, dan indera perasa yang berada di tubuh nonfisik, yang disebut perasaan.
Dan perasaan inilah yang bermain ketika kita sedang menangkap sesuatu yang dirasakan sebagai masalah.
Bukan hanya itu, seringkali justru kita sendiri yang bermain-main dengan perasaan ketika berhadapan dengan masalah.
Bermain dengan menjadikannya besar untuk sesuatu yang sebenarnya kecil, dan sebaliknya mengecilkan sesuatu yang sebenarnya besar.
Mengajari bagaimana perasaan untuk jujur tentang yang sebenarnya memang tidak mudah, karena selama ini kita sudah sangat terbiasa menerima segala sesuatu seperti kebanyakan orang lain menerimanya. Dan sebaliknya pula kita mungkin terbiasa menolak karena kebanyakan orang menolaknya. Kita sering terlalu malas untuk berpikir keras menggunakan hati karena lebih mudah mengikuti perasaan seperti orang yang lainnya.
Berpikir keras memang melelahkan. tetapi bukankah rasa lelah itu juga adalah suatu anugerah? Rasa lelah itu membuat sesuatu menjadi kembali seimbang ketika kita memberinya ruang dan waktu untuk rehat, agar ketika kita memulai lagi kita menjadi lebih segar dan bersemangat.
Berpikir sangat berbeda dengan mengikuti perasaan, karena berpikir adalah menggunakan indera jiwa untuk bekerjasama, sedangkan mengikuti perasaan hanya sebagian kecil daripadanya.
Mungkin, "tidak berlebihan" dalam berpikir dan menyikapi sesuatu adalah cara yang paling baik, agar kita terbebas dari kendali perasaan.
Termasuk bebas dari rasa takut akan kehabisan waktu maupun ruang, karena keduanya memang bukan milik dan hak kita untuk menguasainya melainkan milik Allah Yang Mahamenguasai segalanya.
Semoga semuanya akan sampai di tempat di mana seharusnya berada dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kehendakNya.
Aamiin.


18 Agustus 2017

Blog Ini



Blog ini belum berakhir, meskipun sudah terlalu lama tidak diisi dengan tulisan baru.
Perkembangan situasi pribadi dan lingkungan yang sangat dinamis menjadikan hasrat menulis menjadi 'kempes'....
Blog memberikan ruang yang cukup untuk menuangkan isi pikiran secara luas dan mendalam, sedangkan penulisan di media sosial yang lain pada umumnya berisi ungkapan singkat, karena kebutuhan dan kesempatan untuk membacanya memang sangat terbatas.

Sebenarnya banyak sekali yang ingin dituliskan kembali di sini, baik itu tentang pengalaman, pemikiran, maupun sekedar hahahihi sebagai intermezzo.

Salah satunya adalah hasil jagongan pada malam tasyakuran peringatan kemerdekaan, pada tanggal 16 Agustus kemarin ini. Ini menyangkut kehidupan bertetangga.....
Pak Wakil Ketua RT berkisah,  pada suatu saat ada warga yang melaporkan adanya gangguan dari tetangga sebelah berupa cucuran air dari genting yang jatuhnya pas mengenai tembok rumahnya sehingga tembok itu menjadi basah dan lembab. Lebih celaka lagi, akhirnya jamur tumbuh di tembok bagian dalam rumahnya.
Warga tersebut meminta agar pak RT (maksudnya Ketua RT) menegur dan mengingatkan warga yang menjadi penyebab 'gangguan bencana' tersebut.
"Apakah Bapak sudah pernah memberi-tahu tetangga sebelah, bahwa rumah Bapak terkena dampak seperti itu?" tanya pak RT.
"Belum pak, seharusnya dia itu sudah ngerti sendiri bahwa itu merugikan saya. Jadi pak RT saja yang memberi tahu beliau, itu lebih enak"
(Oooooooo begitukah cara berpikirnya untuk mencari aman..... main remote dia.....)

