08 April 2008

Yang Takut Itu Sampeyan atau Saya?

Mas Santo tiba-tiba bertanya kepada saya : Ndak merasa ada post-power syndrome ?
Secara diplomatis saya jawab : Menurut penglihatan sampeyan, saya ini kelihatan seperti itu atau ndak ?
... Kok ndak kelihatan ya

... Lha kok nanya ? saya balik tanya sambil ketawa di telepon.

Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba masalah ini menjadi pertanyaan teman saya tersebut, teman yang baru saya kenal tatap-muka kurang lebih dua jam, ditambah omong-omong lewat telepon sejam.
Mungkin dalam bayangannya, saya dulunya adalah power rangers. Orang yang punya power, orang yang bekerja dengan power, atau orang yang bekerja memanfaatkan power, atau lagi orang yang sebelumnya hidup tergantung power yang disandangnya. Sehingga ketika pensiun “biasanya” mengidap post-power syndrome.
Mungkin juga mas Santo melihat adanya orang-orang yang masih ngebos ketika pensiun, atau dia punya pengalaman di-bos oleh orang yang seharusnya bukan lagi bos bagi dia, atau melihat ada bekas bos yang sekarang nggak laku. Dan mereka membuat ribet suatu urusan dengan sikapnya itu.
Banyak sekali kemungkinan.

Mungkin juga mas Santo ingin mengkonfirmasi kebenaran hipotesisnya pada diri saya, bahwa seorang yang baru saja pensiun biasanya terkena sindroma itu. Agar untuk selanjutnya beliau dapat tetap berkomunikasi dan berinteraksi dengan saya secara aman, tidak menyinggung atau tersinggung. Suatu sikap yang sangat bijak dan terus-terang. Dan saya hargai sepenuhnya.

Tapi diam-diam saya mikir dan merenung, karena pertanyaan dari mas Santo itu. Benarkah saya TIDAK mengalami post-power syndrome ?
Bagian kanan hati saya mengatakan pasti tidak.
Bagian kiri, bisik-bisik bilang : iya juga sih, cuman ditutup-tutupin.
Bagian tengah tegas: YA
Bagian atas bilang : yang perlu kan aktingnya
Bagian bawah : ngapain diurus

Lha kok jadi rame begini ?

Sepertinya ada hal penting yang harus dikaji dan dicermati. Pensiun bukan berarti masuk ke dalam kapsul kemudian dilempar ke ruang angkasa, mengorbit di atas sana dan putus komunikasi dengan sesama.
Pensiun cuma berarti putusnya hak formal atas segala kewajiban dan tanggung-jawab pada tempat kerja sebelumnya. Yang mengikuti biasanya adalah perubahan sumber dan jumlah penghasilan dari saat ketika bekerja. Selain hal-hal tersebut, semua seharusnya berjalan seperti biasa dan dikelola sebagaimana mestinya. Waktu, energi, pikiran, kesehatan, potensi dan kompetensi, network dan semuanya.
Yang tadinya bersemangat harus tetap bersemangat.
Yang tadinya sehat, harus tetap sehat.
Yang tadinya rajin, harus tetap rajin. Pintar, harus tetap pintar. Kocak, ya tetap kocak. Merdu, jangan sampai hilang.
Kalau bisa, yang baik-baik ditingkatkan, yang nggak baik dikurangi atau dihilangkan, yang sempat tertinggal dikejar, yang tadinya terlupakan diingat-ingat kembali dan sebagainya-dan sebagainya.
Dulunya suka tetapi nggak sempat bersepeda sehat, nah ini kesempatan, senang masak tapi terlalu capek sepulang kerja, sekarang waktunya berdapur-ria, dan seabreg keasyikan baru lainnya.
Whaduh, ternyata pertanyaan mas Santo cukup asyik untuk diseminarkan. Atau malah dijual !!

Saya malah punya dugaan, jangan-jangan ‘post-power syndrome’ adalah sejenis hantu atau monster yang populer di kalangan para calon pensiunan, sehingga malah menakutkan diri-sendiri karena percaya hal itu akan ada karena : Banyak orang cerita bahwa ..... dst-dst

Ketika masih bujang dulu, mas guru Slamet, teman kakak saya pernah punya guyonan:
Barang-siapa berbicara tentang ular, berarti dia sudah menginjak ekornya !

Jadi kalau post-power syndrome ini ibarat ular :

yang takut itu sampeyan
atau saya
sih ?

Terima kasih mas Santo.

