lelah kau menunggu lalu pingsan tidur ayam
terjaga
masih tak ada siapa-siapa
untuk apa berjalan jauh bila mata terpejam lewat matahari pagi dan terbenam
terkaget-kaget ketika duri semak menggores pedih teriris
terayun di ombak kabut lembut terlena mimpi
ada lava melata-lata
ada raksasa dengan lidah berbuncah darah menggeram menakuti
biarkan saja karena semua itu fatamorgana
yang bikin ciut nyali tapi juga menyalakan api membara
aku suka di sana
karena lelah dibelenggu sepi
.
07 Mei 2010
03 Mei 2010
Bergunjing, mengapa?
Ada dua kelompok generasi karyawan di atas saya, generasi ‘ambil-alih’ yang pertama yaitu para beliau yang mengalami episode pengambil-alihan dari perusahaan milik Belanda, dan yang ke dua adalah generasi AGN yang mulai bekerja pada era 65-70an. Saya sebut generasi AGN karena sebagian dari mereka oleh Perusahaan disekolahkan di Akademi Gula Negara Jogja, sebuah pendidikan ikatan dinas kala itu yang mendidik mahasiswanya menjadi ahli gula terutama di bidang proses pengolahan gula dan satunya lagi di bidang ketata-usahaan gula. Lulusannya bergelar B.Sc. Jumlah mereka cukup banyak, dan sangat diharapkan menjadi ujung tombak di era kemudian setelah pendahulunya pensiun.
Ada sebuah istilah menarik untuk mereka yang B.Sc. proses. Di lingkungan pergulaan saat itu mereka disebut juga sebagai ‘Dokter Gula’, bukan dokter ahli penyakit gula ataupun bukan ahli mengobati gula yang berpenyakit, tetapi sebutan itu mungkin karena pakaian kerja mereka yang seperti jas dokter. Kalau anda punya anak gadis dan tinggal di lingkungan Pabrik Gula, para dokter gula bujangan ini adalah calon menantu idaman, lho. Karena mereka punya kans terbesar untuk menjadi pimpinan PG (pabrik gula) alias Administratur atau bahkan menjadi Direktur di Kantor Pusat. Tapi itu zaman dulu.
Kembali ke generasi AGN.
Merekalah para sarjana muda pemegang tongkat estafet berikutnya, yang akan mewarisi norma-norma dan budaya warisan generasi sebelumnya yang notabene rata-rata ‘hanya’ lulusan STM ( Sekolah Teknik Menengah ) atau MTS (Middelbare Technishe School) dan SMA atau AMS (Algemeene Middelbare School) plus pelatihan-pelatihan sangat intensif dari para Belanda pendahulunya.
Pada masa ini terjadi beberapa perubahan gaya kerja karena pengaruh politik, sosial maupun ilmu pengetahuan di bidang pergulaan. Mereka mulai berusaha mengembangkan diri dan menjawab tantangan zaman. Pabrik yang makin tua, lahan yang semakin terbatas karena wajib tanam tebu sudah tidak ada, eksperimen-eksperimen untuk meng-Indonesiakan cara kerja warisan Belanda mulai dilakukan. Di masa ini pula terjadi beberapa kali reorganisasi dan regrouping. PG-PG yang dulunya milik beberapa Maskapai Belanda dan keberadaannya tersebar, mulai dikelompok-kelompokkan menurut wilayah geografis dan dikendalikan oleh seorang Inspektur. Berubah lagi menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) lalu PNP, menjadi PTP.
Generasi ‘ambil-alih’ mulai habis, pensiun.
Oleh generasi AGN, Prosedur dan Standar Kerja (SOP-Standard Operating and Procedure) yang ada kemudian dikaji dan disesuaikan, tentu saja dengan memperhatikan kebutuhan lapangan dan ketentuan Pemerintah, yang sejak medio 70-an mulai menghilangkan sistem sewa lahan milik petani menjadi sistem Tebu Rakyat, di mana petani menanam dan mengelola sendiri tebunya dan kemudian menyerahkan kepada PG untuk diproses dengan bagi hasil produksi.
