22 Mei 2008

Ketika Kasih Sayang Berkabut

Setiap orang-tua mempunyai harapan agar anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Apabila ada di antara anak-anaknya yang kehidupannya di bawah standar atau di luar harapannya, maka dia terharu-biru pikirannya.
Sementara si anak tersebut, yang tumbuh dengan pikiran dan cita-cita, kemampuan yang dikuasai, kesempatan yang diperoleh dan kehidupan yang dijalaninya, terkadang merasa bahwa dirinya tidak mengalami masalah dan kesulitan apapun. Sehingga tak pernah terpikir untuk meminta penilaian dari orang-tuanya, apalagi bantuan.
Karena si anak yang tenang-tenang saja, orang-tuanya akan menjadi semakin resah membayangkan bagaimana anaknya menjalani hidupnya pada saat ini dan kemudian nanti.
Biasanya keprihatinan-keprihatinan seperti itu akan menjadi bahan diskusi dan perdebatan dengan isteri atau suaminya atau disampaikan kepada anaknya yang lain yang tingkat kehidupannya dinilai lebih baik atau mencocoki hatinya. Seolah-olah sebagai ungkapan rasa getun (kecewa pada diri sendiri) atau dimaksudkan agar anak yang lain tersebut juga sedia untuk berbagi peduli terhadap saudaranya, sehingga hasil akhir yang dibayangkan ingin dilihatnya adalah kesetaraan tingkat kehidupan di antara anak-anaknya. Sebuah keinginan yang teramat manusiawi pada setiap orang-tua, dan memang begitulah seharusnya.

Bagaimana sikap anak lainnya yang dicurhati ?
Pengalaman hidup dan kedewasaan berpikir seorang anak terkadang berbeda atau bahkan melampaui kemampuan orang-tuanya. Demikian pula ukuran-ukuran tentang kemakmuran, kebahagiaan, kesejahteraan dan lain-lainnya sering berbeda antara orang tua dengan anaknya yang sudah dewasa atau sama-sama ‘tua’. Curhat atau diskusi yang terjadi antara anak-beranak dalam keadaan demikian ini biasanya tidak mudah untuk sampai kepada kesimpulan yang melegakan si orang tua.
Orang tua biasanya hanya membutuhkan pembenaran atas pendapat yang dikemukakannya serta kesediaan untuk menerima tugas yang dilimpahkannya. Tetapi terkadang pendapat tersebut benar-benar tidak dapat diterima dan difahami oleh si anak, apalagi untuk menerima penugasan yang dilimpahkan. Sesuatu yang sangat membebani pikiran si anak.
“ Ayah, biarkan kak Anu menjalani hidupnya dengan caranya, toh yang dijalaninya tidak ada yang melanggar norma apapun. Kami semua, para saudaranya tetap akan siap membantunya manakala suatu saat terjadi kesulitan pada keluarga kak Anu.”
“ Tapi maksud ayah, seharusnya dia itu merubah cara mengatur hidupnya, seperti yang telah ayah-ibu contohkan sejak kalian masih kecil dulu..”
........
Demikianlah. Kasih-sayang antar-anggota keluarga dan saudara adalah sesuatu yang indah untuk dijalani dan dirasakan, tetapi terkadang pikiran mengganggunya dengan kehendak sendiri yang belum tentu diterima oleh yang lain, sehingga keindahan kasih sayang tersebut tertutup kabut. Terasa adanya kasih sayang, tetapi untuk melihatnya terganggu oleh kehendak yang datang dari pikiran sendiri.

Saya sedang mengamati hal tersebut untuk belajar memahami, bagaimana seharusnya menyikapi sehingga dapat melihatnya tanpa berkabut.

18 Mei 2008

Satuu... duaaaaa... tigak!!!