06 April 2008

Semar mendem

Penganan jawa itu tiba-tiba bangkit dari piring yang terhidang di atas meja, ketan gurih yang di dalamnya berisi abon daging dengan dibungkus telur dadar tipis, menjelma menjadi Semar sungguhan. Tokoh gemuk bermata rembes berair, pengasuh para satria bolo-tengen dari jaman ke jaman. Mulai dari jaman Sekutrem sampai era Abimanyu Ongkowijoyo.
Pada jaman apapun kyai Semar selalu ada untuk memandu para kesatria yang berada di jalur kebenaran agar tetap berpegang kepada misi pokoknya yang baku : memayu hayuning bawono.
Kali ini kyai Semar Mendem melakukan manuver yang nganeh-anehi sehingga membuat geger dunia pewayangan termasuk para dalang, pengrawit dan para pesinden.
Mosok, Abimanyu tiba-tiba dimakzulkan dari kedudukan sebagai adipati di kesatrian Plongkowati. Padahal, dulu ketika mau dilantik sudah mendapat restu sepenuhnya. Para penonton menjadi bingung, masing-masing menebak-nebak kira-kira apakah yang dimaksudkan oleh kyai Semar dengan gerakan anehnya ini. Seluruh wayang di dalam kotak maupun yang dijejer di depan kelir juga gelisah. Jangan-jangan manuvernya kyai Semar akan berimbas kepada kedudukan mereka, padahal saat ini masing-masing sedang bersiap-siap untuk memainkan lakon yang skenarionya sudah disiapkan oleh ki dalang.
Gelisah, jangan-jangan semua persiapan akan menjadi sia-sia, hafalan dialog jadi terlupa, bloking kacau, akting berantakan. Wah, pasti penonton akan kecewa, dalangnya frustrasi dan pergelaran gagal. Bisa-bisa penonton menuntut kepada panitia untuk mengembalikan uang tiket.

Tiba-tiba, di tengah kekacauan, kyai Togog muncul begitu saja dan segera saja para wartawan dunia pewayangan meninggalkan nara-sumbernya masing-masing. Kata mereka:
... Maaf, sementara wawancara dengan Anda kita hentikan sejenak, karena tampaknya ada tokoh penting yang mau memberikan pernyataan.
Berhamburanlah para pekerja media mendekat ke depan podium di dekat para pesinden.
>>> Kyai Togog, bagaimana statemen Anda berkaitan dengan diturunkannya raden Abimanyu oleh Kyai Semar ?
Kyai Togog cuma tersenyum, tapi tidak semua orang tahu bahwa beliau sedang tersenyum, karena tersenyum atau tidak, mulutnya yang lebar itu memang selalu tampak seperti tersenyum.
>>> Kyai, beri komentar Anda, kyai, please
Para wartawan mendesak ke depan. Kyai Togog tenang-tenang saja.
Tiba-tiba :
+++ La wong saya ini malah pengen tahu kok, sampeyan ini pada gupuh apa seh, kok tiba-tiba pada pating gedandap bikin kaget saya yang lagi lewat sini
>>> Lho, ini raden Abimanyu kan dipecat oleh kyai Semar, mbah !!
+++ Semar yang mana ?
>>> Lha ya Semar yang biasanya, Semar yang mana lagi ?
Sejenak Togog memejamkan matanya, dan ketika kemudian melek, beliau tertawa
+++ Ndak ada Semar, gitu lho ... sampeyan ini pada bikin kaget saja...
>>> Ya udah, pokoknya komentar kyai gimana ?

