Suntuk.
Itulah kata yang terlintas, mengapa akhir-akhir ini membuat enggan menulis.
Mungkin terpapar dengan huru-hara dan hura-hura di medsos, mungkin juga karena suasana hati sedang tidak ingin 'muncul' di permukaan.
Mungkin juga karena lagi menemukan keasyikan baru, dengan menikmati guyub-rukun dan kegotong-royongan bersama tetangga di kampung, yang jauh dari hal aneh-aneh. Serba apa-adanya.
.....
Lalu tiba-tiba terusik oleh sahabat lama, yang berharap untuk kembali menulis, kali ini 'puisi'.
Ah,
apa iya sih,
menulis puisi itu kan butuh fokus, seperti menyeduh kopi, terasa kopinya tapi tidak tertelan ampasnya, bukan seperti membuat es sirop.
Lalu teringat komentar senior SMA, seorang penyair kondang yang pernah mengomentari bahwa puisiku ini puisi 'penyair karbitan'.
Betul 100 persen. Mutlak.
Tapi biar sajalah, toh setiap orang memiliki hak asasinya untuk mengemukakan 'isi jiwa'-nya. Sepanjang itu tidak membahayakan atau berkibat buruk bagi kemanusiaan. Dan aku juga tidak kepengin jadi 'penyair', apalagi menjadikan itu sebagai cita-cita. apalagi untuk meraih gelar sebagai Penyair. Samasekali mboten, ora, tidak, nehi.
Ya sudah.
Aku cuma pengin berasyik-asyik dengan sahabatku, yang suka berpuisi.
Mas Buyono di Medan.
Bismillah.
Tak molai yo cak, sepurane lek puisiku bantat tah gosong.
15 Januari 2019
20 Juli 2018
Cinta Bisma
Bau sangit daging terbakar memenuhi seluruh
hamparan padang terbuka. Beberapa pancaka masih membara, mengantarkan raga para
prajurit yang gugur ke nirwana. Ini adalah saat semua harus meletakkan senjata,
sampai dengan besok pagi ketika terompat perang ditiup dan ditingkah oleh
terompet lain dari seberang sana, pertanda keduanya sudah kembali bersiaga
untuk berlaga.
Malam makin larut, dari sudut-sudut yang
diterangi obor terdengar lantunan puja-bakti memohon keselamatan untuk perang
yang akan berlanjut entah sampai kapan.
Dua sosok berbaju putih melintas di antara
kemah-kemah dan kerumunan prajurit yang masih terjaga. Mereka berjalan tanpa
bicara, ke kemah besar di mana Senapati Bisma berada, senapati sepuh berambut
dan berjanggut putih, yang wajahnya teduh penuh kedamaian, menyejukkan hati siapapun
yang berhadapan dengannya.
Kembar Nakula dan Sadewa mengemban tugas
yang sangat berat, hanya mereka berdualah yang pantas dan sesuai untuk
menjalaninya. Menghadap eyangnya, kakek yang dikasihi da sangat mengasihinya,
yang besok akan dihadapi sebagai sesama prajurit untuk beradu nyawa di
pertempuran hingga terbunuh salah-satunya. Langkah mereka berdua tergugu,
ketika tenda dibuka dan di dalamnya tampak eyangnya dengan gagah duduk bersila,
dengan mata setengah terpejam.
Langkah kembar berdua menjadi berat, lalu
mereka terduduk bersimpuh di mulut tenda, air mata menggelayut di pelupuk mata,
tenggorokan tercekat, dan pandangan jatuh tertunduk. Mereka beringsut pelan,
maju hingga menyentuh lutut Resi Bisma. Ambruk menangiskan sejuta duka ke
pangkuannya.
Sang Resi menarik nafas panjang melihat
kedua cucu tercintanya, sambil membelai kedua bahu mereka dengan lembut penuh
cinta. Terbayang ketika keduanya masih bocah, bermain manja di pangkuannya.
