<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341</id><updated>2012-01-24T04:36:22.286+07:00</updated><category term='Di antara teman'/><category term='Persepsi'/><category term='abstraksi'/><category term='Refleksi'/><title type='text'>lakukan selagi bisa</title><subtitle type='html'>menangkap tanda-tanda</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>191</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4272651566081605554</id><published>2010-11-18T14:22:00.004+07:00</published><updated>2010-11-18T15:00:10.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Di setiap butirnya</title><content type='html'>"Mari mampir, to!" setengah memaksa dimintanya kami mampir ke rumah beliau. "Monggo kalau mau lihat telur asin buatan saya"&lt;br /&gt;Di bagian samping belakang rumah ada beberapa panci besar dengan gundukan berwarna hitam.&lt;br /&gt;"Satu panci isinya kurang-lebih duaratus-tigaratus telur".&lt;br /&gt;Lalu diceritakannya cara membuat telur asin yang bahannya telur bebek (itik) itu secara rinci. Juga di mana beliau beli telur mentahnya; " Yaaa sambil jalan-jalan dan silaturahmi ke desa sana sesekali. Biar ndak bosen di rumah terus"&lt;br /&gt;Beliau sudah cukup lama pensiun. Tinggal berdua di rumah yang sebagian kamarnya disewakan sebagai kamar kost bagi para mahasiswa. Putra-putrinya sudah 'mentas', bekerja, menikah dan tinggal di tempat lain. Hari-hari panjang dilalui ke dua bapak-ibu ini antara lain dengan membuat telur asin sebagai sambilan.&lt;br /&gt;Dicertakan behwa pengetahuan membuat telur asin ini ditiru dari almarhumah ibunya dulu sekali.&lt;br /&gt;"Panjenengan ini telaten sekali, ya bu, setiap butir dibungkus dengan abu; padahal jumlahnya ratusan butir...."&lt;br /&gt;"Ya sambil wiridan, nanti kan ndak terasa nglangut....." katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari di rumah, ketika saya mencicipi telur asin buatan beliau yang dibawakan ketika kami pamitan, saya berpikir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di setiap butirnya, telur ini berbalur doa permohonan berkah dan keselamatan, di setiap panci gundukan telur itu: bertimbun-timbun doa penyerahan-diri yang ikhlas, di samping belakang rumah itu: bergema puja dan puji untuk kebesaran Allah swt yang terpantul pada dinding-dindingnya dan di rumah itu saya merasakan ada kehangatan, kedamaian dan ketulusan serta kepasrahan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah swt senantiasa memberkati Pak Wien dan Ibu. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4272651566081605554?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4272651566081605554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/11/di-setiap-butirnya.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4272651566081605554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4272651566081605554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/11/di-setiap-butirnya.html' title='Di setiap butirnya'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-66894376733809592</id><published>2010-09-24T13:21:00.003+07:00</published><updated>2010-09-24T13:44:42.600+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Pelat Merah</title><content type='html'>Benar juga komentar banyak orang bahwa salah-satu penyebab semakin macetnya jalanan adalah iring-iringan mobil pejabat yang mendapatkan prioritas lewat.&lt;br /&gt;Kemarin, ketika saya berada di tengah antrian kendaraan yang berjalan merambat, terdengar suara sirene menggeram-geram berat dan putus-putus (seram) berseling dengan bunyi nguing-nguing dari arah belakang, saya pikir ada patroli polantas berbarengan dengan mobil ambulans. Kebetulan saya ada di jajaran mepet pinggir jalan sehingga tidak terlalu merasa wajib memberi jalan kecuali melambatkan lagi laju kendaraan saya (yang sebenarnya sudah sangat lambat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lewat, ternyata adalah kawal polantas untuk satu mobil pelat merah. Hanya satu!&lt;br /&gt;Ya ampuun, sekilas terbayang bahwa pak pejabat itu terlambat bangun atau isterinya yang nyalon sanggul terlalu lama sehingga musti ngejar waktu untuk hadir di acara tertentu.&lt;br /&gt;Ternyata setelah terbaca nomor pelatnya, ternyata pak pejabat itu tetangga saya sendiri! Tetangga saya yang sekarang menjadi salah satu pejabat penting dan tempat kerjanya tidak terlalu jauh dari tempat kerja yang saya tuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu begitu tadi mestinya saya numpang jalan saja dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira boleh numpang jalan di mobilnya enggak ya? Kalau boleh, lumayan kan, nggak kena macet sehingga bisa lebih cepat nyampe.&lt;br /&gt;Tapi jangan-jangan beliau sudah lupa bahwa saya adalah salah-satu diantara beberapa tetangganya......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan ngelunjak aaaaaahhhh............., pake mau numpang segala! Kamu kan manusia pelat kuning, masa mau numpang naik mobil pelat merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-66894376733809592?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/66894376733809592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/pelat-merah.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/66894376733809592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/66894376733809592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/pelat-merah.html' title='Pelat Merah'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2049334050749917368</id><published>2010-09-22T12:37:00.004+07:00</published><updated>2010-09-22T12:51:33.970+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>suatu  malam di langit sana</title><content type='html'>sejuta bintang jatuh&lt;br /&gt;berkejapan melintas di kegelapan&lt;br /&gt;adakah satu&lt;br /&gt;untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejuta bintang jatuh&lt;br /&gt;berkejapan di kegelapan&lt;br /&gt;adakah satu&lt;br /&gt;adalah aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejuta bintang jatuh&lt;br /&gt;diam-diam, tanpa cahaya&lt;br /&gt;menyala&lt;br /&gt;tanpa bara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejuk&lt;br /&gt;hening&lt;br /&gt;maya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2049334050749917368?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2049334050749917368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/suatu-malam-di-langit-sana.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2049334050749917368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2049334050749917368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/suatu-malam-di-langit-sana.html' title='suatu  malam di langit sana'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-8494246843125887121</id><published>2010-09-09T23:36:00.004+07:00</published><updated>2010-09-09T23:49:42.033+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Latah dan Basa-basi? Bukaaaaann...</title><content type='html'>Tapi ini benar-benar serius.&lt;br /&gt;Teman-teman: Meskipun seharusnya yang namanya minta maaf dilakukan setiap saat, tetapi saya sungguh ingin memohon kepada Anda, maafkanlah kesalahan saya manakala tulisan-tulisan saya telah membuat rasa hati Anda terkoyak, terluka, teriris, terganggu, dan tercederai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin belajar lebih banyak untuk menjadi lebih arif, tetapi mungkin kemampuan saya jauh dari memadai untuk keinginan itu, sehingga selalu saja ada duri yang terpasang dalam tulisan-tulisan di blog ini maupun komen saya pada blog Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mohon maaf,&lt;br /&gt;lahir-batin,&lt;br /&gt;tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Anda tetap ada dan menginspirasi saya dengan segala yang telah dan tetap Anda tuliskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Idulfitri 1431 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-8494246843125887121?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/8494246843125887121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/latah-dan-basa-basi-bukaaaaann.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8494246843125887121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8494246843125887121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/latah-dan-basa-basi-bukaaaaann.html' title='Latah dan Basa-basi? Bukaaaaann...'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4192346966631148175</id><published>2010-09-08T01:53:00.001+07:00</published><updated>2010-09-08T01:58:50.816+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>Malam bersama Puisi</title><content type='html'>Malam ini aku membaca puisi pak Taufik Ismail, saya ingin Anda ikut menyimaknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membaca Tanda-Tanda&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas&lt;br /&gt;dari tangan&lt;br /&gt;dan meluncur lewat sela-sela jari kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang mulanya&lt;br /&gt;tak begitu jelas&lt;br /&gt;tapi kini kita mulai merindukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita saksikan udara&lt;br /&gt;abu-abu warnanya&lt;br /&gt;Kita saksikan air danau&lt;br /&gt;yang semakin surut jadinya&lt;br /&gt;Burung-burung kecil&lt;br /&gt;tak lagi berkicau pagi hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan         kehilangan ranting&lt;br /&gt;Ranting    kehilangan daun&lt;br /&gt;Daun        kehilangan dahan&lt;br /&gt;Dahan        kehilangan&lt;br /&gt;hutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita saksikan zat asam&lt;br /&gt;didesak asam arang&lt;br /&gt;dan karbon dioksid itu&lt;br /&gt;menggilas paru-paru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita saksikan&lt;br /&gt;Gunung    memompa abu&lt;br /&gt;Abu        membawa batu&lt;br /&gt;Batu        membawa lindu&lt;br /&gt;Lindu         membawa longsor&lt;br /&gt;Longsor    membawa air&lt;br /&gt;Air         membawa banjir&lt;br /&gt;Banjir        membawa air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air&lt;br /&gt;mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah saksikan seribu tanda-tanda&lt;br /&gt;Bisakah kita membaca tanda-tanda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah&lt;br /&gt;Kami telah membaca gempa&lt;br /&gt;Kami telah disapu banjir&lt;br /&gt;Kami telah dihalau api dan hama&lt;br /&gt;Kami telah dihujani abu dan batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah&lt;br /&gt;Ampuni dosa-dosa kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beri kami kearifan membaca&lt;br /&gt;Seribu tanda-tanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada sesuatu yang rasanya&lt;br /&gt;mulai lepas dari tangan&lt;br /&gt;dan meluncur lewat sela-sela jari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ada sesuatu yang mulanya&lt;br /&gt;tak begitu jelas&lt;br /&gt;tapi kini kami&lt;br /&gt;mulai&lt;br /&gt;merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1982 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian tulisnya, semoga Anda menikmatinya pula.&lt;br /&gt;Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4192346966631148175?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4192346966631148175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/malam-bersama-puisi.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4192346966631148175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4192346966631148175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/malam-bersama-puisi.html' title='Malam bersama Puisi'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-7103293176176392644</id><published>2010-09-06T10:45:00.004+07:00</published><updated>2010-09-06T13:26:17.017+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Ragam Menjenguk Orang Sakit</title><content type='html'>Setiap menjenguk keluarga, kerabat, tetangga atau teman yang sedang sakit selalu saja terpikir oleh saya, apa yang sebaiknya saya bicarakan dengan mereka. Apalagi kalau sakitnya cukup serius.&lt;br /&gt;Saya kerapkali mengamati perilaku orang ketika menjenguk orang sakit, baik itu di rumah sakit ataupun di rumah, tapi sampai sekarang masih belum punya model (ragam) ideal dari sekian contoh yang saya temui tadi. Beberapa ragam, lagak dan gaya tersebut di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;Investigasi&lt;br /&gt;Berbicara, bertanya, menyampaikan pemikiran tentang penyakit yang diderita si sakit. Bertanya tentang awal-mula sakitnya, rasa sakitnya, dokter yang merawat, obat-obatan dan cara perawatannya, sikap para perawat, angka kredit rumah sakitnya, upaya-upaya lain yang pernah dan akan dilakukan, dampak penyakit terhadap tubuh dan mental, biaya perawatan, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;Dokter atau Orang Pintar&lt;br /&gt;Gayanya adalah menelaah penyakit yang diderita, bercerita pengalaman-pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain yang pernah didengar (langsung maupun menurut cerita orang lain lagi), mengkritik pengobatan dan perawatan yang dianggap 'biasa' dan biasanya dilanjutkan dengan menganjurkan model dan metoda perawatan dan pengobatan tertentu, atau dokter dan ahli tertentu, termasuk menganjurkan dan memuji-muji obat dan cara pengobatan tertentu sambil menganggap yang lain sebagai kalah manjur dan bermutu. Hal-hal ini sering ditambah dengan rujukan-rujukan dari sumber-sumber yang terdengar valid dan mentereng, misalnya menyebut sumbernya 'internet' atau jurnal tertentu atau sejarah orang-orang hebat yang konon pernah menderita karena penyakit serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;Motivator&lt;br /&gt;Sok membangkitkan semangat adalah sesuatu yang dianggap penting dilakukan ketika berhadapan dengan pesakit. Mulai dari pesakit yang harus doyan makan, rajin minum obat, dan lain-lain supaya segera sembuh dan dapat menikmati hari-hari seperti biasanya. Mental harus bangkit melawan penderitaan sakit, karena diri kita dibutuhkan oleh banyak orang, mulai dari keluarga, teman kerja maupun orang lain yang berada di sekitar. Menimbulkan semangat harus segera sembuh karena masih banyak tugas yang menanti, atau segera sembuh agar kesenangan-kesenangan yang terlewat dapat segera dinikmati kembali, seperti jalan-jalan, makan-makan, kongkow-kongkow dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4)&lt;br /&gt;Pendeta&lt;br /&gt;Isinya nasehat, a.l.: Berserah diri kepada Yang Maha Kuasa, seraya memohon ampun barang kali sakit ini akibat dari kesalahan yang pernah dijalani pada waktu lalu. Banyak berdoa untuk mohon kesembuhan dan diringankan dari rasa sakit. Harus ikhlas menjalani karena pasti ada hikmah di balik penderitaan. Bagus sekali memang, tapi kok....?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5)&lt;br /&gt;Badut&lt;br /&gt;Bercanda tentang segala macam, yang maksudnya mengalihkan perhatian si sakit dari penyakit dan rasa sakitnya. Berbicara tentang kejadian-kejadian lucu, yang benar-benar terjadi maupun yang sekedar ngarang atau mencontek dari tempat lain. Atau kembali mengenang cerita-cerita lucu dan lama yang pernah dijalani bersama-sama, dan menjadi kenangan yang menyegarkan. Biasanya dilakukan sambil tertawa-tawa, apalagi kalau ada suporternya, yakni tamu yang sama-sama menjenguk; padahal si sakit merasa ketawa menyebabkan ia merasa sakit di bagian badan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6)&lt;br /&gt;Bossy&lt;br /&gt;Datang, lantas tanya-tanya kronologi singkat tentang asal mula, tanggal-tanggal dan hari. Biasanya diikuti dengan uraian (singkat juga) aktivitas sendiri yang dijalani; maksudnya agar si sakit atau keluarganya mafhum bahwa dia adalah orang penting dan sibuk. Terakhir biasanya lalu ada sebuah amplop yang diberikan, dan terakhir pamit pulang yang terkadang disertai sedikit pemberitahuan bahwa selepas ini dia masih harus melakukan hal penting, bertemu orang penting, pokoknya 'penting'. Selesailah ritus standar 'Bos' menjenguk 'bawahan' yang sedang sakit &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7)&lt;br /&gt;Ngawur&lt;br /&gt;Datang-datang lantas cerita ngalor-ngidul kepada sesama tamu lainnya dengan cerita yang tidak ada hubungannya sama-sekali dengan hajat menjenguk orang sakit. Sering malah berbicara tanpa melibatkan si sakit atau keluarganya.  Lebih konyol lagi: berdebat atau mendebat kata-kata sesama penjenguk. Hal itu dilakukan tanpa memperhatikan kondisi si sakit maupun keluarganya, atau, penderita lain dan keluarganya yang berada di ruangan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8)&lt;br /&gt;Pelit bicara&lt;br /&gt;Karena kebetulan datang bersamaan dengan penjenguk yang lain, maka setelah menyalami si sakit dan keluarganya lantas diam saja, menjadi pendengar yang baik bagi sesama tamu lain yang bicara. Paling-paling berkata "oh, ya?", atau "betul sekali", atau malah cuma senyam-senyum sambil berpikir tentang saat yang paling tepat untuk pamit pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9)&lt;br /&gt;Memanfaatkan Peluang&lt;br /&gt;Wah, ini biasanya dengan cepat terbaca oleh distributor atau member MLM yang mempunyai obat atau suplemen mahamanjur. Satu produk multi manfaat, sekali tepuk tujuh nyawa dapat diselamatkan. Seraya menunjukkan selembar brosur berisi penjelasan produk dan testimoni orang yang pernah terselamatkan, dan tidak lupa selembar kartu nama. Yang payahnya lagi (atau parahnya?) terkadang si Member tadi adalah teman dari penjenguk, atau lebih ngepopnya disebut 'mitra' atau 'upline'; jadi sebenarnya secara langsung belum pernah berkenalan dengan si sakit maupun keluarganya, tetapi datang karena diajak si penjenguk sambil ditugasi untuk menjelaskan dan menawarkan produk MLM di mana mereka menjadi member. Eh, menjenguk atau berdagang, nih! pasti akan dijawab: memberi informasi yang baik bukan sebuah kesalahan, kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(10)&lt;br /&gt;Apa lagi ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ragam ke sepuluh inilah yang sedang saya cari, namun saya belum mendapatkan gambarannya, sehingga sampai dengan saat ini apabila harus menjenguk orang sakit, saya sangat senang apabila tidak harus pergi sendiri.&lt;br /&gt;Tapi karena itu pula mungkin saya menjadi bingung, karena beberapa dari orang yang menemani saya ( atau saya temani ) itu cenderung menggunakan ragam-ragam di atas.&lt;br /&gt;Enggak lucu, ya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-7103293176176392644?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/7103293176176392644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/ragam-menjenguk-orang-sakit.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7103293176176392644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7103293176176392644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/09/ragam-menjenguk-orang-sakit.html' title='Ragam Menjenguk Orang Sakit'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6010385334672382251</id><published>2010-08-30T13:12:00.003+07:00</published><updated>2010-08-30T14:51:43.206+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Dasamuka</title><content type='html'>Huru-hara diplomatik dengan Malaysia semakin memicu sentimen kebangsaan hampir seluruh rakyat Indonesia. Entah apakah nota protes yang dikirim oleh Presiden kepada PM Malaysia mampu meredam emosi masing-masing fihak, atau justru akan menjadi angin yang meniup bara kemarahan. Kita lihat saja. Sementara masih saja ada bendera yang dibakar dan diinjak-injak.&lt;br /&gt;Di belahan dunia yang lain ada yang melakukan kampanye untuk membakar kitab suci agama tertentu sebagai pertanda protes keras atas terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh pemeluk agama tersebut.&lt;br /&gt;Di pojokan dunia yang lain lagi, sekelompok remaja melempari stasiun kereta dan lingkungan di sekitarnya dengan batu, karena pasukan bola mereka dan mereka sendiri 'didolimi' oleh warga kota itu.&lt;br /&gt;Di lain tempat, di depan kantor tertentu sekelompok jurnalis melakukan aksi protes, karena anggotanya mendapat tekanan keras ketika sedang melakukan tugas peliputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini ada identitas yang dibela atau sebaliknya: dilawan. Yaitu negara, keyakinan, klub atau kelompok.&lt;br /&gt;Pembelaan atau perlawanan terhadap kelompok kaum (komunitas yang beridentitas) hampir sepanjang sejarah manusia selalu saja terjadi. Fir'aun dan pasukannya mengusir Nabi Musa dan pengikutnya. Dua negara di Amerika Latin berperang gara-gara permainan bola. Penduduk dua desa tawur gara-gara salah satu warganya dilecehkan. Sebuah tempat ibadah disegel karena ritusnya diklaim sesat oleh yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang aneh.&lt;br /&gt;Ketika kesebelasan Jepang turun di Afsel sebagai wakil Asia; kita, orang Indonesia yang juga warga Asia (dan kebetulan punya memori sekaligus setori masa lalu dengan Jepang) ikut merasa bangga. Dan ketika Jepang kalah, kitapun merasa kecewa. Dalam hal ini kita cs-an dengan Jepang. Tetapi ketika satu pabrik Jepang yang ada di Indonesia diputuskan untuk tutup dan pindah ke negeri lain, sakiiiit hati ini rasanya. Apalagi disertai dengan alasan kondisi perburuhan yang tidak baik, kebijakan ekonomi yang kurang mendukung, dsb, dsb, dsb; nyerinya kepada Jepang sampai keubun-ubun rasanya. Mau melawan saja rasanya, bersama-sama.&lt;br /&gt;Ketika sedang mau bersama-sama, datanglah masa pemilu. Kita yang tadinya serasa satu, mulai terkotak jadi kaumnya partai A, partai B, partai C, dll. Kaum A bersitegang dengan kaum B gara-gara ada yang mencuri start kampanye; kaum D dengan kaum S gara-gara pemanfaatan anggaran dan fasilitas yang tidak semestinya. &lt;br /&gt;Ternyata partai MGDSJGVDS menang pemilu, jadilah dia partai berkuasa di parlemen. Beberapa waktu kemudian ada pemilihan ketua partai. Pengikut si O dan si E saling sindir, pengikut si U dan si A perang iklan. &lt;br /&gt;Demikian seterusnya keanehan ini berlanjut. Dan ini melahirkan pertanyaan: apa sebenarnya identitas kita? Seberapa besar kekuatan identitas itu memberi warna dalam kehidupan (interaksi) sosial kita; dan sebaliknya: mengapa sekarang identitas-identitas itu (apapun) terasa demikian mudah mengelupas hanya karena identitas atau sub-identitas lain yang kita punya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau sudah demikian, masihkah kita perlu simbol?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan kita membakar bendera karena memang kita sudah tidak menganggap bendera sebagai simbol; atau bahkan demikian pulalah anggapan kita tentang bendera negeri sendiri? Yang kita kibarkan di rumah dengan tiang seadanya dan warna kusam, itupun masih pula lupa untuk menurunkan pada waktunya? Atau bahkan sudah lupa pula saat harus mengibarkannya? Atau barangkali identitas itu kita anggap tidak permanen; sewaktu-waktu bisa berubah, suka-suka hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih mending Dasamuka, tokoh raja dari negeri Alengka yang dikisahkan memiliki sepuluh wajah, tetapi ketika masing-masing wajah ditanya namanya, jawabnya tetap: Dasamuka raja negeri Alengka. Dengan tegas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(benar-benar merdeka.........)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6010385334672382251?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6010385334672382251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/dasamuka.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6010385334672382251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6010385334672382251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/dasamuka.html' title='Dasamuka'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2588054026454900983</id><published>2010-08-25T13:15:00.003+07:00</published><updated>2010-08-25T14:16:00.045+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Antara Penting dan Genting</title><content type='html'>Tik..tik..tik.., bunyi hujan di atas genting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu!&lt;br /&gt;Tapi tentang komentar teman saya pak Bambang Prabowo: suasana tujuhbelasan tahun ini  di banyak lingkungan pemukiman sangat jauh dari semarak. Apalagi di beberapa kawasan pemukiman klas atas. Nyaris seperti bukan di Indonesia. Hiasan tak ada, bahkan bendera merah-putihpun TIDAK DIPASANG!!!&lt;br /&gt;Gejala apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang memang sudah bukan jaman perang mengusir penjajah, juga bukan jaman memerangi pemberontak yang merongrong kedaulatan NKRI. Artinya, sekarang sudah bukan jaman genting. Ya benar. Tetapi apakah kemudian memperingati ulangtahun kemerdekaan dengan memasang bendera menjadi tidak penting? Saya sungguh tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara mestinya '&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kita&lt;/span&gt;' cukup faham dan sadar benar bahwa sekarang ini bulan Agustus, bahwa setiap tanggal 17 Agustus adalah ulang tahun proklamasi, bahwa di lembaga-lembaga negeri pasti ada upacara bendera. Televisi, koran dan jalanan kota mengindikasikan tanda-tanda kemeriahan tujuhbelasan. Tapi ketika masuk di tempat pemukiman tadi?