Ini adalah masa sibuk. Jaman normal telah lewat. Satu demi satu PG mengalami kerugian. Kondisi mesin dan peralatan yang semakin uzur (ada yang mulai tahun 1870-an lho!), kendali produktivitas yang semakin sulit ( cara petani mengelola tentu beda dengan Sinder PG mengelola kebunnya) dan likuiditas yang semakin terbatas ( harga gula ‘dikendalikan’ Pemerintah sementara inflasi berakibat naiknya ongkos produksi) membuat industri gula megap-megap bagai ikan di sungai keruh. Dan ini tugas berat bagi generasi AGN yang saat itu sebagian telah menjadi pimpinan strategis untuk mengatasinya, meskipun (dalam dugaan saya) mungkin hal-hal seperti ini tidak pernah diajarkan ketika mereka belajar di Akademi. Tentu hasilnya sangat tergantung kepada kepiawaian para Manajer. Namun dalam perjalanan sejarah terbaca satu demi satu PG pingsan dan kemudian mati atau paling tidak koma dan dinfus terus-terusan.
Belum sempat menuntaskan tugas, generasi ini pensiun. Mereka meninggalkan Perusahaan dengan segudang pengalaman, kesan, kenangan, dan yang jelas: tugas yang masih harus diselesaikan oleh generasi berikutnya, yang entah apa pula yang akan dihadapi.
Generasi berikutnya datang pada era 80-an. Generasi ‘sekolahan’, yang mengenal zaman Belanda hanya dari pelajaran. Yang bahkan tiba-tiba kaget ketika kecebur di dunia antah-berantah industri gula. Di mana mimpi sangat beda dengan kenyataan. Di mana teori tergagap-gagap ketika berhadapan dengan praktek. Di mana segala cerita masa lalu ternyata sudah sangat berbeda keadaannya dengan masa kini.
Mereka belum cukup dikelonin oleh para seniornya, ditulari ilmu-ilmu dasar dan mendapat dongeng bermakna, barangkali karena para seniornya terlalu sibuk mengatasi masalah lain sehingga mengajar yuniornya tidak begitu intens dan strict (seperti sewaktu Londo yang ngajar). Tentu masih ada juga senior yang baik, mengajar dan menghajar yuniornya agar menjadi cukup handal untuk nantinya menggantikan mereka.
Saya menyimak keadaan ini, dan saya prihatin, karena secara umum yang terjadi akhirnya adalah lemahnya kendali dan semakin lebarnya kesenjangan. Baik senjang wawasan maupun sikap. Dan buntutnya adalah kerja yang tidak terkonsolidasi dengan baik.
Sekarang cerita ‘diadili’.
Datang seorang senior yang akhir-akhir ini disewa Perusahaan untuk memandu sebuah pekerjaan. Senior tersebut baru pensiun sekitar empat-lima tahun lalu. Beliau menyampaikan kritik kerasnya terhadap pelaksanaan kerja di lapangan, yang nota bene pernah menjadi ladang kerjanya pula.
“Bagaimana bisa baik kalau SOP tidak dilaksanakan dengan benar, kontrol lemah, dsb,dsb, dsb” Banyak, dan sambil memandang saya dengan pandangan geram, seperti beberapa orang senior lain sebelumnya ketika ketemu saya. Dilanjutkan oleh beliau, bahwa kemunduran-kemunduran yang terjadi adalah karena cara-cara yang baik, yang telah dilakukan ‘pada zamannya’ telah ditinggalkan dan diganti dengan cara lain, kualitas SDM tidak sehandal dulu, banyak hal dilakukan secara coba-coba, dan banyak hal lain lagi. Pembicaraan berkembang dengan membicarakan praktek-praktek yang dinilai tidak bagus, meningkat menjadi komentar terhadap kebijakan-kebijakan manajerial, bergesar menjadi bergunjing tentang orang.
Saya kok jadi panas (hehehe..... padahal sebelumnya agak kedinginan karena AC disetel terlalu rendah suhunya), karena saya merasa diadili. Bagaimana tidak! Saya merasa tidak bisa menerima pendapat beliau yang cenderung menganggap para yunior ini ‘under performance’, tidak menghormati ajaran-ajaran seniornya, tidak bekerja sebaik para senior, dsb. Saya kok tiba-tiba mempersonifikasikan diri sebagai yunior. Yang diadili. Padahal saya juga sudah pensiun.
Karena tidak kuat memendam rasa, dari mulut saya terlontar komentar bernada bantahan dan pembelaan:
Sudah tepatkah cara kita dulu mengajar para yunior ini, seperti cara para senior sepuh mengajar kita? Masih samakah medan kerja mereka dengan medan yang dulu kita hadapi? Apakah mereka mendapat pembimbing yang berkualitas, seperti kita dulu mendapat pembimbing yang berkualitas?