Di Karangkadhempel,
Kyai Semar sedang jagongan dengan raden Abimanyu di balik sebuah kamar. Pintu kamar terkancing.
Di dalam kamar, tidak seperti yang biasa dilihat para penonton di depan kelir, kali ini Semar tiduran di kursi males dengan kaki selonjor dan di sebelahnya raden Abimanyu memijit-mijit dua kujur kaki Semar. Mereka berdua yang biasanya dikenal sebagai tokoh satria dan punokawan kali ini tampak seperti teman, akrab sekali, seperti pakde dengan ponakannya. Sesekali terdengar suara tawa Semar terkekeh-kekeh dan Abimanyu yang nggleges.
... Jadi begitu lho anggeeer, kamu faham to sekarang ....
... Inggih kyai, saya sangat berterima kasih, kyai selalu memandu tugas-tugas saya dalam memimpin para kawulo alit ...
... Nhaaa, bagus itu, yang penting kita semua memang harus ekstra hati-hati, karena sekarang ini ada beberapa aktor handal di sekitar kita yang tampaknya seperti membantu, padahal mereka sedang mencari peluang untuk mendapatkan keuntungan demi kepentingannya sendiri-sendiri, lupa kepada kepentingan para kawulo alit yang seharusnya dilindungi ...
Ingat, ndiko ini diharapkan menjadi pengayomannya para kawulo, angger harus menjamin ketenteraman hidup para kawulo, agar mereka bisa bekerja dengan tenang untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing sesuai dengan tugas dan kedudukannya sendiri-sendiri ...
Jajal to gagasen, di antara para pembantu raden yang sak bendoyot itu, mana seh, yang ikut mikir susahnya kawulo Ngamarto mendapatkan minyak-tanah, gas elpiji, atau kedele bakalnya tempe? Ra ono nggeeeerrr. Gitu itu rak ciloko mencit, to ?
... Jadi ?
... Memang perlu dilakukan seleksi, guuus, siapa yang sebenernya sehati dengan andiko, siapa yang pura-pura sehati, siapa yang ikut sana ikut sini, dan siapa yang arif bijaksana mempelajari situasi untuk kemudian dijumbuhke dengan kebijakan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan rakyat ndiko ...
... Maksud kyai ini, pertengkaran ini sebenarnya cuma dibuat-buat to, yang tujuannya untuk milah-milah siapa yang benar-benar baik dan siapa yang baiknya dibenar-benarkan. Gitu to kyai?
Meledak tawa kyai Semar berderai-derai di dalam kamar. Perutnya berguncang-guncang dan airmatanya sampai berlinangan. Dielusnya mbun-mbunan Abimanyu Ongkowijoyo momongannya dengan penuh kasih
... Hweh-heh heh heh heh heeeeeh, pancen ndiko ini momongan saya yang cerdas, anggerrrr. Jadi, mari kita bermain bersama sebaik-baiknya, tetapi tidak untuk main-main, yaaa. Paham ?
Mak cessss, hati Abimanyu mendengarnya, langsung diciumnya lutut kyai Semar, pepundennya yang arif bijaksana. Sejenak ruangan hening, masing-masing hanyut dalam pikirannya sendiri-sendiri. Sampai tiba-tiba terdengar gaduh di luar. Langkah-langkah, kursi diseret dan bokong dihempaskan ke atasnya.

... Waaaaah, lha kok tambah gawat ini, mosok kyaine barusan mengangkat Wisanggeni jadi adipati, padahal raden Abimanyu masih belum pergi dari kasatriyan, bisa geger kepati ini nanti ...
Demikian terdengar suara salah satu orang berkata dari luar kamar.
Kyai Semar mendekatkan telunjuk ke mulut, memberi isyarat kepada Abimanyu agar jangan bersuara, dia berbisik:
... Perhatikan baik-baik apa yang mereka omongkan. Catet itu, cerna baik-baik dan pertimbangkan dengan hati-hati setiap perkataan siapapun. Gunakan hati nuranimu, kenalilah mereka masing-masing...
... Tetapi yang ngangkat Wisanggeni itu siapa kyai ??? ...
... Tenang saja, itu cuma bikin-bikinan saya, kloning ciptaan saya, namanya Semar mendem, penganan uenak kesukaan saya kok, bukan Semar yang sungguhan. Wis to, tenang saja. Semar yang asli sekarang kan sedang mbok pijeti to nggeer. Wis teruskan mijetnya, sampek saya ketiduran yaaa ...
... Nggiiiih kyaine, nyuwun pangestu...
... Iya,ya,ya,ya, saya pengestoni.
Sejenak kemudian tertidurlah kyai Semar Bodronoyo.

Jauh di luar sana
di pendopo kraton Ngamartopuro, di kesatrian Plongkowati, di kesatrian Madukoro, di kesatrian mobrig kompi jisamsoe dan kesatrian kecil-kecil lainnya para tokoh publik dan pejabat masih sibuk dengan pembicaraan masing-masing. Ada yang glenak-glenik mojok sambil sudut matanya mlirik ke sana kemari, ada yang tangannya jepaplangan dan suaranya lantang, ada lagi yang cuma mesam-mesem tebar pesona ke sana ke mari.

Dan tiba-tiba pergelaran wayang berhenti, karena dalangnya kebelet kencing, lari ke toilet. Maklum, dalang anyaran.