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ini, wahai para pemimpin? &lt;br /&gt;Ketika jaman sudah tidak genting, rasa kebangsaan tetaplah sesuatu yang penting, namun ironisnya, yang tampak dari beberapa keadaan secara umum adalah fenomena bahwa kesadaran kebangsaan sudah menjadi tidak lagi penting dan karenanya kita secara tidak sadar berjalan ke arah keadaan yang genting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ayah saya dulu, setiap membangun rumah pasti menyertakan (dan mementingkan keberadaan) tiang bendera', tambah pak Bambang Prabowo,' bahkan sejak membuat denahnya, posisi tempat bendera sudah pasti ada. Sedang sekarang, tampaknya hampir tidak ada pengembang yang melengkapi bangunan produknya dengan tiang bendera', demikian lanjutnya. &lt;br /&gt;Kami berdua terhanyut kepada kenangan masa dulu, ketika masih kecil diajarkan bahwa setiap melewati tempat di mana sedang dilakukan kerek bendera merah putih, berhenti di tempat dengan sikap sempurna, menghadapkan muka ke arah lambang negara, dan baru berjalan ketika Sang Merah Putih telah sampai di ujung atas tiang bendera. Bukan menghormat benderanya, tetapi penghormatan atas segala upaya dan pengorbanan yang telah memakan harta, nyawa, kehormatan, untuk tegaknya negeri ini, di mana kita lahir, hidup atau kelak mati di haribaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tetap... merdeka........!!?????????)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2588054026454900983?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2588054026454900983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/antara-penting-dan-genting.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2588054026454900983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2588054026454900983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/antara-penting-dan-genting.html' title='Antara Penting dan Genting'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-591134425921300371</id><published>2010-08-21T23:11:00.002+07:00</published><updated>2010-08-22T00:02:17.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Che' Mat</title><content type='html'>Tahun 60-an dulu, di dekat rumahku ada sebuah pondok dengan madrasah aliyah. Ada beberapa pelajar dari Tanah Melayu, satu yang masih kuingat, namanya che' Mat. Seorang pemuda yang ramah dan sangat santun. Sore hari terkadang keluar pondok untuk membeli minyak goreng dan belanja beberapa kebutuhan sehari-hari. Tentu sekarang che' Mat telah tua di kampungnya sana, di negeri yang sekarang bernama Malaysia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang ditangkapnya 3 orang pegawai Indonesia yang sedang menjalankan tugas patroli pengamanan laut oleh  fihak Malaysia menimbulkan reaksi keras dari publik Indonesia, tak terkecuali dari sahabat saya Pak Sugeng Kariyodiharjo, pak guru yang juga seorang pesastra Jawa. Pak Guru yang cerita-cerita pendeknya sering mengharu-biru pikiranku, beberapa waktu yang lalu bertanya kepadaku: bagaimana sebaiknya tindakan jiran ini direaksi?&lt;br /&gt;Merujuk pada komentar pak Permadi, mestinya dijawab saja: Ganyang Malaysia!&lt;br /&gt;Tapi nanti dulu, semudah itukah melakukan ofensif a la Bung Karno di jaman ini? Sementara mata dan telinga dunia sekarang sudah begitu tajamnya, sementara yang menganggap jadi polisi dunia sekarang tinggal ada satu, sementara di negeri tetangga itu banyak kerabat kita bekerja mencari nafkah, sementara setiap hari di kota=kota besar kita banyak teman-teman belanja di Giant dan Hypermart, sementara pula ribuan orang di negeri ini melibatkan diri untuk menjajakan produk dan prospek bisnis MLM dari sana, sementara pula uang kita tidak cukup untuk belanja kapal, bikin jalan dan batas kawasan, menyejahterakan rakyat terutama di wilayah-wilayah perbatasan, dan sementara pula hanya sedikit pemimpin negeri ini yang merespon kemarahan rakyat dengan tindakan sepadan dengan kekuasaan yang kita berikan kepadanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mesti bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah peristiwa di negeri sandiwara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam gedung yang nyaman, sekelompok penguasa dan pengusaha sedang melakukan upacara, membaca proklamasi yang bunyinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proklamasi&lt;br /&gt;Kami bangsa yang mempunyai kepentingan dengan Indonesia&lt;br /&gt;dengan ini menyatakan siap bekerja untuk mewujudkannya&lt;br /&gt;hal-hal yang mengenai pelaksanaannya&lt;br /&gt;dilakukan dalam tempo secepatnya, ongkos seperlunya, cara apapun juga, kerja sama dengan siapapun juga,&lt;br /&gt;untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dengan risiko yang sekecil-kecilnya&lt;br /&gt;mumpung mereka tidak punya apapun juga selain rasa bangga semu yang dibesar-besarkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung ditutup, dan dibuka kembali dengan adegan jalanan macet, suara sirene menguik-nguik seperti suara anak babi terjepit ekornya, orang-orang berdesakan di jalanan, gerah, umpatan dan keluh-kesah bercampur tangis anak-anak memenuhi udara. Kereta yang dipandu sirene melaju, penumpangnya duduk tenang tak terganggu, karena kaca gelap menahan panas dan meredam bunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung sandiwara ditutup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dibuka lagi, ternyata aku yang ada di sana.&lt;br /&gt;Aku berkata:&lt;br /&gt;Maaf pak Sugeng dan sodara-sodara semua: Sulit aku menjawab pertanyaan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layar ditutup, semua menunggu pertunjukan berikutnya yang judulnya agak lucu:&lt;br /&gt;Anak-anak bangsa yang menolong dirinya sendiri, dengan poster besar bergambar che' Mat berlinang air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-591134425921300371?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/591134425921300371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/che-mat.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/591134425921300371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/591134425921300371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/che-mat.html' title='Che&apos; Mat'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4539096073641076123</id><published>2010-08-18T08:52:00.007+07:00</published><updated>2010-08-18T14:25:20.261+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Cari Masalah</title><content type='html'>Ini dongeng pada jaman ketika anak sekolah masih menggunakan batu-tulis (di Jawa disebut sebagai sabak). Alat tulis primitif ini berupa lempengan batu berwarna kehitaman setebal kurang lebih 5 mm, dengan ukuran panjang-lebar kira-kira 25x20cm.  Tidak ada merek, tidak ada ukuran standar, apalagi SNI!!     Alat untuk menulisinya juga berupa sebuah batang batu dengan diameter sekitar 4-5 mm dan panjang antara 10-15 cm. Anak batu-tulis ini (sering disebut grip) mudah sekali patah, jadi harus dijaga benar-benar jangan sampai terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah anak-anak mengerjakan tugas menulis, berhitung atau menggambar di atas batu-tulis masing-masing. Setiap ganti pelajaran, maka tulisan di atas batu-tulis tadi cukup dihapus dengan tangan lalu ditulisi kembali untuk pelajaran berikut. Tentu saja setelah bapak atau ibu guru memeriksa lalu membubuhkan nilai masing-masing dengan kapur tulis.&lt;br /&gt;Karena rawan terhapus, maka ketika itu tidak ada yang namanya PR atau pekerjaan rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah lagu anak-anak berbahasa Jawa, berjudul 'Aja ngewak-ewakake' yang bila diterjemahkan secara bebas adalah 'Jangan bikin sebel', begini syairnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aja ngewak-ewakake&lt;br /&gt;Petentang-petenteng, bijine diumukake&lt;br /&gt;Bocah kok le ambeg-hm, sajak ngece-ece&lt;br /&gt;Bocah kok le ambeg-hm, nggregetake&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terjemahan bebasnya : jangan kau bikin sebel, pertentang-pertenteng nilaimu kau pamer-pamerkan, memang kau anak yang sombong, sepertinya kau meledek teman lain, dasar sombong, bikin orang geregetan saja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu tadi menceritakan seorang anak yang sepanjang perjalanan pulang dari sekolah memamerkan nilai berhitungnya yang mendapatkan angka sepuluh, dengan cara  menempelkan angka 10 di atas batu-tulisnya ke pipi kanan atau kiri sehingga membekas terbalik, tetapi masih sangat jelas bahwa itu adalah angka sepuluh!   Gaya ini sangat umum dilakukan anak-anak ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral cerita yang terkandung dalam lagu itu adalah agar anak-anak jangan menyombongkan diri ketika merasa berprestasi, karena kesombongan akan mendatangkan masalah. Boleh senang, boleh bangga, tetapi kesenangan atau kebanggaan itu tidak perlu dipamer-pamerkan, karena akan mendatangkan rasa tidak senang pada orang lain, yang jangan-jangan kemudian dapat mendatangkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya sejenak sebelum jam sekolah usai, bapak atau ibu guru merefresh pesan-pesan moral kepada anak-anak melalui berbagai lagu, di antaranya 'Aja ngewak-ewakake' tadi. Lagu dengan nada riang dan sangat sederhana itu sekarang barangkali telah terlupakan, bahkan oleh kaum tua yang dulu ketika masih kecil (masih lucu) sering menyanyikannya.&lt;br /&gt;Saya berpikir bagaimana seandainya lagu ini dinyanyikan di Istana Negara ketika aubade pada upacara 17-an kemarin. Barangkali bisa meredam nafsu siapapun untuk ngewak-ewakake saudaranya yang lain, sehingga siapapun yang melakukan tindakan cari masalah dapat disadarkan melalui lagu ini secara arif.&lt;br /&gt;Jaman lagi susah, sodara, enggak usah cari masalah, tapi kalau ada yang memang lupa tanpa sengaja, ingatkan dengan lagu itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai. MERDEKA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4539096073641076123?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4539096073641076123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/cari-masalah.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4539096073641076123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4539096073641076123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/cari-masalah.html' title='Cari Masalah'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-7180827572081686360</id><published>2010-08-03T23:50:00.004+07:00</published><updated>2010-08-04T00:22:25.492+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>In Memory</title><content type='html'>Lelaki sepuh itu duduk menghadap meja kecil yang sama sepuhnya dengan usianya. Sebuah poci tanah-liat berwarna coklat kehitaman dan beberapa cangkir mungil yang isinya seseruput teh kental bergula jawa ada dihadapannya.&lt;br /&gt;Rambut di kepalanya dicukur nyaris pelontos, yang mestinya kalau dibiarkan pasti berwarna putih keperakan. Punggungnya yang bungkuk dibalut kaos oblong putih kusam.&lt;br /&gt;Senyumnya terkembang berhias gigi yang masih berderet rapi.&lt;br /&gt;Ketika kucium tangannya, dia menatapku dengan pandang berbinar: Pada becik tekamu?&lt;br /&gt;Baik-baikkah saja kalian? demikian sapanya menyejukkan jiwa.&lt;br /&gt;Lungguha kene, aku kangen sira... Duduklah disampingku, aku rindu kepadamu.&lt;br /&gt;Tercekat kata-kataku, tertunduk pandanganku. Tak kuat rasanya menahan haru menerima berkat dan doa yang terpancar dari pandang matanya yang menyiratkan rindunya yang bergulung-gulung menerpaku.&lt;br /&gt;Ingin rasanya bersujud mencium kakinya yang kini langkahnya tak lagi segesit dulu.&lt;br /&gt;Seperti terpana dia menatapku, semakin kelu pula aku ketika tangan tuanya merangkul pundakku seakan ingin menyatukan jiwa.&lt;br /&gt;Matahari yang mulai miring ke barat menyusupkan cahayanya lewat lubang-lubang di antara anyaman dinding bambu, dan aroma rokok kelobot jagung yang terbakar bak harum dupa yang menghiasi drama pertemuan ini. Senyumnya masih juga tersungging dibibirnya.&lt;br /&gt;Tangan yang kulitnya telah mulai kisut perlahan menuangkan teh dari poci.&lt;br /&gt;Sira wis tambah gede, ya.... Kau bertambah dewasa pula...&lt;br /&gt;Seakan dia berkata: Masih cukupkah sisa umurku untuk menyaksikan perjalanan hidupmu, cucuku?&lt;br /&gt;Setitik air mata membayang dari sudut matanya yang telah berkerut dimakan waktu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ampunilah dia, ampunilah aku...&lt;br /&gt;Berkatilah sisa usianya, bimbinglah aku menjalani hidupku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku hadir lagi dihadapan nisannya, seakan masih terdengar sapanya lembut:&lt;br /&gt;Pada becik tekamu.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-7180827572081686360?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/7180827572081686360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/in-memory.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7180827572081686360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7180827572081686360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/08/in-memory.html' title='In Memory'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2235773905718643200</id><published>2010-07-29T22:29:00.002+07:00</published><updated>2010-07-29T22:52:55.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Tenggelam</title><content type='html'>Rupanya hujan deras yang akhir-akhir ini mengguyur di berbagai tempat telah menyebabkan beberapa kawasan tenggelam. Tenggelam oleh genangan air. Ada yang surut dalam waktu pendek, ada pula yang berhari-hari. Korbanpun berjatuhan. Ternak, binatang liar, manusia, kebun, sawah, harta-benda, dan mental manusia.....&lt;br /&gt;Kesedihan, keputus-asaan, kemarahan, rasa kasihan, duka cita, semua bercampur-aduk di dalamnya.&lt;br /&gt;Drama yang digambarkan seperti ini, tampaknya sangat mirip dengan keadaan lain yang mungkin serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transportasi di Jakarta diramalkan bakal lumpuh total. Banjir pengguna jalan telah mengakibatkan penyumbatan di banyak ruas jalan, dan lalu-lintas macet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi yang memberikan ruang sangat luas untuk berpendapat telah mengakibatkan lalu-lintas pendapat berkeliaran, dan banyak yang dengan itu dapat memobilisasi gerakan-gerakan, dan kemudian berpotensi saling bersinggungan atau bahkan bertabrakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai informasi yang datang mengguyur indera penglihatan, pendengaran dan kemudian diserap oleh perasaan berpengaruh luar-biasa kepada perilaku seseorang. Apalagi bila nalarnya berjalan tertatih-tatih, dan nuraninya telah disandera oleh pengaruh keadaan sehingga tidak lagi mempunyai daya yang cukup untuk menjadi pandu. Pikiran dan tindakannya tenggelam oleh keadaan. Lalu hidupnya terbawa kemanapun arus berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2235773905718643200?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2235773905718643200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/07/tenggelam.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2235773905718643200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2235773905718643200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/07/tenggelam.html' title='Tenggelam'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6485725212500519560</id><published>2010-06-06T00:22:00.002+07:00</published><updated>2010-06-06T00:31:31.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di antara teman'/><title type='text'>Tokek</title><content type='html'>Saya pernah punya teman yang sangat menggemari pembicaraan tentang kaya dan miskin. Bagi dia, dunia kurang tegas terlihat apabila pemisahan tentang kaya dan miskin tidak dilakukan.&lt;br /&gt;Contohnya, suatu kali dia mengabarkan bahwa tetangganya baru saja membeli mobil baru. Kinclong. &lt;br /&gt;"Orang kaya beneran dia, beli dari toko, dibawa pulang dengan pelat nomor masih putih. Itu tandanya memang bener-bener mobil baru, bukan bekas." katanya.&lt;br /&gt;Teman yang satu lagi paling sebel omongan soal kaya dan miskin.&lt;br /&gt;Bagi dia kaya dan miskin bagaikan bunyi tokek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokek.... kaya&lt;br /&gt;Tokek......miskin&lt;br /&gt;Tokek ....kaya&lt;br /&gt;Tokkkkk..... mampus!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian tahun kemudian, ketika keduanya sudah pergi ke alam baka, ternyata tokek memang bisa membuat orang jadi kaya-raya, konon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sih cuma mau cerita tentang teman-teman sepuh saya, bukan tentang kaya, miskin apalagi tentang tokek.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6485725212500519560?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6485725212500519560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/06/tokek.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6485725212500519560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6485725212500519560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/06/tokek.html' title='Tokek'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1815115682160956153</id><published>2010-05-07T10:36:00.000+07:00</published><updated>2010-05-07T10:38:02.263+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>dinamika</title><content type='html'>lelah kau menunggu lalu pingsan tidur ayam&lt;br /&gt;terjaga&lt;br /&gt;masih tak ada siapa-siapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk apa berjalan jauh bila mata terpejam lewat matahari pagi dan terbenam&lt;br /&gt;terkaget-kaget ketika duri semak menggores pedih teriris&lt;br /&gt;terayun di ombak kabut lembut terlena mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada lava melata-lata &lt;br /&gt;ada raksasa dengan lidah berbuncah darah menggeram menakuti&lt;br /&gt;biarkan saja karena semua itu fatamorgana&lt;br /&gt;yang bikin ciut nyali tapi juga menyalakan api membara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku suka di sana&lt;br /&gt;karena lelah dibelenggu sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1815115682160956153?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1815115682160956153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/05/dinamika.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1815115682160956153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1815115682160956153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/05/dinamika.html' title='dinamika'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-9011978436806415675</id><published>2010-05-03T11:48:00.002+07:00</published><updated>2010-05-03T12:18:26.130+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Bergunjing, mengapa?</title><content type='html'>Ada dua kelompok generasi karyawan di atas saya, generasi ‘ambil-alih’ yang pertama yaitu para beliau yang mengalami episode pengambil-alihan dari perusahaan milik Belanda, dan yang ke dua adalah generasi AGN yang mulai bekerja pada era 65-70an. Saya sebut generasi AGN karena sebagian dari mereka oleh Perusahaan disekolahkan di Akademi Gula Negara Jogja, sebuah pendidikan ikatan dinas kala itu yang mendidik mahasiswanya menjadi ahli gula terutama di bidang proses pengolahan gula dan satunya lagi di bidang ketata-usahaan gula. Lulusannya bergelar B.Sc. Jumlah mereka cukup banyak, dan sangat diharapkan menjadi ujung tombak di era kemudian setelah pendahulunya pensiun.&lt;br /&gt;Ada sebuah istilah menarik untuk mereka yang B.Sc. proses. Di lingkungan pergulaan saat itu mereka disebut juga sebagai ‘Dokter Gula’, bukan dokter ahli penyakit gula ataupun bukan ahli mengobati gula yang berpenyakit, tetapi sebutan itu mungkin karena pakaian kerja mereka yang seperti jas dokter.  Kalau anda punya anak gadis dan tinggal di lingkungan Pabrik Gula, para dokter gula bujangan ini adalah calon menantu idaman, lho. Karena mereka punya kans terbesar untuk menjadi pimpinan PG (pabrik gula)  alias Administratur atau bahkan menjadi Direktur di Kantor Pusat. Tapi itu zaman dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke generasi AGN.&lt;br /&gt;Merekalah para sarjana muda pemegang tongkat estafet berikutnya, yang akan mewarisi norma-norma dan budaya warisan generasi sebelumnya yang notabene rata-rata ‘hanya’ lulusan STM ( Sekolah Teknik Menengah ) atau MTS (Middelbare Technishe School) dan SMA atau AMS (Algemeene Middelbare School) plus pelatihan-pelatihan sangat intensif dari para Belanda pendahulunya.&lt;br /&gt;Pada masa ini terjadi beberapa perubahan gaya kerja karena pengaruh politik, sosial  maupun ilmu pengetahuan di bidang pergulaan.  Mereka mulai berusaha mengembangkan diri dan menjawab tantangan zaman. Pabrik yang makin tua, lahan yang semakin terbatas karena wajib tanam tebu sudah  tidak ada, eksperimen-eksperimen untuk meng-Indonesiakan cara kerja warisan Belanda mulai dilakukan. Di masa ini pula terjadi beberapa kali reorganisasi dan regrouping. PG-PG yang dulunya milik beberapa Maskapai Belanda dan keberadaannya tersebar, mulai dikelompok-kelompokkan menurut wilayah geografis dan dikendalikan oleh seorang Inspektur. Berubah lagi menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) lalu PNP, menjadi PTP.&lt;br /&gt;Generasi ‘ambil-alih’ mulai habis, pensiun.&lt;br /&gt;Oleh generasi AGN, Prosedur dan Standar Kerja (SOP-Standard Operating and Procedure)  yang ada kemudian dikaji dan disesuaikan, tentu saja dengan memperhatikan kebutuhan lapangan dan ketentuan Pemerintah, yang sejak medio 70-an mulai menghilangkan sistem sewa lahan milik petani menjadi sistem Tebu Rakyat, di mana petani menanam dan mengelola sendiri tebunya dan kemudian menyerahkan kepada PG untuk diproses dengan bagi hasil produksi.&lt;br /&gt;Ini adalah masa sibuk. Jaman normal telah lewat. Satu demi satu PG mengalami kerugian. Kondisi mesin dan peralatan yang semakin uzur (ada yang mulai tahun 1870-an lho!), kendali produktivitas yang semakin sulit ( cara petani mengelola tentu beda dengan Sinder PG mengelola kebunnya) dan likuiditas yang semakin terbatas ( harga gula ‘dikendalikan’ Pemerintah sementara inflasi berakibat naiknya ongkos produksi) membuat industri gula megap-megap bagai ikan di sungai keruh. Dan ini tugas berat bagi generasi AGN yang saat itu  sebagian telah menjadi pimpinan strategis untuk mengatasinya, meskipun (dalam dugaan saya) mungkin hal-hal seperti ini tidak pernah diajarkan ketika mereka belajar di Akademi. Tentu hasilnya sangat tergantung kepada kepiawaian para Manajer. Namun dalam perjalanan sejarah terbaca satu demi satu PG pingsan dan kemudian mati atau paling tidak koma dan dinfus terus-terusan.&lt;br /&gt;Belum sempat menuntaskan tugas, generasi ini  pensiun. Mereka meninggalkan Perusahaan dengan segudang pengalaman, kesan, kenangan, dan yang jelas: tugas yang masih harus diselesaikan oleh generasi berikutnya, yang entah apa pula yang akan dihadapi.&lt;br /&gt;Generasi berikutnya datang pada era 80-an. Generasi ‘sekolahan’, yang mengenal zaman Belanda hanya dari pelajaran. Yang bahkan tiba-tiba kaget ketika kecebur di dunia antah-berantah industri gula. Di mana mimpi sangat beda dengan kenyataan. Di mana teori tergagap-gagap ketika berhadapan dengan praktek. Di mana segala cerita masa lalu ternyata sudah sangat berbeda keadaannya dengan masa kini.&lt;br /&gt;Mereka belum cukup dikelonin oleh para seniornya, ditulari ilmu-ilmu dasar dan mendapat dongeng bermakna, barangkali karena para seniornya terlalu sibuk mengatasi masalah lain sehingga mengajar yuniornya tidak begitu intens dan strict (seperti sewaktu Londo yang ngajar). Tentu masih ada juga senior yang baik, mengajar dan menghajar yuniornya agar menjadi cukup handal untuk nantinya menggantikan mereka.&lt;br /&gt;Saya menyimak keadaan ini, dan saya prihatin, karena secara umum yang terjadi akhirnya adalah lemahnya kendali dan semakin lebarnya kesenjangan. Baik senjang wawasan maupun sikap. Dan buntutnya adalah kerja yang tidak terkonsolidasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang cerita ‘diadili’.&lt;br /&gt;Datang seorang senior yang akhir-akhir ini disewa Perusahaan untuk memandu sebuah pekerjaan. Senior tersebut baru pensiun sekitar empat-lima tahun lalu. Beliau menyampaikan kritik kerasnya terhadap pelaksanaan kerja di lapangan, yang nota bene pernah menjadi ladang kerjanya pula.&lt;br /&gt;“Bagaimana bisa baik kalau SOP tidak dilaksanakan dengan benar, kontrol lemah, dsb,dsb, dsb”  Banyak, dan sambil memandang saya dengan pandangan geram, seperti beberapa orang senior lain sebelumnya ketika ketemu saya. Dilanjutkan oleh beliau, bahwa kemunduran-kemunduran yang terjadi adalah karena cara-cara yang baik, yang telah dilakukan ‘pada zamannya’ telah ditinggalkan dan diganti dengan cara lain, kualitas SDM tidak sehandal dulu, banyak hal dilakukan secara coba-coba, dan banyak hal lain lagi. Pembicaraan berkembang dengan membicarakan praktek-praktek yang dinilai tidak bagus, meningkat menjadi komentar terhadap kebijakan-kebijakan manajerial, bergesar menjadi bergunjing tentang orang.&lt;br /&gt;Saya kok jadi panas (hehehe..... padahal sebelumnya agak kedinginan karena AC disetel terlalu rendah suhunya), karena saya merasa diadili. Bagaimana tidak! Saya merasa tidak bisa menerima pendapat beliau yang cenderung menganggap para yunior ini ‘under performance’, tidak menghormati ajaran-ajaran seniornya, tidak bekerja sebaik para senior, dsb.  Saya kok tiba-tiba mempersonifikasikan diri sebagai yunior. Yang diadili. Padahal saya juga sudah pensiun.&lt;br /&gt;Karena tidak kuat memendam rasa, dari mulut saya terlontar komentar bernada bantahan dan pembelaan:&lt;br /&gt;Sudah tepatkah cara kita dulu mengajar para yunior ini, seperti cara para senior sepuh mengajar kita? Masih samakah medan kerja mereka dengan medan yang dulu kita hadapi? Apakah mereka mendapat pembimbing yang berkualitas, seperti kita dulu mendapat pembimbing yang berkualitas?&lt;br /&gt;Perbincangan yang potensial menjadi arena perbantahan mirip tayangan di televisi ini terputus karena batasan waktu. Dan kemudian saya menemukan sesuatu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikatan emosional seseorang dengan institusi tempat dia pernah bekerja akan berwujud sebuah kebanggaan, manakala (1) dia tahu bahwa institusi tersebut berkembang menjadi lebih baik sepeninggalnya, (2) ketika kembali berada di lingkungan institusi tadi, dia masih dikenal dan disapa dengan baik, apalagi karyanya masih diakui&lt;br /&gt;Dan apabila sebaliknya: yaaa  tahu sendirilah. Minimal sedih atau selebihnya: Bergunjing!