Perbincangan yang potensial menjadi arena perbantahan mirip tayangan di televisi ini terputus karena batasan waktu. Dan kemudian saya menemukan sesuatu:
Ikatan emosional seseorang dengan institusi tempat dia pernah bekerja akan berwujud sebuah kebanggaan, manakala (1) dia tahu bahwa institusi tersebut berkembang menjadi lebih baik sepeninggalnya, (2) ketika kembali berada di lingkungan institusi tadi, dia masih dikenal dan disapa dengan baik, apalagi karyanya masih diakui
Dan apabila sebaliknya: yaaa tahu sendirilah. Minimal sedih atau selebihnya: Bergunjing!
Demikianlah, saya sudah selesai diadili. Dan karena ini tidak termasuk pelajaran sejarah yang ilmiah, maka referensinya hanya berdasar ingatan belaka, dan yang jelas tidak akan keluar dalam soal ulangan apalagi ujian nasional.
(salam hangat untuk teman-teman: para yunior dan senior)
Ada sebuah istilah menarik untuk mereka yang B.Sc. proses. Di lingkungan pergulaan saat itu mereka disebut juga sebagai ‘Dokter Gula’, bukan dokter ahli penyakit gula ataupun bukan ahli mengobati gula yang berpenyakit, tetapi sebutan itu mungkin karena pakaian kerja mereka yang seperti jas dokter. Kalau anda punya anak gadis dan tinggal di lingkungan Pabrik Gula, para dokter gula bujangan ini adalah calon menantu idaman, lho. Karena mereka punya kans terbesar untuk menjadi pimpinan PG (pabrik gula) alias Administratur atau bahkan menjadi Direktur di Kantor Pusat. Tapi itu zaman dulu.
Kembali ke generasi AGN.
Merekalah para sarjana muda pemegang tongkat estafet berikutnya, yang akan mewarisi norma-norma dan budaya warisan generasi sebelumnya yang notabene rata-rata ‘hanya’ lulusan STM ( Sekolah Teknik Menengah ) atau MTS (Middelbare Technishe School) dan SMA atau AMS (Algemeene Middelbare School) plus pelatihan-pelatihan sangat intensif dari para Belanda pendahulunya.
Pada masa ini terjadi beberapa perubahan gaya kerja karena pengaruh politik, sosial maupun ilmu pengetahuan di bidang pergulaan. Mereka mulai berusaha mengembangkan diri dan menjawab tantangan zaman. Pabrik yang makin tua, lahan yang semakin terbatas karena wajib tanam tebu sudah tidak ada, eksperimen-eksperimen untuk meng-Indonesiakan cara kerja warisan Belanda mulai dilakukan. Di masa ini pula terjadi beberapa kali reorganisasi dan regrouping. PG-PG yang dulunya milik beberapa Maskapai Belanda dan keberadaannya tersebar, mulai dikelompok-kelompokkan menurut wilayah geografis dan dikendalikan oleh seorang Inspektur. Berubah lagi menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) lalu PNP, menjadi PTP.
Generasi ‘ambil-alih’ mulai habis, pensiun.
Oleh generasi AGN, Prosedur dan Standar Kerja (SOP-Standard Operating and Procedure) yang ada kemudian dikaji dan disesuaikan, tentu saja dengan memperhatikan kebutuhan lapangan dan ketentuan Pemerintah, yang sejak medio 70-an mulai menghilangkan sistem sewa lahan milik petani menjadi sistem Tebu Rakyat, di mana petani menanam dan mengelola sendiri tebunya dan kemudian menyerahkan kepada PG untuk diproses dengan bagi hasil produksi.
Ini adalah masa sibuk. Jaman normal telah lewat. Satu demi satu PG mengalami kerugian. Kondisi mesin dan peralatan yang semakin uzur (ada yang mulai tahun 1870-an lho!), kendali produktivitas yang semakin sulit ( cara petani mengelola tentu beda dengan Sinder PG mengelola kebunnya) dan likuiditas yang semakin terbatas ( harga gula ‘dikendalikan’ Pemerintah sementara inflasi berakibat naiknya ongkos produksi) membuat industri gula megap-megap bagai ikan di sungai keruh. Dan ini tugas berat bagi generasi AGN yang saat itu sebagian telah menjadi pimpinan strategis untuk mengatasinya, meskipun (dalam dugaan saya) mungkin hal-hal seperti ini tidak pernah diajarkan ketika mereka belajar di Akademi. Tentu hasilnya sangat tergantung kepada kepiawaian para Manajer. Namun dalam perjalanan sejarah terbaca satu demi satu PG pingsan dan kemudian mati atau paling tidak koma dan dinfus terus-terusan.
Belum sempat menuntaskan tugas, generasi ini pensiun. Mereka meninggalkan Perusahaan dengan segudang pengalaman, kesan, kenangan, dan yang jelas: tugas yang masih harus diselesaikan oleh generasi berikutnya, yang entah apa pula yang akan dihadapi.