Pada suatu kesempatan di hari berikutnya, diundanglah kedua fihak ke rumah pak RT, tempat paling netral bagi keduanya.
Setelah basa-basi sebagai pengantar untuk mengencerkan suasana, kemudian pak RT menyampaikan bahwa beliau mendapatkan keluhan dari tetangga A, dan diminta untuk menyampaikan ke tetangga B.
"Karena Bapak-bapak sekarang sudah bertemu di sini dalaqm keadaan baik, maka silakan pak A menyampaikan sendiri masalah yang dikeluhkan kepada pak B", kata pak RT.
Terperangah dengan kata-kata pak RT, pak A sejenak kehilangan kata dan tampak gelisah mencari-cari cara...
Akhirnya, bla-bla-bla.....
Pak B yang mungkin semula bertanya-tanya tentang urusan serius apa yang dihadapinya, akhirnya menjawab dengan enteng hati.....
" Oooooooo..... begitu to pak..... Saya jadi malu, urusan yang seperti ini kok sampai melibatkan pak RT, lha mbok bapak bicara langsung saja dengan saya, wong saya ini juga rasanya nggak sulit kok diajak bicara..... Baik, saya minta maaf dan saya akan pasang talang di genting saya"
Pak B menambahkan:
"Dan saya berharap kepada bapak, untuk hal-hal lain yang berkaitan dengan urusan antar-kita, nantinya bapak tidak perlu membuat ribet pak RT, mari kita selesaikan bersama-sama"

Kisah itu, memberikan gambaran bahwa prasangka sangat sering membuat komunikasi menjadi tersumbat, dan sumbatan itu berpotensi meletus menjadi friksi bilamana salah-satu fihak tidak mampu menahan diri. Apalagi kalau seandainya ada agitasi dan provokasi dari fihak lain yang mungkin memang jahil atau sekedar iseng karena suka melihat tetangganya saling berantem.

Dari peristiwa kecil dan sepele, kita dapat melihat bahwa kejadian-kejadian besarpun polanya ternyata mirip-mirip juga.

Salam damai....

17 Februari 2016

Sudah Terlalu Lama

Terlalu lama aku tidak mengisi rumahku yang satu ini.
Bukan lantaran aku tak suka lagi, tetapi entah kenapa, di sini aku merasa terlalu sepi.
Mungkin memang perlu sebuah tempat lain untuk menikmati sepi, jauh dari kebisingan yang terkadang sangat mengganggu.
Kebisingan informasi, maksudku, yang terkadang arahnya tidak jelas meskipun saling berkelindan dalam komen-komen di medsos.

Ya sudah, setidaknya aku masih punya rumah lain, di mana aku bisa merasa lebih bebas untuk apa saja, karena toh yang sudi berkunjung di sini memang para sahabat yang lebih serius, bukan sekedar untuk numpang lewat.
Meskipun, kepada siapapun yang secara tidak sengaja kemudian singgah ke tempat ini dan kemudian sudi meninggali rumahku dengan 'sesuatu', aku juga sangat berterima kasih.

Baik, rumahku tetap terbuka untuk siapapun, mari kita berbincang dan bercengkerama di sini.
Agak sepi, memang, tapi yang terpenting hati kita tetaplah ceria.

28 November 2013

Keputusan

Mike Tyson  kalah,  kemudian  memutuskan  untuk  tidak  bertinju,  dan  akan  pergi  ke Afrika  untuk  melakukan  aktivitas  di bidang  keagamaan.
Yang  menjadi  pertanyaan  adalah : Mengapa  setelah  kalah ?  Apakah  sebelumnya  dia  sudah  merencanakan : apabila  nanti  aku  kalah  maka … bla … bla … bla … Bagaimana  seandainya  dia  tidak  atau  belum  kalah  juga ?
Hidup  adalah  sebuah  kompetisi,  bahkan  adalah  sebuah  perjuangan  ( apabila  seseorang  sadar  tentang  beban  tanggung-jawab  yang  terpikul  di pundaknya ).  Sehingga  harus  dijalani  dengan  melalui  serangkaian  keputusan,  baik  yang  dibuat  sendiri  maupun  keputusan  yang  diambil  karena  ada  keputusan  lain  dari  luar  dirinya  yang  mempengaruhi  hidupnya.
Ketika  krisis  minyak  goreng  terjadi  beberapa  tahun  lalu,  ibu-ibu  pernah  memasak  tanpa  minyak,  karena  Presiden  mengeluarkan  petunjuk :  gorenglah  telor ceplok  di atas  wajan  dengan  air.  Ada  yang  mengikuti  cara  itu,  tetapi  sebagian  yang  lain  tidak.
Sebagian  orang  memutuskan  untuk  benar-benar  memasak  tanpa  minyak  goreng,  sebagian  lagi  ada  yang  membuat  sendiri  minyak  goreng,  dan  sebagian  lainnya  berjuang  untuk  mendapatkan  minyak  goreng  dengan  cara  dan  pengorbanan  masing-masing.
Namun  apapun,  keputusan  harus  dibuat  supaya  hidup  tetap  nyaman.

