engkau datang dan sekian lama ada bersamaku
kutatap kau, apa gerangan yang ada padamu
isyarat demi isyarat kau sampaikan padaku dalam senyap dan penuh damai
tanpa kata-kata
senja esok lusa habis waktumu
lalu
adakah selama ini hadirmu berlalu sia-sia
dan nanti cuma tinggal cerita
bahwa aku pernah bersamamu di suatu ketika
dan aku tak berbuat apa-apa
ramadhan,
berjuta berebut kasih-sayangmu
berabad waktu berlalu dan senantiasa bakal tetap tiba
hari-hari ini kutatap kebesaran dan kelembutanmu
Tuhanku,
dibawanya kasih-sayangMu
berlimpah-ruah berkah dan ampunan bagi umat yang melihat keMahabesaranMu
ampuni aku
ketika Kau utus waktu ramadhan sebagai pembawa tanda kebesaranMu
ramadhan
ketika dia tiba kembali nanti
ijinkan aku masih di sini, Tuhanku
ijinkan aku menjadi hambaMu
sampai ramadhan dan ramadhan dan ramadhan
dan
ramadhan
sampai aku tak hanya menatap ramadhanMu, amin.
surabaya 2003-2004
.
16 September 2009
14 September 2009
Rejeki
Rejeki sering dikonotasikan secara pendek dengan penghasilan, atau uang. Padahal tidak selalu begitu. Lihatlah, seorang ibu muda yang menggendong bayi - anak dari temannya. Tiba-tiba bayi itu mengompol digendongannya, maka katanya: waah rejeki ini, bakal cepet ketularan punya momongan. Bahkan kadang seorang yang tiba-tiba terpijak kotoran ayam, sambil tertawa bilang: waah bakal dapat rejeki apa nih... padahal jelas-jelas kaki atau alas kakinya kotor dan bau.
Seorang guru saya pernah bilang setengah berfilosofi:
Rejeki dari Tuhan itu datangnya seperti hujan yang jatuh ke seluruh permukaan tanah. Setiap jengkal tanah akan mendapat curahan air yang sama banyak. Artinya, rejeki yang diberikan kepada setiap orang sebenarnya sama banyak.
Kalau kemudian masing-masing mendapatkan jumlah yang berbeda, masalahnya terletak kepada wadah yang disiapkan. Ada orang yang membangun kolam untuk menampungnya, orang yang lain hanya menyediakan ember untuk itu. Sedang orang yang lain lagi hanya menyiapkan cangkir. Jelas air yang akan tertampung di masing-masing wadah akan berbeda jumlahnya.
Sama-sama disiapkan ember pun, jumlah yang tertampung bisa berbeda, karena satu orang meletakkan ember terbuka ke atas secara datar, sedang pemilik lain ada yang menaruh embernya miring, dan yang lain lagi malahan menaruh embernya rebah, yang sampai kapanpun rejeki tak akan tertampung, paling-paling embernya hanya basah sebentar. Apa lagi kalau embernya ditengkurapkan.
Jadi bukannya sedikit atau banyak yang diberikan, tetapi seberapa besar kita telah menyiapkan wadahnya dan bagaimana wadah yang sudah disiapkan itu diletakkan secara benar.
Masuk akal juga kata guru saya tadi.
Yang berikutnya:
Berapapun besar kolam yang kita sediakan untuk menampung curahan rejeki, kalau dindingnya tidak dibuat secara benar, maka hujan yang tertampung pada akhirnya hanya akan terserap atau terbuang sia-sia tanpa pernah memberikan manfaat bagi pemilik kolam. Tetapi secangkir air, kalau kemudian direbus dan dimasukkan gula dan kopi, akan menjadi minuman yang lezat bagi pemilik cangkir atau tamu yang mendapatkan suguhan kopi tadi.
Menurut saya benar juga, lagi.
Jadi apakah wadah yang sudah saya siapkan? Jangan-jangan saya tidak pernah memikirkannya.
Ah, ada-ada saja guru saya yang satu ini.....