Generasi berikutnya datang pada era 80-an. Generasi ‘sekolahan’, yang mengenal zaman Belanda hanya dari pelajaran. Yang bahkan tiba-tiba kaget ketika kecebur di dunia antah-berantah industri gula. Di mana mimpi sangat beda dengan kenyataan. Di mana teori tergagap-gagap ketika berhadapan dengan praktek. Di mana segala cerita masa lalu ternyata sudah sangat berbeda keadaannya dengan masa kini.
Mereka belum cukup dikelonin oleh para seniornya, ditulari ilmu-ilmu dasar dan mendapat dongeng bermakna, barangkali karena para seniornya terlalu sibuk mengatasi masalah lain sehingga mengajar yuniornya tidak begitu intens dan strict (seperti sewaktu Londo yang ngajar). Tentu masih ada juga senior yang baik, mengajar dan menghajar yuniornya agar menjadi cukup handal untuk nantinya menggantikan mereka.
Saya menyimak keadaan ini, dan saya prihatin, karena secara umum yang terjadi akhirnya adalah lemahnya kendali dan semakin lebarnya kesenjangan. Baik senjang wawasan maupun sikap. Dan buntutnya adalah kerja yang tidak terkonsolidasi dengan baik.
Sekarang cerita ‘diadili’.
Datang seorang senior yang akhir-akhir ini disewa Perusahaan untuk memandu sebuah pekerjaan. Senior tersebut baru pensiun sekitar empat-lima tahun lalu. Beliau menyampaikan kritik kerasnya terhadap pelaksanaan kerja di lapangan, yang nota bene pernah menjadi ladang kerjanya pula.
“Bagaimana bisa baik kalau SOP tidak dilaksanakan dengan benar, kontrol lemah, dsb,dsb, dsb” Banyak, dan sambil memandang saya dengan pandangan geram, seperti beberapa orang senior lain sebelumnya ketika ketemu saya. Dilanjutkan oleh beliau, bahwa kemunduran-kemunduran yang terjadi adalah karena cara-cara yang baik, yang telah dilakukan ‘pada zamannya’ telah ditinggalkan dan diganti dengan cara lain, kualitas SDM tidak sehandal dulu, banyak hal dilakukan secara coba-coba, dan banyak hal lain lagi. Pembicaraan berkembang dengan membicarakan praktek-praktek yang dinilai tidak bagus, meningkat menjadi komentar terhadap kebijakan-kebijakan manajerial, bergesar menjadi bergunjing tentang orang.
Saya kok jadi panas (hehehe..... padahal sebelumnya agak kedinginan karena AC disetel terlalu rendah suhunya), karena saya merasa diadili. Bagaimana tidak! Saya merasa tidak bisa menerima pendapat beliau yang cenderung menganggap para yunior ini ‘under performance’, tidak menghormati ajaran-ajaran seniornya, tidak bekerja sebaik para senior, dsb. Saya kok tiba-tiba mempersonifikasikan diri sebagai yunior. Yang diadili. Padahal saya juga sudah pensiun.
Karena tidak kuat memendam rasa, dari mulut saya terlontar komentar bernada bantahan dan pembelaan:
Sudah tepatkah cara kita dulu mengajar para yunior ini, seperti cara para senior sepuh mengajar kita? Masih samakah medan kerja mereka dengan medan yang dulu kita hadapi? Apakah mereka mendapat pembimbing yang berkualitas, seperti kita dulu mendapat pembimbing yang berkualitas?
Perbincangan yang potensial menjadi arena perbantahan mirip tayangan di televisi ini terputus karena batasan waktu. Dan kemudian saya menemukan sesuatu:
Ikatan emosional seseorang dengan institusi tempat dia pernah bekerja akan berwujud sebuah kebanggaan, manakala (1) dia tahu bahwa institusi tersebut berkembang menjadi lebih baik sepeninggalnya, (2) ketika kembali berada di lingkungan institusi tadi, dia masih dikenal dan disapa dengan baik, apalagi karyanya masih diakui
Dan apabila sebaliknya: yaaa tahu sendirilah. Minimal sedih atau selebihnya: Bergunjing!
Demikianlah, saya sudah selesai diadili. Dan karena ini tidak termasuk pelajaran sejarah yang ilmiah, maka referensinya hanya berdasar ingatan belaka, dan yang jelas tidak akan keluar dalam soal ulangan apalagi ujian nasional.