&lt;br /&gt;Demikianlah, saya sudah selesai diadili. Dan karena ini tidak termasuk pelajaran sejarah yang ilmiah, maka referensinya hanya berdasar ingatan belaka, dan yang jelas tidak akan keluar dalam soal ulangan apalagi ujian nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(salam hangat untuk teman-teman: para yunior dan senior)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-9011978436806415675?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/9011978436806415675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/05/bergunjing-mengapa.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/9011978436806415675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/9011978436806415675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/05/bergunjing-mengapa.html' title='Bergunjing, mengapa?'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3273054922828942771</id><published>2010-04-30T10:13:00.002+07:00</published><updated>2010-04-30T11:36:10.841+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Bergunjing, ah !</title><content type='html'>Saya cuma mau nyambungkan judul dengan tulisan kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode nyaman yang dialami oleh para senior saya, rupanya tertanam sebagai kesan yang amat membanggaken hati ('ken' bukan 'kan). Zaman emas, di mana sebagian mereka telah menyelesaikan masa bekerjanya tanpa terganjal oleh kesalahan.&lt;br /&gt;Pengambil-alihan bisnis dari maskapai Belanda yang dinasionalisasikan pada penghujung tahun 50-an, mengharuskan para manajer dan staf Belanda untuk menyerahkan tugas dan tanggung-jawab mereka kepada para staf lokal, senior-senior sepuh (tua)saya. Sebagian besar dari mereka ketika itu berusia sekitar tigapuluh-empatpuluhan tahun, dengan pengalaman kerja sekitar lima-sepuluh tahun. Mereka tiba-tiba harus mengelola bisnis dengan segala permasalahan yang sebelumnya barangkali belum pernah diketahui dan diperkirakan.&lt;br /&gt;Bisnis unik ini (yang sekarang populer disebut agribisnis) berawal dari kebun atau lahan. &lt;br /&gt;Benih ditanam, dirawat, dilindungi dan kemudian dipanen secara cermat. Kendala irigasi, hama-penyakit dan cuaca, berdempetan dengan kualitas-kualitas  pemeliharaan, lahan, petani yang menggarap dan ahli yang mengkoordinasikan dan mengawasinya. &lt;br /&gt;Penanganan pasca-tebangpun harus prima; ancaman waktu dan cuaca (lagi-lagi!) harus dicermati dan diantisipasi.&lt;br /&gt;Banyak deh pokoknya!&lt;br /&gt;Belum lagi urusan proses pabrikasinya, penyimpanannya, mengatur sumber dan penggunaan duitnya. Wah, pusing.&lt;br /&gt;Tetapi itu semua dapat dilakukan pada masa itu, dengan bekal pengalaman pendek yang mereka miliki, berbasis panduan yang pernah didapatkan dari para Londo baik secara tertulis maupun praktek.&lt;br /&gt;Ada sebuah perbedaan prinsip tentang kepemilikan bisnis; yang sebelumnya milik sebuah maatschappij (nulisnya bener gak ya?) atau company sekarang menjadi milik negara. Kalau dulu ibarat milik seseorang yang riil sosoknya, pemilik sekarang menjadi abstrak, sehingga cara pertanggung-jawabannya menjadi sedikit berbeda.&lt;br /&gt;Dan, lagi-lagi 'mereka' para senior sepuh saya itu merasa sukses. Bisnis berjalan dengan baik, progresnya masih tetap positif, dan secara nyata imbalan kerjanya tetap bagus. Gaji dan fasilitas memuaskan sekali. Masa jabatan sebagai manajer relatif amat panjang; bagaimana tidak, saat itu mereka menggantikan posisi strategis yang ditinggalkan oleh para Londo ketika rata-rata masih berumur tigapuluhan tahun dan pensiun pada usia lima-lima: hampir seluruh usia kerjanya jadi manajer! Hebat, kan. Itulah yang dialami oleh generasi 'ambil-alih'. Era di mana kondisi industri masih seperti sebelumnya, kecuali manajemennya. Finansial masih kuat, sistem dan prosedur pengelolaan masih tetap cocok dan dijaga, dan yang mungkin menjadi fondasi dari segala hal tersebut: budaya kerja dan lingkungan belum terkontaminasi, tetap seperti semula yang sering disebut 'budaya feodal' (entah apa maksudnya!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stirahat lagi ya, dongengnya dilanjutkan besok ah, mudah-mudahan tetap enak dibaca. Kalaupun tidak, ya, maafkan saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3273054922828942771?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3273054922828942771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/04/manfaat-bergunjing.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3273054922828942771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3273054922828942771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/04/manfaat-bergunjing.html' title='Bergunjing, ah !'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-367311442059753524</id><published>2010-04-29T10:14:00.003+07:00</published><updated>2010-04-29T11:01:41.194+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Bergunjing</title><content type='html'>Berada di antara para senior yang telah pensiun, saya merasa 'diadili'. Ceritanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima-enam orang senior saya yang sudah pensiun lebih dulu, sekarang sering kumpul-kumpul di rumah salah-satu dari mereka. Acara rutinnya bersepeda-ria. Dan itu telah berjalan intens kurang lebih empat tahunan ini. Kelompok 65++ ini dulu berasal dari angkatan kerja yang sama, sekitar tahun 1966, di mana ketika itu Perusahaan lagi berada pada zaman 'keemasannya', sampai-sampai beberapa di antara karyawan pada era itu berasal dari para karyawan bank dan akuntan yang akhirnya memilih menyeberang untuk bekerja di industri gula. &lt;br /&gt;Pada saat itu, jaminan kesejahteraan relatif sangat baik bila dibanding dengan instansi lain. Dibandingkan dengan 'instansi' karena Perusahaan Perkebunan dan Pabrik-pabriknya masih sangat kental bau 'pegawai' semacam pegawai negeri. Pesaing yang lebih bergengsi paling-paling adalah Pegawai Kantor Pajak. Atau Colibri (begitu Unilever biasa disebut ketika itu). Gaji bagus, jaminan kesehatan sip, fasilitas kerja aduhai. Contoh:&lt;br /&gt;Seorang Kepala Tata-usaha Pabrik Gula pernah cerita: ketika menerima amplop gaji bulan ini, amplop gaji bulan sebelumnya masih utuh dan belum dibuka! Kalau dinas ke Kantor Pusat (jaman itu mereka menyebutnya : dines ke Direksi) maka dipilih kendaraan dinasnya pick-up, bukannya station atau jeep, karena selesai urusan dengan Kantor Pusat mereka akan belanja kulkas, tape-deck yang segede kulkas juga, itupun masih harus belanja titipan pesanan serupa dari kolega-kolega yang lain.&lt;br /&gt;Sakit dan opname juga membanggakan. Aneh ya! Ketika sebagian tetangga yang pegawai biasa sakit diopname di RSU milik Pemerintah, mereka dirawat di RS Swasta yang terkenal, yang lantainya kencang bau lisolnya. Yang 'bezoek'nya amat disiplin, yang tempat makan pasiennya bukan baki ompreng aluminium dengan cekungan tempat bubur, sayur dan daging, dan sendok bebek; tapi disajikan di atas baki beneran, dengan piring, mangkuk dan sendok 'alpacca'. Kebanggaan tuh, bagi yang sakit dan keluarganya, dan layak dipamerkan ketika sanak famili serta beberapa tetangga datang menyambangi.&lt;br /&gt;Berangkat kerja juga keren. Sementara yang lain berangkat bersepeda (jaman itu motor belum banyak) atau naik angkutan umum, mereka dijemput dan diantar pulang dengan bis pegawai yang catnya abu-abu terang (warna yang lagi ngetren saat itu) dan sisi kanan kirinya ada tulisan "BIS PEGAWAI". Berangkat rapi, pulang tetap rapi ( gak kerja kali, ya) karena kantornya gedung kuno warisan Londo, yang bersih mengkilat megah sampai ke kakus-kakusnya. Sejuk dengan plafon tinggi ventilasi lebaar ditambah 'waier' (entah gimana nulisnya yang benar, maksudnya adalah 'fan' alias kipas angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantesan, beberapa karyawan bujangan lelaki ketika itu mencadi calon mantu idaman, tempat calon mimpi digantungkan oleh para calon mertua. Para bachelor ketika itu pesaingnya cuma satu: kadet, calon perwira angkatan laut yang masih dididik di AAL, Akademi Angkatan Laut, yang kalau malam minggu 'pesiar' dengan seragamnya yang menarik hati, jalan dengan langkah rapi berdua-dua. Cuma itu kompetitornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata keadaan berubah. Pelan dan pasti. Pasti berubah, maksud saya. Sangat mengejutkan bagi mereka, senior-senior saya ketika mereka tiba-tiba harus dibangunkan dari mimpinya oleh gegap-gempitanya kenyataan. Saya adalah salah satu produk yang berada pada era sesudah mereka, ketika perubahan drastis datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok melantur ya; diadilinya kapan? Sabar dulu ah, capek! &lt;br /&gt;Bikin minum anget dulu yuk! disruput pelan.... segaaaaaar.&lt;br /&gt;Semoga Anda semua dalam keadaan sehat, doakan juga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-367311442059753524?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/367311442059753524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/04/bergunjing.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/367311442059753524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/367311442059753524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/04/bergunjing.html' title='Bergunjing'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2960676750516108700</id><published>2010-04-01T10:24:00.003+07:00</published><updated>2010-04-01T10:29:14.624+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Bekerja sebagai Pegawai</title><content type='html'>Senior saya dulu, adalah seorang senior sepuh yang masih ’bau pendidikan Belanda’,  pernah memberikan nasehat kepada saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai dan bobot Anda dalam bekerja memiliki beberapa derajat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apabila bekerja menunggu diperintah, maka bobot Anda adalah pesuruh.&lt;br /&gt; Apabila bekerja hanya meniru orang yang Anda gantikan, maka bobot Anda   adalah juru-tulis.&lt;br /&gt; Apabila dalam bekerja, Anda menyuruh orang untuk menirukan cara kerja seperti yang Anda lakukan, bobot Anda adalah klerk.&lt;br /&gt; Apabila Anda ketika bekerja juga berpikir dan belajar dengan mengembangkan pengetahuan agar pekerjaan Anda menjadi lebih mudah untuk Anda lakukan, bobot Anda adalah pegawai.&lt;br /&gt; Apabila Anda merumuskan agar pekerjaan Anda menjadi mudah, menarik dan menyenangkan bagi teman-teman dan atasan Anda, maka bobot Anda adalah pembaharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja semua harus dalam kerangka ’pekerjaan yang benar’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum sempat menyampaikan hal ini kepada Dicky dan Gurit. Semoga berguna bagi mereka dan teman-temannya yang lain, dan semoga merekalah para calon pembaharu di tempat bekerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2960676750516108700?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2960676750516108700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/04/bekerja-sebagai-pegawai.html#comment-form' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2960676750516108700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2960676750516108700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/04/bekerja-sebagai-pegawai.html' title='Bekerja sebagai Pegawai'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1983800251022204477</id><published>2010-03-31T13:48:00.001+07:00</published><updated>2010-03-31T13:52:47.848+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Salah Makan</title><content type='html'>Saya pikir, saya ini lagi kena dampak salah makan. Entah macam makanan seperti apa, yang ketika masuk ke dalam lambung kemudian mempengaruhi syaraf ngotot saya. Maunya nggak suka dikalah-kalahkan. Dalam segala hal. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika orang melempar saya dengan kerikil, saya akan balas dengan batu yang lebih besar, yang akan saya bidikkan ke kepalanya supaya dia tumbang.&lt;br /&gt;Ketika orang mencela perkataan saya, saya akan balas dengan mengumpatnya.&lt;br /&gt;Ketika saya lagi bicara dan orang menyelanya, saya akan terus bicara tanpa peduli bahwa pembicaraan akan jadi tumpang tindih.&lt;br /&gt;Ketika saya merasa terancam entah oleh siapa, saya akan menghantam siapapun yang saya anggap pantas saya hantam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan sudah mati kesadaran saya, bahwa saya yang semula selalu harus berpikir sebelum melakukan sesuatu, sekarang menjadi abai akan hal tersebut. Hantam saja, nggak ada urusan. Begitu.&lt;br /&gt;Rasa takut yang sepertinya tidak beralasan, telah menteror, merasuk dan menjadi bagian dari kepribadian saya akhir-akhir ini, dan membuat saya menjadi mudah beringas dan seolah tak punya lelah mengulangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi curiga.&lt;br /&gt;Pasti ada sesuatu yang salah yang telah dan selalu saya makan. &lt;br /&gt;Paling tidak, ada sesuatu unsur dalam makanan saya yang tidak benar. Entah itu memang bawaan dalam makanan tersebut atau ditambahkan dalam makanan tersebut entah oleh siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah itu diri saya, yang Anda lihat di tayangan-tayangan berita TV atau berita media lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakar, serang, lempar, umpat, musnahkan !!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah itu karena salah makan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1983800251022204477?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1983800251022204477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/03/salah-makan.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1983800251022204477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1983800251022204477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/03/salah-makan.html' title='Salah Makan'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2890505879774164939</id><published>2010-01-13T13:39:00.003+07:00</published><updated>2010-01-13T13:44:43.200+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>anang ke istana</title><content type='html'>ketika datang ke istana yang tak ubahnya &lt;br /&gt;                      rumah biasa bagi para penghuninya:&lt;br /&gt;tunggu, paklikmu masih ada tamu, demikian pesan buliknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika jam sepuluh malam dipanggil &lt;br /&gt;                        masuk ke kamar: salam-lekum, lik&lt;br /&gt;maka sabdanya:&lt;br /&gt;jangan bicara apa-apa, &lt;br /&gt;sekarang pijit seluruh badanku yang pegal rasanya, &lt;br /&gt;dan jangan berhenti sebelum aku tertidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sahutnya tanpa bisa berkata apa-apa:&lt;br /&gt;nggih !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu paginya &lt;br /&gt;dia tersenyum geli sendiri: apa mesti dikata &lt;br /&gt;                              kepada juragan besar kita&lt;br /&gt;bahwa misinya gagal-total&lt;br /&gt;bilang saja, kataku, &lt;br /&gt;pesannya sudah sampai &lt;br /&gt;                    dan beliau tak ada komentar apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(karena aku sudah menyampaikannya ketika &lt;br /&gt;                              kudengar dengkur lirihnya,&lt;br /&gt;dalam tidurnya yang begitu lelapnya, &lt;br /&gt;           setelah sehari suntuk bekerja untuk negrinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;LO, kira-kira 2001 – untuk adikku AAQ&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2890505879774164939?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2890505879774164939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/01/anang-ke-istana.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2890505879774164939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2890505879774164939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/01/anang-ke-istana.html' title='anang ke istana'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5045833841418596333</id><published>2010-01-11T11:21:00.002+07:00</published><updated>2010-01-11T11:36:44.873+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>selamat jalan, gus</title><content type='html'>gus,&lt;br /&gt;lama bersamamu&lt;br /&gt;kauajak aku bertamu ke tempat-tempat di mana kebersahajaan bertahta&lt;br /&gt;dalam rupa&lt;br /&gt;dalam jiwa&lt;br /&gt;tapi begitu bebal hatiku menangkapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kauajak aku bersamamu dalam tawa dan canda&lt;br /&gt;menepis rasa sesal yang dangkal&lt;br /&gt;menghalau segala haru-biru karena nafsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kauajak aku berteka-teki sesekali&lt;br /&gt;dan kaukejutkan aku dengan murkamu&lt;br /&gt;sehingga berkerut hatiku, berkerut nyaliku&lt;br /&gt;karena segunung rasa cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asyik bercanda bersamamu, gus&lt;br /&gt;seolah waktumu hanya untukku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu tak fahamnya aku tentang seluruh angan-anganmu&lt;br /&gt;begitu sedikitnya yang kumengerti tentang apa yang kau tahu  &lt;br /&gt;begitu pendeknya hari-hariku dibanding seluruh waktumu&lt;br /&gt;begitu besarnya kau, gus, tak terjangkau pikiranku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba rinduku menggunung&lt;br /&gt;ketika kulambaikan selamat jalan untukmu&lt;br /&gt;sementara engkau berlalu &lt;br /&gt;sambil berlagu penuh cinta, untuk anak-anakku, untuk seluruh saudaraku, untuk bangsaku, untuk seluruh umat manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga dibukakanNya surga untukmu, gus&lt;br /&gt;aku masih akan selalu belajar padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari kedelapan wafatnya gus dur, 6 januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;juanda, 1982:&lt;br /&gt;serombongan orang masuk ke terminal keberangkatan, &lt;br /&gt;hatiku berdegup kencang: abdurahman wahid, keluarganya dan orang-orang yang aku tak tahu&lt;br /&gt;lidahku kelu, mataku terpaku, lututku kebas-beku:&lt;br /&gt;dialah penulis kolom di ‘tempo’ yang selalu kutunggu kisah dan  buah-pikirannya &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5045833841418596333?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5045833841418596333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/01/selamat-jalan-gus.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5045833841418596333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5045833841418596333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2010/01/selamat-jalan-gus.html' title='selamat jalan, gus'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-7677551632649678747</id><published>2009-12-22T13:34:00.004+07:00</published><updated>2009-12-22T13:45:50.918+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Kuliah Akbar</title><content type='html'>Indonesia sedang menggelar kuliah akbar.&lt;br /&gt;Banyak kasus digelar, orang-orang pandai yang sering disebut pakar berbicara dengan sudut pandang masing-masing tentang segala hal.&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan kritis dilontarkan oleh banyak penanya dengan gaya masing-masing.&lt;br /&gt;Jutaan pasang mata dan telinga menyimak, mulai dari orang awam sampai para cerdik-pandai dan arif-bijaksana.&lt;br /&gt;Sebuah pergelaran yang tidak biasa terjadi, bahkan mungkin di seantero dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disayangkan apabila bahan yang sedemikian bagus untuk dikaji secara mendalam justru terlewat untuk dibahas secara bersemangat, ilmiah, bijak dan bermartabat di kampus-kampus oleh para mahasiswa dan para dosen beserta guru-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau saya yang memang tidak bisa melihatnya, karena hanya dapat menyaksikan demonstrasi-demonstrasi dengan banyak adegan fisik yang tipis nuansa ilmiahnya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-7677551632649678747?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/7677551632649678747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/12/kuliah-akbar.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7677551632649678747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7677551632649678747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/12/kuliah-akbar.html' title='Kuliah Akbar'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5143517160290353931</id><published>2009-11-24T10:51:00.002+07:00</published><updated>2009-11-24T11:03:14.785+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Demi Sebuah Tanggung-jawab (lanjutan)</title><content type='html'>Sebelum berangkat isterinya berpesan:  “Usahakan bisa dapat uang ya pak, Si Didi sudah ditagih SPP-nya, paling lambat besok harus dibayar, kalau tidak, dia nggak boleh ikut ulangan”&lt;br /&gt;“Pagi ini aku ngga jadi kulak gula sama sabun, duit warung udah terpakai, lagian si Roni kan musti ditungguin, badannya masih panas” Ya, sepulang dari dokter semalam Roni sempat bisa tidur, tapi lepas tengah malam panas badannya naik lagi dan muntah sampai tiga kali.&lt;br /&gt;Joni berangkat kerja dengan harapan uang ganti obat bisa didapat, meskipun dia tidak yakin.  Hari ini tadi dia tidak bisa bekerja dengan konsentrasi yang baik, apalagi ketika ternyata uang yang diharapkannya tidak diproses oleh bu Janti. Untung saja bosnya memahami kebutuhannya yang sangat mendesak tadi. Baru kali ini dia curhat masalah ’kebutuhan’ kepada bosnya. Terpaksa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah uang Rp 20 ribu dia berikan kepada isterinya, yang menerima dengan ekspresi datar-datar saja. Barangkali isterinya berpikir bahwa demikianlah seharusnya, tanpa tahu proses di balik uang Rp 20 ribu tadi. Si Roni panasnya sudah turun, mulai mau makan dan sekarang tidur nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang itu,  Joni duduk berdua dengan isterinya di beranda rumahnya yang sempit. Tanpa saling bicara, tenggelam dalam pikiran masing-masing.&lt;br /&gt;Joni masih berpikir tentang bu Janti.&lt;br /&gt;Perempuan ’penguasa’ yang mengurusi penggantian uang dokter dan obat di kantornya. Hampir semua karyawan tahu bahwa tidak gampang mendapatkan pelayanan yang baik dari bu Janti, bahkan kebanyakan pernah disemprot dengan kata-kata yang tidak enak didengar. Konon suaminya seorang adalah seorang staf dengan pangkat lumayan di BUMN lain, yang tentunya dengan gaji yang lebih dari cukup untuk hidup layak meskipun bu Janti tidak usah bekerja. Rupanya bu Janti bekerja bukan semata-mata untuk mendapatkan penghasilan, namun lebih karena dia seorang sarjana hukum yang memang sudah bekerja sejak sebelum menikah, sehingga baginya bekerja adalah sebuah kebutuhan untuk mengisi waktunya dan melanjutkan kebiasaannya di luar rumah.&lt;br /&gt;Bu Janti tidak pernah merasakan sebagai seorang ibu rumah-tangga yang kekurangan uang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, belanja, bayar SPP anak-anak, listrik, iuran kampung, amplop ketika diundang teman dan tetangga hajatan dan lain-lain. Beliau tidak punya tolok ukur terhadap hal semacam itu, karena baginya hal-hal semacam itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan kesehariannya.&lt;br /&gt;Sehingga empatinya nyaris tidak ada ketika dalam melakukan tugasnya dia banyak berhadapan dengan karyawan kecil macam si Joni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joni memandang isterinya dan membayangkan, andai saja yang berada di kantor itu adalah perempuan macam isterinya, maka ketika pagi-pagi tadi Joni datang dengan kuitansi tentu akan disegerakan memprosesnya, karena isterinya faham benar bahwa kedatangan Joni sepagi itu pasti demi sebuah tanggung-jawab. Dia membayangkan lagi perusahaan di mana dia bekerja penuh dengan orang-orang baik, lurus, penuh tanggung-jawab, dan ...... Ah,  tentu akan menjadi tempat bekerja yang menyenangkan, bukan semata-mata karena penghasilan yang diterimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;salam untuk peserta KMPM Angkatan 23/1995&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5143517160290353931?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5143517160290353931/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/demi-sebuah-tanggung-jawab.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5143517160290353931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5143517160290353931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/demi-sebuah-tanggung-jawab.html' title='Demi Sebuah Tanggung-jawab (lanjutan)'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5779772790472569200</id><published>2009-11-23T15:47:00.000+07:00</published><updated>2009-11-23T15:48:51.088+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Dua Puluh Ribu</title><content type='html'>Tahun 1995.&lt;br /&gt;Joni, seorang karyawan sebuah perusahaan Negara pagi-pagi sudah menunggu di kursi  tamu bagian SDM. Di tangannya ada dua lembar kertas, kuitansi pembelian obat dan copy resep dari apotek. Siapapun di kantor itu akan segera sadar bahwa Joni menunggu kedatangan bu Janti   di bagian SDM agar kuitansi pembelian obatnya dapat memperoleh penggantian.&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian ketika bu Janti dating, Joni segera menghampiri dan menyerahkan dokumen yang dibawanya. Bu Janti segera faham maksud si Joni. Tentu minta agar hari itu juga penggantian dapat dicairkan.  Nilainya Rp 20 ribu. Bu Janti berkata agar kuitansi tersebut dimasukkan ke map “Kuitansi” dan Joni diminta meninggalkannya. Ketika Joni membuka map tersebut, dia sempat melihat ada sekitar tujuh atau delapan kuitansi serupa. Hatinya terkesiap, jangan-jangan kuitansinya  tidak bisa dicairkan hari ini, padahal sebelum berangkat tadi isterinya sudah wanti-wanti berpesan agar diusahakan uang tersebut dapat dibawa pulang hari ini, karena besok harus dibayarkan untuk SPP  anak sulungnya. Uang yang tersisa di rumah hanya cukup untuk belanja tiga hari lagi.