Masalahnya  adalah :  ada  yang  membuat  keputusan  setelah  sesuatu  terjadi,  dan  ada  yang  membuat  keputusan  karena  memperhitungkan  bahwa  sesuatu  akan  terjadi.

Selamat memutuskan.

19 November 2013

Pak Tukang Las

seorang teman menceritakan pengalamannya:
kemarin dia pergi ke tukang las, dan melihat seorang 'bapak' agak berang berdebat dengan pak tukang las yang sudah selesai ngelas barang si bapak

pak 'bapak': masak ngelas begini saja ongkosnya duapuluh ribu! tahu cuman gini aku juga bisa, ngga usah minta tolong sampeyan..., itu namanya meres...

pak Las: itulah pak, bapak tolong jangan bicara begitu... kalau bapak ikhlas ya dibayar, kalo enggak ya silakan itu dibawa pulang saja toh sudah dilas dan bisa bapak pake....

dengan bersungut-sungut si 'bapak' ambil duit limapuluh ribuan sambil berkata: kembaliannya!!

oleh pak Las diberi kembalian beberapa lembar lima ribuan, dua ribuan dan seribuan berjumlah tiga puluh ribu
si 'bapak' mukanya merah, barangkali tidak senang dompetnya terisi uang receh yang tidak baru, tanpa bilang apa-apa lagi beliau ngeloyor pergi.
pak Las: Terima kasih pak, maaf uangnya recehan......

teman saya bertanya ke pak Las: Bapak ini sabar amat...
pak Las: mas, tugas saya di sini ada dua, melayani orang dan mencari nafkah untuk keluarga... dua-duanya harus saya lakukan dengan baik dan benar... dan apa adanya...

lantas soal tarip tadi?
pak Las: tarip dua puluh ribu itu saya kira sepadan dengan kemampuan saya yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang lain

sahabat,
teman saya merasa mendapat pelajaran berharga tentang menjadi makhluk (titah-jw) yang disebut manusia

dan saya juga
salam

16 Juli 2013

Padang Kurusetra


Pertempuran berlangsung dalam senyap dan gerakan lambat. Tak terdengar denting dan desing besi beradu atau suara geram dan raungan.
Besi roda kereta yang beradu dengan bebatuan dan benturan senjata bola besi bertali rantai dengan perisai tak ada bunyinya. Senyap.
Hanya bunyi lirih,sayup, jauh,  
degup jantung seperti ombak di pantai landai 
dan tarikan nafas seperti desau angin di pesisir yang berbukit. 
Senyap.
Medan laga diselimuti warna kabut, abu-abu.
Bendera perang tak terlihat berwarna-warni lagi. Teropong kepala yang bersalut emas seperti warna debu batu. Tak ada lagi aroma kemegahan warna-warna. Sirna.
Padang Kurusetra sedang menuju akhir pergelarannya. Permukaannya bukan lagi tanah berumput dan berbatu, tetapi kubangan darah, serpihan daging dan potongan besi. 
Dan para panglima bersiaga untuk saat-saat akhir ketika pertempuran sudah semakin dekat pada ujungnya, para panglima yang berdandan seelok-eloknya laksana pengantin hendak ke pelaminan, bersiaga menjemput takdirnya di medan laga.
Padang Kurusetra seperti bola debu yang sedang meluncur turun menuju ke dinding gunung batu. Semakin lama berguling semakin kencang, menyapu segalanya yang berada diperjalanan.
Padang Kurusetra seperti kumpulan sejuta badai bergerak lamban dengan mata badai seperti ujung belalai, menghisap apapun yang dilintasinya.
Padang Kurusetra yang sedang bertiwikrama dengan segala isinya,
tiba-tiba mengambang di atas awan tanpa cahaya, mengapung menjadi hanya sejumput kabut yang berkehendak menjadi titik air.