03 April 2008

Horeeee, Bapakku selalu di depan

Jantung ini serasa mendadak mengerut tiba-tiba, ketika sebuah sepeda motor dengan cepat menyilang jalan di depan kendaraan saya yang sedang melaju. Sangat mendadak, sangat di luar dugaan. Klakson saya pencet secara reflek, dan saya pencet beberapa detik kemudian sebagai kompensasi atas kekagetan saya. Pak Polisi yang sedang berjaga di rambu pemisah lajur di depan saya matanya melotot memperhatikan saya, yang saya sambut dengan beberapa kali geleng-geleng kepala. Maksud saya, saya sangat tidak suka atas kejadian tadi, yang beliau juga melihatnya sendiri. Pak Polisi itu mungkin heran melihat ekspresi saya, tetapi sekejap kemudian dia kembali kepada tugas rutinnya dan membiarkan saya lewat di sampingnya.
Pagi itu lalu-lintas di seputar Tugu Pahlawan sangat padat. Mobil, motor, bus, semua seakan tumpah menderu pada saat bersamaan, tepat ketika lampu lalulintas berubah hijau. Jalan lapang di hadapan seolah-olah menantang sekaligus memberi peluang bagi siapapun untuk bersicepat menuju tujuan masing-masing. Motor bersilangan meraung beradu depan, persis seperti suasana balapan di sirkuit Jerez, atau seperti di iklan-iklan motor dalam televisi yang menanamkan sugesti : gesit, paling depan, tak tertandingi, lincah dan seabreg sugesti yang menggambarkan kecepatan.
Motor yang menyilang jalan saya tadi, dikemudikan seorang bapak berseragam kerja kantor, membonceng puteranya yang menurut pengamatan saya sekitar kelas tiga sampai lima Sekolah Dasar. Si bapak mengenakan helm, anaknya tanpa helm.
Tadinya, rasa terkejut bercampur marah masih menyesakkan dada saya, tetapi ketika kemudian di depan sana saya lihat beliau menurunkan puteranya di depan gerbang sekolah, dan puteranya menyalami tangan bapaknya seraya mencium tangan itu, buyarlah kemarahan saya berganti dengan rasa takut dan kasihan.
Andaikata,
Motor tadi menyerempet kendaraan saya atau kendaraan lain, lalu mereka terjatuh di jalanan ramai .....
Saya atau seseorang lain dibelakangnya tidak cukup cepat mengerem lalu melindasnya ....
Mereka jatuh, berdarah,
Tangan, kaki,
Kepala ....
Tidak sadar ....
Tewas ....
Rasanya saya kemudian menjadi sangat bersyukur masih dapat melihat adegan cium tangan anak-bapak di depan gerbang sekolah. Sebuah sekolah yang telah dipilihkan bapak untuk anaknya, dengan harapan agar anaknya mendapat pendidikan terbaik, mempunyai jiwa religius, pintar, berbakti kepada orang-tua, taat kepada hukum dan aturan, dan sebagainya-dan sebagainya.
Rasanya saya melihat bapak anak itu bertatapan dengan bangga, ketika si anak kemudian dapat menyelesaikan sekolahnya dengan angka-angka yang bagus, dan si bapak bersyukur, tidak sia-sia dia telah memilihkan sekolah yang baik untuk anaknya, membiayai, dan mengantarnya setiap pagi beberapa tahun sejak kelas satu. Berusaha tepat waktu, sebelum gerbang sekolah ditutup.
Kalaupun dia bersicepat di jalanan, tujuannya hanya satu, agar si anak tidak terlambat sekolah. Itulah pula pertimbangannya membeli menggunakan motor, karena dapat lebih gesit mencari jalan luang di tengah sesaknya lalu-lintas pagi hari. Dan sore hari, anaknya menunggunya dijemput sepulang bapaknya dari kantor, sementara sekolah selesai beberapa jam sebelumnya. Yang terpikir hanyalah: segera sampai di rumah, agar si anak dapat segera makan dan beristirahat. Diapun melakukan adegan ulang kembali, bersicepat, kali ini di jalanan pulang.