Di desa, di kampung, di kota, di gubuk-gubuk kumuh, di geria-geria tawang dan di mana-mana, setiap anak kecil yang sudah mulai faham dan mampu merespon bahasa tentu pernah dikenalkan kepada aba-aba sederhana seperti itu.
Aba-aba yang diserukan ketika seorang anak kecil belajar melompat, menangkap bola atau menyambut tepukan tangan. Sebuah pengajaran yang kelak sangat berguna sebagai alat untuk bertahan hidup.
Dimulai pada awalnya dengan nilai. Membaca : enam, menyanyi : delapan, berhitung: tujuh, dan seterusnya. Kalau ingin mendapatkan pengakuan maka si anak harus berusaha untuk mendapatkan nilai setidak-tidaknya tujuh atau tujuh puluh. Di luar itu, maka dia akan menjadi seorang anak yang tidak masuk hitungan dalam kelompok sosialnya.
Guna memotivasi agar nilai menjadi bergengsi, tak jarang dijanjikan hadiah, mulai dari tas atau sepatu baru sampai tamasya ke sorga permainan, di pasar-pasar malam, tempat rekreasi, naik sepur (!) ke kota lain, ke game-zone di mal-mal, ke tempat yang bagaikan surga bagi mereka. Tetapi kalau nilai jeblog, juga sederet sanksi terkadang disertakan berupa larangan menonton televisi, larangan bermain sepulang sekolah, sampai dengan dihapuskannya subsidi uang jajan.
Untuk mendongkrak gengsi, terkadang pula si anak diharuskan mengikuti pelajaran-pelajaran tambahan di luar sekolah, mulai dari les matematika, piano sampai dengan kaligrafi dan menyanyi. Tentu akan dipilihkan lembaga-lembaga terpilih, agar keinginan tercapai.
Benar, bahwa bermula dari hitungan dalam bermain yang sangat sederhana berupa kata-kata : satuuuu... duuuuuaaaa... tigak !!!, perjuangan untuk meraih kehidupan yang layak telah dimulai, dan sejak itu pula seolah-olah aba-aba seperti itu menjadi ciri bahwa sesuatu sedang dimulai.
Sebaliknya, ketika aba-aba dibalik : tigaaaa, duaaa, satu! Maka sebuah event harus diselesaikan. Ujian selesai, waktu untuk mengerjakan soal ujian telah habis, pensil harus diletakkan, kertas jawaban dijauhkan dari jangkauan, waktu telah habis.
Kemampuan berhitung menjadi salah satu pilar utama yang harus dikuasai agar seseorang mampu menjalani hidupnya dengan baik. Memobilisasikan harta, menggalang dan meningkatkan jumlah dukungan, mengalokasikan sumber-sumber daya, memberikan imbalan yang proporsional, mengatur ritma waktu kehidupan, dan hampir semua segi dalam kehidupan yang harus ditata sesuai dengan kepentingan dan tujuan yang ingin dicapai.