&lt;br /&gt;Joni dengan lemas meninggalkan ruangan SDM. Dia tahu betul watak bu Janti yang galak. Namun harapannya tidak padam. Nanti jam sepuluh dia akan menengok nasib kuitansinya. Mudah-mudahan sudah diselesaikan oleh bu Janti.&lt;br /&gt;Jam 10 lebih sedikit, Joni melongokkan kepala di sela pintu ruangan SDM. Bu Janti sedang makan di mejanya berhadapan denga bu Nelly. Ketika melihat Joni mendekat, bu Janti berkata: Beluuuuum, nanti!&lt;br /&gt;Joni balik dan berencana nanti setelah jam istirahat dia akan kembali. &lt;br /&gt;Ketika usai jam istirahat, bu Janti berkata: Belum sempat. Besok saja. Aku hari ini repot sekali. Sambil berdiri di sebelah meja bu Syane yang sedang mendisplai baju anak-anak, dagangan yang dibawa dari  rumah.&lt;br /&gt;Pandangan Joni gelap sesaat. Ia harus memutuskan: meminta penjelasan dari bu Janti atau mencari jalan lain untuk mendapatkan uang Rp 20 ribu.. Putusannya, daripada berdebat yang tak akan menang dengan bu Janti, dia memutuskan untuk mencari pinjaman kepada bosnya sendiri.&lt;br /&gt;Bosnya dengan senyum meminjamkan uang Rp 20 ribu kepada Joni. Meskipun di kantongnya sendiri tinggal tersisa Rp 5 ribu.&lt;br /&gt;( to be continued)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5779772790472569200?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5779772790472569200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/dua-puluh-ribu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5779772790472569200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5779772790472569200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/dua-puluh-ribu.html' title='Dua Puluh Ribu'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3012106290918065167</id><published>2009-11-20T11:13:00.004+07:00</published><updated>2009-11-20T12:17:05.205+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Benang Kusut</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SwYmQSXKZwI/AAAAAAAAAEk/KXH6SDh_Qe4/s1600/kusut.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 317px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SwYmQSXKZwI/AAAAAAAAAEk/KXH6SDh_Qe4/s320/kusut.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5406050463953610498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalo benang sudah kusut, cuma ada tiga cara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. buang yang kusut, cari benang baru yang tidak kusut&lt;br /&gt;2. yang kusut diputus dan dibuang, sisa yang tidak kusut gunakan untuk menjahit&lt;br /&gt;3. uraikan dan gulung kembali dengan rapi, lalu lanjutkan menjahitnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya itulah ke tiga pilihan yang bisa diambil salah satu agar dapat segera menjahit kembali. Masing-masing pilihan membawa konsekuensi finansial, waktu dan tenaga. Mana yang harus dipilih juga sangat tergantung seberapa mendesaknya kebutuhan untuk menjahit. Semakin mendesak mungkin pilihan no. 1 yang layak untuk dipilih. Itupun kalau duitnya cukup untuk membeli benang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekusutan yang terjadi di negeri ini tidak sesederhana benang yang kusut. Sudah kusut, masai pula (apakah itu masai?), super-kusut, biang-kusut, mbahne kusut, sehingga pantaslah kemudian banyak orang dan pemimpin terjebak di dalamnya. Dan lalu hanya terbengong-bengong, lalu malah berputar-putar di tengah benang, menjadikan keadaan yang sudah kusut jadi mangkin kusut lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musyawarah serta diskusi dengan adu argumentasi yang kalau di forum-forum akademik/kajian dilakukan secara beradab (adab intelektual), di sidang-sidang parlemen serta forum-forum publik sudah dilakukan secara vulgar dan memalukan. Suara makin keras, tangan jepaplangan (apa ya bahasa Indonesianya?), bahasa santun dilupakan, komunikasipun menjadi ikut kusut. Dan hasilnya seringkali tidak dapat disimpulkan. Tidak ada secuilpun yang dapat menjadi pelajaran dan contoh baik bagi penonton maupun pengamat, apalagi bagi generasi muda, kecuali sebuah pertunjukan sirkus: otot itu perlu, ngotot itu penting, macan itu bisa dijinakkan dengan kerangkeng, daging segar dan latihan dipukul sejak ketika masih bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Profesor Arif Rahman diminta menyampaikan tanggapan oleh Andy Noya pada acara Kick Andy yang menampilkan beberapa guru dan pustakawan, pak Profesor bertanya: berapa banyak di antara kita yang lebih mudah mengeluh dibanding dengan yang bersyukur? Ternyata lebih banyak yang mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menarik kesimpulan sendiri: barangkali oleh karena itu maka keadaan menjadi semakin kusut karena sebenarnya pikiran kita yang terjebak dalam pola pikir yang kusut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus tetap menjahit ketika benangnya ternyata kusut? Toh baju bisa dibeli atau suruh orang untuk menjahit tanpa harus menjahit sendiri?&lt;br /&gt;Memang bisa, tetapi cukupkah uang untuk membeli? Dan lagi,  fit-kah baju kodian dengan tubuh kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3012106290918065167?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3012106290918065167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/benang-kusut.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3012106290918065167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3012106290918065167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/benang-kusut.html' title='Benang Kusut'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SwYmQSXKZwI/AAAAAAAAAEk/KXH6SDh_Qe4/s72-c/kusut.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-495751806223798206</id><published>2009-11-07T11:53:00.004+07:00</published><updated>2009-11-07T12:03:04.811+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Kulkas, Pispot dan Superman</title><content type='html'>Panggung Indonesia Raya belakangan ini sedang menyelenggarakan pentas akbar. Tontonan bak pergelaran wayang kulit yang sarat dengan pelajaran, teladan namun juga penuh banyolan di sana-sini.&lt;br /&gt;Pergelaran ini dicermati oleh banyak penonton; dengan berbagai kesukaan dan minat masing-masing. Ada yang senang dengan tokoh-tokoh wayang tertentu, ada yang suka dengan ajaran dan filosofinya, ada yang senang dengan adegan perang antara Buto Cakil dan Raden Janoko-nya, ada yang sangat suka dengan dagelannya, ada juga yang sekedar senang melihat para pesinden yang cantik-cantik dan merdu suaranya. Ada pula yang datang bukan untuk menonton wayang tetapi karena mencari peluang untuk dapat mencopet penonton yang lengah-keasyikan.&lt;br /&gt;Hari berikutnya setelah pergelaran usai, di warung-warung kopi dan di tempat-tempat orang banyak berkumpul, timbul banyak forum diskusi yang seru. Topik utamanya adalah lakon yang digelar kemarin. Beberapa orang tampak bersemangat menyampaikan pendapat sesuai dengan minat dan persepsi masing-masing.  Ada pula yang tak kalah bersemangat mengompori diskusi tanpa peduli alurnya. Sebagian lagi sekedar duduk dan tertawa-tawa menyaksikan adu pendapat antara para pihak yang berbicara.&lt;br /&gt;Lalu, ketika mereka sudah capek berbicara, satu demi satu pulang ke rumah masing-masing dan melupakan semuanya: lakon wayangnya, pesindennya, dagelannya, kemahiran dalangnya bercerita. Dan kehidupan kembali ke kesehariannya, tak tampak adanya perubahan perilaku menjadi lebih baik, seperti pelajaran yang telah disampaikan oleh pak Dalang dalam pentas wayangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sedang sangat berhasrat untuk berubah menjadi lebih baik. Menjadi lebih beradab, seperti cita-cita sejak ketika negeri ini masih menjadi sebuah mimpi. Semua ingin keadaan yang lebih tertata, terbuka, aman, sejahtera, merdeka – bukan hanya dari penjajahan bangsa asing tetapi juga merdeka dari segala kesulitan dan ancaman, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri sendiri.&lt;br /&gt;Kemelut yang muncul ke permukaan pada saat ini lakon bakunya adalah: hukum. Salah satu instrument penjaga sistem, yang mungkin sedang diterapkan oleh masing-masing organ penjaganya dengan berbagai cara dan tafsir masing-masing, dan karena fihak lain tidak ('belum') sefaham terhadap alur, tafsir dan cara memperlakukannya, sehingga kemudian timbullah pertentangan dan friksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah anekdot lama, tentang orang dusun yang kaya, datang ke kota membeli kulkas sepuluh pintu (saking kayanya) dan menggunakannya di rumah sebagai lemari pakaian moderen, yang ’lebih beradab’.  Ada pula cerita tentang pispot yang digunakan sebagai wadah sayur asem, dan cawat bikinan luar negeri yang dikenakan di luar celana panjang bak Superman. Semua mereka berpandangan bahwa barang-barang tersebut adalah lambang peradaban, yang ketika digunakan maka martabat menjadi meningkat. Tetapi penerapan yang salah akan menggelikan, menyinggung martabat dan bahkan akan membahayakan bagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan instrument berbangsa dan bernegara yang bernama hukum. Kekeliruan penerapan berpotensi membahayakan salah satu fihak, kedua fihak, orang banyak, dan bahkan dapat menggoyahkan negeri beserta segenap isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia sedang berproses. Semoga kita semua yang ada dan terlibat di dalamnya tetap menjaga keutuhan bangsa dan negara dan tetap setia kepada cita-cita kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menyongsong Hari Pahlawan. MERDEKA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-495751806223798206?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/495751806223798206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/kulkas-pispot-dan-superman.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/495751806223798206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/495751806223798206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/kulkas-pispot-dan-superman.html' title='Kulkas, Pispot dan Superman'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-798189218606925917</id><published>2009-11-02T15:34:00.003+07:00</published><updated>2009-11-02T15:47:33.943+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Batalnya Pertandingan Tinju Nongelar</title><content type='html'>Hampir saja bogem mentah ditonjokkan ke muka, tapi keburu dipisah, bukan oleh wasit tapi oleh presenter. Beberapa jam yang lalu, saya batal menonton adu tinju nasional di televisi antara dua tokoh terkemuka.&lt;br /&gt;Barangkali wacana cicak-buaya ini memang sudah sedemikian memancing emosi, sehingga kedua tokoh kita tampak sekali lepas kendali. Saya percaya itu bukan akting dalam tayangan reality show yang di akhir tayangan selalu ditambah title : Tayangan ini sudah mendapatkan persetujuan pihak-pihak yang terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gawat juga apabila para beliau yang seharusnya arif dalam posisi harus mencerdaskan bangsa ternyata harus baku-bogem (untungnya ada yang memisah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabaaaar, bapak, biarkan masing-masing bicara, beri kesempatan yang lain juga untuk bicara.&lt;br /&gt;Saya lelah menyaksikan panggung peristiwa di negeri ini yang ceritanya serem melulu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-798189218606925917?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/798189218606925917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/batalnya-pertandingan-tinju-nongelar.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/798189218606925917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/798189218606925917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/11/batalnya-pertandingan-tinju-nongelar.html' title='Batalnya Pertandingan Tinju Nongelar'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-8237051820117868743</id><published>2009-10-29T09:15:00.007+07:00</published><updated>2009-10-30T09:35:16.195+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>The Killing-field</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SukjV2r8s9I/AAAAAAAAAEU/LVzA1dqmcgA/s1600-h/rambu.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SukjV2r8s9I/AAAAAAAAAEU/LVzA1dqmcgA/s320/rambu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397884486744323026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ke sekian kalinya, saya sampaikan kepada Anda sekalian bahwa saya merasa ngeri melihat perilaku sebagian (besar) pengguna jalan raya.&lt;br /&gt;Main potong jalur secara tiba-tiba, bersilambat di lajur yang tanggung posisinya dan beberapa perilaku berisiko lainnya.&lt;br /&gt;Kecelakaan yang berakibat kerusakan kendaraan, luka ringan, luka berat, cacat tubuh bahkan kematian, rupanya sudah bukan menjadi hal penting. Karena barangkali kita sudah dibuat kebal oleh segala macam pemberitaan di hampir semua media, lengkap dengan tayangan foto dan videonya. Tubuh yang tergeletak bersimbah darah, hancur berceceran, kendaraan ringsek berkeping-keping luluh-lantak. Tayangan tersebut mungkin hanya dalam bilangan detik mampu memancing emosi kita, dan lalu sesaat kemudian lewat dari ingatan. &lt;br /&gt;Segala pemasangan rambu, penataan lajur jalan, perbaikan fisik permukaan jalan tidaklah cukup. Demikian pula dengan segala perbaikan tatacara administrasi untuk mendapatkan SIM maupun legalisasi dokumen kendaraan. Semua itu nyaris tidak berdampak pada perilaku seseorang berkendara.&lt;br /&gt;Bahkan pengaturan pemakaian helm dan sabuk keselamatan, menyalakan lampu depan bagi kendaraan roda dua (R-2) di siang hari serta wajib lajur kiri bagi R-2 seakan hanya sebuah karnaval musiman, atau bahkan pesan sponsor yang lebih menonjol sponsornya ketimbang pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sudah waktunya 'kekejaman' dilakukan oleh Yang Berwajib, dengan lebih aktif menindak pelanggaran yang berpotensi menjadi kecelakaan, sebelum terlambat dan nantinya jalanan berubah menjadi killing-field, di mana bukan saja etika diabaikan, tetapi hukum rimba yang dijalankan di depan mata, dengan manusia menjadi pelaku dan sekaligus calon korbannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran media? &lt;br /&gt;Menayangkan sebuah kejadian kecelakaan sebagai 'hanya' sebuah berita (dengan segenap detilnya) patut dievaluasi kembali, dan untuk ini barangkali misi pemberitaan perlu dikaji ulang agar publik tidak sekedar mendapatkan informasi akan tetapi mampu menyerap nilai yang terkandung dalam berita yang dibaca dan ditonton, untuk kemudian memperoleh 'pencerahan', meskipun sekedar tentang berlalu-lintas yang etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak faktor yang menjadi pendorong dan pemicu keganasan berlalu-lintas. Jadwal kerja, cuaca, kondisi jalan, pemakai jalan yang lain dan hal-hal lainnya. Tentu sangat dimaklumi, namun rasanya tidak dapat ditoleransi apabila hal-hal tersebut kemudian digunakan sebagai alasan yang mendorong timbulnya sikap 'lu kaga penting, urusan gua yang nomer satu'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita tidak pernah akan menjadi korban, apalagi berpikir untuk menjadi pelanggar etika dan aturan lalu-lintas, agar jalanan kita tidak menjadi the Killing-field.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-8237051820117868743?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/8237051820117868743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/killing-field.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8237051820117868743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8237051820117868743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/killing-field.html' title='The Killing-field'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SukjV2r8s9I/AAAAAAAAAEU/LVzA1dqmcgA/s72-c/rambu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-488150213990093355</id><published>2009-10-27T12:59:00.003+07:00</published><updated>2009-10-27T13:42:45.401+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Reposisi</title><content type='html'>Banyak komentar. Riuh di kantin, di sudut ruang kerja, di lobby, di klinik bahkan di dalam mobil ketika dalam perjalanan dinas. Penyebabnya ? Biasa. Mutasi di pucuk organisasi.&lt;br /&gt;Para komentator saling mengemukakan pandangannya terhadap tokoh baru yang muncul, tokoh lama yang bergeser posisi, dan tokoh lama yang terlempar ke luar dari jajaran pimpinan.&lt;br /&gt;Berbagai cerita tentang sebab-musabab seseorang terpilih atau gagal dilantik menjadi pemimpin banyak dipaparkan dalam pembicaraan di luar forum-forum resmi. Termasuk latar-belakang dan masa lalu para selebriti lokal tadi. Berbagai versi yang berasal dari berbagai fihak dapat didengar, beserta bumbu-bumbu penyedapnya yang terkadang menjadi penambah 'serem' atau 'bening' profil seseorang. Tergantung pembicaranya condong berfihak kepada tokoh yang mana. &lt;br /&gt;Lalu pembicaraan akan juga menyentuh kelanjutan organisasi. Masa depan, pasca reposisi pimpinan. &lt;br /&gt;Akankah keadaan kemudian berubah cerah seperti matahari pagi hari sehabis hujan, atau akan menjadi berkabut dan penuh debu?&lt;br /&gt;Atau bahkan perjalanan organisasi akan menjadi lebih terseok-seok lagi dari sebelumnya, disertai duka-lara dan sesal tak terhingga akibat pemilihan pemimpin yang ternyata tidak fit dan tidak proper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa penyesuaian segera berlangsung. Dimulai dengan pengenalan multi arah, atas-bawah dan samping-menyamping. Kemudian evaluasi berdasar pengamatan sekilas tentang potensi dan kompetensi masing-masing yang terlibat. Dilanjutkan dengan perakitan visi-misi-program dan seterusnya yang dimulai dari kelompok kecil kemudian berlanjut ke kelompok-kelompok besar masing-masing.&lt;br /&gt;Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses yang berlangsung tentu bertujuan untuk dapat menghasilkan keadaan yang lebih baik. Perbaikan suasana dan hubungan antarpribadi, kesejahteraan dan rasa aman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah proses yang terjadi akan menghasilkan sesuatu yang mengarah kepada harapan semua fihak, yaitu: peningkatan harkat dan martabat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-488150213990093355?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/488150213990093355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/reposisi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/488150213990093355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/488150213990093355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/reposisi.html' title='Reposisi'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3122751595264832543</id><published>2009-10-21T15:34:00.004+07:00</published><updated>2009-10-21T15:49:44.399+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Doeloe</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/St7IY3_lfmI/AAAAAAAAAEM/y0KKIKWFnoQ/s1600-h/03102008(006).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/St7IY3_lfmI/AAAAAAAAAEM/y0KKIKWFnoQ/s320/03102008(006).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5394969733309496930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gedung yang ada gambarnya mirip cap rokok djisamsoe ini dulu aku pernah sekolah.&lt;br /&gt;Sayang sekarang ditembok tinggi, digerbangi tinggi juga, sehingga aku tidak bisa melihat bangunan 'bersejarah' ini secara utuh.&lt;br /&gt;Agak kecewa juga sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu di sana ada dua pohon palem kembar, persis mengapit tangga depan. Tangki air? Nggak ada. Juga kabel-kabel yang merentang semrawut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang sepulang sekolah dan sesudah makan, aku suka main di sana. Halamannya bersih berpasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh aku datang untuk napak-tilas bersama anak-anak, ternyata yang terlihat cuma tembok dan sebagian atap. Masih lumayan cap BALE MANDALA itu tetap ada.&lt;br /&gt;Ya sudah, mau apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3122751595264832543?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3122751595264832543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/doeloe.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3122751595264832543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3122751595264832543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/doeloe.html' title='Doeloe'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/St7IY3_lfmI/AAAAAAAAAEM/y0KKIKWFnoQ/s72-c/03102008(006).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2599033864346318897</id><published>2009-10-13T13:06:00.003+07:00</published><updated>2009-10-13T13:40:19.193+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Kapan-kapan Saja</title><content type='html'>Ini pengalaman saudara saya yang pernah menjadi Ketua RT dan anggota Panitia Pemilihan Ketua RT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, di lingkungan tempat tinggalnya orang cenderung ogah jadi Ketua RT. Ketika penjaringan dilakukan, wah, susah bukan main merayu warga untuk bersedia dicalonkan menjadi kandidat. Adaaa saja caranya mengelak, yang sibuk kerja-lah, yang anaknya masih kecil-kecil-lah, yang merasa terlalu muda dan belum pantes mimpin yang tua-tua lah. Ada juga yang beralasan sudah terlalu tua, tidak akan mampu lagi melayani warga karena fisik yang sudah tidak begitu segar, pemikiran yang kuno, dan sebagainya. Macam-macam.&lt;br /&gt;Berbagai counter dilakukan oleh saudara tadi untuk memotivasi para calon kandidat tersebut. Kepada yang masih muda dikatakan: ini peluang untuk dapat belajar lebih banyak mengenali lingkungan sosial, memperluas pergaulan, membuat lingkungan masyarakat lebih dinamis dengan ide-ide segar.&lt;br /&gt;Kepada yang sibuk dikatakan: Anda kan tidak harus bekerja sendiri. Pengurus RT yang lain pasti akan membantu. Kerepotan akan dapat diatasi bersama-sama.&lt;br /&gt;Kepada yang sudah berumur dikatakan: Bapak kan sekarang kan sudah pensiun, lebih banyak waktu untuk sosialisasi dan sekaligus ini kan juga ladang ibadah mengisi hari tua.&lt;br /&gt;Tampaknya lebih banyak yang gamang daripada yang menyanggupi untuk dicalonkan.&lt;br /&gt;Kalaupun ada sedikit kesediaan, biasanya disertai permintaan untuk sekedar menjadi penggembira, bukan untuk nantinya jadi Ketua RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pembicaraan dialihkan: apa ide-ide atau saran untuk kemajuan RT di masa datang, tampaknya para calon yang akan dijaring ini mulai bersemangat bicara. Mulai dari usulan untuk perbaikan got, arisan Bapak-bapak, transparansi laporan keuangan, sampai ke usulan untuk membongkar pagar salah satu tetangga yang menjorok ke jalan karena digunakan sebagai pengaman parkir mobilnya. Juga pendapat agar salahsatu pengurus (yang sekarang) diganti, karena pernah mengetok pintunya ketika dia tengah enak-enaknya tidur, gara-gara parkir mobilnya kurang mepet sehingga mobil tamu si pengurus tersebut kesulitan lewat.    &lt;br /&gt;Saudara saya tadi menimpali:&lt;br /&gt;Bukankah kalau Bapak bersedia menjadi Ketua RT, ide-ide tadi lebih mudah direalisasikan?&lt;br /&gt;      Wah, ini kan sekedar pendapat saya, to pak.&lt;br /&gt;Jadi?&lt;br /&gt;      Ya seharusnya hal-hal tadi yang perlu diperhatikan ketua dan pengurus RT.&lt;br /&gt;Jadi Bapak bersedia kan, dicalonkan untuk menjadi ketua RT?&lt;br /&gt;      Ah, kapan-kapan saja. Banyak yang lebih baik daripada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooooo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2599033864346318897?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2599033864346318897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/kapan-kapan-saja.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2599033864346318897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2599033864346318897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/kapan-kapan-saja.html' title='Kapan-kapan Saja'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1211349347098268360</id><published>2009-10-12T13:53:00.002+07:00</published><updated>2009-10-12T13:59:24.498+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>taman rindu</title><content type='html'>hamparan taman penuh bunga&lt;br /&gt;penuh cahaya&lt;br /&gt;penuh cinta&lt;br /&gt;sarat makna&lt;br /&gt;sarat rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sarat sendu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;keputih – awal juli 2007&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;felix christian dalam kenangan, &lt;br /&gt;setelah hari keseribu keberangkatannya pulang, &lt;br /&gt;kembali ke negeri asal-muasal&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1211349347098268360?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1211349347098268360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/taman-rindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1211349347098268360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1211349347098268360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/taman-rindu.html' title='taman rindu'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-8686954892442063119</id><published>2009-10-08T12:04:00.005+07:00</published><updated>2009-10-08T12:41:13.593+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Malioboro, Kuda dan Saya</title><content type='html'>Entah siapa yang salah, kudanya atau pejalan kakinya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah dokar (andong, sado, delman) hampir menabrak sekumpulan pelancong yang nyelonong masuk ke jalur becak dan andong di malioboro.