Saya tidak dapat membayangkan, akankah saya secara otomatis akan bertindak seperti bapak itu ketika berada pada kondisi dan situasi serupa?
Ngeri.
Andaikata saya adalah Bapak itu, dan dia adalah saya, dan kecelakaan itu terjadi,
sungguh, saya tak mampu membayangkannya.
Sudahkah kehidupan kota tidak memberi kesempatan bagi kita untuk ‘menjadi manusia yang baik’ secara utuh, dalam arti, bukan hanya baik terhadap keluarga, anak, tetapi juga peduli terhadap orang lain meskipun orang itu tidak dikenalnya ?
Apakah baik kepada anak, dengan peduli kepada jam sekolah anaknya, dan juga dengan taat kepada aturan sekolah anaknya berarti yang lain kemudian menjadi nomor dua dan bahkan tidak perlu bernomor ?
Pada pikiran saya, oke lah, keterkejutan dan kemarahan saya sekarang sudah hilang, tak ada lagi, tetapi bukankah bapak itu tadi secara tidak sadar telah ‘merusak’ pemahaman anaknya dengan melakukan tindakan yang kontroversial, karena di saat berusaha tertib agar sampai di sekolah, secara bersamaan dia membahayakan diri-sendiri, diri anaknya dan orang lain dengan perilakunya yang tidak tertib dalam berlalu-lintas ?
Bukankah kemungkinan akan timbul persepsi pada anaknya, bahwa aturan lalu lintas tidak terlalu penting karena yang lebih penting adalah sampai di sekolah sebelum gerbangnya ditutup ? Yang akan disimpulkan bahwa, kepentingan ‘saya’ yang paling utama, kepentingan dan kenyamanan ‘anda’ bukan urusan saya.
Inikah generasi masa depan yang sedang dicetak di sekitar saya ?
Saya jadi cemas, jangan-jangan besar pula andil saya dalam mengacaukan dan menjungkirbalikkan tatanan yang semestinya. Cuma saya tidak merasa bahwa saya telah, sedang dan bahkan masih terus melakukannya ....
Saya membayangkan, si anak, ketika bapaknya mengebut berliku-liku di jalanan, dia suka dan bangga: Horeee, bapakku jagoaaaaan ...!!! Ayooo ....
Sementara si bapak sebenarnya dalam hati sedang menggerutu: ini gara-gara kamu terlambat bangun ...
Sesuatu yang sangat berbahaya, bukan sekedar apabila terjadi kecelakaan, tetapi karena racun persepsi bengkok, yang menyusup ke bawah sadar anak-anak, hasil dari tindakan rutin sehari-hari yang kita lakukan, tetapi tidak pernah kita renungkan bagaimana yang seharusnya, karena kita tidak pernah merasa punya waktu untuk merenung diri, karena waktu untuk merenung telah tersita oleh kegiatan sehari-hari, sedang sisanya untuk melepas penat, agar besok badan segar untuk bekerja lagi.
Tampaknya kita sedang menggali sebuah lubang yang sangat besar untuk mengubur peradaban kita, sekaligus diri kita sendiri ke dalamnya.
Indikasinya, tindakan-tindakan brutal yang sedang terjadi di mana-mana di antara elemen-elemen masyarakat, antara sesama warga dan saudara dengan baku-pukul dan baku-serang. Belum lagi yang telah dilakukan secara ‘elegan’ dan ‘lebih beradab’ melalui baku-bantah lewat lidah-lidah berapi yang terkadang secara tendensius memang tampak ditujukan untuk membakar emosi siapapun yang mendengar dan menyaksikannya, dan bukannya untuk membuat kita benar-benar menjadi lebih beradab.
Benarkah kita sudah belajar secara benar dari ajaran-ajaran baik kita masing-masing ?