Salah seorang kerabat yang bergiat sebagai anggota tim kampanye diberitakan jatuh sakit ketika proses kampanye pilkada sedang berlangsung. Kelelahan fisik dan mental telah berakumulasi dan menekan kesehatannya begitu rupa sehingga dia harus dirawat di RS untuk beberapa waktu. Tampaknya perjuangan untuk menang dalam pemilihan demikian hebatnya, sehingga seorang anggota tim jatuh dan tumbang kelelahan karena perhitungan energi dan kalori yang mungkin lolos dari kalkulasi. Padahal, rentang waktu masa kampanye serta rentang permasalahannya bisa dibanding hanya seupil apabila dibanding dengan waktu dan masalah yang harus ditempuh serta dihadapi setelah seseorang menjadi kepala daerah..
Saya tidak habis mengerti, apakah para Bapak dan Ibu yang sekarang sedang sangat bersemangat untuk terpilih itu telah benar-benar berhitung tentang segala-sesuatunya setelah nanti terpilih menjadi kepala daerah?
Apakah studi dan kalkulasi ipoleksosbudhankamnas-nya menunjukkan posisi kuadran kesejahteraan yang lebih baik untuk rakyat di daerah yang akan dipimpinnya peningkatan pada akhir masa jabatan apabila dibanding dengan keadaan sebelum para beliau menjabat sebagai kepala daerah?
Mungkin saya yang kurang mengerti, mungkin pula saya yang kurang mendapatkan informasi cukup tentang adanya penilaian akhir jabatan seorang kepala daerah kecuali bahwa yang bersangkutan: tidak mencalonkan lagi, mencalonkan diri kembali tetapi tidak terpilih lagi atau terpilih lagi. Semua tanpa parameter-parameter yang mudah dicerna dan dihitung dengan bilangan satu.. dua.. tiga dan seterusnya.
Tolok-ukur keberhasilan dan kegagalan sebenarnya amat mudah dilihat secara nyata, dan mungkin bahkan tidak memerlukan ukuran-ukuran yang rumit, misalnya apakah rakyat yang berada di RT 1000 RW 100 kelurahan Sejuta Pohon kecamatan Setengah Hati kabupaten Seratus Persen yang dahulunya tingkat konsumsi hariannya tiga ratus perak sehari atau senilai 60 gram beras sekarang sudah meningkat ? Apakah mengurus KTP sekarang tidak perlu biaya, cukup ditunggu sepuluh menit sambil menonton TV dan disuguh minuman dingin ? Apakah jalanan kota dan kampung-kampung terasa cukup aman bagi siapapun yang melintas tanpa cemas terjadi kecelakaan ?
Dan yang paling penting, apakah semua merasakan adanya kecenderungan ke arah perbaikan yang berjalan secara ajeg dari waktu-ke waktu selama masa jabatan ? Bukan hanya menjelang masa kampanye berikutnya ?
Kalaupun oleh beberapa lembaga ‘independen’ digelar even pemberian award keberhasilan daerah yang bermacam ragamnya, rasanya saya dan para kaum awam masih juga akan bingung karena parameter penilaiannya sulit saya mengerti, sementara yang lebih nyata adalah bahwa perubahan ke arah perbaikan masih juga tidak menyentuh akar rumput. Sehingga terkadang hanya menambah deretan pertanyaan baru: untuk siapakah sebenarnya award tersebut.
Menjadi kepala daerah pada awalnya pasti akan dimulai sebagai kepala sebuah lembaga pemerintahan, Sebuah kantor dengan ratusan atau ribuan manusia yang harus digerakkan dalam sebuah sistem yang sudah ada sejak beliau berada di luarnya. Sistem inilah yang nantinya akan bekerja membuat perubahan, dengan kepala daerahnya sebagai motor utama dan sekaligus sebagai pengendali tunggalnya.
Apakah kerja sistem ini sudah cukup difahami, sehingga pada saatnya dapat digerakkan dan dikendalikan tanpa kesulitan ?
Seorang kepala daerah, menurut saya adalah orang yang harus dipilih karena memiliki kemampuan memimpin perangkatnya, pendukungnya, dan masyarakat yang dipimpinnya serta mampu merespon dengan baik kritik serta saran konstruktif yang semua diarahkan untuk bermuara kepada peningkatan kesejahteraan seluruh anggota masyarakatnya.

Sudahlah, saya malah menjadi pusing karena membayangkan ketidakmampuan saya sendiri.
Untung saya merasa tidak mampu, karena kalau saya merasa mampu jangan-jangan malah tergoda untuk mencalonkan diri jadi bacakada alias bakal calon kepala daerah.

Bahasa dan Budaya Jawa : Ungkapan tentang Keberanian

Kaduk wani kurang duga :
keberanian yang berlebihan cenderung mengandung kekurangwaspadaan
Wani angas:
Keberanian semu, yang ketika benar-benar diuji maka ketakutanlah yang datang.
Wani silit wedi rai:
Hanya berani ketika menghadap pantat, tetapi takut ketika berhadapan muka, maksudnya : keberanian yang diungkapkan ketika belum datang tantangan, sedangkan ketika harus berhadapan menjadi hilang nyali.
Jago kate, wanine ana kandhange:
Petarung lokal, yang hanya berani bertanding di tempat sendiri
Sedumuk bathuk, senyari bumi, ditoh-i pati:
Meski hanya disentuh muka, atau digeser batas kekuasaan selebar jari, akan dipertahankan dengan nyawa, maksudnya : kehormatan dan harga diri adalah sesuatu yang sangat bernilai.

Mudah-mudahan dapat memberi inspirasi.