......

Hujan rintik datang bersama pelangi.

Perang sudah usai.
Warna-warni sudah kembali.
Bunyi sudah kembali lagi.

Damai.



12 Juli 2013

Becak Tandem untuk Mertua


“Saya beli becak ini biar mertua saya bisa kerja antar-jemput anak sekolah. Jadi dia tidak perlu lagi keluar malam untuk jualan mainan”.

Usia bapak mertuanya sudah lebih dari enampuluh tahun. Ibu mertuanya yang usianya lebih muda punya gangguan paru-paru. Laki bini itu sudah bertahun-tahun tinggal di rumah petak sewa, sejak anak mereka baru dua. Sekarang, anaknya yang ke lima -yang terkecil- sudah menjelang kawin. Sudah lama sekali mereka tinggal di tempat itu, dan sekarang sebagian dari anaknya yang sudah kawin juga tinggal di tempat yang hampir sama, berdekatan.

Malam itu, usai waktu tarawih, beberapa anak kecil riuh mencoba becak tandem. Becak empat roda dengan empat pedal kayuhan. Becak seharga empat juta kurang seperempat, yang dibawa pulang dari penjualnya dengan didorong sepeda motor sepanjang jalan ramai, sejauh lebih dari dua puluh kilometer. Didorong dan dikemudikan ganti-berganti oleh mertua-menantu, karena dengan cara itu akan lebih hemat daripada menyewa angkutan dengan ongkos seratus limapuluh ribu rupiah.

Mertuanya dulu juga menarik becak, dan ketika anaknya satu demi satu bekerja dan kawin tidak lagi menarik becak, tetapi berjualan mainan anak-anak, juga wayang karton yang dibuat sendiri.
Barang itu dijajakan di tempat-tempat rekreasi, di keramaian ketika ada pertunjukan, di bazaar-bazaar kampung dan sejenisnya. Laki-bini berangkat dan pulang bersama. dengan gerobak kayu seadanya yang ditarik motor. Bininya dibonceng dibelakangnya, dengan jaket tebal dan selendang melilit di lehernya.
Terkadang mereka berangkat sore dan pulang agak malam, Pakai jaket, terkadang jas hujan.

“ Kasihan mertua saya, pak, sudah tua, apalagi ibu mertua saya kurang sehat. Biar kerja antar-jemput anak-anak yang sekolahnya dekat-dekat sini saja”.

Di langit, awan tipis mengambang, bergerak pelan. Ini tarawih puasa yang ke tiga. 

05 Juli 2013

Blekok yang Bersyukur

Burung blekok menceritakan kepada burung hantu, betapa dia amat bersyukur atas nikmat yang diterima.

Anak-anaknya hidup sebagai blekok yang sukses, punya sarang sendiri-sendiri di lingkungan yang lebih bagus dan nyaman ketimbang habitat bapak dan emak blekok. Punya posisi cukup terpandang di kehidupan masing-masing, sehingga ada jaminan masa depan yang lebih baik di kelak kemudian.
Salah satu anak blekok, bahkan menjadi incaran head-hunter untuk didudukkan pada posisi strategis beberapa perusahaan multiblekok yang mempunyai jaringan seluas udara, darat, laut (dan kepolisian). Blekok muda yang lain mendapat jalan yang lapang untuk meniti jenjang akademiknya, dari S-3 yang pertama (SD-SMP-SMA) ke S-3 yang ke dua (doktor-sarjana sungguh sempurna).