Durmogati

Kalau ada keponakan yang paling senang menyela pembicaraan, dia adalah keponakan saya Durmogati. Seorang pejabat teras, adik dari keponakan saya yang lain. Kamu tidak usah bingung. Memang semua pejabat teras di kerajaan ini bersaudara satu sama lain, kalau bukan adik, kakak, ipar, paman, ataupun keponakan, paling tidak mereka adalah salah satu dari kerabat pejabat, jadi masing-masing memiliki link sangat erat satu sama lain bahkan sampai ke pejabat tertinggi.
Saya sendiri adalah paman dari Duryudono, raja, sang pejabat tertinggi, karena adik saya kawin dengan bapaknya. Saya bisa dibilang orang ke dua dalam jajaran apapun, mulai dari eksekutif, yudikatif maupun legislatif.
Sebagai orang ke dua sebenarnya kekuasaan saya jauh lebih besar dari itu, karena hampir seluruh kebijakan berasal dari saya. Adapun Duryudono yang menjadi pejabat tertinggi secara formal dalam prakteknya adalah tukang stempel semata, karena setiap keputusannya sebenarnya terbit dari pikiran, pertimbangan dan perhitungan saya.
Durmogati, keponakan saya yang tukang menyela tadi adalah seorang keponakan yang baik, kesetiaannya kepada pamannya ( yaitu saya ) tidak perlu diragukan, selalu seratus persen komit. Apapun yang ditugaskan kepadanya akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, meskipun untuk itu dia harus pulang dari tugas dengan muka bengep dan tubuh bonyok babak-belur. Itu angka kredit utama untuk dia.
Kredit yang ke dua, dia tidak pernah suka berbantahan. Dalam kancah adu pendapat internal antar-pejabat, biasanya dia akan menyetujui pendapat apapun yang disampaikan oleh siapapun, pendapat yang berlawanan akan sama-sama didukung oleh keponakan saya ini, sehingga dia tidak pernah punya kawan atau lawan sekaligus. Keponakan saya yang satu ini memang teman bagi siapapun. Tetapi yang paling penting bagi saya, apapun kata akhir yang saya putuskan dia adalah pejabat yang paling dahulu akan menyatakan siap mendukung sepenuhnya, meski apapun risikonya.
Kredit yang ke tiga, dia sangat jarang mempunyai pemikiran orisinil, dengan demikian dia tidak pernah potensial menjadi pembangkang bagi kebijakan saya. Barangkali itu karena dia jarang mau berpikir dan menggunakan nalarnya dalam menyelesaikan tugas dan menghadapi masalah. Kalaupun terbentur masalah, dia akan datang kepada saya dan dialah pejabat yang paling sering melakukan konsultasi dan audiensi dengan saya. Kadang-kadang, belum lagi tugas dilaksanakan dia sudah datang kepada saya untuk bertanya bagaimana caranya melaksanakan tugas tersebut. Tapi tak apalah, toh dengan demikian saya menjadi sangat mudah mengontrol setiap gerakan dan langkah-langkah yang dilakukannya.
Berikutnya, angka kredit yang ke empat: dia adalah seorang pejabat yang paling transparan, dalam arti tidak pernah merahasiakan sesuatu kepada saya maupun publik. Apapun yang diketahuinya selalu disampaikan dengan utuh kepada saya. Dia adalah nara sumber yang sangat kaya informasi. Tentang apapun. Mulai dari info tentang kebijakan, gosip, maupun info-info yang lain. Saya tidak tahu, dari mana saja dia memungut info ini semua serta siapa saja nara-sumbernya. Kemampuannya mengimprove informasi ini sangatlah berguna bagi saya, karena sebagai pejabat paling penting di kerajaan, saya membutuhkan info-info seperti ini untuk mengamankan jalannya pelaksanaan kebijakan saya.
Seringkali tanpa saya minta, dia datang kepada saya membawa issue paling gres tentang sesuatu, tentu saja saya dengan senang hati memberikan kesempatan seluas-luasnya dan secukup-cukupnya, karena informasinya sangat luas dan sudah diolah secara matang sehingga siap santap. Saya terkadang terkejut dan heran, keponakan saya yang satu ini mestinya cocok menjadi pejabat intelijen, namun terpaksa tidak saya posisikan di sana karena seorang yang bekerja sebagai intelijen sebaiknya juga bekerja secara rahasia dan oleh karenanya sebaiknya tidak menjadi pejabat publik, sedangkan dia lebih suka menjadi pejabat.
Sayangnya, fragmen-fragmen dari informasi konfidensial ini sering bocor di luaran. Ada yang persis plegg, ada yang sudah berkembang dan ada yang bahkan kontoversi. Semula saya mengira itu berasal dari sumber primer (yang memberi info kepada Durmogati), tetapi setelah saya usut dengan cara saya, ternyata sumber kebocoran ini berasal dari Durmogati sendiri yang selalu berpesan “ sssst, jaga rahasia ini ya, buat kita berdua saja” kepada setiap orang yang diberitahunya. Yang kurang-ajar memang orang-orang itu, mestinya mereka benar-benar mentaati pesan, bukan kok malah saling membocorkan rahasia yang sama, yang akhirnya membuat rahasia bukan lagi sebagai rahasia. Tetapi tak apalah, toh pada akhirnya masih lebih berkuasa saya daripada Durmogati atau siapapun.