&lt;br /&gt;Untung kusir dokarnya waspada, tepat sebelum boom (boom konon adalah dua batang kayu yang mengapit kuda dokar), tepat sebelum boom mengenai muka para pejalan kaki, mas kusir menahan laju andongnya dengan sigap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya kemarin, seperti biasa Malioboro penuh pengunjung. Karena emperan toko terlalu disesaki para pembelanja, sebagian orang pindah berjalan ke jalur sebelahnya, jalur andong dan becak. Lumayan lega, meskipun di sudut-sudut tertentu bau pesing, entah bekas kencing kuda atau kencing manusia. Dan ada pula yang basah, entah sisa minuman orang entah pula anunya kuda tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya itu tadi. Musti ekstra waspada. Salah-salah keserempet becak atau andong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Malioboro beberapa hari lalu itu, saya mendapatkan "pencerahan" bahwa : kemeriahan lebaran yang disambut dengan wisata ke Malioboro sesungguhnya azab bagi kuda-kuda yang menarik andong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia harus bekerja keras, dan oleh karena itu bossnya dapet duit banyak.&lt;br /&gt;Dia harus menahan sakit, karena berkali-kali kekang di mulutnya ditarik bossnya supaya menahan langkah dan berhenti atau berbelok.&lt;br /&gt;Dia harus menahan capek akibat berlama-lama berdiri dan berjalan, karena kuda dilarang tidur rebahan di jalan Malioboro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan oleh karena itu, dia tidak pernah minta maaf, ketika andongnya menyerempet orang yang berjalan meleng.&lt;br /&gt;Dia juga tidak minta maaf ketika "ilernya" yang menetes ketika dia berjalan, mengenai orang di dekatnya.&lt;br /&gt;Dia juga tidak minta maaf, ketika tiba-tiba dari arah bawahnya keluar air dan menciprati pejalan kaki di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua ha-hal yang salah dilakukannya maupun tidak pantas dilakukannya, dia tidak pernah minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya kan bukan kuda,&lt;br /&gt;untuk itu,&lt;br /&gt;karena saya tidak ingin menjadi dan seperti kuda maka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersama ini saya menyampaikan permintaan maaf karena:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya sudah menggilas, menabrak dan menyerempet banyak teman dan saudara saya&lt;br /&gt;saya sudah mengencingi dan meludahi banyak teman dan saudara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja andika semuanya sudi memaafkannya, agar saya tidak tampak seperti kuda di hadapan andika sekalian, teman-teman dan saudara saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merindukan andika semuanya,&lt;br /&gt;siapa tahu kita lebaran depan bisa bertemu di Malioboro,&lt;br /&gt;untuk bersama-sama melihat, apakah para kuda di sana sudah berubah perilakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-8686954892442063119?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/8686954892442063119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/malioboro-kuda-dan-kita.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8686954892442063119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8686954892442063119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/10/malioboro-kuda-dan-kita.html' title='Malioboro, Kuda dan Saya'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2410348561825895652</id><published>2009-09-16T13:37:00.003+07:00</published><updated>2009-09-16T13:52:48.616+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>senja esok lusa</title><content type='html'>engkau  datang  dan  sekian  lama  ada  bersamaku&lt;br /&gt;kutatap  kau,  apa  gerangan  yang  ada  padamu&lt;br /&gt;isyarat  demi  isyarat  kau  sampaikan  padaku  dalam  senyap  dan  penuh  damai&lt;br /&gt;tanpa  kata-kata  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senja  esok  lusa  habis  waktumu&lt;br /&gt;lalu&lt;br /&gt;adakah  selama  ini  hadirmu  berlalu  sia-sia&lt;br /&gt;dan  nanti  cuma  tinggal  cerita&lt;br /&gt;bahwa  aku  pernah  bersamamu  di  suatu  ketika  &lt;br /&gt;dan  aku  tak  berbuat  apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ramadhan,&lt;br /&gt;berjuta  berebut  kasih-sayangmu&lt;br /&gt;berabad waktu  berlalu  dan  senantiasa  bakal  tetap  tiba&lt;br /&gt;hari-hari  ini  kutatap  kebesaran  dan  kelembutanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanku,&lt;br /&gt;dibawanya  kasih-sayangMu&lt;br /&gt;berlimpah-ruah  berkah  dan  ampunan  bagi  umat  yang  melihat  keMahabesaranMu&lt;br /&gt;ampuni  aku&lt;br /&gt;ketika  Kau  utus  waktu  ramadhan  sebagai  pembawa  tanda kebesaranMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ramadhan&lt;br /&gt;ketika  dia  tiba  kembali  nanti&lt;br /&gt;ijinkan  aku  masih di sini,  Tuhanku&lt;br /&gt;ijinkan  aku  menjadi  hambaMu&lt;br /&gt;sampai  ramadhan  dan  ramadhan  dan  ramadhan&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;ramadhan&lt;br /&gt;sampai  aku  tak  hanya  menatap  ramadhanMu, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;surabaya 2003-2004&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2410348561825895652?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2410348561825895652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/09/senja-esok-lusa.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2410348561825895652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2410348561825895652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/09/senja-esok-lusa.html' title='senja esok lusa'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1700524042369785656</id><published>2009-09-14T15:40:00.002+07:00</published><updated>2009-09-14T15:46:28.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Rejeki</title><content type='html'>Rejeki sering dikonotasikan secara pendek dengan penghasilan, atau uang. Padahal tidak selalu begitu. Lihatlah, seorang ibu muda yang menggendong bayi - anak dari temannya. Tiba-tiba bayi itu mengompol digendongannya, maka katanya: waah rejeki ini, bakal cepet ketularan punya momongan. Bahkan kadang seorang yang tiba-tiba terpijak kotoran ayam, sambil tertawa bilang: waah bakal dapat rejeki apa nih... padahal jelas-jelas kaki atau alas kakinya kotor dan bau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru saya pernah bilang setengah berfilosofi:&lt;br /&gt;Rejeki dari Tuhan itu datangnya seperti hujan yang jatuh ke seluruh permukaan tanah. Setiap jengkal tanah akan mendapat curahan air yang sama banyak. Artinya, rejeki yang diberikan kepada setiap orang sebenarnya sama banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kemudian masing-masing mendapatkan jumlah yang berbeda, masalahnya terletak kepada wadah yang disiapkan. Ada orang yang  membangun kolam untuk menampungnya, orang yang lain hanya menyediakan ember untuk itu. Sedang orang yang lain lagi hanya menyiapkan cangkir. Jelas air yang akan tertampung di masing-masing wadah akan berbeda jumlahnya.&lt;br /&gt;Sama-sama disiapkan ember pun, jumlah yang tertampung bisa berbeda, karena satu orang meletakkan ember terbuka ke atas secara datar, sedang pemilik lain ada yang menaruh embernya miring, dan yang lain lagi malahan menaruh embernya rebah, yang sampai kapanpun rejeki tak akan tertampung, paling-paling embernya hanya basah sebentar. Apa lagi kalau embernya ditengkurapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bukannya sedikit atau banyak yang diberikan, tetapi seberapa besar kita telah menyiapkan wadahnya dan bagaimana wadah yang sudah disiapkan itu diletakkan secara benar.&lt;br /&gt;Masuk akal juga kata guru saya  tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berikutnya:&lt;br /&gt;Berapapun besar kolam yang kita sediakan untuk menampung curahan rejeki, kalau dindingnya tidak dibuat secara benar, maka hujan yang tertampung pada akhirnya hanya akan terserap atau terbuang sia-sia tanpa pernah memberikan manfaat bagi pemilik kolam. Tetapi secangkir air, kalau kemudian direbus dan dimasukkan gula dan kopi, akan menjadi minuman yang lezat bagi pemilik cangkir atau tamu yang mendapatkan suguhan kopi tadi.&lt;br /&gt;Menurut saya benar juga, lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apakah wadah yang sudah saya siapkan? Jangan-jangan saya tidak pernah memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ada-ada saja guru saya yang satu ini.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah rejeki hanya semata-mata soal penghasilan? Jangan-jangan, membaca tulisan ini pun sebenarnya adalah rejeki? Mungkin tergantung bagaimana Anda mengaksepnya. &lt;br /&gt;Permisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kenang-kenangan dan sekaligus pelajaran dari pak Trianggono&lt;/span&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1700524042369785656?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1700524042369785656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/09/rejeki.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1700524042369785656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1700524042369785656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/09/rejeki.html' title='Rejeki'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-7834793736530758808</id><published>2009-08-19T10:02:00.000+07:00</published><updated>2009-08-19T10:10:07.843+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>dua matra</title><content type='html'>jauh di atas awan&lt;br /&gt;terlihat alam membentang dengan segala kebesaran wujudnya&lt;br /&gt;yang seolah aku ingin menggenggamnya, astaghfirullah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di alas sajadah&lt;br /&gt;jutaan makhluk Allah melakukan tugas hidupnya&lt;br /&gt;yang aku tak mampu melihatnya&lt;br /&gt;subhanallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-7834793736530758808?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/7834793736530758808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/08/dua-matra.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7834793736530758808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7834793736530758808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/08/dua-matra.html' title='dua matra'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3321691807506371179</id><published>2009-08-12T13:15:00.001+07:00</published><updated>2009-08-12T13:23:00.476+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Kemong</title><content type='html'>Kemong adalah sebutan gaya Suroboyo-an untuk sebuah tabuhan mirip gong dengan diameter antara 25-35 cm. Alat ini ditabuh atau dipukul bukan untuk iringan musik, tetapi sebagai penanda ketika sebuah kampung ada warganya yang meninggal. &lt;br /&gt;Biasanya, ketika ada seorang warga kampung meninggal, maka kemong akan ditabuh berkeliling kampung, lalu warga yang mendengar akan keluar dari rumah untuk menanyakan kepada si penabuh atau pengiringnya - biasanya anak-anak atau beberapa anak muda yang ikut berkeliling – ikhwal tentang tetangga yang meninggal: siapa, kapan meninggal, karena apa, kapan dimakamkan, di mana dan sebagainya. Lalu kabar tersebut secara berantai ditularkan kepada tetangga lainnya. Duplikasi informasi yang simpel namun sangat efektif. &lt;br /&gt;Untuk melengkapi informasi tentang rumah duka, maka di ujung jalan atau gang akan dipasang bendera putih bergambar palang-merah, yang ukurannya sekitar 40x40 atau 50x50 cm. Entah kenapa kok palang-merah, barangkali ada hubungannya dengan Surabaya yang pada jaman dulu pernah menjadi ajang perang perjuangan melawan Sekutu dan Nica di tahun 1945, di mana ketika itu lokasi perawatan korban yang berada di kampung-kampung diberi tanda dengan bendera palang merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dengan urusan kemong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan yang sederhana ini sekarang sudah semakin jarang digunakan, barangkali kalah dengan sarana komunikasi yang baru: HP, yang tidak bising, tidak capek, praktis. Tinggal omong-omong atau pencet-pencet, kirim, habis perkara. Tetapi ternyata bukan hanya perkara yang habis. Nuansa kerukunan model kampung Suroboyo-an juga ikut menjadi terkikis.&lt;br /&gt;Ketika dulu kemong ditabuh, warga kampung keluar rumah, omong-omong antar tetangga, bikin janji untuk ketemu, takziah, melayat, mengantar ke kubur, bertemu dengan tetangga lainnya sambil saling berkabar keadaan masing-masing. Sungguh sebuah model kehidupan bermasyarakat yang sejuk dan menyenangkan, sehingga terkadang membuat sebuah keluarga enggan meninggalkan kampungnya untuk pindah ke pemukiman baru yang jalannya lebih lebar dan lingkungannya lebih lega. Enggan kehilangan nuansa keakraban bertetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemong juga sebuah alat ukur sederhana untuk mendeteksi tingkat partisipasi bermasyarakat seseorang. Ketika mendengar kemong ditabuh dan seseorang tidak keluar dari rumah (padahal tidak sakit) maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut mempunyai masalah dengan kemampuan sosialisasinya, dan apabila tindakan seperti ini terjadi berkali-kali, maka para tetangga akan mencatatnya untuk kemudian disikapi bersama-sama ( kok agak mengancam, ya?! ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemong sekarang sudah hampir musnah karena barangkali masyarakat menganggap penggunaan kemong sudah tidak layak-tayang lagi. Seiring dengan itu, saya pernah menjumpai sebuah keluarga yang ayahnya meninggal ( pada malam hari jam 9 ), di rumah duka itu hanya ada anak, pembantu, 2-3 orang famili dan 2-3 orang teman (yang notabene mereka semua bukan tetangga, yang  semuanya tinggal jauh dari rumah tersebut) datang untuk takziah. Dari lingkungan sekitar rumah duka tersebut hanya hadir hansip/satpam, itupun karena mereka menggeser pos jaga ke arah yang berdekatan dengan rumah duka.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin menghilangnya kemong di Surabaya apakah juga pertanda semakin menipisnya solidaritas sosial gaya Suroboyo-an, ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3321691807506371179?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3321691807506371179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/08/kemong.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3321691807506371179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3321691807506371179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/08/kemong.html' title='Kemong'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1901273561493358196</id><published>2009-08-10T15:07:00.003+07:00</published><updated>2009-08-10T15:18:48.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>cermin</title><content type='html'>tiba-tiba&lt;br /&gt;cermin ada di mana-mana&lt;br /&gt;di kamar&lt;br /&gt;di pintu&lt;br /&gt;di beranda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di koran, di teve, di radio, jalanan, warung kopi&lt;br /&gt;di majelis-majelis, di kampus-kampus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di wajah pembesar, pengamen, guru, polisi, tahanan, artis, pesulap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di langit, di pepohonan, di ceruk-ceruk gelap dan di pentas pertunjukan&lt;br /&gt;di hati, di mimpi, di lamunan yang berkepanjangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kadang meleleh, luluh-lumer menyatu dengan denyut nadi&lt;br /&gt;kadang membatu kaku keras menyakitkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kadang menyilaukan kadang transparan kadang buram kadang menghilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akankah memberi arti&lt;br /&gt;bagi jiwa&lt;br /&gt;dan kehidupan ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1901273561493358196?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1901273561493358196/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/08/cermin.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1901273561493358196'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1901273561493358196'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/08/cermin.html' title='cermin'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-7635320556735259477</id><published>2009-07-18T14:04:00.001+07:00</published><updated>2009-07-18T14:04:11.683+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Lima Detik</title><content type='html'>Di beberapa rumah ketika saya bertamu, sering saya lihat foto salah satu penghuninya sedang bersalaman dengan pembesar. Pembesar itu bisa presiden, tokoh selebriti, penggede partai atau semacamnya. Sebuah foto yang mengesankan, betapa tidak: tangan saling berjabatan, badan agak condong dengan wajah berhias senyum, berlatar jajaran tokoh lain atau back-drop yang menandai even tertentu. Membanggakan sekali, dan oleh karenanya, foto tersebut dipasang di tempat yang mudah terlihat.&lt;br /&gt;Even jabat-tangan yang mungkin hanya berdurasi lima detik tersebut, meninggalkan kesan mendalam selama bertahun-tahun bagi pemilik foto. Sebuah kebanggaan yang perlu diabadikan untuk diketahui oleh anak-cucu dan sanak-famili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sejenak setelah berjabatan (mungkin lima menit atau bahkan lima detik kemudian) pak/bu presiden dan pak/bu tokoh sudah lupa dengan siapa dia baru saja bersalaman. Atau bahkan tidak kenal. Atau bahkan ketika tangan bersalaman beliau tidak melihat siapa yang berada didepannya dengan seksama. Lewat begitu  saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pemimpin, berarti menjadi pusat perhatian. Kata, sikap bahkan masa-lalunya terkadang menjadi sumber semangat dan inspirasi bagi orang banyak, setidaknya bagi anak keturunannya. Karenanya harus terjaga benar-benar .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggung peristiwa di negeri ini setiap saat berganti dengan amat cepat,  tokoh-tokoh yang menjadi pelakon senantiasa muncul untuk memainkan perannya di sana. Dialog, monolog silih berganti, dan penonton menyimaknya.&lt;br /&gt;Akting buruk, akting bagus, bukan sekedar untuk mendapatkan award atau piala, tetapi akan memberi arah dan jejak kepada perjalanan bangsa menuju ke masa depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adakah itu akan dilakukan dengan pertimbangan sekenanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya menyimaknya, seperti ketika saya mengamati makna yang ada di balik foto jabat-tangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam damai, damailah negeriku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-7635320556735259477?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/7635320556735259477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/lima-detik.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7635320556735259477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7635320556735259477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/lima-detik.html' title='Lima Detik'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6423228295808383060</id><published>2009-07-17T21:10:00.000+07:00</published><updated>2009-07-17T21:14:33.151+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>GAK MUTU</title><content type='html'>gak mutu&lt;br /&gt;gak mutu&lt;br /&gt;gak mutu&lt;br /&gt;gak mutu&lt;br /&gt;gak mutu&lt;br /&gt;gak mutu&lt;br /&gt;gak mutu&lt;br /&gt;..................&lt;br /&gt;BLAS GAK MUTU&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6423228295808383060?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6423228295808383060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/gak-mutu.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6423228295808383060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6423228295808383060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/gak-mutu.html' title='GAK MUTU'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2639894630888899774</id><published>2009-07-16T06:42:00.001+07:00</published><updated>2009-07-16T06:50:47.861+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di antara teman'/><title type='text'>Masih Diberi Waktu</title><content type='html'>Oktober 2008&lt;br /&gt;Setelah menempuh perjalanan dengan bus Surabaya-Kutoarjo selama nyaris 10 jam (plus istirahat makan dan menunggu jam keberangkatan), saya menetapi janji kepada mas Amir Faisol untuk hadir di pertemuan reuni 39 tahun perpisahan di antara kami. Malam itu saya menginap, di rumah beliau (eh, rumah beliau dan mbak Titik, isterinya), di jalan Diponegoro 61, kidul alun-alun Kutoarjo, persis di tepi lintasan bus  Jogja-Purwokerto. Tahun kemarinnya saya tidak bisa hadir, tetapi sekeping VCD rekamannya yang dikirim telah menjadi pengobat rindu.&lt;br /&gt;Momentum ini adalah sebagai ajang saling melepas kangen dan bicara tentang kenangan indah masa lalu, demikian malam hari itu mas Amir Faisol rasan-rasan dengan saya, ketika teman-teman yang mempersiapkan acara untuk besok pagi sudah pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya,&lt;br /&gt;Satu demi satu teman-teman hadir. Wajah-wajah yang harus direkonstruksi ulang muncul di depanku. Arithmatical and Logical Unit di otakku bekerja keras untuk membongkar kembali file lama, mengcompare image lama dengan image baru. Dan ketika ‘match’, wah, jabat-tangan dan rangkulan serta pelukan (bukan mukhrim dilarang!) di antara kami begitu erat.&lt;br /&gt;Wajah-wajah yang jahitannya sudah sangat berubah, tubuh yang ikatannya semakin longgar, rambut dan gigi yang sudah pamitan dari formasinya, membuat kami saling terbahak. Ingat nama - lupa wajah. Salah satu pengingatnya adalah rekaman peristiwa antar-kita di masa lalu.&lt;br /&gt;Beberapa sosok dan wajah yang diharapkan dapat ditemui ternyata tidak dapat hadir. Nama-nama disebutkan, kabar diberitakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharukan tetapi sekaligus menyenangkan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kami semua semakin jauh beranjak dari titik awal keberangkatan. Tahun 2009 ini berarti 40 tahun, sejak kami berpisah dari keakraban masa SMA.&lt;br /&gt;Semoga masing-masing tetap sehat dan dikaruniai kelonggaran untuk dapat hadir nantinya. Saya menunggu, dan semoga saya juga ditunggu, dan semoga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih diberi waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;salut setinggi-tingginya untuk mas Amir Faisol dan mbak Titik Isnaeni, mas Kacuk Sukamto dan  mbak Pawit Hartini, mas Setyo Haryadi dan Isteri, mas Haryanto Aminin dan Isteri serta teman-teman lainnya yang mungkin saya tidak tahu, atas segala totalitas mental, fisik dan materinya yang telah ditumplek-bleg untuk suksesnya acara ini, sehingga saya dan teman-teman lain dapat saling bertemu kembali &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2639894630888899774?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2639894630888899774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/oktober-2008-setelah-menempuh.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2639894630888899774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2639894630888899774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/oktober-2008-setelah-menempuh.html' title='Masih Diberi Waktu'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6392034527852256401</id><published>2009-07-14T06:43:00.000+07:00</published><updated>2009-07-14T06:46:39.768+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Pulang Kampung</title><content type='html'>Apa yang akan Anda lakukan jika Anda tidak terpilih menjadi Presiden?&lt;br /&gt;Yaaaaa... pulang kampung..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban JK atas pertanyaan dalam sesi akhir debat penutup Capres 2009 tersebut membuat saya spontan tersenyum. Teringat pertanyaan seorang adik :&lt;br /&gt;Saat nanti pensiun apa yang akan dilakukan?&lt;br /&gt;Pertanyaan klasik yang kalau jawabannya klasik, penanya pasti kecewa. Maka saya jawab:&lt;br /&gt;Saat-saat awal pensiun, saya akan cuci-otak.&lt;br /&gt;Lho ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membebaskan pikiran terhadap formula-formula, sistem berpikir, lagak dan gaya dll,dll yang selama bekerja telah menghuni pikiran dan pemikiran, perlu dibasuh sampai bersih ...&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;Saya akan hidup di dunia yang berbeda ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaan yang tersemat karena kedudukan dan prestasi dalam lingkungan formal biasanya akan menempatkan seseorang dalam posisi dihormati dan sekaligus mungkin tidak disenangi, sehingga berpotensi membuat  seseorang lupa. Demikian pula hati dan pikirannya. Ketika sudah pensiun seorang mantan pimpinan  datang ke (bekas) tempat kerja menunggu didatangi oleh para mantan bawahan untuk mendapat sapa dan salam  serta laporan mengenai situasi dan kondisi mutakhir. Kemudian (mantan) bos tersebut  menyampaikan fatwa-fatwa dengan komparasi kasus di masa lalu.&lt;br /&gt;Terkadang ada juga yang juga timbul rasa enggan bertemu apalagi mendatangi bekas tempat bekerja, karena kesumat terhadap orang-orang tertentu yang pernah membuat luka hati, atau tempat tertentu yang meninggalkan kesan tidak enak.&lt;br /&gt;Jadi kenapa harus terbelenggu sesuatu ketika seseorang sudah dinyatakan bebas dari segala ikatan ?&lt;br /&gt;Itulah yang membuat saya berpikir tentang perlunya cuci-otak, karena setelah saya pensiun saya bukan lagi ‘orang instansi’ atau ‘orang perusahaan’, tetapi saya orang merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman bercerita, di penghujung masa bekerjanya oleh Manajemen telah diminta untuk melanjutkan ’pengabdian’ dengan menjadi pemandu-kerja bagi para karyawan yunior, karena Direkturnya masih belum sreg dengan kapabilitas para yunior tersebut. Ketika teman tersebut menyampaikan bahwa dia ingin berhenti, Pak Direktur SDM  ‘meradang’&lt;br /&gt;.... jadi di mana loyalitas Anda, sehingga Anda tega meninggalkan Perusahaan ini diawaki oleh para yunior yang masih memerlukan bimbingan ? .... dengan permintaan ini Anda sebenarnya mendapatkan pengakuan dari kami bahwa kapabilitas Anda masih sangat kami perlukan .....