(salam hangat untuk teman-teman: para yunior dan senior)
30 April 2010
Bergunjing, ah !
Saya cuma mau nyambungkan judul dengan tulisan kemarin.
Episode nyaman yang dialami oleh para senior saya, rupanya tertanam sebagai kesan yang amat membanggaken hati ('ken' bukan 'kan). Zaman emas, di mana sebagian mereka telah menyelesaikan masa bekerjanya tanpa terganjal oleh kesalahan.
Pengambil-alihan bisnis dari maskapai Belanda yang dinasionalisasikan pada penghujung tahun 50-an, mengharuskan para manajer dan staf Belanda untuk menyerahkan tugas dan tanggung-jawab mereka kepada para staf lokal, senior-senior sepuh (tua)saya. Sebagian besar dari mereka ketika itu berusia sekitar tigapuluh-empatpuluhan tahun, dengan pengalaman kerja sekitar lima-sepuluh tahun. Mereka tiba-tiba harus mengelola bisnis dengan segala permasalahan yang sebelumnya barangkali belum pernah diketahui dan diperkirakan.
Bisnis unik ini (yang sekarang populer disebut agribisnis) berawal dari kebun atau lahan.
Benih ditanam, dirawat, dilindungi dan kemudian dipanen secara cermat. Kendala irigasi, hama-penyakit dan cuaca, berdempetan dengan kualitas-kualitas pemeliharaan, lahan, petani yang menggarap dan ahli yang mengkoordinasikan dan mengawasinya.
Penanganan pasca-tebangpun harus prima; ancaman waktu dan cuaca (lagi-lagi!) harus dicermati dan diantisipasi.
Banyak deh pokoknya!
Belum lagi urusan proses pabrikasinya, penyimpanannya, mengatur sumber dan penggunaan duitnya. Wah, pusing.
Tetapi itu semua dapat dilakukan pada masa itu, dengan bekal pengalaman pendek yang mereka miliki, berbasis panduan yang pernah didapatkan dari para Londo baik secara tertulis maupun praktek.
Ada sebuah perbedaan prinsip tentang kepemilikan bisnis; yang sebelumnya milik sebuah maatschappij (nulisnya bener gak ya?) atau company sekarang menjadi milik negara. Kalau dulu ibarat milik seseorang yang riil sosoknya, pemilik sekarang menjadi abstrak, sehingga cara pertanggung-jawabannya menjadi sedikit berbeda.
Dan, lagi-lagi 'mereka' para senior sepuh saya itu merasa sukses. Bisnis berjalan dengan baik, progresnya masih tetap positif, dan secara nyata imbalan kerjanya tetap bagus. Gaji dan fasilitas memuaskan sekali. Masa jabatan sebagai manajer relatif amat panjang; bagaimana tidak, saat itu mereka menggantikan posisi strategis yang ditinggalkan oleh para Londo ketika rata-rata masih berumur tigapuluhan tahun dan pensiun pada usia lima-lima: hampir seluruh usia kerjanya jadi manajer! Hebat, kan. Itulah yang dialami oleh generasi 'ambil-alih'. Era di mana kondisi industri masih seperti sebelumnya, kecuali manajemennya. Finansial masih kuat, sistem dan prosedur pengelolaan masih tetap cocok dan dijaga, dan yang mungkin menjadi fondasi dari segala hal tersebut: budaya kerja dan lingkungan belum terkontaminasi, tetap seperti semula yang sering disebut 'budaya feodal' (entah apa maksudnya!).
Stirahat lagi ya, dongengnya dilanjutkan besok ah, mudah-mudahan tetap enak dibaca. Kalaupun tidak, ya, maafkan saya.
Episode nyaman yang dialami oleh para senior saya, rupanya tertanam sebagai kesan yang amat membanggaken hati ('ken' bukan 'kan). Zaman emas, di mana sebagian mereka telah menyelesaikan masa bekerjanya tanpa terganjal oleh kesalahan.
Pengambil-alihan bisnis dari maskapai Belanda yang dinasionalisasikan pada penghujung tahun 50-an, mengharuskan para manajer dan staf Belanda untuk menyerahkan tugas dan tanggung-jawab mereka kepada para staf lokal, senior-senior sepuh (tua)saya. Sebagian besar dari mereka ketika itu berusia sekitar tigapuluh-empatpuluhan tahun, dengan pengalaman kerja sekitar lima-sepuluh tahun. Mereka tiba-tiba harus mengelola bisnis dengan segala permasalahan yang sebelumnya barangkali belum pernah diketahui dan diperkirakan.
Bisnis unik ini (yang sekarang populer disebut agribisnis) berawal dari kebun atau lahan.