Sebenarnya sebagai paman saya harus bisa mendidik Durmogati, agar citranya sebagai pejabat benar-benar baik. Bagaimanapun dia adalah keluarga saya, keponakan saya sendiri yang harus saya jaga dan asuh sebaik-baiknya, dan bukan saya manfaatkan untuk kepentingan saya pribadi. Tetapi, rasanya cukup sulit bagi saya untuk menjaga dia secara khusus, karena keluguan dan keterbukaannya itu. Jangan-jangan nanti malah dia bicara kepada umum bahwa saya mengistimewakan dia, atau setidak-tidaknya dia akan menyampaikan kepada setiap orang “ sssst, jangan bilang kepada siapapun lho ya, paman itu sangat percaya dan dekat kepada saya, lho, karena sayalah keponakan yang paling disayangi dan paling sering diajak omong-omong penting”. Kalau begitu, mampuslah saya nanti diprotes oleh pejabat yang lain, sementara saya mengajak dia bicara adalah karena saya ingin mendidiknya secara khusus dan intens.
Yang mungkin menderita dari keadaan kepribadian Durmogati yang seperti ini barangkali adalah para pejabat bawahannya dan para anak-buahnya. Mereka seperti anak elang yang diasuh bebek. Tidak bersarang di pucuk pohon tetapi di sudut semak, bukannya diajak terbang tetapi malah berenang-renang ria. Anak-anak elang ini tidak akan tumbuh sebagai elang meskipun paruhnya bengkok dan setajam pisau, badan tegap sayap kuat tetapi tak pernah melihat angkasa. Durmogati tidak pernah mengajari dan mendidik dengan baik, meskipun sebenarnya dia pintar. Bagaimana tidak pintar kalau dia adalah seorang pejabat, dan bagaimana dia tidak pintar kalau dia bisa memiliki anak-buah.
Saya sering berpikir bahwa ini adalah kesalahan saya juga karena yang ikut memilih dan menempatkan bawahan-bawahannya adalah saya, yang menyetujui dan mengesahkan kebijakan-kebijakan minornya adalah saya. Dan saya sering menjadi takut andaikata suatu saat terjadi hal yang buruk dalam kerajaan ini akibat keteledoran dari Durmogati yang berjalan sendiri tanpa sepengetahuan saya. Saya juga sering khawatir pada suatu saat dia lengah dan terjerumus ke dalam kesulitan akibat kelakuannya. Saya akan merasa sangat bersalah, karena bagaimanapun dia adalah keponakan saya, anak dari kakak saya, dan bagaimanapun sayalah yang mengasuh dan membesarkannya, yang mengangkat dan menempatkannya pada posisinya sekarang.
Andai bisa, saya akan panggil dia, dan saya akan berbicara kepadanya begini:
O alah Duuur, Dur, Durmogati naaak, keponakan paman yang sangat paman sayangi, bagaimana lagi paman harus mengasuhmu nak, sementara kamu ini sudah gede-tua, punya tanggung-jawab kepada keluarga, kerajaan dan anak buah. Sadarlah kamu tholeee, anakku, pamanmu Sengkuni ini sudah capek ngurus kalian semua. Kamu dan saudara-saudaramu yang banyak ini, jaga diri ya naaak, hati-hati. Jaga perilakumu, jangan sampai mencelakakan dirimu, mencelakakan keluargamu, pamanmu, kerajaan di mana kamu hidup, jangan sampai mencelakakan anak-buahmu, jangan sampai menghancurkan integritasmu. Kamu ini pejabat lho leee, jaga sikapmu, jangan jadi bahan tertawaan di antara para pejabat dan saudaramu, apalagi di antara para bawahanmu. Janganlah engkau memalukan aku, pamanmu ini.
Tetapi saya tidak bisa dan tidak akan melakukannya, khawatir dia akan bercerita kepada semua orang bahwa saya, Mahapatih Sengkuni, memanggilnya dan kemudian tampak menangis dihadapannya. Bisa jatuh martabat, kewibawaan dan kehormatan saya di depan rakyat dan para pejabat, bila hal itu terjadi dan lalu didramatisasi serta disebarluaskan demikian oleh Durmogati keponakanku itu.
Demikianlah para pembaca yang budiman, hal yang terjadi ketika Mahapatih Arya Sengkuni, perdana menteri kerajaan Astinapura memanggil saya dalam audiensi khusus di kepatihan. Saya dipanggil pada suatu sore, beliau menghendaki untuk berbicara empat-mata dengan saya, yang ternyata beliau mencurahkan isi hatinya dan saya memperhatikan dengan baik semua kata-katanya. Kami berbicara atau tepatnya, beliau yang berbicara dan saya mendengarkan dengan takzim, sambil menyeruput wedang kopi jahe hangat beraroma kapulaga, ditemani gorengan tempe gembus iris tipis terbalut pohung parut dibumbui bawang-uyah dan sedikit ketumbar, yang disuguhkan oleh abdi-dalem. Sementara di bangsal samping, bunyi gending ladrang Sri Rejeki mengalun lamat-lamat ditabuh para nayaga kepatihan, ditingkah gemericik air kolam berisi ikan waderbang yang di tengahnya bermekaran kembang teratai putih.
Sore yang cerah, di kepatihan Astinapura, dan di hadapan saya seorang Mahapatih yang mencurahkan uneg-uneg dari dalam hatinya. Kasihan sekali Mahapatih Sengkuni, telah memendam rasa begitu dalam atas perilaku keponakannya. Dan lebih kasihan lagi Durmogati, yang sudah gede-tua masih belum mengerti juga dampak dari segala yang telah dilakukannya.
Saya pulang senjahari, ketika halaman kepatihan mulai sepi, dan pelita mulai dinyalakan di pintu-pintu rumah. Bulan limabelas hari sebentar lagi akan terbit, bulat keemasan. Dari balik pintu rumah yang saya lewati, terdengar tembang sayup-sayup. Megatruh, mengantar Astinapura menjalani malamnya. Mengantar Durmogati berangkat tidur nyenyak, seperti tak pernah ada apa-apa.