&lt;br /&gt;Ya ampuuuunnnnn, sebegitukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Pak JK ingin pulang kampung nanti, itu adalah penyampaian yang menurut saya cukup santun, meskipun saya tidak yakin apakah benar-benar kampung ataukah KAMPUNG atau kampung dalam pengertian yang lain lagi. Hanya beliau yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya benar-benar bisa ’cuci-otak’ atau hanya berbasa-basi? Barangkali ya.&lt;br /&gt;Kalaupun saya benar-benar ingin cuci otak, saya bahkan tidak bisa menjaminnya, karena saya tidak tahu apa yang ada di depan sana ketika waktu berjalan.&lt;br /&gt;Dan kalau itu yang terjadi, saya perlu minta maaf kepada para teman yang pernah bertanya kepada saya. Itupun masih saya sertai permintaan: tolong ingatkan saya, kalau saya berbuat salah ketika sudah pensiun, ketika saya masih berlagak STSPSJ, sok tahu sok pinter sok jago…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6392034527852256401?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6392034527852256401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/pulang-kampung.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6392034527852256401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6392034527852256401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/pulang-kampung.html' title='Pulang Kampung'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5656075818215031502</id><published>2009-07-12T07:14:00.001+07:00</published><updated>2009-07-14T06:55:40.434+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Harapan sesudahnya</title><content type='html'>Kehidupan  kembali ke keseharian, tak ada lagi hiruk-pikuk dan hingar-bingar tontonan, perbantahan, dan perkilahan.&lt;br /&gt;Yang kemarin sehari-hari mengenakan baju seragam kampanye, sekarang sudah mengenakan kaos oblong dan celana gombrong favoritnya kembali. Pagi-pagi tak lagi harus memacu langkah ke markas dan posko dan larut malam atau dinihari baru kembali,  tetapi sudah asyik kembali dengan membersihkan kandang burung atau mencuci motor. Atau mengantar isteri ke pasar. Jalan kaki.&lt;br /&gt;Ritme  kehidupan yang normal dengan segudang problema yang kembali menghadang, mulai dari ongkos persiapan anak masuk tahun ajaran baru, order bisnis yang angin-anginan datangnya, bos yang mukanya kecut karena pekerjaan tertunda dan tagihan yang tak segera cair. Serta berbagai problema lainnya, seperti kemarin-kemarin dulu juga. Membosankan. Mencemaskan. Dan karena terlalu rapat dan seringnya dihadapi, sekaligus membuat  kebal terhadap masalah dan lalu membiarkannya berlangsung  dimakan waktu tanpa peduli apa yang  terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kampanye adalah hiburan, dan sekaligus pelampiasan kekesalan yang selama ini menumpuk dan tersumbat tanpa mendapat kesempatan untuk disalurkan.&lt;br /&gt;Angan-angan, cita-cita, harapan dan segala keinginan  terhadap mimpi serba-indah kehidupan boleh ditayangkan untuk dinikmati khalayak ketika masa pesta kampanye dilangsungkan. Bahkan antarmimpi boleh ditabrak-tabrakkan sampai peot oleh sesama orang yang bermimpi. Khalayak boleh bersorak, boleh mencibir, boleh senyam-senyum geli, boleh diam saja. Atau malah mau bersedih. Boleh seboleh-bolehnya.&lt;br /&gt;Atau malah mau mengkerut ngeri menyaksikan orang baku-maki dan baku-pukul. Atau pergi menyingkir dari kengerian untuk segera mendahului kembali ke kesehariannya lebih awal.&lt;br /&gt;Ketika sesudah itu satu demi satu tunggakan masalah datang dan menagih penyelesaian  segera, maka kecepatan berpikir menjadi menurun, seperti mobil berjalan menanjak yang terlupa untuk dioper ke gigi rendah. Tidak seperti ketika berbicara tentang cita-cita yang begitu  fasih serta cepat  disampaikan.&lt;br /&gt;Yang kemarin sependapat  terhadap segala rencana dan program masa depan, sekarang mulai bertanya tentang hal-hal yang kemarin terlupakan dan belum selesai ditangani.&lt;br /&gt;Ditengah-tengah waktu ketika kehidupan kembali seperti sediakala, ternyata terasa bahwa kita masih berada di tempat semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga secercah harapan yang bersinar melalui celah sempit, menjadi terang masa depan dengan dibukanya pintu bersama-sama oleh semua anak-bangsa, mulai dari para pemimpinnya  yang kemarin tampak perkasa dan percaya diri sampai kepada si Udin si Otong si Minah si Marni di pojok-pojok negeri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5656075818215031502?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5656075818215031502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/harapan-sesudahnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5656075818215031502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5656075818215031502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/harapan-sesudahnya.html' title='Harapan sesudahnya'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-770384508019165179</id><published>2009-07-07T11:49:00.005+07:00</published><updated>2009-07-07T12:00:23.360+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Kepengin Miskin ?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SlLV-hbpzdI/AAAAAAAAAEE/tK0gMTuXHfc/s1600-h/miskin.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SlLV-hbpzdI/AAAAAAAAAEE/tK0gMTuXHfc/s320/miskin.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355578176999902674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu, ketika nonton TV dan nyasar ke sebuah acara, pas ada dialog tentang empat tahun pemerintahan SBY-JK.&lt;br /&gt;Ketika moderator menanyakan kepada empat orang tokoh tentang rapor pemerintahan SBY-JK, salah satunya memberi angka sembilan. Tetapi tokoh yang lain memberi angka  EMPAT, lalu ditambah setengah menjadi empat setengah setelah mendengarkan beberapa poin prestasi. Salah satu indikator yang digunakan untuk memberi nilai rendah tersebut adalah fakta bahwa tidak ada perubahan daftar dan jumlah penerima BLT sejak penerimaan BLT periode sebelumnya, sehingga meskipun dalam pidato disebutkan menurunnya angka kemiskinan, fakta tadi menggugurkannya.&lt;br /&gt;Biarlah dalam acara yang disiarkan TV tersebut mereka berdiskusi, berdebat dengan pendapat masing-masing, atau yang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih tertarik kepada tulisan yang gambarnya ada di atas tadi, yang dipasang di depan konter apotek dan beberapa tempat lain, di Rumah Sakit Haji Surabaya.&lt;br /&gt;Ketika itu kurang lebih jam sebelas malam, saya mengambil obat untuk isteri saya yang kuku jempol kakinya harus dicabut gara-gara nyeri tak tertahankan, luka  kejatuhan gayung berisi air sewaktu mandi sore (mandinya pake gayung, mak! lebih segerrr).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya pikir,&lt;br /&gt;rupanya fihak Rumah Sakit tidak suka jika mereka harus membiayai orang yang mengaku miskin ( padahal tidak benar-benar miskin), sementara orang yang benar-benar miskin tidak berani ke Rumah Sakit karena tidak siap kalau sampai ditarik ongkos berobat meskipun sudah dikenai tarip murah. Atau bahkan tak punya ongkos untuk berangkat ke Rumah Sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mendengar obrolan ketika jagongan dengan pak RT dan warga kampung saya, bahwa para warga yang berkategori ‘miskin’, yakni yang mendapatkan Beras untuk Orang Miskin (raskin), penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), pemilik kartu Asuransi Kesehatan untuk Orang Miskin (Askeskin), dan kin-kin yang lain, di pintu depan rumahnya bakal dipasang papan bertuliskan KELUARGA MISKIN.&lt;br /&gt;Mana tahaaaaaaannnnnn.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung ya, &lt;br /&gt;Lebih lagi saya, ketika saya berpikir:&lt;br /&gt;• Berapa duit diperlukan untuk membuat tulisan sebanyak sekian juta lembar atau keping?&lt;br /&gt;• Siapa yang bakal ditugasi memasang tulisan tersebut dengan konsekuensi bakal dipukul pemilik rumah yang tersinggung karena merasa dipermalukan secara terbuka?&lt;br /&gt;• Berapa lama tulisan tersebut akan bertahan di tempatnya  terpasang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sibuklah saya dengan berbagai pikiran, sementara luka di jempol kaki isteri saya mulai sembuh dan kuku jarinya berangsur tumbuh kembali. &lt;br /&gt;Semoga tak ada lagi gayung jatuh menimpa jari kakinya ketika mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, kami berobat di sana bayar sendiri lho! (khawatir dianggap miskin padahal tidaklah kaya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-770384508019165179?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/770384508019165179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/kepengin-miskin.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/770384508019165179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/770384508019165179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/kepengin-miskin.html' title='Kepengin Miskin ?'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SlLV-hbpzdI/AAAAAAAAAEE/tK0gMTuXHfc/s72-c/miskin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1544645317030599724</id><published>2009-07-06T21:30:00.000+07:00</published><updated>2009-07-06T21:31:26.953+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Maunya.......</title><content type='html'>Setelah beberapa saat mengistirahatkan jempol yang keriting, maka aktivitas ngeblogpun dimulai lagi.&lt;br /&gt;Itu maunya .....&lt;br /&gt;Istirahatnya hampir saja kebablasan, dan nyaris jadi males ngeblog. Entah 'setan' jenis apa yang lagi mampir di kepala.&lt;br /&gt;Dulu, ketika beberapa blog teman tiba-tiba stagnan, dalam hati timbul pertanyaan:  kok bisa ya ?? Tapi setelah mengalami sendiri, he he he .... Seru juga, ternyata.&lt;br /&gt;Itulah manusia, eh, sori, saya.&lt;br /&gt;Ok. Sekarang, saya mau lihat diri saya sendiri.&lt;br /&gt;Sambil ngeblog. Maunya .....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1544645317030599724?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1544645317030599724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/maunya.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1544645317030599724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1544645317030599724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/07/maunya.html' title='Maunya.......'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4546092527989319813</id><published>2009-06-25T14:09:00.002+07:00</published><updated>2009-06-25T14:13:03.313+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di antara teman'/><title type='text'>DOG-DOG-DOG</title><content type='html'>permisi,&lt;br /&gt;kulonuwun,&lt;br /&gt;sepada,&lt;br /&gt;salamlekum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masih baik-baik saja, kok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terimakasih atas atensi seluruh kerabat sanak-saudara handai-tolan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4546092527989319813?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4546092527989319813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/06/dog-dog-dog.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4546092527989319813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4546092527989319813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2009/06/dog-dog-dog.html' title='DOG-DOG-DOG'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1108408794424220616</id><published>2008-11-19T21:37:00.002+07:00</published><updated>2008-11-19T21:49:44.104+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Kupu-kupu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SSQmMRHWmRI/AAAAAAAAADU/JWR6UPjRGJ8/s1600-h/15112008%28003%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SSQmMRHWmRI/AAAAAAAAADU/JWR6UPjRGJ8/s320/15112008%28003%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270379456124852498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau terbang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hilir-mudik mencari, bunga-bunga yang kembang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tidakkah sayapmu, merasa lelah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anda masih bisa menyanyikannya, kan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Lagu anak-anak di atas, adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;salah satu lagu favorit saya karena relevansi syairnya. Tersindirkah saya? Ya banget, sih. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bagi saya, lagu sesederhana itu ternyata mengandung banyak faset yang dapat direnungkan. &lt;i style=""&gt;Periodisasi&lt;/i&gt; perjalanan hidup misalnya, dimulai dari periode saya masih kupu-kupu yang ‘lucu’ sampai dengan periode saya menjadi ‘makin lucu’ seperti sekarang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aktivitas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;, dari sejak saya terbang untuk berlucu-lucu sampai ketika saya terbang untuk mencari sesuatu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Batas-batas&lt;/span&gt;, tangkai lemah di mana saya harus berayun-ayun dengan hati-hati, dan sayap saya yang lelah tetapi tetap saya gunakan untuk terbang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya kagum dengan penciptanya, Ibu Sud yang demikian cerdas dan arifnya memotret perilaku orang dewasa serta sekaligus memberikan peringatan agar tidak menjadi kupu-kupu yang mati sia-sia pada akhirnya. Potret dan peringatan tersebut mampu disajikan dalam sebuah lagu anak-anak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jadi, ketika mendengarkan seorang anak kecil menyanyi :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Kupu-kupu yang lucu .....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saya bertanya kepada diri sendiri:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span lang="IN"&gt;..................&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke mana engkau terbang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1108408794424220616?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1108408794424220616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/11/kupu-kupu.html#comment-form' title='28 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1108408794424220616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1108408794424220616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/11/kupu-kupu.html' title='Kupu-kupu'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SSQmMRHWmRI/AAAAAAAAADU/JWR6UPjRGJ8/s72-c/15112008%28003%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>28</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4406724216922743163</id><published>2008-11-13T20:33:00.003+07:00</published><updated>2008-11-13T20:41:13.980+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Langit Kuning</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SRwtQkHh8zI/AAAAAAAAADM/fzG0qszknUc/s1600-h/kite+runner.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SRwtQkHh8zI/AAAAAAAAADM/fzG0qszknUc/s320/kite+runner.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268135426713056050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(inspirasi: novel The Kite Runner - Khaled Hosseini )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(sebuah evaluasi tujuhbelasan)&lt;/span&gt; : &lt;/span&gt;Lomba mewarna untuk anak-anak kecil di RT Tiga berlangsung dengan sukses. Artinya selesai. Seadanya. Pesertanya tidak lebih dari lima belas orang. Pelaksana kegiatannya anak-anak remaja.Jurinya dicari di antara siapa yang mau, itupun baru ditemukan ketika lomba sudah berlangsung. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Oleh juri dipilih tiga gambar terbaik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika hasil lomba diumumkan, komplain mulai dilayangkan, bukan ke panitia tetapi ke jalanan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‘Masa, langitnya diwarna kuning kok menang, sedang yang biru malah dikalahkan’ ujar seorang nenek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‘Yaa, mesti saja gambar yang ini menang, kan anak ini pas keponakan dari jurinya’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‘Warna gambar yang ini lebih rata, kok enggak menang ya, yang belepotan malah menang’&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Macam-macam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Vonis jalanan: Juri dan panitia tidak fair, tidak pandai menilai, hasil penilaian tidak wajar, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hehehehe....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Para balita kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, menyaksikan ibu, nenek, bapak, kakek berbicara dengan nada tinggi di antara sesama orang tua. Ada apa ya, para kakek-nenek, pakde-bude ini?, begitu kira-kira pikir anak-anak ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melihat anak-anak kecil yang sehat dan ceria, yang mengelesot ketika mewarna dan menggambar, rasanya hati ini sangatlah bahagia. Wajah dan ekspresi yang lucu, gerakan tangan dan jari mungilnya, antusiasme dalam menggambar (NB: ikut bertujuhbelasan), ah! bukankah ini adalah hal yang menyenangkan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mereka mau ikut tanpa rewel dan tanpa pretensi apapun saja, seharusnya sudah mengajarkan kepada kita bahwa nilai kebersamaan lebih indah ketimbang kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bukankan event perayaan ini adalah suatu ekspresi kebersamaan di antara anak bangsa? Merdeka yang artinya bebas dan menang dari ketertindasan, bukan berarti menang dari saudara sendiri, kan. Karena di antara saudara memang tidak layak untuk menang-menangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam hal ‘lomba’ (namanya kok lomba, ya) mewarna untuk anak-anak ini, kalau perlu justru kita semua (para orang-tua yang anaknya berlomba) masing-masing menyiapkan hadiah dari rumah untuk mereka semua. Ya. Mereka semua, tanpa ada urusan menang dan kalah di antara anak-anak itu, karena belum saatnya mereka menderita lantaran dipertandingkan dan diadu untuk menang oleh yang tua-tua. Mereka kan bukan jangkrik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Aaah, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:78%;"&gt;merdeka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;(masih tetap huruf kecil dan tanpa tanda seru.... sabaaar, sabaaaaar)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4406724216922743163?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4406724216922743163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/11/langit-kuning.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4406724216922743163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4406724216922743163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/11/langit-kuning.html' title='Langit Kuning'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SRwtQkHh8zI/AAAAAAAAADM/fzG0qszknUc/s72-c/kite+runner.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6706954896907469664</id><published>2008-11-07T20:44:00.003+07:00</published><updated>2008-11-07T20:53:50.231+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Aura</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Konon, seperti yang pernah saya baca, aura adalah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pancaran cahaya yang berasal dari tubuh setiap orang. Mata telanjang tak dapat menangkap pancaran cahaya ini, kecuali beberapa orang ‘linuwih’ yang penglihatannya mampu menyesuaikan dengan panjang gelombang cahaya aura. Konon pula, seperti yang diceritakan bahwa aura seseorang yang ‘pinunjul’ adalah putih menyejukkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Namun seperti pula yang pernah saya baca, pancaran aura seseorang sangat berhubungan dengan keadaan mental orang tersebut pada saat tertentu, sehingga aura yang muncul akan berbeda-beda tergantung kepada suasana hati dan kondisi fisiknya, apakah sedang galau, bergairah atau patah semangat, demikian pula ketika seseorang sedang sakit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kemajuan teknologi telah menghasilkan seperangkat alat yang dapat merekam pancaran aura dan merekamnya dalam bentuk foto.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ketika dulu saya ditawari oleh boss untuk foto aura, wah, ya mau saja, siapa tahu ketika dipotret nanti yang akan muncul adalah citra aura saya yang bening sejuk memikat hati (halaaaaahhh ! sawat kibor, mbendhol!!) . &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ternyata hasil fotonya seperti ini:&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SRRIBPU1d3I/AAAAAAAAAC8/jfTa5FShjgg/s1600-h/AUR01.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 250px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SRRIBPU1d3I/AAAAAAAAAC8/jfTa5FShjgg/s320/AUR01.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265913050433943410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Analisis terhadap aura seperti ini tentu hanya dapat dilakukan dan dijelaskan oleh ahlinya. Sedangkan saya, cuma senang saja, karena &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pernah mencicipi berfoto aura.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dan bahwa hasilnya ternyata seperti ini, terserah saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ini asli lho .......&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6706954896907469664?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6706954896907469664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/11/konon-seperti-yang-pernah-saya-baca.html#comment-form' title='17 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6706954896907469664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6706954896907469664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/11/konon-seperti-yang-pernah-saya-baca.html' title='Aura'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SRRIBPU1d3I/AAAAAAAAAC8/jfTa5FShjgg/s72-c/AUR01.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4772259232218905310</id><published>2008-11-03T21:27:00.006+07:00</published><updated>2008-11-03T21:47:35.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Kaki-Tangan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tengah malam yang sepi dan dingin di Tretes. Teman-teman kru &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;pembahas rencana anggaran tahun 2000 sudah masuk kamar untuk tidur, ada yang masih terdengar gremang-gremeng ngobrol di dalam kamarnya. Wedang kopi dan tahu-tempe goreng yang cemepak di samping komputer tinggal sebiji-dua. Tadi saya ‘colong’ dari dapurnya mess waktu makan malam. Bu Darning, tukang masak mess yang ngonangi saya nyolong malah menawarkan untuk digorengkan lagi dari jatah persiapan makan pagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jenuh kutak-katik angka, saya dengerin lagu-lagu lamanya Chrisye sambil kelaap-kelooop berdialog dengan diri-sendiri. Dan inilah hasil saya menyendiri malam itu, di Tretes 22 Juni 1999 ....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SQ8NjwYHdBI/AAAAAAAAACU/2f-VJlNOy5s/s1600-h/Akan2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 591px; height: 446px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SQ8NjwYHdBI/AAAAAAAAACU/2f-VJlNOy5s/s400/Akan2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264441397352035346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak terbaca, judul lagunya ‘ Ketika Tangan dan Kaki Berkata’ ciptaan Taufik Ismail yang dinyanyikan oleh almarhum Chrisye.&lt;br /&gt;Tampilan tersebut sempat saya jadikan wall-paper di komputer saya untuk beberapa lama.&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Salam untuk semua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4772259232218905310?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4772259232218905310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/11/kaki-tangan.html#comment-form' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4772259232218905310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4772259232218905310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/11/kaki-tangan.html' title='Kaki-Tangan'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SQ8NjwYHdBI/AAAAAAAAACU/2f-VJlNOy5s/s72-c/Akan2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5914781829782796521</id><published>2008-10-30T15:26:00.004+07:00</published><updated>2008-10-30T15:33:58.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Nasi Bau</title><content type='html'>( sebuah evaluasi tujuhbelasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuhbelasan sudah lewat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung ini penduduknya multi-strata:  strata pendidikan, pergaulan dan penghasilan, yang dapat dibayangkan dari profesi masing-masing. Ada beberapa profesor, pengusaha menengah, pengusaha kecil, karyawan, tukang bakso, tukang beca, pengrajin mainan anak, guru, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Semula,  ini adalah kawasan pertanian di pinggiran kota, sehingga penghidupan asli warganya adalah petani, lengkap dengan kambing dan kerbau serta bebeknya. Namun sejak awal delapanpuluhan, hampir seluruh sawah berubah menjadi rumah-rumah KPR-BTN, yang rata-rata penghuni awalnya berusia antara duapuluh lima sampai empatpuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian tujuhbelasan sudah selesai, panitia di RT Tiga melaporkan hasil pelaksanaan kegiatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dilakukan. Salah-satu hasil evaluasi: nasi kuning yang dihidangkan untuk konsumsi pada malam syukuran ternyata sebagian bau.