Burung hantu  mendengarkan dengan mata menerawang jauh. Cerita berikutnya tentang blekok-blekok muda hanya masuk ke sebelah telinganya, sementara pikirannya teringat kepada (burung) hantu-hantu muda yuniornya. Para yunior yang mengusik hatinya, karena dia cemas masa depan mereka yang tidak akan sesukses (burung) hantu tua.
Sementara sebelah telinga mendengar cerita blekok muda yang ketika sakit mendapat fasilitas kamar VVIB (very very  important  birds) yang dibayar oleh Blekok Incorporated, sebelah pikirannya teringat bahwa ketika anaknya sakit, biaya berobat dan ngamarnya ditomboki oleh besan hantu.
Dan bla-bla-bla yang lainnya. Dan cerita ‘syukur’ burung blekok itu sudah didengarnya untuk yang kesekian kalinya sementara mereka bertemu di sore hari.

Burung hantu berpikir, andaikata sahabat blekok ini punya perusahaan koran atau TV, mungkin topik sebagian tulisan atau tayangannya  adalah tentang blekok muda. Burung hantu berpikir, adakah sahabat blekok ini lupa bahwa serial tayang-ulang cerita tentang blekok-blekok muda bisa jadi akan mengiris hati burung-burung yang lain ketika mereka mendengarkannya?

Dalam suatu kesempatan bertemu dengan sahabat senasibnya yang lain yakni  burung kucica, ternyata kucica juga punya teman perkutut yang juga termasuk golongan ‘perkutut yang bersyukur’. Kucica sendiri punya sakit sesak nafas, yang sangat gampang kambuh kalau pikirannya terganggu karena berpikir tentang kucica-kucica muda.  
Saking kerasnya berpikir tentang yunior blekok dan membandingkan dengan yunior hantu, gula darahnya meningkat……


02 Mei 2013

Pak Wied yang membuat saya menjadi lebih kaya

Secara guyonan seorang teman berkata:
"Keruwetan memang adalah bawaan bagi dunia, dunia memang harus ruwet karena kalau tidak ruwet namanya bukan dunia"
Sepertinya beliau pernah tamasya ke "bukan dunia" saja.
Guyonan itu setelah direnung-renungkan benar juga adanya, dengan catatan bahwa yang memandang dunia tersebut adalah seorang 'manusia dunia', yang masih disibukkan dengan cita-rasa, cara pandang, sikap, keinginan (nafsu) dunia. Tetapi mungkin bagi teman yang lain dunia yang itu tadi sama sekali tidak ruwet, justru sangat sederhana dan baik-baik saja adanya.
Teman saya memang orang yang menurut saya amat istimewa, karena beliau telah melakukan perjalanan hati panjang dan lama, sehingga mampu memperbandingkan apa-apa yang telah dilihat dan dirasakannya selama dalam perjalanannya. Lalu melakukan perenungan mendalam atasnya.
Pada awalnya cukup sulit saya memahami perkataan-perkataannya yang terkadang tajam menusuk dan terkadang amatlah lembut. Namun setelah belajar mencocokkan ungkapan-ungkapannya dengan 'catatan perjalanan' teman yang lain, saya menjadi amat suka mendengarkan dia bicara dengan segenap kejutan di sela-selanya.
Pak Wied, terima kasih.
Anda telah memperkaya khasanah saya.
Anda telah kadang-kadang menyeret saya keluar dari kesuntukan, meskipun sebagian lain dari diri saya masih bersikukuh di dalam ruang kesuntukan saya.

19 Desember 2012

Empat puluh lima tahun yang lalu

Hari ini tulisan pertama dari keluarga MG69, dikirim oleh mas Kanapi;
kita baca sama-sama, judulnya ada di atas.