Bulan limabelas hari menerangi sepanjang jalan saya pulang ke rumah. Di sana nanti, saya akan cerita tentang pertemuan saya dengan Mahapatih Sengkuni kepada para kerabat .
Pertemuan luarbiasa yang pernah saya alami sepanjang pengalaman hidup hingga saat ini.

01 April 2008

Lauk-pauk

Yang menyebabkan saya menulis tentang hal ini adalah pak Permadi yang menginformasikan besarnya salah-satu tunjangan gaji dari anggota DPR-RI.

Lauk adalah teman makan nasi. Di dalam kuliner Barat saya tidak tahu padanannya, karena saya terlalu bingung dengan tata-boga mereka.
Yang saya tahu paling-paling ya makan nasi dengan lauk dan sayur, dilanjut dengan pisang atau saudaranya yang lain, kalau ada. Jadi tak ada itu yang namanya appetizer, pembuka, menu utama, penutup, dessert, dan sebagainya, yang barat banget itu.
Tapi ternyata kebiasaan makan saya dengan lauk ini menjadi standar ABRI lho. Buktinya ? Saya pernah baca bahwa dalam komponen gaji tentara Republik Indonesia ada yang namanya uang lauk-pauk. Nah, jadi betul kan kalau kebiasaan makan saya digunakan sebagai standar oleh ABRI?
ABRI lho, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, tentaranya negara kita.
Tentara yang punya doktrin paling hebat sedunia, yang menurut pak Jaya Suprana dalam sebuah diskusi tentang strategi Sun-Tzu, mengatakan bahwa doktinnya ABRI kita diakui hebat oleh Westpoint dan akademi militer Jerman.
Bukan main.
Saya tidak tahu, mengapa mereka mengakui hal itu. Sekedar basa-basi, karena sudah mengkaji secara ilmiah (untuk kemudian mengadaptasi) atau yang lain lagi, yang jelas saya tiba-tiba menjadi terperangah ketika beberapa hari yang lalu koran Jawa Pos dalam salah satu beritanya mencantumkan grafis perbandingan penghasilan ABRI dengan Tentera Diraja Malaysia dan Singapur. Ya ampuuun, jauh sekali kita di bawah mereka penghasilannya.
Jadi, mungkin lauk saya yang perlu ditingkatkan ragam, berat, mutu dan frekuensi makannya ya! Supaya mengimbas kepada tunjangan lauk-pauk ABRI kita?
Lha tapi kalau begitu, penghasilan saya juga perlu ditingkatkan dulu dong, supaya lauknya juga meningkat signifikan, kan ini nanti akan digunakan sebagai standar.
Wah, tampaknya pak Presiden dan para Mentri musti kerja keras nih, juga terutama pak Permadi dan kawan-kawannya anggota parlemen yang tunjangan sewa rumahnya sebulan tigabelas juta rupiah itu.
Saya sih bantu-bantu dengan pulsa untuk ngeblog-in info ini saja, semampu saya.