&lt;br /&gt;Nasi kuning tersebut dipesan dari sebuah depot, sebanyak 250 kotak, dan dikirim oleh depot yang bersangkutan pada pukul 3 sore, dibagikan untuk makan bersama kurang lebih pukul 8 malam, pada saat acara syukuran tanggal 16 Agustus yang lalu. Sebagian warga (yang hadir bersama seluruh keluarganya) membawa pulang nasi tersebut ke rumah seusai acara yang berakhir kurang-lebih pukul setengah 10. Ketika dibuka: bau.&lt;br /&gt;Komplain per telepon disampaikan ke depot yang bersangkutan pada pagi harinya oleh seorang ibu. Depotnya minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa nasinya bau?&lt;br /&gt;Hal itu mungkin terjadi karena proses memasak, mengemas, mengirim atau menyimpan sebelum dibagikan, atau bisa karena kesemua proses tadi.&lt;br /&gt;Proses memasak nasi untuk 250 kotak tentu berbeda dengan proses untuk sebakul saja. Belum lagi kalau depot tersebut juga menerima pesanan serupa dari tempat lain, yang tentu jumlahnya menjadi lebih banyak lagi sehingga prosesnya lebih berat lagi.&lt;br /&gt;Mengapa tidak dimasak sendiri?&lt;br /&gt;Wah, untuk menyiapkan 250 kotak nasi, para ibu anggota PKK merasa berat. Mengaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya, kerepotan menyediakan konsumsi untuk event seperti ini ternyata menguras tenaga dan emosi. Tenaganya masih bisa dibagi-bagi ke banyak orang, tetapi ternyata mengakomodasi dan memanajemeni keinginan dan  kebiasaan dari banyak orang untuk tujuan membuat hidangan itu memerlukan adanya seorang pengelola dan pemimpin yang memiliki kemampuan, disamping ‘pemimpin’ tersebut harus benar-benar diakui sebagai pemimpin oleh orang banyak.&lt;br /&gt;Bayangkan (sukanya kok membayang-bayangkan sih!)&lt;br /&gt;Sementara orang ada yang terbiasa menggunakan MSG, sementara yang lain ada yang ‘mengharamkan’nya. Ini sebuah potensi masalah.&lt;br /&gt;Lagi: Sebagian ibu menganut “aliran” lauk tahu-tempe-daging-ikan dalam irisan besar yang sebagian menganut “mashab” irisan kecil. Masalah lagi.&lt;br /&gt;Ada yang berangkat ke tempat memasak sesudah mandi, dengan badan, kaki dan tangan yang bersih, berhadapan dengan ibu yang datang ke tempat memasak tanpa memperhatikan kebersihan diri.&lt;br /&gt;Orang yang lagi batuk ingin ikut membantu, yang lain tidak suka dibantu oleh orang batuk. Masalah baru.&lt;br /&gt;Sampai dengan soal menata makanan ke dalam kotak dan mempersiapkan di tempat tertentu bisa jadi sumber masalah yang membuat tegang semua yang terlibat. Apalagi batas waktu persiapannya semakin lama semakin pendek. Friksi-friksi kecil yang berakumulasi menjadi besar berpotensi membuat emosi jadi meningkat naik.&lt;br /&gt;Terkadang ada saja yang suka tengil. Melakukan sesuatu yang dianggapnya remeh padahal cukup mengganggu, misalnya (eh) menyisihkan sedikit lauk dibawa pulang untuk anak dan suami karena hari itu terpaksa tidak memasak, yang akhirnya berakibat adanya nasi kotak tanpa telur dan perkedel. Atau, ada yang mengingkari komitmen untuk membuat lemper pada hari yang ditentukan, karena pergi kondangan ke luar kota, sedangkan pemberitahuannya sangat mepet dengan D-day. Cappppek dehh....&lt;br /&gt;Mungkin memang diperlukan pemimpin dan manajemen yang canggih. Tetapi secanggih-canggihnya pemimpin maupun sistemnya, kalau sumber daya yang terlibat kualitasnya tidak mendukung, juga apalah artinya.&lt;br /&gt;Memang untuk menghindari kerepotan yang menguras energi dan emosi seperti itu, jalan keluar yang cukup pragmatis adalah memesan nasi kuning dalam kotak ke usaha depot atau katering yang terpercaya. Kalau perlu disurvey dan dibuatkan perjanjian dulu(!). Tapi kemungkinan tetap akan ada yang bau.&lt;br /&gt;Mengurus konsumsi untuk orang se-RT saja begini ribetnya ya, apalagi mengurus Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,&lt;br /&gt;merdeka&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(huruf kecil dan tanpa tanda seru, karena agak malu)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5914781829782796521?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5914781829782796521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/nasi-bau.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5914781829782796521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5914781829782796521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/nasi-bau.html' title='Nasi Bau'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2370408405616409863</id><published>2008-10-22T21:43:00.002+07:00</published><updated>2008-10-22T21:45:36.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>Gus Komar</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;span&gt;(biarkan aku memanggilmu seperti itu)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ajak aku berkelana di padang fata-morgana yang tiba-tiba menyentak menjadi padang surga&lt;br /&gt;Semoga aku bisa ke sana pula meski cuma bersepeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu mencarimu di persinggahanmu berikutnya&lt;br /&gt;Itupun kalau aku bisa menemukanmu&lt;br /&gt;Dan berharap bertemu dengan Gus-gus lainnya&lt;br /&gt;Mencicipi air surga penyejuk jiwa penghantar pulang kepadaNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span&gt;&lt;i&gt;Jakarta-Surabaya November 2007&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2370408405616409863?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2370408405616409863/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/gus-komar.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2370408405616409863'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2370408405616409863'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/gus-komar.html' title='Gus Komar'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5761610350426190093</id><published>2008-10-13T12:30:00.004+07:00</published><updated>2008-10-13T12:38:48.867+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Bekerja Siang dan Malam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SPLeCmefCtI/AAAAAAAAACE/0jYDw4JwIZ8/s1600-h/03092008(002).jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ungkapan ini biasanya digunakan untuk menunjukkan sebuah usaha yang dilakukan sangat keras dalam mencukupi belanja keluarga.&lt;br /&gt;Tetapi ternyata, pada beberapa tiang telepon dan tempat sampah  di gang saya diiklankan sebuah servis 24 jam oleh beberapa pebisnis yang terkadang sering dilupa-lupakan keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SPLeCmefCtI/AAAAAAAAACE/0jYDw4JwIZ8/s200/03092008(002).jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256507851364305618" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis sedot WC. Bukan main.&lt;br /&gt;Dan bukan cuma satu atau dua perusahaan. Banyak. Anda tinggal kring, mereka akan datang.&lt;br /&gt;Beberapa kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari mungkin untuk sementara bisa diatasi dengan menunda atau mengalihkan ke sumber yang lain, misalnya air bersih mampet. Anda dapat menunda untuk mencuci pakaian atau untuk kebutuhan memasak Anda dapat menggantinya dengan membeli makanan masak atau malah Anda akan makan di luar. Begitu pula ketika listrik mati, Anda dapat posting blog dari warnet yang listriknya menyala.&lt;br /&gt;Tetapi kalau WC Anda mampet? Anda (dan keluarga) tak bisa bergantian numpang ke WC tetangga. Jasa sedot WC-lah yang harus segera Anda hubungi.&lt;br /&gt;Bisnis sedot WC rupanya juga kencang dengan persaingan, meskipun lekat dengan kesan kotor dan bau. Ini terbukti dengan banyaknya stiker iklan yang ditempel tumpang tindih di tiang-tiang listrik, tiang telepon dan tempat-tempat strategis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SPLdyEg6z7I/AAAAAAAAAB8/NAIY6cUQfR0/s200/03092008(005).jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256507567369801650" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pernah berkendara di belakang mobil tangki tinja?&lt;br /&gt;Mungkin ketika itu Anda akan berusaha melambatkan jarak agar tidak berada persis di belakangnya, atau Anda akan berusaha mendahuluinya, karena kesan kotor dan bau tadi.&lt;br /&gt;Tapi ketika WC di rumah Anda terkena musibah, Anda justru memerlukan kehadiran para pakarnya: ahli sedot WC beserta peralatan penunjangnya untuk mengatasi musibah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SPLdY6UT1HI/AAAAAAAAAB0/EehbzkKtG88/s200/03092008(001).jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256507135135831154" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting ini jorok, ya?&lt;br /&gt;Maaf.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5761610350426190093?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5761610350426190093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/bekerja-siang-dan-malam.html#comment-form' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5761610350426190093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5761610350426190093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/bekerja-siang-dan-malam.html' title='Bekerja Siang dan Malam'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SPLeCmefCtI/AAAAAAAAACE/0jYDw4JwIZ8/s72-c/03092008(002).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1413642382109086146</id><published>2008-10-09T14:01:00.007+07:00</published><updated>2008-10-09T14:32:01.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Sekolah Saya, Guru-guru Saya</title><content type='html'>Guru Geometri saya di SMP bernama pak Sutikno. Tinggi, kurus, dan konon terkenal kejam nian dalam memberi nilai.&lt;br /&gt;Soal-soal yang diberikan di kelas, sebagai PR maupun dalam ulangan, harus diselesaikan dalam format baku, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diketahui :  Segitiga ABC; sudut B= 90&lt;span style="font-size:78%;"&gt;derajat&lt;/span&gt;; AB = 3cm; AC=5cm&lt;br /&gt;Hitung       :  BC&lt;br /&gt;Jawab        : .................. (hitung sendiri!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau sangat disiplin dalam mengharuskan para muridnya menggunakan format seperti ini. Bahkan penempatan tanda titik-dua (:) harus lurus dengan tanda di atasnya! Batas antarunsur harus ditulis dengan titik-koma. Di luar standar baku tersebut, meskipun jawaban akhirnya mutlak benar,  nilai yang diberikan tetap akan dikurangi, bukan sepuluh tetapi sembilan.&lt;br /&gt;Memberi nilai juga demikian tegasnya, tidak ada nilai dalam bentuk bilangan antara nol dan seratus, tetapi nol sampai sepuluh, tanpa tengah-tengahan. Jadi jangan berharap ada nilai empat setengah atau tujuh setengah. Empat atau tujuh. Tegas sekali.&lt;br /&gt;Waktu berlalu, dan saya sebagai murid ketika itu belum mampu menangkap maksud beliau, mengajar dengan gaya yang demikian lurus dan kakunya. Ternyata yang dilakukan beliau adalah mengajarkan sebuah model : konsistensi dan format. Juga habit. Itulah yang diajarkannya disamping kompetensi beliau mengajar ilmu eksakta.&lt;br /&gt;Murid, eh, siswa disamping diajarkan untuk menguasai ilmu eksakta juga dibiasakan untuk berperilaku tertib, mengikuti aturan, rapi, menghargai nilai dan banyak hal lain lagi.&lt;br /&gt;Beliau (ketika itu) sedang memproduksi dan menduplikasikan sebuah model sikap: lugas.&lt;br /&gt;Bukan main!&lt;br /&gt;Saya pikir tadinya hanyalah beliau seorang diri, guru yang melakukan hal tersebut, tetapi setelah saya rewind memori saya, hampir seluruh guru saya ketika itu mempunyai pola yang sama, meskipun disampaikan dalam cara yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;Bahkan, demikian pula guru saya yang lain, pak Djiwanto dalam pelajaran budi pekerti. Pelajaran ini disampaikan dalam bentuk dongeng serial Siegfriedo dan Putri Joharmanik. Pelajaran yang paling menyenangkan ini, diberikan pada dua jam pelajaran terakhir di siang hari menjelang pulang. Setidaknya ada beberapa generasi kakak-kelas dan adik-kelas saya mendapatkan dongeng tersebut. Drama berlatar belakang perang, kekuasaan dan percintaan. Yang satu dengan setting Eropa dan satunya Timur Tengah.&lt;br /&gt;Dalam menyampaikan cerita ini, pak Djiwanto memompa pikiran para murid dengan nilai-nilai patriotisme, heroisme, tanggung-jawab, kesetiaan dan banyak hal lain yang intinya adalah keteladanan.&lt;br /&gt;Saya pikir, sekolah ini adalah sebuah percetakan, tetapi yang dicetak adalah format berperilaku. Sebuah format yang diharapkan dapat digunakan sebagai alat untuk menjawab tantangan zaman oleh para muridnya di kelak kemudian hari, ketika mereka sampai pada masanya untuk berhadapan sendiri dengan kehidupan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SO2xGUGGtAI/AAAAAAAAABI/j-tTzN2qo24/s320/03102008(015).jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255051062242882562" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya merindukan sekolah ini, tempat saya pernah belajar menjawab PR dari pak Tikno tentang berapa panjang BC, juga tempat saya menyaksikan teman-teman saya dengan pandangan terpukau menyimak cerita dan membayangkan Siegfriedo ketika pak Djiwanto mendongeng.&lt;br /&gt;Sekolah saya yang sungguh menyenangkan, dengan tanah-lapang berumput hijau dan pohon cemara yang berjajar dan juga kolam-kolam ikannya, sekolah saya yang terletak di sisi Kali Lamat, Muntilan.&lt;br /&gt;...............................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu, saya datangi sekolah itu. Tampak luarnya masih tetap seperti sekian puluh tahun yang lalu. Dan ketika saya masuk ke dalam kompleksnya, amboi, umur ini rasanya mundur sekian puluh tahun. Melihat selasar dan tiang-tiang penyangganya, tanah lapang, sudut tangga, jendela-jendela, jalan aspalnya ....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1413642382109086146?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1413642382109086146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/sekolah-saya-guru-guru-saya.html#comment-form' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1413642382109086146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1413642382109086146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/sekolah-saya-guru-guru-saya.html' title='Sekolah Saya, Guru-guru Saya'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Y9lUlZPoRMM/SO2xGUGGtAI/AAAAAAAAABI/j-tTzN2qo24/s72-c/03102008(015).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-8581925464216423734</id><published>2008-10-08T09:53:00.002+07:00</published><updated>2008-10-08T10:02:33.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di antara teman'/><title type='text'>Mlebetipun Medal Pundi?</title><content type='html'>Pak Agus Yani, seorang senior sepuh saya dahulu, yang masih mengalami sekolah Londo, bahasa Inggris dan Belandanya bagus sekali.&lt;br /&gt;Tapi bahasa Indonesianya ternyata ada yang bolong. Suatu ketika, beliau sambil senyam-senyum berdiri dari kursinya dan bertanya kepada saya dan teman-teman:&lt;br /&gt;“Dik,  dik; bahasa Indonesianya ‘lemah jeglong’ itu apa ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ekspresi beliau dan mendengar pertanyaan ‘aneh’ tersebut, semua tertawa. Saya mencoba untuk meng-Indonesiakannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanah jeglong adalah sebidang tanah yang permukaannya turun lebih rendah dari bidang di sekelilingnya”&lt;br /&gt;“Lho kalau panjang begitu, saya juga tahu. Maksudku yang ringkas saja, dik, dua atau tiga kata saja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, ketika beliau sudah pensiun lama sekali, terjemahan itu tak pernah bisa saya selesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi senior saya yang satunya, Pak Karyoso, seorang yang “sangat Jawa”. Yang ini memang banyolannya suka bikin kaku perut pendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hayo, siapa bisa meng-Indonesiakan : Mlebetipun medal pundi?”&lt;br /&gt;Dijawab oleh seorang teman:&lt;br /&gt;“Masuknya lewat mana”&lt;br /&gt;“Salah, to, kalau itu kan : Mlebetipung langkung pundi. Bukan seperti pertanyaan saya tadi: Mlebetipun medal pundi”&lt;br /&gt;“ Masuknya ... keluar .. mana”&lt;br /&gt;“He he he....., bingung kan? Kok jadi lucu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa memang unik. Penterjemahan secara kata-per-kata terkadang menjadikan aneh, apalagi kalau dilakukan secara plesetan. Demikian pula dengan kata-kata kiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Slamet, teman kakak saya, suatu kali secara guyonan bertanya:&lt;br /&gt;“Dik, ada kata kiasan  yang terkenal di jaman perjuangan, bunyinya : Wahai Pemuda,  kalian semua adalah tiang negara. Begitu kan?”&lt;br /&gt;“Terus?”&lt;br /&gt;“Lha kalau Pemuda adalah tiang negara, lantas Pemudi bagaimana?”&lt;br /&gt;“??? Mbuh, yo!”&lt;br /&gt;Ketawa ngakak dia melanjutkan: “Pemudi adalah tiyang estri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semprul!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Kepada seluruh teman baik, pembaca blog ini,&lt;br /&gt;usai Puasa Ramadhan ini perkenankan saya mohon maaf setulus-tulusnya atas segala kekhilafan dan kekurang-nyamanan yang diakibatkan oleh kejahilan saya ...&lt;br /&gt;(yang barangkali akan berkelanjutan,&lt;br /&gt;tapi mudah-mudahan, kedepan saya bisa lebih berhati-hati)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-8581925464216423734?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/8581925464216423734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/mlebetipun-medal-pundi.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8581925464216423734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8581925464216423734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/10/mlebetipun-medal-pundi.html' title='Mlebetipun Medal Pundi?'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-7775818484895924432</id><published>2008-08-25T22:43:00.001+07:00</published><updated>2008-08-25T22:45:51.987+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Orang Baik</title><content type='html'> &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya membuat sebuah parameter yang mengejutkan tentang orang baik. Yang dimaksud adalah orang yang hubungannya baik dengan sesama.&lt;br /&gt;Orang baik, baru akan terukur kebaikannya ketika dia meninggal dan dibawa untuk dimakamkan. Semakin banyak orang yang melayat, semakin baik pula orang itu di mata orang lain.&lt;br /&gt;Saya tertawa, ah, ada-ada saja dia ini.&lt;br /&gt;Dengan bercanda saya uji stetmennya tersebut, bagaimana kalau orang tersebut adalah pejabat? Tentu para bawahannya akan mengerahkan para bawahannya lagi untuk melayat. Atau kalau yang bersangkutan adalah selebriti? Tentu para pemerhatinya akan menonton pemakamannya.&lt;br /&gt;Jawabnya: ah, untuk yang seperti itu sih lain ukurannya...&lt;br /&gt;Ya, ya, ya. Saya faham yang dimaksudkannya.&lt;br /&gt;Ketika teman saya tadi mendadak wafat, saya teringat kembali apa yang pernah disampaikannya.&lt;br /&gt;Saya cukup dekat dengannya, dan saya dapat melihat sebaik atau sejahat apakah dia kepada orang lain.&lt;br /&gt;Ternyata, baik atau jahat dalam hubungan antar-manusia sangat tergantung kepada rasa percaya di antara mereka bahwa tak satupun akan tenang hatinya ketika merasa terancam oleh sesama.&lt;br /&gt;Teman saya adalah orang yang baik, dan saya tak peduli berapa banyak orang yang mengantarkannya ke liang lahat.&lt;br /&gt;Maaf teman, candamu aku analisis. Semoga kau tersenyum manggut-manggut di sana.&lt;br /&gt;Mari kita seruput kopinya, selagi masih panas beraroma.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-7775818484895924432?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/7775818484895924432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/orang-baik.html#comment-form' title='23 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7775818484895924432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7775818484895924432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/orang-baik.html' title='Orang Baik'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>23</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4616375159970191076</id><published>2008-08-25T22:39:00.000+07:00</published><updated>2008-08-25T22:42:00.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Dalam Bayangan Saya</title><content type='html'>Dalam sebuah pelatihan manajemen untuk para karyawan, diberikan kuis  tentang apa tugas yang menjadi tanggung-jawab mereka, dan uraian singkat mengenai bagaimana mereka melaksanakan tugas tersebut. Mereka juga diminta menuliskan siapa patron idola mereka.&lt;br /&gt;Membaca tulisan-tulisan tersebut, saya jadi berpikir tentang diri saya sendiri. Keberadaan saya di tengah para teman, kolega, senior dan yunior, atasan dan para teman yang bersama-sama saya menyelesaikan tugas bersama. Juga bagaimana saya bekerja, di mata keluarga, kerabat dan tetangga saya.&lt;br /&gt;Dalam bayangan saya.....&lt;br /&gt;Anak, keponakan, anak tetangga, menyaksikan keseharian saya berangkat dan pulang kerja. Juga kepergian saya untuk tugas-tugas ke pusat maupun luar kota.&lt;br /&gt;Mereka mungkin juga merekam sebagian pembicaraan saya ketika bertemu langsung dengan teman-teman saya ketika di rumah, di tempat resepsi, maupun di telepon yang kadang-kadang berkaitan dengan pekerjaan. Juga betapa seringnya tiba-tiba saya harus pergi ke kantor secara mendadak di hari libur bahkan malam hari ketika pada umumnya orang sudah beristirahat. Seringkali pula, sepulang dari tempat kerja, saya harus menyelesaikan pekerjaan sampai larut malam, bahkan terkadang sampai pagi ketika mereka bangun. Mungkin pula mereka melihat dan membaca sebagian pekerjaan saya.&lt;br /&gt;Barangkali mereka berpikir, betapa tinggi komitmen saya dalam melaksanakan pekerjaan. Betapa totalnya saya menjalani pekerjaan saya. Sehingga mungkin saya menjadi idola mereka.&lt;br /&gt;Sementara itu,&lt;br /&gt;Di tempat kerja sebenarnya saya menggunakan sebagian waktu untuk omong-omong kosong dan makan siang berlama-lama, main game atau mengakses internet dan mendownload materi-materi yang jauh hubungannya dengan pekerjaan. Tugas luar kota adalah suatu liburan wisata yang menyenangkan karena saya dapat mendatangi tempat-tempat jauh yang belum pernah saya kunjungi. Urusan tugas yang saya bawa, biarlah mereka yang saya datangi yang harus menyelesaikan.&lt;br /&gt;Kalaupun saya melakukan pekerjaan saya, sebenarnya saya hanyalah melanjutkan kebiasaan-kebiasaan yang saya warisi dari gaya bekerja para pendahulu saya, tanpa saya lakukan telaah seberapa relevan warisan tersebut untuk tetap dilakukan pada saat ini. Bahkan seringkali saya menyingkirkan dan membuang cara-cara yang menurut saya rumit dan hanya akan membuat saya sulit melakukannya, tanpa peduli bahwa yang saya singkirkan itu sebenarnya adalah bagian dari prosedur baku penyelesaian pekerjaan.&lt;br /&gt;Pemikiran dari para kolega dan yunior yang tidak mampu saya tindak-lanjuti saya tolak, sebagian data dan informasi saya sembunyikan atau tidak saya gali, karena saya tidak mampu mengolah dan menganalisisnya.&lt;br /&gt;Yang penting, apa yang saya laporkan kepada atasan sudah cukup membuat puas para beliau ini.&lt;br /&gt;Saya tidak suka mendapatkan atasan yang sok njelimet, analitis dan menguji laporan saya, karena setiap itu dilakukan, saya selalu kesulitan untuk menjelaskannya karena memang sebenarnya laporan itu disusun oleh para anak-buah saya. Dan, pada saat saya mendapat atasan yang tidak begitu pandai, sukalah hati saya. Apalagi kalau orang itu mudah dipengaruhi, sukur-sukur baik hati dan dermawan, apalagi murah hati dalam memberikan promosi kepada saya tanpa saya harus bersusah-payah berprestasi.&lt;br /&gt;Saya juga tidak suka anak-buah yang sok pandai, yang suka berteori dan sok ilmiah, memprotes dan mempertanyakan segala sesuatu yang saya perintahkan kepadanya. Toh mereka mengenal tugas lebih sedikit ketimbang saya. Dan saya tentu lebih tahu karena saya bekerja lebih lama. Kecuali, mereka tidak banyak bicara tetapi dapat membuat laporan-laporan seperti yang saya kehendaki. Dengan satu catatan, apabila yang mereka buat nantinya membuat malu saya di depan atasan, saya akan ambil tindakan tegas: buang atau isolasi mereka di pojok ruangan tanpa pekerjaan.&lt;br /&gt;Jangan coba-coba berkelit untuk itu, kecuali saya akan persona non grata-kan dia, sehingga tidak akan diterima di tempat manapun di lingkungan ini, kecuali oleh kolega saya lainnya yang merasa kasihan kepada anak buah saya itu.&lt;br /&gt;Jadi, sebenarnya saya tidak punya komitmen maupun totalitas dalam bekerja.&lt;br /&gt;Dan saya juga tidak begitu peduli dengan penilaian orang lain terutama para kolega saya atas apa yang saya lakukan.&lt;br /&gt;Ketika saya pensiun nanti, akan duduk seorang muda di ruangan ini dengan rasa bangga, mungkin kebetulan dia adalah anak saya, keponakan saya, anak tetangga saya, yang sangat mengidolakan saya.&lt;br /&gt;Nama besar saya, menurut mereka adalah pass untuk mencari nilai di tempat ini.&lt;br /&gt;Hari berganti, ketika anak-muda ini menelusuri jejak kerja saya, mempelajari produk-produk saya, pemikiran saya, informasi tentang saya dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan saya, idolanya.&lt;br /&gt;Pelan-pelan kekaguman mereka kepada saya mulai runtuh, seperti landasan pasir di dasar sungai yang terinjak kaki, lama-lama luruh tergerus derasnya arus air. Demikian pula nama besar saya yang berada dalam tempat tinggi di benak mereka, dari hari kehari turun ke titik nadir. Ternyata saya tak punya nilai apa-apa .......&lt;br /&gt;Demikian bayangan saya tentang bagaimana diri saya sekarang dan nanti, yang itu membuat saya sangat takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;(teman-teman yang sedang bekerja di tretes: semangat!)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4616375159970191076?