Benih ditanam, dirawat, dilindungi dan kemudian dipanen secara cermat. Kendala irigasi, hama-penyakit dan cuaca, berdempetan dengan kualitas-kualitas pemeliharaan, lahan, petani yang menggarap dan ahli yang mengkoordinasikan dan mengawasinya.
Penanganan pasca-tebangpun harus prima; ancaman waktu dan cuaca (lagi-lagi!) harus dicermati dan diantisipasi.
Banyak deh pokoknya!
Belum lagi urusan proses pabrikasinya, penyimpanannya, mengatur sumber dan penggunaan duitnya. Wah, pusing.
Tetapi itu semua dapat dilakukan pada masa itu, dengan bekal pengalaman pendek yang mereka miliki, berbasis panduan yang pernah didapatkan dari para Londo baik secara tertulis maupun praktek.
Ada sebuah perbedaan prinsip tentang kepemilikan bisnis; yang sebelumnya milik sebuah maatschappij (nulisnya bener gak ya?) atau company sekarang menjadi milik negara. Kalau dulu ibarat milik seseorang yang riil sosoknya, pemilik sekarang menjadi abstrak, sehingga cara pertanggung-jawabannya menjadi sedikit berbeda.
Dan, lagi-lagi 'mereka' para senior sepuh saya itu merasa sukses. Bisnis berjalan dengan baik, progresnya masih tetap positif, dan secara nyata imbalan kerjanya tetap bagus. Gaji dan fasilitas memuaskan sekali. Masa jabatan sebagai manajer relatif amat panjang; bagaimana tidak, saat itu mereka menggantikan posisi strategis yang ditinggalkan oleh para Londo ketika rata-rata masih berumur tigapuluhan tahun dan pensiun pada usia lima-lima: hampir seluruh usia kerjanya jadi manajer! Hebat, kan. Itulah yang dialami oleh generasi 'ambil-alih'. Era di mana kondisi industri masih seperti sebelumnya, kecuali manajemennya. Finansial masih kuat, sistem dan prosedur pengelolaan masih tetap cocok dan dijaga, dan yang mungkin menjadi fondasi dari segala hal tersebut: budaya kerja dan lingkungan belum terkontaminasi, tetap seperti semula yang sering disebut 'budaya feodal' (entah apa maksudnya!).
Stirahat lagi ya, dongengnya dilanjutkan besok ah, mudah-mudahan tetap enak dibaca. Kalaupun tidak, ya, maafkan saya.
29 April 2010
Bergunjing
Berada di antara para senior yang telah pensiun, saya merasa 'diadili'. Ceritanya:
Lima-enam orang senior saya yang sudah pensiun lebih dulu, sekarang sering kumpul-kumpul di rumah salah-satu dari mereka. Acara rutinnya bersepeda-ria. Dan itu telah berjalan intens kurang lebih empat tahunan ini. Kelompok 65++ ini dulu berasal dari angkatan kerja yang sama, sekitar tahun 1966, di mana ketika itu Perusahaan lagi berada pada zaman 'keemasannya', sampai-sampai beberapa di antara karyawan pada era itu berasal dari para karyawan bank dan akuntan yang akhirnya memilih menyeberang untuk bekerja di industri gula.
Pada saat itu, jaminan kesejahteraan relatif sangat baik bila dibanding dengan instansi lain. Dibandingkan dengan 'instansi' karena Perusahaan Perkebunan dan Pabrik-pabriknya masih sangat kental bau 'pegawai' semacam pegawai negeri. Pesaing yang lebih bergengsi paling-paling adalah Pegawai Kantor Pajak. Atau Colibri (begitu Unilever biasa disebut ketika itu). Gaji bagus, jaminan kesehatan sip, fasilitas kerja aduhai. Contoh:
Seorang Kepala Tata-usaha Pabrik Gula pernah cerita: ketika menerima amplop gaji bulan ini, amplop gaji bulan sebelumnya masih utuh dan belum dibuka! Kalau dinas ke Kantor Pusat (jaman itu mereka menyebutnya : dines ke Direksi) maka dipilih kendaraan dinasnya pick-up, bukannya station atau jeep, karena selesai urusan dengan Kantor Pusat mereka akan belanja kulkas, tape-deck yang segede kulkas juga, itupun masih harus belanja titipan pesanan serupa dari kolega-kolega yang lain.