Si kembar mengenakan busana putih, yang
mengisyaratkan bahwa keduanya sudah bersiap untuk menjemput kematian di medan
laga esok harinya. Kedua cucu ini seperti mewakili cucu yang lainnya, Pandawa
bersama seluruh anak-anaknya yang tersisa, berserah darah, mati di ujung
senjata Senapati Bisma, kakek yang dicintainya, yang kali ini berada
berseberangan sebagai prajurit lawan.
Ooooo..... kehidupan, demikian jauhkah engkau
membawaku di ujung usiaku ini, sehingga tak ada lagi kesempatan untuk membalik
keadaan ....?
Lalu Sang Resi menangkap isyarat langit,
bahwa besok adalah saatnya untuk pulang dalam kemuliaan, membebaskan diri dari
segala ikatan dunia.
Dunia, tempat di mana sebagian manusia
menjadikannya untuk mengejar keinginan, tempat untuk menghamburkan kata-kata
hampa penuh kepalsuan, tempat di mana segala sesuatu dibalik-balikkan, tempat
yang sebenarnya adalah pijakan untuk meraih kemuliaan namun diabaikan.
Diangkatlah kedua wajah cucunya, Nakula
dan Sadewa, wajah tampan dan gagah prajurit perkasa, yang saat ini basah oleh
airmata duka. Dipandanglah keduanya bergantian, lalu eyang Bisma memejamkan
mata sambil bersabda:
.... Pulanglah kalian berdua dengan
restuku, sampaikan pula kepada saudara-saudaramu bahwa aku tetaplah kakek yang
mencintai kalian semua, dan tak pernah tergerus oleh sesuatu keadaanpun
selamanya....
.... Aku sudah menerima isyarat Langit,
bahwa besok adalah saat kepulanganku yang akan dijemput Amba yang datang dari Nirwana....
.... Aku minta ipar kalian, Srikandi, yang
mengantarku di medan laga.... dia harus menghadapiku di pertempuran besok
sebagaimana berhadapan dua Senapati dengan semestinya....
.... Jadikanlah semua darah yang
tertumpah, semua raga yang tumbang, semua jiwa yang melayang sebagai catatan
sejarah, yang akan membuat peradaban lebih mulia sesudahnya....
.... Pulanglah kalian sebagai cucu yang
aku cintai, dan hadapilah aku besok dengan tegak sebagai sesama prajurit yang
menunaikan darma-bakti...
Nakula dan Sadewa ambruk untuk kedua kalinya, dengan rahang
terkunci kehabisan kata-kata, mereka menjerit dalam hati: ..... duh Eyang,
bagaimana bisa semuanya menjadi seperti ini?
Kembali Resi Bisma menegakkan pundak
keduanya. Memandang dengan sorot mata panglima, lalu mengangguk kecil sebagai
isyarat bahwa semua perintah sudah disampaikannya.
Nakula-Sadewa beringsut mundur, bersujud
di hadapan Eyangnya, Senapati Agung yang besok akan berlaga.
Keduanya pulang untuk mengabarkan berita
dukacita, bahwa Eyangnya besok akan menunjukkan cintanya yang teramat besar
dengan caranya. Di Padang Kurusetra, tempat di mana kemanusiaan diuji dan
nurani berbicara sejujurnya.
07 Desember 2017
rasanya (3)
Menulis yang agak serius tetapi leluasa itu memang di sini tempatnya.
Bukan di fb, wa atau yang lainnya, karena di sana pada umumnya berisi tulisan pendek.....
Kelindan hidup antarmanusia ini pada umumnya dikaitkan oleh kesepahaman dan ketidaksepahaman, yang permanen maupun tidak permanen. Dan dengan itulah sepertinya yang namanya hidup bermutu diperjuangkan, baik untuk kepentingan ragawi maupun batini.....
Kemampuan dalam berinteraksi secara positif dengan sesama, memposisikan diri dan melihat dan membuka celah peluang serta menutup celah ancaman amatlah menentukan tercapainya mutu yang menjadi target.