Apakah rejeki hanya semata-mata soal penghasilan? Jangan-jangan, membaca tulisan ini pun sebenarnya adalah rejeki? Mungkin tergantung bagaimana Anda mengaksepnya.
Permisi.
(kenang-kenangan dan sekaligus pelajaran dari pak Trianggono)
Seorang guru saya pernah bilang setengah berfilosofi:
Rejeki dari Tuhan itu datangnya seperti hujan yang jatuh ke seluruh permukaan tanah. Setiap jengkal tanah akan mendapat curahan air yang sama banyak. Artinya, rejeki yang diberikan kepada setiap orang sebenarnya sama banyak.
Kalau kemudian masing-masing mendapatkan jumlah yang berbeda, masalahnya terletak kepada wadah yang disiapkan. Ada orang yang membangun kolam untuk menampungnya, orang yang lain hanya menyediakan ember untuk itu. Sedang orang yang lain lagi hanya menyiapkan cangkir. Jelas air yang akan tertampung di masing-masing wadah akan berbeda jumlahnya.
Sama-sama disiapkan ember pun, jumlah yang tertampung bisa berbeda, karena satu orang meletakkan ember terbuka ke atas secara datar, sedang pemilik lain ada yang menaruh embernya miring, dan yang lain lagi malahan menaruh embernya rebah, yang sampai kapanpun rejeki tak akan tertampung, paling-paling embernya hanya basah sebentar. Apa lagi kalau embernya ditengkurapkan.
Jadi bukannya sedikit atau banyak yang diberikan, tetapi seberapa besar kita telah menyiapkan wadahnya dan bagaimana wadah yang sudah disiapkan itu diletakkan secara benar.
Masuk akal juga kata guru saya tadi.
Yang berikutnya:
Berapapun besar kolam yang kita sediakan untuk menampung curahan rejeki, kalau dindingnya tidak dibuat secara benar, maka hujan yang tertampung pada akhirnya hanya akan terserap atau terbuang sia-sia tanpa pernah memberikan manfaat bagi pemilik kolam. Tetapi secangkir air, kalau kemudian direbus dan dimasukkan gula dan kopi, akan menjadi minuman yang lezat bagi pemilik cangkir atau tamu yang mendapatkan suguhan kopi tadi.
Menurut saya benar juga, lagi.
Jadi apakah wadah yang sudah saya siapkan? Jangan-jangan saya tidak pernah memikirkannya.
Ah, ada-ada saja guru saya yang satu ini.....
Apakah rejeki hanya semata-mata soal penghasilan? Jangan-jangan, membaca tulisan ini pun sebenarnya adalah rejeki? Mungkin tergantung bagaimana Anda mengaksepnya.
Permisi.
(kenang-kenangan dan sekaligus pelajaran dari pak Trianggono)
19 Agustus 2009
dua matra
jauh di atas awan
terlihat alam membentang dengan segala kebesaran wujudnya
yang seolah aku ingin menggenggamnya, astaghfirullah
di alas sajadah
jutaan makhluk Allah melakukan tugas hidupnya
yang aku tak mampu melihatnya
subhanallah
.
terlihat alam membentang dengan segala kebesaran wujudnya
yang seolah aku ingin menggenggamnya, astaghfirullah
di alas sajadah
jutaan makhluk Allah melakukan tugas hidupnya
yang aku tak mampu melihatnya
subhanallah
.
12 Agustus 2009
Kemong
Kemong adalah sebutan gaya Suroboyo-an untuk sebuah tabuhan mirip gong dengan diameter antara 25-35 cm. Alat ini ditabuh atau dipukul bukan untuk iringan musik, tetapi sebagai penanda ketika sebuah kampung ada warganya yang meninggal.
Biasanya, ketika ada seorang warga kampung meninggal, maka kemong akan ditabuh berkeliling kampung, lalu warga yang mendengar akan keluar dari rumah untuk menanyakan kepada si penabuh atau pengiringnya - biasanya anak-anak atau beberapa anak muda yang ikut berkeliling – ikhwal tentang tetangga yang meninggal: siapa, kapan meninggal, karena apa, kapan dimakamkan, di mana dan sebagainya. Lalu kabar tersebut secara berantai ditularkan kepada tetangga lainnya. Duplikasi informasi yang simpel namun sangat efektif.