Sakit dan opname juga membanggakan. Aneh ya! Ketika sebagian tetangga yang pegawai biasa sakit diopname di RSU milik Pemerintah, mereka dirawat di RS Swasta yang terkenal, yang lantainya kencang bau lisolnya. Yang 'bezoek'nya amat disiplin, yang tempat makan pasiennya bukan baki ompreng aluminium dengan cekungan tempat bubur, sayur dan daging, dan sendok bebek; tapi disajikan di atas baki beneran, dengan piring, mangkuk dan sendok 'alpacca'. Kebanggaan tuh, bagi yang sakit dan keluarganya, dan layak dipamerkan ketika sanak famili serta beberapa tetangga datang menyambangi.
Berangkat kerja juga keren. Sementara yang lain berangkat bersepeda (jaman itu motor belum banyak) atau naik angkutan umum, mereka dijemput dan diantar pulang dengan bis pegawai yang catnya abu-abu terang (warna yang lagi ngetren saat itu) dan sisi kanan kirinya ada tulisan "BIS PEGAWAI". Berangkat rapi, pulang tetap rapi ( gak kerja kali, ya) karena kantornya gedung kuno warisan Londo, yang bersih mengkilat megah sampai ke kakus-kakusnya. Sejuk dengan plafon tinggi ventilasi lebaar ditambah 'waier' (entah gimana nulisnya yang benar, maksudnya adalah 'fan' alias kipas angin.
Pantesan, beberapa karyawan bujangan lelaki ketika itu mencadi calon mantu idaman, tempat calon mimpi digantungkan oleh para calon mertua. Para bachelor ketika itu pesaingnya cuma satu: kadet, calon perwira angkatan laut yang masih dididik di AAL, Akademi Angkatan Laut, yang kalau malam minggu 'pesiar' dengan seragamnya yang menarik hati, jalan dengan langkah rapi berdua-dua. Cuma itu kompetitornya.
Tapi ternyata keadaan berubah. Pelan dan pasti. Pasti berubah, maksud saya. Sangat mengejutkan bagi mereka, senior-senior saya ketika mereka tiba-tiba harus dibangunkan dari mimpinya oleh gegap-gempitanya kenyataan. Saya adalah salah satu produk yang berada pada era sesudah mereka, ketika perubahan drastis datang.
Kok melantur ya; diadilinya kapan? Sabar dulu ah, capek!
Bikin minum anget dulu yuk! disruput pelan.... segaaaaaar.
Semoga Anda semua dalam keadaan sehat, doakan juga saya.
.
Lima-enam orang senior saya yang sudah pensiun lebih dulu, sekarang sering kumpul-kumpul di rumah salah-satu dari mereka. Acara rutinnya bersepeda-ria. Dan itu telah berjalan intens kurang lebih empat tahunan ini. Kelompok 65++ ini dulu berasal dari angkatan kerja yang sama, sekitar tahun 1966, di mana ketika itu Perusahaan lagi berada pada zaman 'keemasannya', sampai-sampai beberapa di antara karyawan pada era itu berasal dari para karyawan bank dan akuntan yang akhirnya memilih menyeberang untuk bekerja di industri gula.
Pada saat itu, jaminan kesejahteraan relatif sangat baik bila dibanding dengan instansi lain. Dibandingkan dengan 'instansi' karena Perusahaan Perkebunan dan Pabrik-pabriknya masih sangat kental bau 'pegawai' semacam pegawai negeri. Pesaing yang lebih bergengsi paling-paling adalah Pegawai Kantor Pajak. Atau Colibri (begitu Unilever biasa disebut ketika itu). Gaji bagus, jaminan kesehatan sip, fasilitas kerja aduhai. Contoh:
Seorang Kepala Tata-usaha Pabrik Gula pernah cerita: ketika menerima amplop gaji bulan ini, amplop gaji bulan sebelumnya masih utuh dan belum dibuka! Kalau dinas ke Kantor Pusat (jaman itu mereka menyebutnya : dines ke Direksi) maka dipilih kendaraan dinasnya pick-up, bukannya station atau jeep, karena selesai urusan dengan Kantor Pusat mereka akan belanja kulkas, tape-deck yang segede kulkas juga, itupun masih harus belanja titipan pesanan serupa dari kolega-kolega yang lain.
Sakit dan opname juga membanggakan. Aneh ya! Ketika sebagian tetangga yang pegawai biasa sakit diopname di RSU milik Pemerintah, mereka dirawat di RS Swasta yang terkenal, yang lantainya kencang bau lisolnya. Yang 'bezoek'nya amat disiplin, yang tempat makan pasiennya bukan baki ompreng aluminium dengan cekungan tempat bubur, sayur dan daging, dan sendok bebek; tapi disajikan di atas baki beneran, dengan piring, mangkuk dan sendok 'alpacca'. Kebanggaan tuh, bagi yang sakit dan keluarganya, dan layak dipamerkan ketika sanak famili serta beberapa tetangga datang menyambangi.