Kesalahan bukanlah bencana, tapi modal untuk dapat menghindarinya di kemudian hari sehingga sebaiknya kita tidak perlu berlama-lama berhenti karena sebuah kesalahan. Jangan lupa, waktu terus berjalan tanpa peduli kita sedang apa....
Tidak pernah ada yang namanya sesuatu yang sia-sia kalau kita mampu memahaminya. Sejelek apapun hasilnya, itu tetap sebuah hasil dari apa yang sudah kita pikirkan dan upayakan, jadi tentu tetap adalah sebuah hasil.
Kalaupun kita sedang lelah, berhentilah agar setelah lelahnya hilang mampu bergerak kembali
Tetaplah semangat, dengan itulah kita maju ke arah yang sudah ditentukan....
Menulis yang agak serius tetapi leluasa itu memang di sini tempatnya.
Bukan di fb, wa atau yang lainnya, karena di sana pada umumnya berisi tulisan pendek.....
Kelindan hidup antarmanusia ini pada umumnya dikaitkan oleh kesepahaman dan ketidaksepahaman, yang permanen maupun tidak permanen. Dan dengan itulah sepertinya yang namanya hidup bermutu diperjuangkan, baik untuk kepentingan ragawi maupun batini.....
Kemampuan dalam berinteraksi secara positif dengan sesama, memposisikan diri dan melihat dan membuka celah peluang serta menutup celah ancaman amatlah menentukan tercapainya mutu yang menjadi target.Kesalahan bukanlah bencana, tapi modal untuk dapat menghindarinya di kemudian hari sehingga sebaiknya kita tidak perlu berlama-lama berhenti karena sebuah kesalahan. Jangan lupa, waktu terus berjalan tanpa peduli kita sedang apa....
Tidak pernah ada yang namanya sesuatu yang sia-sia kalau kita mampu memahaminya. Sejelek apapun hasilnya, itu tetap sebuah hasil dari apa yang sudah kita pikirkan dan upayakan, jadi tentu tetap adalah sebuah hasil.
Kalaupun kita sedang lelah, berhentilah agar setelah lelahnya hilang mampu bergerak kembali
Tetaplah semangat, dengan itulah kita maju ke arah yang sudah ditentukan....
06 Desember 2017
Magnet dari Masa Lalu
Kenang-kenangan jaman SMA yang ditulis sahabat saya Kanafi di blognya sangat membuat saya takjub. Beliau dengan sangat rinci masih mengingat nama-nama para guru beserta mata pelajaran yang diasuh. Mungkin juga catatan jadwal pelajaran ketika itu masih beliau simpan sampai sekarang.
Beberapa teman yang hadir kembali 'dari masa lalu' dalam reuni tahun lalu kebanyakan sedikit demam panggung pada awalnya, karena bayangan tentang wajah teman-teman lama berubah dalam kenyataan masa kini. Butuh waktu beberapa detik sampai beberapa menit untuk mereview kembali, sampai dikenali kembali, sampai pecah menjadi tawa meriah ketika dari wajah misterius tadi terbayang kelucuan dan kekonyolan dari masa SMA.
Mas Indrosaswanto sudah lama sekali minta kepada saya untuk mengupload foto masa kini tadi.
Nah, ini dia... ada teman yang yang lebih rajin mengumpulkan foto itu....
(tulisan ini tertunda di-upload lebih dari sepuluh tahun)
Beberapa teman yang hadir kembali 'dari masa lalu' dalam reuni tahun lalu kebanyakan sedikit demam panggung pada awalnya, karena bayangan tentang wajah teman-teman lama berubah dalam kenyataan masa kini. Butuh waktu beberapa detik sampai beberapa menit untuk mereview kembali, sampai dikenali kembali, sampai pecah menjadi tawa meriah ketika dari wajah misterius tadi terbayang kelucuan dan kekonyolan dari masa SMA.
Mas Indrosaswanto sudah lama sekali minta kepada saya untuk mengupload foto masa kini tadi.
Nah, ini dia... ada teman yang yang lebih rajin mengumpulkan foto itu....
(tulisan ini tertunda di-upload lebih dari sepuluh tahun)
Langganan:
Postingan (Atom)