Untuk melengkapi informasi tentang rumah duka, maka di ujung jalan atau gang akan dipasang bendera putih bergambar palang-merah, yang ukurannya sekitar 40x40 atau 50x50 cm. Entah kenapa kok palang-merah, barangkali ada hubungannya dengan Surabaya yang pada jaman dulu pernah menjadi ajang perang perjuangan melawan Sekutu dan Nica di tahun 1945, di mana ketika itu lokasi perawatan korban yang berada di kampung-kampung diberi tanda dengan bendera palang merah.
Kembali dengan urusan kemong.
Peralatan yang sederhana ini sekarang sudah semakin jarang digunakan, barangkali kalah dengan sarana komunikasi yang baru: HP, yang tidak bising, tidak capek, praktis. Tinggal omong-omong atau pencet-pencet, kirim, habis perkara. Tetapi ternyata bukan hanya perkara yang habis. Nuansa kerukunan model kampung Suroboyo-an juga ikut menjadi terkikis.
Ketika dulu kemong ditabuh, warga kampung keluar rumah, omong-omong antar tetangga, bikin janji untuk ketemu, takziah, melayat, mengantar ke kubur, bertemu dengan tetangga lainnya sambil saling berkabar keadaan masing-masing. Sungguh sebuah model kehidupan bermasyarakat yang sejuk dan menyenangkan, sehingga terkadang membuat sebuah keluarga enggan meninggalkan kampungnya untuk pindah ke pemukiman baru yang jalannya lebih lebar dan lingkungannya lebih lega. Enggan kehilangan nuansa keakraban bertetangga.
Kemong juga sebuah alat ukur sederhana untuk mendeteksi tingkat partisipasi bermasyarakat seseorang. Ketika mendengar kemong ditabuh dan seseorang tidak keluar dari rumah (padahal tidak sakit) maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut mempunyai masalah dengan kemampuan sosialisasinya, dan apabila tindakan seperti ini terjadi berkali-kali, maka para tetangga akan mencatatnya untuk kemudian disikapi bersama-sama ( kok agak mengancam, ya?! ).
Kemong sekarang sudah hampir musnah karena barangkali masyarakat menganggap penggunaan kemong sudah tidak layak-tayang lagi. Seiring dengan itu, saya pernah menjumpai sebuah keluarga yang ayahnya meninggal ( pada malam hari jam 9 ), di rumah duka itu hanya ada anak, pembantu, 2-3 orang famili dan 2-3 orang teman (yang notabene mereka semua bukan tetangga, yang semuanya tinggal jauh dari rumah tersebut) datang untuk takziah. Dari lingkungan sekitar rumah duka tersebut hanya hadir hansip/satpam, itupun karena mereka menggeser pos jaga ke arah yang berdekatan dengan rumah duka.
Semakin menghilangnya kemong di Surabaya apakah juga pertanda semakin menipisnya solidaritas sosial gaya Suroboyo-an, ya?
Biasanya, ketika ada seorang warga kampung meninggal, maka kemong akan ditabuh berkeliling kampung, lalu warga yang mendengar akan keluar dari rumah untuk menanyakan kepada si penabuh atau pengiringnya - biasanya anak-anak atau beberapa anak muda yang ikut berkeliling – ikhwal tentang tetangga yang meninggal: siapa, kapan meninggal, karena apa, kapan dimakamkan, di mana dan sebagainya. Lalu kabar tersebut secara berantai ditularkan kepada tetangga lainnya. Duplikasi informasi yang simpel namun sangat efektif.
Untuk melengkapi informasi tentang rumah duka, maka di ujung jalan atau gang akan dipasang bendera putih bergambar palang-merah, yang ukurannya sekitar 40x40 atau 50x50 cm. Entah kenapa kok palang-merah, barangkali ada hubungannya dengan Surabaya yang pada jaman dulu pernah menjadi ajang perang perjuangan melawan Sekutu dan Nica di tahun 1945, di mana ketika itu lokasi perawatan korban yang berada di kampung-kampung diberi tanda dengan bendera palang merah.