12 Mei 2008

Sepur Menthog

Dia bernama sepur, julukannya sejak kecil. Nama yang sebenarnya adalah Kereta Api.
Pada saat ini keluarganya sangat menderita sekali. Tampaknya kehidupan mereka sangat jauh di banding dengan sesama saudaranya yang trah BUMN itu, meskipun di antara beberapa saudaranya juga berada pada kondisi yang memprihatinkan.
Kurang lebih empat bulan yang lalu, saya terkejut ketika melihat salah satu rangkaian KRL yang ‘asing’ di stasiun Gambir. Aneh bentuknya dan aneh tampangnya. Pada mulanya saya kira ini adalah sepur tamu, yang mungkin lewat Gambir dari tempat asalnya entah Taiwan, Hongkong atau Korea. Tetapi setelah saya ingat bahwa antara tempat-tempat itu tidak ada jembatan langsung atau terowongan ke Gambir, sadarlah saya bahwa mungkin sepur itu sekarang memang sudah diadopsi sebagai anggota keluarga sepur kita sendiri.
Sayang, karena keterpukauan saya, saya tidak sempat memotretnya agar dapat divisualisasikan di sini.
Bodinya bercat silver metalik tapi agak kusem. Lampu-lampu di dalamnya lebih terang dibanding saudara sulungnya yang lain. Kelebihan lainnya, sepertinya ruangnya terasa lebih longgar dan bersih. Pada batang pipa melintang di sepanjang gerbong tergantung banyak ( ! apa namanya ?) tempat pegangan yang disainnya ergonomik.
Yang paling menarik perhatian saya, pada sisi-sisi luar gerbong terdapat boks-boks berlampu yang mungkin penunjuk jurusan kereta tersebut. Saya benar-benar buta terhadap huruf yang tertera di gerbong tersebut, soalnya ditulis dengan tulisan Kanji. Mungkin bunyinya Seoul-Panmunjom, begitu kira-kira.
Lumayan lah. Tambahan alat transportasi untuk memfasilitasi para saudara yang memerlukannya berangkat dan pulang antara rumah dan tempat kerja di Jakarta ini.
Lumayan juga untuk tidak menambah kendaraan pribadi yang semakin menyesaki jalanan dengan jumlah dan polusinya. Dan lumayan pula untuk tidak menambah beban pak Polisi dalam mengatur, menjaga dan menertibkan lalu-lintas. Lumayannya banyak sekali. Apalagi kalau dirupiahkan penghematan yang dapat dilakukan sebagai hasil dari datangnya sepur ‘asing’ ini.
Saya berimajinasi bahwa di antara para penumpang pengguna KRL tersebut terdapat pula beberapa pegawai kantor Kementerian BUMN dan Departemen Keuangan yang berada di arah timur stasiun Gambir ini. Juga Departemen Perhubungan. Para pegawai kantor yang lembaganya pasti sangat berhubungan dengan mengurusi PT KAI, si pengelola sepur kita. Para pegawai yang (mungkin sekali) para bosnya tidak pernah melihat sepur ‘asing’ ini (kasihan ah, dibilang asing padahal sudah jadi anggota keluarga sendiri), karena ketidak-sempatan, ketidak-mungkinan atau ketidak-adanya dan ketidak-sampainya informasi bahwa kini sudah beroperasi sepur baru yang berasal dari ‘sana’. Sepur baru yang bekas, sepur bekas yang baru, atau bekas sepur baru, terserah menyebutnya.
Bekas.
Di sini saya menjadi trenyuh kepada PT KAI. Sedemikian miskinkah kita untuk bisa membeli serangkaian gerbong baru ? Atau, apakah sudah demikian rudinkah kita, sehingga bahkan untuk mengecat bodi sepur bekas tersebut kita tidak mampu? Tidak cukupkah uang untuk mengupah orang guna melepas beberapa boks penunjuk jurusan bertulisan Kanji dengan jurusan ngoyoworo tersebut?
Kalau benar demikian miskinnya, wah, benar-benar daftar malu saya harus bertambah lagi, sehingga saya akan semakin berkurang punya kebanggaan mengaku sebagai bangsa Indonesia di tanah air sendiri, apalagi kalau sepur yang wujudnya seperti itu di stasiun Gambir sampai diambil gambarnya dan tertayang di media luar-negri sana.
Atau saya harus berdandan a la Pemimpin Besar Revolusi, lantas berpidato di atas podium Istora Senayan begini:

Wahai sodhara-sodhara sebhangsa dhan setanah air,
terutama yang beradha di Jakarta ibukota tercinta,
terutama sodhara-sodhara yang berkantor sekilo jaraknya dari stasiun Gambir,
saya mengajak sodhara untuk sejhenak mengheningkan cipta bagi sepur kita yang sedhang sangat mendherita ini :
....................................
Mengheningkan cipta : Selesai.
Kita ini bhukan bhangsa tempe, saudhara-saudhara , tetapi sudah menjadhi bhangsa menthog,
Untuk itu marilah sekharang bhersama sama khita menyanyikan laghu kebhangsaan menthog kita bhersama-sama dhengan penuh semangat :


Menthog, menthog, tak kandhani,
Mung lakumu kang ngisin-isini
Ambok aja ngétok, ana kandhang waé
Pénak-pénak ngorok, ra sah tandang gawé
Ménthog, ménthog mung lakumu, mégal-mégol gawé guyu ......
......
Terima kasih, sodhara-sodhara

Turun podium, pingsan!