Berangkat kerja juga keren. Sementara yang lain berangkat bersepeda (jaman itu motor belum banyak) atau naik angkutan umum, mereka dijemput dan diantar pulang dengan bis pegawai yang catnya abu-abu terang (warna yang lagi ngetren saat itu) dan sisi kanan kirinya ada tulisan "BIS PEGAWAI". Berangkat rapi, pulang tetap rapi ( gak kerja kali, ya) karena kantornya gedung kuno warisan Londo, yang bersih mengkilat megah sampai ke kakus-kakusnya. Sejuk dengan plafon tinggi ventilasi lebaar ditambah 'waier' (entah gimana nulisnya yang benar, maksudnya adalah 'fan' alias kipas angin.
Pantesan, beberapa karyawan bujangan lelaki ketika itu mencadi calon mantu idaman, tempat calon mimpi digantungkan oleh para calon mertua. Para bachelor ketika itu pesaingnya cuma satu: kadet, calon perwira angkatan laut yang masih dididik di AAL, Akademi Angkatan Laut, yang kalau malam minggu 'pesiar' dengan seragamnya yang menarik hati, jalan dengan langkah rapi berdua-dua. Cuma itu kompetitornya.
Tapi ternyata keadaan berubah. Pelan dan pasti. Pasti berubah, maksud saya. Sangat mengejutkan bagi mereka, senior-senior saya ketika mereka tiba-tiba harus dibangunkan dari mimpinya oleh gegap-gempitanya kenyataan. Saya adalah salah satu produk yang berada pada era sesudah mereka, ketika perubahan drastis datang.
Kok melantur ya; diadilinya kapan? Sabar dulu ah, capek!
Bikin minum anget dulu yuk! disruput pelan.... segaaaaaar.
Semoga Anda semua dalam keadaan sehat, doakan juga saya.
.
01 April 2010
Bekerja sebagai Pegawai
Senior saya dulu, adalah seorang senior sepuh yang masih ’bau pendidikan Belanda’, pernah memberikan nasehat kepada saya:
Nilai dan bobot Anda dalam bekerja memiliki beberapa derajat:
Apabila bekerja menunggu diperintah, maka bobot Anda adalah pesuruh.
Apabila bekerja hanya meniru orang yang Anda gantikan, maka bobot Anda adalah juru-tulis.
Apabila dalam bekerja, Anda menyuruh orang untuk menirukan cara kerja seperti yang Anda lakukan, bobot Anda adalah klerk.
Apabila Anda ketika bekerja juga berpikir dan belajar dengan mengembangkan pengetahuan agar pekerjaan Anda menjadi lebih mudah untuk Anda lakukan, bobot Anda adalah pegawai.
Apabila Anda merumuskan agar pekerjaan Anda menjadi mudah, menarik dan menyenangkan bagi teman-teman dan atasan Anda, maka bobot Anda adalah pembaharu.
Tentu saja semua harus dalam kerangka ’pekerjaan yang benar’.
Saya belum sempat menyampaikan hal ini kepada Dicky dan Gurit. Semoga berguna bagi mereka dan teman-temannya yang lain, dan semoga merekalah para calon pembaharu di tempat bekerjanya.
.
Nilai dan bobot Anda dalam bekerja memiliki beberapa derajat:
Apabila bekerja menunggu diperintah, maka bobot Anda adalah pesuruh.
Apabila bekerja hanya meniru orang yang Anda gantikan, maka bobot Anda adalah juru-tulis.
Apabila dalam bekerja, Anda menyuruh orang untuk menirukan cara kerja seperti yang Anda lakukan, bobot Anda adalah klerk.
Apabila Anda ketika bekerja juga berpikir dan belajar dengan mengembangkan pengetahuan agar pekerjaan Anda menjadi lebih mudah untuk Anda lakukan, bobot Anda adalah pegawai.
Apabila Anda merumuskan agar pekerjaan Anda menjadi mudah, menarik dan menyenangkan bagi teman-teman dan atasan Anda, maka bobot Anda adalah pembaharu.
Tentu saja semua harus dalam kerangka ’pekerjaan yang benar’.
Saya belum sempat menyampaikan hal ini kepada Dicky dan Gurit. Semoga berguna bagi mereka dan teman-temannya yang lain, dan semoga merekalah para calon pembaharu di tempat bekerjanya.
.
Langganan:
Postingan (Atom)