Halo shohib-shohib MG 69
Awal tahun 1967, kita lulus seleksi masuk SMA Negeri Purworejo,  sekolah yang paling bergengsi, satu-satunya SMA yang berstatus Negeri di Kabupaten Purworejo, dengan rasa senang dan bangga tentunya.
Awal menjadi anggota keluarga besar SMAN Purworejo kita diplonco oleh kakak kelas . Topi besek , kalungan karton yang bertuliskan nama kita masing-masing, membawa sapu lidi , pengki dll. menjadi atribut kebesaran wajib tiap hari. Dipadati dengan berbagai acara, seperti apel pagi,  pengarahan dengan intonasi yang bergaya galak, kerja bakti,  dan kegiatan lainnya, kita tetap patuh walau menggerutu dalam hati . Bila kita melanggar tata tertib, kursi pesakitan menunggu di pengadilan Mapras. Eksekusi hukuman dijatuhkan pada hari inagurasi. Hukuman 20 tahun berarti si terhukum diharuskan menari potong bebek angsa di panggung; hukuman mati berarti si terhukum harus minum jamu brotowali .
Tiga tahun kita lalui bersama merupakan masa yang paling indah dalam kehidupan remaja yang penuh dengan keceriaan, walaupun rasanya sebagian besar dari kita belum mengenal  indahnya masa pacaran karena masa remaja kita masih belum berani naksir teman dan mungkin  masih belum punya andalan. Tetapi keceriaan tetap saja menemani kita tiap hari. Hampir tiap hari ada saja peristiwa atau cerita yang membuat kita tertawa, apakah itu dari pak guru yang menyelipkan joke di sela waktu mengajar , atau tingkah polah teman kita , atau kita ngglendengi tingkah laku atau gaya guru waktu mengajar .
Tiga tahun itu pula bapak dan ibu guru membimbing kita. Pak Darno – Kepala Sekolah sekaligus guru Diffrensial dan Integral, Pak Kosasih - Bahasa Indonesia , Pak Sugiarto  - Bahasa Inggris, Pak Wardoyo dan Pak Dartoyo - Civics , Pak Sriyono - Ilmu Hayat , Pak Jamil - Ilmu Alam dan Mekanika, Pak Karmin - Aljabar Analit dan Stereometri , Pak Winoto Sugeng - Goniometri , Pak Wardi  - Kimia , Pak Hadi   - Sejarah, Pak Sumitro - Ilmu Bumi, Pak Asmuni - Geografi,  Pak Kusen - Menggambar ,  Pak Warsito - Bahasa Jerman dan last but not least Pak Margono dengan Pendidikan Agama Islamnya. Dan masih banyak bapak dan ibu guru lainnya yang membagi pengetahuan yang beliau miliki kepada kita. Beliau-beliau adalah begawan yang tulus mendidik kita , membekali kita dengan berbagai ilmu dan ajaran budi pekerti dan moral yang luhur . Kita tidak dapat membalasnya, kecuali hanya dengan doa , semoga darma baktinya dicatat sebagai amal sholeh dihadapan Allah SWT.
Akhir tahun 1969 kita lulus dan meninggalkan SMAN Purworejo tercinta. Sebagian dari kita, ada yang langsung bisa menikmati bangku kuliah perguruan tinggi di fakultas kedokteran, tehnik, ekonomi, fmipa, hukum, fisip, ikip,  atau fakultas lainnya. Sebagian lagi  memasuki akademi kedinasan yang berikatan dinas dan sebagian lagi berjihad mencari pekerjaan, baik di Purworejo atau hengkang ke kota lain, dan terus berjihad untuk mengejar cita-citanya yang tertunda.
Perjalanan selanjutnya, kita mengarungi samudra kehidupan dengan menaiki bahtera takdir kita masing-masing.
30 September 2012 kita bertemu kembali di rumah Mas Amir Faisol dan Mbak Titik Isnaeni di Kutoarjo. Fisik kita sudah berubah, bahkan hampir tidak saling mengenal lagi. Garis kerut di dahi, pipi yang sudah mlorot, bandul dibawah mata sudah menggelayut, rambut yang sudah putih memplak, itu semua karena Sunnatullah, hukum alam yang tidak bisa dihindari. Namun semua ini bukan merupakan halangan bagi kita untuk saling bertemu kembali, walau hanya sejenak. Kenangan lama membangkitkan kita untuk tetap bertemu lagi. Silaturahim.
Semoga jalinan silaturahim ini tetap terjaga.  Aamiin.

Tangerang, akhir Desember 2012 - Kanapi - ex B2 

Catatan dari yang berwajib: ada yang mau nyusul untuk posting?