Mudah-mudahan sepur tersebut sekarang sudah disulap dan disolek menjadi tidak terlalu memalukan. Mudah-mudahan, karena saya tidak tahu keadaannya sekarang, karena tidak pernah ke Jakarta lagi akhir-akhir ini.

11 Mei 2008

Dityo Kolokemaki

Namaku Dityo Kolokemaki, nama alias baru yang belum semenit lalu digelarkan oleh dhalangku untukku.
Sebenarnya aku punya nama dan gelar lain, tergantung pada siapa aku bekerja, aku kan seorang profesional.
Di tempat kerjaku yang lain, aku bernama Gendirpenjalin, terkadang juga bernama Klanthangmimis, dan ketika pada saat-saat awal karier profesionalku, namaku Kolomarico. Tetapi, oleh sebagian kenalan, aku biasa dipanggil dengan julukan Cakil. Buto Cakil.
Jujur, aku paling tidak suka disebut sebagai buto, karena dari semua tanda-tanda fisikku tak satupun ada yang mirip dengan tanda fisik sebagai buto. Posturku biasa, tidak guedhe-mbadag seperti buto, kulitku juga sehalus wayang satria yang lain, bukan mbesisik kadhasen seperti kulit buto, atau garing kisut seperti kulit wayang yang ndak kopen, malah mungkin lebih halus kulitku, karena aku seminggu dua kali ke salon untuk luluran. Rambutku juga halus bak sutera, ndak kalah lembut dengan rambutnya mbak-mbak yang berprofesi sebagai manekin, rambutku tidak nggimbal dan penuh kutu seperti rambut buto alasan.
Pakaian dan aksesoriku ? Wayang biasa bajunya pasti kalah jauh dengan pakaianku, yang selalu dilondre licin lembut karena berbahan nomer satu dan bikinan rumah mode langganan para wayang selebriti.
Salah satu ciriku yang menyebabkan aku disebut buto mungkin cuma rahang bawahku, yang sejak dari sononya sudah dicetak maju lebih jauh ketimbang rahang atasku, sehingga sebagian besar gigi bawahku berada di luar atap bibir maupun hidung. Tapi biarkan saja. Aku pede, kok. Dan aku samasekali tak pernah punya maksud untuk merevisi konstruksi uwangku ini. Biar saja, aku syukuri, toh juga pemberian dari yang mbikin aku. Justru aku punya kekhawatiran kalau asetku yang satu ini dibentuk seperti pada umumnya, karierku bisa hancur. Karena dengan bentuk rahang seperti inilah aku dikenal oleh publik. Unik, tiada duanya.
Tapi aku juga punya aset yang lain, yaitu karakter yang aku miliki. Aku ini wayang yang over PD. Berhadapan dengan siapapun aku tak gentar. Sikapku cenderung agresif, termasuk juga caraku berbicara. Inilah barangkali yang menyebabkan dhalangku yang paling baru memberiku julukan Kolokemaki. Kemaki, menurut dia adalah suatu sikap sok menang dan cenderung merendahkan orang lain. Aku setuju dengan stetmennya, karena menurutku komunikasi yang paling cocok bagiku adalah komunikasi yang transparan tanpa tedheng aling-aling:
Sampeyan ini siapa, punya mau apa, punya duit berapa, dan sebagainya sesuai dengan jenis kasus yang ditugaskan kepadaku untuk aku selesaikan. Dan aku adalah tipe profesionaL yang suka menyelesaikan tugas secara cepat dan bersih.
Aku sangat tidak suka kepada orang yang peragu. Suka berlama-lama mengukur segala sesuatu yang semestinya bisa dilakukan lebih cepat, misalnya mengukur maunya orang lain. Bagiku, gak perduli dia itu kesatria pejabat tinggi, kalau datang ya langsung saja ditanya : sampeyan ini siapa, ke sini mau apa, KTP atau ID cardnya mana, tanpa perlu gentar dengan gaya, lagak dan penampilannya atau menggentari para pengawal dan ajudannya. Kalau identitasnya tidak jelas, maksud kedatangannya tidak jelas, ya tolak saja. Nggak usah mbulet-mbulet. Kalo ngeyel, ya usir saja. Kalo nglawan ya kepruk saja. Beres.
Gayaku yang seperti ini sering menjadi bahan pergunjingan di lingkungan kerjaku. Ada yang terus-terang bilang bahwa aku kemaki (eh, betul 100% juga dhalangku ini). Sok pinter, sok berwenang, sok nyepelekan peran orang lain dan sok-sok-sok nggak enak yang lain. Di belakang punggungku ada pula yang bilang kalau aku ini ambisius, suka njatuhin kolega di depan pimpinan dan publik, suka cari muka, dan macem-macem lagi. Ah, acuhin, aja. Emang gue pikirin. Bagiku semua kesan di belakang punggung tentangku itu salah. Kerna mereka sirik saja. Kerna mereka tidak mampu tampil sepertiku, sehingga mengembangkan ketidaksukaannya padaku dengan mengarang hal-hal yang dimiring-miringkan.
Faktanya, keberadaanku tetap diperlukan oleh para bos yang membayarku dengan bayaran tinggi, meskipun kerja dan kemunculanku relatif cuma sebentar. Itu bukti bahwa aku memiliki kualitas nomer satu sebagai wayang yang dibutuhkan eksistensinya di dunia perwayangan. Nomer satu dalam segala hal. Bahkan andaikata bosku kemampuannya cetek, bisa-bisa malah kalah pamor dengan keberadaanku.
Jangankan itu, siapapun dhalang yang olah-sabet dan olah-vokalnya cuma pas-pasan, pasti akan dibilang dhalang bodo ketika tidak trampil memainkanku di depan kelir. Karena aku adalah salah satu tolok ukur kepiawaian seorang dhalang dalam memainkan wayang-wayangnya, meskipun aku cuma dimainkan pada adegan perang kembang saja. Sebagai wayang-wong pun, tarip atau honor bermain sebagai Cakil juga cukup menggiurkan, malah lebih banyak ketimbang sebagai Patih atau Dewo sekalipun. Adegan pada saat kemunculanku adalah adegan paling dinamis dan bersemangat, penampilanku, gendhing pengiringku, dialogku, semuanya.
Terbukti, kan. Jadi, apanya yang salah denganku ?
Kalaupun pada setiap saat aku harus berhadapan dengan kesatria seperti Arjuno atau Ongkowijoyo lalu kemudian aku roboh tertusuk keris senjataku sendiri, bagiku bukan soal, wong memang pakemnya begitu. Orang terkadang bilang habislah aku, matilah aku. Padahal sebenarnya tidak. Aku tetap ada dan dibutuhkan di dunia wayang dari setiap lakon ke lakon, dari setiap jaman ke jaman wayang apapun.