Kembali dengan urusan kemong.
Peralatan yang sederhana ini sekarang sudah semakin jarang digunakan, barangkali kalah dengan sarana komunikasi yang baru: HP, yang tidak bising, tidak capek, praktis. Tinggal omong-omong atau pencet-pencet, kirim, habis perkara. Tetapi ternyata bukan hanya perkara yang habis. Nuansa kerukunan model kampung Suroboyo-an juga ikut menjadi terkikis.
Ketika dulu kemong ditabuh, warga kampung keluar rumah, omong-omong antar tetangga, bikin janji untuk ketemu, takziah, melayat, mengantar ke kubur, bertemu dengan tetangga lainnya sambil saling berkabar keadaan masing-masing. Sungguh sebuah model kehidupan bermasyarakat yang sejuk dan menyenangkan, sehingga terkadang membuat sebuah keluarga enggan meninggalkan kampungnya untuk pindah ke pemukiman baru yang jalannya lebih lebar dan lingkungannya lebih lega. Enggan kehilangan nuansa keakraban bertetangga.
Kemong juga sebuah alat ukur sederhana untuk mendeteksi tingkat partisipasi bermasyarakat seseorang. Ketika mendengar kemong ditabuh dan seseorang tidak keluar dari rumah (padahal tidak sakit) maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut mempunyai masalah dengan kemampuan sosialisasinya, dan apabila tindakan seperti ini terjadi berkali-kali, maka para tetangga akan mencatatnya untuk kemudian disikapi bersama-sama ( kok agak mengancam, ya?! ).
Kemong sekarang sudah hampir musnah karena barangkali masyarakat menganggap penggunaan kemong sudah tidak layak-tayang lagi. Seiring dengan itu, saya pernah menjumpai sebuah keluarga yang ayahnya meninggal ( pada malam hari jam 9 ), di rumah duka itu hanya ada anak, pembantu, 2-3 orang famili dan 2-3 orang teman (yang notabene mereka semua bukan tetangga, yang semuanya tinggal jauh dari rumah tersebut) datang untuk takziah. Dari lingkungan sekitar rumah duka tersebut hanya hadir hansip/satpam, itupun karena mereka menggeser pos jaga ke arah yang berdekatan dengan rumah duka.
Semakin menghilangnya kemong di Surabaya apakah juga pertanda semakin menipisnya solidaritas sosial gaya Suroboyo-an, ya?
10 Agustus 2009
cermin
tiba-tiba
cermin ada di mana-mana
di kamar
di pintu
di beranda
di koran, di teve, di radio, jalanan, warung kopi
di majelis-majelis, di kampus-kampus
di wajah pembesar, pengamen, guru, polisi, tahanan, artis, pesulap
di langit, di pepohonan, di ceruk-ceruk gelap dan di pentas pertunjukan
di hati, di mimpi, di lamunan yang berkepanjangan
kadang meleleh, luluh-lumer menyatu dengan denyut nadi
kadang membatu kaku keras menyakitkan
kadang menyilaukan kadang transparan kadang buram kadang menghilang
akankah memberi arti
bagi jiwa
dan kehidupan ?
cermin ada di mana-mana
di kamar
di pintu
di beranda
di koran, di teve, di radio, jalanan, warung kopi
di majelis-majelis, di kampus-kampus
di wajah pembesar, pengamen, guru, polisi, tahanan, artis, pesulap
di langit, di pepohonan, di ceruk-ceruk gelap dan di pentas pertunjukan
di hati, di mimpi, di lamunan yang berkepanjangan
kadang meleleh, luluh-lumer menyatu dengan denyut nadi
kadang membatu kaku keras menyakitkan
kadang menyilaukan kadang transparan kadang buram kadang menghilang
akankah memberi arti
bagi jiwa
dan kehidupan ?
Langganan:
Postingan (Atom)