Tapi akhir-akhir ini, dhalang yang memberiku julukan Dityo Kolokemaki membisikiku:
Le, awakmu harus berhati-hati. Kamu harus mulai belajar agar kamu nanti benar-benar menjadi satriyo seperti yang kamu idamkan. Kalau kamu mampu merubah diri dari kebiasaan-kebiasaan ‘kasar’, merubah watak-wategmu menjadi lebih elegan, kamu ini bakal menjadi satriyo yang kualitasnya bahkan akan mengalahkan Raden Janoko, lho Le...
Apa kamu ndak kepengin ?


Hal itu disampaikan ketika kami sedang bersantai di Cafafafeserera Pararadisoso minum Capuccino berdua sambil ndengerin musiknya Balawan.
Katanya lagi:
Potensi luar-biasamu ini rasanya sayang kalau tidak dikembangkan dan diprogram dengan lebih baik lagi. Seharusnya kamu ini tidak cuma muncul sak-keplasan terus mati terus masuk kotak, tetapi lebih dari itu.
Rubahlah gayamu, tinjau lagi paradigmamu, niscaya kamu akan jadi tokoh yang ‘mateng’ dan bukan hanya jadi sekedar wayang yang numpang lewat.


Wah, jadi mikir nih.
Tapi sebenarnya secara sengaja aku sudah mulai melakukan sesuatu, berupa perubahan gaya rambutku lho. Sekarang tak model kriting papan.

Eh,lama juga ya, aku bicara dengan diri sendiri ini, hehehe, kebiasaan yang aku lakukan setiap aku nongkrong di kloset.
Udah, ah nongkrongnya, Cakil udah selesai, klosetnya gantian mau dipakai .....