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4616375159970191076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/dalam-bayangan-saya.html#comment-form' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4616375159970191076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4616375159970191076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/dalam-bayangan-saya.html' title='Dalam Bayangan Saya'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4647456672987922194</id><published>2008-08-23T00:21:00.001+07:00</published><updated>2008-08-23T00:26:29.023+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Sumbangan untuk PHBN</title><content type='html'>Membaca postingan di blog den mas teman, semula saya tidak begitu faham arahnya. Tetapi setelah saya membayangkan keberadaan dia sebagai seorang ‘middle manager’ akhirnya saya menjadi agak mafhum apa yang tersirat di balik posting tersebut. Cuma maaf, untuk sementara saya tidak akan mengungkap siapakah beliau ini, untuk menjaga harmonisasi di tempatnya bekerja yang mungkin masih cukup sensitif dengan yang namanya buka-bukaan.  &lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Singkatnya, menjelang Hari Besar Nasional seperti sekarang ini, sepertinya sudah tradisi bahwa ada yang namanya PHBN alias Panitia Hari Besar Nasional, yang bertugas untuk menyelenggarakan (utamanya) seremoni resmi hari-hari besar di antaranya Tujuhbelasan. Yang paling pokok memang upacara bendera. Apel di tanah-lapang, tretet-tretet-tretet, menaikkan bendera Merah-Putih, nanyi lagu kebangsaan, mengheningkan cipta, baca naskah proklamasi, ditambah aubade (lagu wajib oleh paduan suara), selesai. Begitu kira-kira pokok-pokoknya. Tetapi semenjak adanya kebiasaan menduplikasi aktivitas di Istana Negara, maka pernik-pernik upacara ini menjadi semakin rumit. Paskibraka misalnya, direkrut melalui tahapan seleksi yang begitu ketat dan pelatihan yang begitu tertib dan disiplin (pake upacara cium-cium bendera dan ikrar segala) dan juga dikonsinyir beberapa hari. Lalu tenda dan panggung upacara berikut poster dan baliho serta perlengkapan tata-suara yang (harus) prima. Belum lagi acara pasca-upacara, pemberian piagam-piagam penghargaan kepada para teladan. Ada pula pawai ( dulu ada pawai pembangunan) berikut pameran. Juga panggung hiburan untuk ‘rakyat’, pakai kesenian tradisional, pertunjukan band dan orkes. Mungin malah kembang api (kali, ya!).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dan masih banyak lagi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Semua butuh dana dan pengorganisasian layaknya ‘rojo’ mau mantu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Pas di urusan dana, barulah itu jadi masalah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Saya membayangkan untuk level kabupaten saja, mungkin bisa ratusan juta rupiah dana yang dikeluarkan. Jangan lupa, masing-masing partisipan juga mengeluarkan biaya lho, paling tidak beli peci dan kue serta air-minum untuk regu yang dikirim ikut upacara, dan itu bukan berasal dari duit PHBN.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Jadi, bagaimana memobilisasi dana untuk keperluan tersebut ?  Partisipasi masyarakat dengan tidak membebani rakyat. Artinya, melalui partisipasi lembaga-lembaga yang ada di masyarakat dana itu digali. Antara lain ya lembaganya teman saya itu tadi. Maksudnya sumbangan gitu lo ah, kok mbulet banget sih.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Teman saya merasa agak risih hati. Dan itu terbaca dari postingnya. Saya juga, kok. Dalam hati kami, apa ya masih jamannya to, menyelenggarakan acara seperti itu pakai ngutip-ngutip dana dari masyarakat ?  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Dilema yang dihadapi oleh den mas teman saya yang saya anggap sebagai representasi ‘masyarakat’ adalah :  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;diberi = mengganggu hati dan cashflow,  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;tidak berpartisipasi = bakalan terganggu kepentingan untuk mendapatkan pelayanan publik pada saatnya nanti kalau pas membutuhkan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Repot.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Belum lagi kalau keluhan disampaikan kepada manajernya terus dijawab : halaaah, ya sudah isi saja berapa gitu looo, seperti biasanya tapi tolong tambahin dikit-dikit, harga-harga sekarang kan sudah naik semua.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Padahal, permintaan dari level kampung, kelurahan kecamatan, kabupaten, belum lagi dari eng-ing-eng yang lain, yang kalau dijumlah-jumlahkan ternyata lebih banyak dibanding yang dikeluarkan untuk acara semacam di unit bisnisnya sendiri. Wuuih, lehernya jadi bengkak, gondoknya setengah-dut.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Mungkin sudah waktunya budaya tiru-meniru membabibuta begini mendapatkan tinjauan lebih cermat. Di tengah mandeg dan melambatnya upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat saat ini, merayakan ulang-tahun kemerdekaan &lt;i&gt;atas-nama mengenang dan menghargai jasa pahlawan&lt;/i&gt; lebih tepat dilakukan dengan melakukan aktivitas bakti masyarakat yang lebih riel dan terprogram. Misalnya dengan membagikan buku dan alat tulis sekolah gratis, sembako gratis, sunatan dan kawinan masal, fogging antinyamuk demam berdarah, rehabilitasi kampung kumuh dan lain-lain. Dengan catatan, bahwa semua dilakukan bukan untuk kampanye pemenangan kandidat eksekutif maupun legislatif di pentas-pentas pemilihan nantinya. Juga bukan untuk kampanye pemasaran produk.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Tetapi benar-benar tulus demi rakyat jelata di negeri ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Kapan Indonesia akan menjawab angan-angan yang terselip di dalam kepala saya dan kepalanya den-mas teman saya itu?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Akankah tahun depan masih ada tamu datang ke  tempat teman saya bekerja atas-nama PHBN untuk mengumpulkan sumbangan ?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Negeri yang elok ini debunya semakin tebal saja. Mari kita coba membersihkannya dengan membersihkan hati kita terlebih dahulu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;Sampai jumpa di tujuhbelasan tahun depan. Semoga mulai berubah. Insya Allah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;(Kita lihat dan cermati sama-sama ya den-mas!)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4647456672987922194?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4647456672987922194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/sumbangan-untuk-phbn.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4647456672987922194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4647456672987922194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/sumbangan-untuk-phbn.html' title='Sumbangan untuk PHBN'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4730568052562776741</id><published>2008-08-20T20:13:00.002+07:00</published><updated>2008-08-20T20:17:42.166+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Baju Koruptor: Akhirnya</title><content type='html'>Baju untuk koruptor yang paling cocok (ini versi lain lagi): Gak pake baju !&lt;br /&gt;Istilah Suroboyoannya: ote-ote !&lt;br /&gt;Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terbayang-bayang:&lt;br /&gt;Kerepotan nasional yang menggelikan ini masuk dalam  berita setiap stasiun televisi seluruh dunia, sementara di sini proses hukum berjalan lamban karena berlangsungnya  akting yang  menyebalkan di mana-mana.&lt;br /&gt;Sementara pula di sudut-sudut lain dunia, penanganan kasus korupsi    berjalan kencang dan putusan dilakukan secara adil : penjara dan denda.  Atau : mati.&lt;br /&gt;Sementara itu pula, di Republik tercinta yang sudah berumur ini, orang masih juga suka menghibur diri sambil bekerja dan bekerja sambil menghibur diri. Padahal hiburannya sama sekali tidak lucu dan menarik.&lt;br /&gt;Malah terkesan konyol sekali.&lt;br /&gt;Maaf.&lt;br /&gt;Case closed.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4730568052562776741?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4730568052562776741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/baju-koruptor-akhirnya.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4730568052562776741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4730568052562776741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/baju-koruptor-akhirnya.html' title='Baju Koruptor: Akhirnya'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2053204933331348625</id><published>2008-08-15T23:28:00.002+07:00</published><updated>2008-08-15T23:33:52.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Baju Koruptor: Tersangka, Terdakwa, Terhukum</title><content type='html'>Nanti dulu,&lt;br /&gt;Baju koruptor itu, nantinya dikenakan kepada siapa ?&lt;br /&gt;Tersangka, terdakwa, atau terhukum ?&lt;br /&gt;Atau barangkali ada tiga disain berbeda, masing-masing dibedakan dari tulisannya, misalnya : Tersangka Koruptor, Terdakwa Koruptor, Terhukum Koruptor.&lt;br /&gt;Lalu kapan dipakainya?&lt;br /&gt;Ketika diliput dan diambil gambar oleh media saja, atau di sepanjang  proses penyidikan, lalu proses pengadilan, atau  sepanjang waktu pelaksanaan pidana, atau sampai koruptornya mati?&lt;br /&gt;Atau hanya ketika diposterkan wajahnya di ruang-ruang publik, seperti poster-posternya Cabup, Cawali, Cagub dan Capres ketika kampanye ?&lt;br /&gt;Jangan lupa, ketika fotonya diposterkan, yang bersangkutan jangan boleh tersenyum, nanti rakyat tersinggung !&lt;br /&gt;Banyak pertanyaan dan usulan ya !&lt;br /&gt;Bodoh benar saya, yang begituan masa ditanya-tanyakan sih, bikin malu saja.&lt;br /&gt;Lagian, siapa yang harus menjawab ?&lt;br /&gt;Tanya saja kepada calon pemakai baju tersebut, suka atau tidak, setuju atau tidak.&lt;br /&gt;Mosok pertanyaan yang beginian musti Presiden yang harus menjawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2053204933331348625?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2053204933331348625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/baju-koruptor-tersangka-terdakwa.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2053204933331348625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2053204933331348625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/baju-koruptor-tersangka-terdakwa.html' title='Baju Koruptor: Tersangka, Terdakwa, Terhukum'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6230978070448571082</id><published>2008-08-15T00:24:00.000+07:00</published><updated>2008-08-15T00:26:12.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Baju Koruptor : Lomba Tujuhbelasan Tingkat Nasional</title><content type='html'>Sambil menyambut HUT Proklamasi Kemerdekaan yang ke 63, beberapa orang bahkan lembaga non-pemerintah sibuk memeras otak dan keringat : menciptakan disain baju untuk terdakwa koruptor dan koruptris. Kok koruptris ? Kalau yang didakwa perempuan. Bukankah pelakon perempuan disebut aktris ? Jadi boleh dong, pekorup perempuan disebut koruptris.&lt;br /&gt;Mungkin kalau ada yang bersedia mensponsori, kerepotan nasional tentang baju ini diangkat sebagai Lomba Kreasi Nasional Baju Koruptor. Hadiahnya ? Hadiah utama : Disainernya difoto ketika melempar telur busuk ke wajah terhukum. Foto tersebut dimuat dihalaman utama semua media cetak nasional selama tiga hari berturut-turut, dan tayang di seluruh stasiun TV pada prime-time selama tiga hari. Seru kan ?!!!&lt;br /&gt;Ya sudah, begitu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6230978070448571082?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6230978070448571082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/baju-koruptor-lomba-tujuhbelasan.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6230978070448571082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6230978070448571082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/baju-koruptor-lomba-tujuhbelasan.html' title='Baju Koruptor : Lomba Tujuhbelasan Tingkat Nasional'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-7313133103456435192</id><published>2008-08-11T22:24:00.002+07:00</published><updated>2008-08-23T00:29:14.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Dua Hati</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Rahwana:&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Andaikata Trijatha, gadis kecilku, tak lagi bersetia kepadaku, barangkali telah kuledakkan kerajaan Alengkadiraja ini karenanya.&lt;br /&gt;Dialah mutiara hatiku, penghiburku di kala hatiku kacau. Trijatha, gadis kecilku, sitawar-sidingin ketika hatiku gundah resah gelisah. Dialah satu-satunya yang telah membuatku dapat tetap bertahan dalam keadaan yang paling sulit, hanya dengan kata-katanya yang terucap sedih: Uwa Prabu, kepada siapa lagi aku berlindung, ketika engkau tiada nanti ? Pandanglah aku, uwa Prabu, bertahanlah demi diriku.&lt;br /&gt;Demikian setiap saat, ketika kemarahanku sudah sampai pada puncaknya, sehingga tak lagi kupedulikan segala sesuatu. Kerajaanku, rakyatku, adik-adikku, bahkan diriku sendiri. Dalam keadaan galau-hati seperti itu, tak peduli rasanya aku akan segala sesuatu, akan kulabrak-hancurkan segala yang menghalangi kehendakku, tak peduli andai aku terbunuh karenanya.&lt;br /&gt;Bukan aku yang meminta kepada Hyang Akarya Jagad, untuk dititahkan sebagai manusia berwajah raksasa, bermuka ganda-berganda lambang segala sifat buruk yang pernah ada. Bukan kehendakku, melainkan demikianlah adanya aku tercipta. Dan ini tak pernah kusesali, kuterima apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah kulewatkan hari-hariku untuk menantikan datangnya titisan Dewi Widowati dengan sabar hati. Kulalui hari-hari dengan berlaku sebagai raja yang memerintah negeri dan melindungi segenap kawula alit dari segala gangguan musuh. Kucoba memenuhi kebutuhan rakyatku dengan sebaik-baiknya. Kutegakkan keadilan, kubasmi para pengacau dan perusuh yang mencoba mengganggu ketenangan hidup rakyatku.&lt;br /&gt;Ooo, Trijatha, anak dari adikku, Gunawan Wibisana.&lt;br /&gt;Kuasuh dia semenjak kecil, kucintai laksana anakku sendiri. Ketika jalannya masih tertatih-tatih, ketawanya mengusik pendengaranku untuk bersegera meninggalkan sidang agar cepat bisa menimangnya. Dalam dekapanku, dirabanya muka uwanya ini, dicolok-coloknya lubang hidungku dengan jari-jemari mungilnya seraya tertawa-tawa. Ditarik-tariknya kumisku, yang siapapun gentar karenanya, tetapi tidak bagi Trijatha mungilku. Kupeluk dia dengan segenap rasa cintaku kepadanya, kutimang dan dia memelukku manja hingga terlelap. Segenap emban dan para abdi terheran-heran setiap aku bercanda dengan Trijatha, mereka takjub melihatnya, seakan bukan Rahwana lagilah aku, bukan lagi seorang Raja-Gung yang terkenal pemberang-pemarah sebagaimana sediakala, tetapi Rahwana yang menjadi sangat pecinta serta pengasih. Luluh hatiku oleh keberadaannya. Murka aku, apabila kulihat seseorang mengasarinya, bahkan kalaupun itu adalah ayahnya sendiri, Gunawan Wibisana. Apalagi emban atau abdi, pasti akan kusuruh hukum atau kutendang sampai ke sudut halaman istana. Tetapi kalau lantaran itu Trijatha menangis, maka aku panggil emban dan abdi tadi, kusuruh tertawa dan akan kuberi bebana demi Trijatha.&lt;br /&gt;Ketika Trijatha mulai dapat berjalan dan berkata-kata, kadang-kadang dia menyela masuk persidangan agung di balai singgasana sambil tertawa-tawa, terkadang dengan sekuntum bunga untuk ditunjukkan kepadaku.&lt;br /&gt;Kuhentikan persidangan, kububarkan serta-merta di tengah pandang mata takjub seluruh mantri-bupati dan punggawa kerajaan. Larut sudah segala ketegangan dan kemarahanku, kutinggalkan singgasana untuk bercanda dengannya sampai ia lelah dan tertidur di pangkuanku. Kunina-bobokkan dengan tembang Kinanti Subakastawa, meski suaraku serak dan parau, ditingkah suara burung-burung piaraan istana dan bunyi ayam bekisar serta burung merak di halaman.&lt;br /&gt;Trijatha, ooo, Trijatha, anakku, anak Gunawan Wibisana adikku, dikaulah embun bagi jiwaku.&lt;br /&gt;Kupercayakan Dewi Sinta dalam pendampinganmu, karena hanya engkaulah yang paling kupercaya untuk menjaganya, dan bukan seribu prajurit Alengka yang gagah perkasa, karena engkaulah yang mampu mencuri hatinya, sehingga Sinta merasa tenang berada di taman istana Kerajaan Alengka. Kutitipkan keberadaan Sinta padamu, wahai Trijatha, jagalah sebaik-baiknya, luluhkan hatinya, bukakan pintu kesadaran hatinya bahwa Rahwana amat mencintainya dan ingin mempersembahkan apapun yang ingin dimilikinya, asal Sinta bersedia meninggalkan Ramawijaya untuk diperisteri oleh Rahwana. Bujuklah Sinta, katakan bahwa dialah puteri yang telah kutunggu sepanjang waktu untuk menjadi isteriku, dialah puteri titisan Dewi Widowati yang telah dijanjikan para Dewa untuk menjadi pendampingku.&lt;br /&gt;Trijatha,&lt;br /&gt;Kalau bukan karena engkau, telah kubunuh Sinta karena penolakannya yang sungguh menyakitkan hatiku, atau telah kuhancurkan mahkota hidupnya dan kulecehkan kehormatannya serendah-rendahnya, karena bukankah sebenarnya keberadaannya ada dalam genggaman kekuasaanku?&lt;br /&gt;Kalau bukan karena tangismu Trijatha, yang mencegahku berbuat demikian, yang telah membuka kesadaranku untuk tidak mengulangi perbuatan cemar dengan mempedayainya, dan menculiknya dari tangan Rama, seraya engkau memeluk kakiku dan memohon kesabaranku, dengan tangismu, dengan rasa sayangmu kepadaku Trijatha, tentulah kejadiannya akan lain. Tak ada lagi Sinta, tak ada lagi Rahwana, karena kematian Sinta akan kususul segera dengan kematianku, agar aku dapat menyertainya berangkat ke Kahyangan Suralaya bersama-sama.&lt;br /&gt;Trijatha, engkaulah mutiara dalam kehidupanku, yang telah begitu ikhlas tetap berada bersamaku, menyertaiku dengan setia, bahkan ketika ayahmu yang juga adalah adikku yang kusayangi, telah menyeberang berpihak kepada Ramawijaya, untuk bersiap-siap merebut kembali Sinta dari tanganku, dan kalau perlu akan dilakukannya dengan meluluh-lantakkan negeri ini, Alengka diraja. Kerajaan di mana ayahmu dilahirkan, dibesarkan, di mana ayahmu berhutang air, udara, bumi dan kehidupan.&lt;br /&gt;Ketika ayahmu berpihak kepada musuh negeri kita, engkau bertahan untuk tetap bersamaku di sini, sambil melaksanakan tugasmu untuk menjaga Sinta.&lt;br /&gt;Oooo, Trijatha, Trijatha.....&lt;br /&gt;Apa yang pantas untuk kuberikan balasan  padamu atas segala rasa cintamu kepadaku, kesetiaan mutlakmu kepada uwakmu ini, Trijatha ? Andai engkau minta hidupku, niscaya akan kuserahkan bilah keris pusakaku, akhirilah hidupku olehmu, aku rela, anakku. Tetapi engkau tak pernah mengatakannya, bahkan kau katakan, tak sedikitpun engkau pedulikan kata orang tentangku, selain hanya engkau inginkan aku bersabar, aku lebih bersabar, untuk  mendengar kata-katamu yang selalu menyejukkan hatiku.&lt;br /&gt;Andai bukan engkau yang berkata seperti itu, tentu telah kutampar sampai robek mulutnya, atau kulempar tubuhnya hingga ke laut, atau kucabik-cabik menjadi serpihan luluh-lantak. Tetapi ketika engkau yang berkata, runtuhlah segala benteng kedigdayaanku karena pandang-matamu yang penuh kasih kepadaku, uwakmu, Raja Alengkadiraja yang sedang diamuk rasa.&lt;br /&gt;Terlebih lagi ketika kau menangis seraya berkata menyayat hati : Uwa Prabu, kepada siapa lagi aku berlindung, ketika engkau tiada nanti ? Pandanglah aku, uwa Prabu, bertahanlah demi diriku.&lt;br /&gt;Luluhlah hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;i&gt;Trijatha:&lt;/i&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Uwa Prabu Dasamuka; apapun kata orang tentangnya bagiku tak ada artinya. Beliau adalah kakak dari ayahku, Gunawan Wibisana, beliau adalah rajaku, tetapi lebih dari segalanya, beliau adalah orang-tuaku.&lt;br /&gt;Uwa Prabu sangat menyayangiku, demikian pula aku terhadapnya.&lt;br /&gt;Ketika semua orang takut kepadanya, aku justru bergayut manja, ketika kecil dahulu. Di tengah kemarahannya, beliau dapat segera tertawa panjang melihatku datang kepadanya dengan setangkai kembang puspanyidra merah-merona. Serta-merta akan digendongnya aku dan diajaknya bercanda. Bahkan ketika masih dengan segenap pakaian kebesarannya.&lt;br /&gt;Barangkali Dewata telah menentukan hidupnya, menjadi raja, berwajah raksasa, berperilaku angkara. Meskipun kakekku, yang adalah ayahnya adalah seorang pandita- pertapa.&lt;br /&gt;Bukanlah semata-mata kesalahannya, ketika dia memperjuangkan janji hatinya, sehingga dia harus melakukan hal tercela, menculik Dewi Sinta isteri Ramawijaya.&lt;br /&gt;Di balik sosok angkaranya, Uwa Prabu Rahwana adalah seorang manusia yang masih memiliki kelembutan hati, paling tidak dihadapanku, kemenakan yang telah diasuhnya, dimanjakannya, dan disayanginya setara dengan kasih-sayang dari orang-tuaku sendiri. Kata-kataku akan didengarnya baik-baik, seperti juga ketika beliau memberiku nasehat baik tentang kesetiaan, tentang keteguhan hati, tentang tanggung-jawab. Beliau adalah orang-tua ke dua bagiku, di mana aku merasa harus berbakti pula, harus menjaganya, harus menemaninya, mendengarnya, menghibur galau-hatinya, mengasihinya.&lt;br /&gt;Uwa Prabu sering meminta pendapatku terhadap tindakan dan keputusannya, dan ketika kusampaikan tidak seperti yang lainnya, sering berkerut keningnya, tetapi ketika kujelaskan bahwa aku berpendapat demi kasih-sayangku kepadanya, biasanya beliau akan tertawa panjang lalu dijenggungnya dahiku pelan penuh kasih, sambil berkata: “ Guoooblog, semuaaa... ha ha ha ha, semuanya guuuwwobloooggg! Ha ha ha ha, tetapi Trijatha telah menyampaikan pendapat yang baik, jujur! Baguss, ndukk! Anakku memang panddddaiii ! Ha ha ha ha .....!!!&lt;br /&gt;Juriiiiiiitttt .....!”&lt;br /&gt;Beliau lalu memanggil pengawal :&lt;br /&gt;“Panggil Paman Patih Prahasta !!”&lt;br /&gt;Biasanya ketika itu pula sidang segera dilakukan, tak peduli kapanpun saatnya, bahkan ketika malam hari. Dan keputusannya tak jauh dari pendapat yang telah aku sampaikan.&lt;br /&gt;Uwa Prabu sebenarnya adalah seorang raja yang layak untuk dikasihani. Karena pembawaan dari sifatnya yang pemberang, maka tak seorangpun berani berbeda pendapat dengannya, apalagi menentang keputusannya. Sehingga semakin kentallah sosok dur-angkaranya di mata dunia.&lt;br /&gt;Sebenarnya di mataku tidaklah sepenuhnya demikian. Beliau adalah raja yang teguh memegang janji, setia kepada negerinya,  gigih dalam meraih cita-citanya dan bertanggung-jawab atas segala perbuatan dan keputusannya.&lt;br /&gt;Aku sangat mengenalnya, karena mungkin aku satu-satunya orang yang paling dekat dengannya, melebihi siapapun, bahkan melebihi adik-adiknya. Karena itu, akulah satu-satunya orang yang dapat melihat sisi lain dari Uwa Prabu Rahwana, yang juga bergelar Dasamuka.&lt;br /&gt;Aku merasa harus senantiasa ada setiap saat dia membutuhkannya, untuk mendengarkan keluhannya, kemarahannya terhadap keadaan yang ada, memahami kegalauan hatinya, menghayati cita-citanya. Karena hanya dengan itulah aku mampu membalas kasih-sayangnya yang telah dicurahkannya sejak aku ada hingga kini. Hanya dengan itulah aku dapat berbuat untuk mengawal kehidupan batiniahnya, agar tak terhempas dalam kekosongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tetapi,&lt;br /&gt;Dunia telah mencatat kisah dan sejarah menurut cara pandangnya sendiri,&lt;br /&gt;Hari itu kerajaan Alengkadiraja luluh-lantak hancur berantakan oleh serbuan pasukan monyet yang dipimpin Prabu Ramawijaya ketika akan merebut kembali Dewi Sinta dari sekapan Rahwana.&lt;br /&gt;Rahwana gugur tercabik-cabik oleh ribuan bala-tentara di bawah pimpinan Panglima Sugriwa, setelah sebelumnya tubuhnya terhempas rubuh tertembus panah Ramawijaya.&lt;br /&gt;Hari itu, kerajaan Alengkadiraja kelam berselimut asap, bau anyir darah dan tumpukan bangkai prajurit yang gugur. Rintih kesakitan dan ratap tangis memenuhi angkasa.&lt;br /&gt;Rahwana gugur dalam kebesarannya.&lt;br /&gt;Di balik taman, Trijatha duduk bersimpuh dihadapan Dewi Sinta, menangis haru atas gugurnya Uwa Prabu yang dicintainya. Saat yang pernah ditakutkannya kini benar terjadi.&lt;br /&gt;Ketika kemudian ayahnya, Gunawan Wibisana, menjemput dan mendatanginya dengan pakaian perang yang masih bersimbah darah, Trijatha berkata:&lt;br /&gt;“ Ayahku, kusampaikan kata-kata Uwa Prabu, bahwa sampai saat terakhir Uwa Prabu tetap mengasihiku, dan dimintanya aku tetap mengasihimu, seperti dia tetap mengasihimu pula .....”, di sela sedu tangisnya yang tertahan.&lt;br /&gt;Gunawan Wibisana tercekat hatinya, dan berpikir tentang apa yang telah diperbuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sebuah sudut, sepasang mata hati mengamati, segala yang telah dan sedang berlangsung, dengan diam-diam.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-7313133103456435192?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/7313133103456435192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/dua-hati.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7313133103456435192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/7313133103456435192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/08/dua-hati.html' title='Dua Hati'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5628200177339844527</id><published>2008-07-24T18:58:00.004+07:00</published><updated>2008-07-24T19:14:14.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>adakah suatu hari</title><content type='html'>adakah suatu hari&lt;br /&gt;engkau berharap, menunggu seseorang untuk menyapamu&lt;br /&gt;dengan senyum manis&lt;br /&gt;dan bingkisan di tangan&lt;br /&gt;berkata: selamat ulang tahun&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;                                          dan ketika itu tak terjadi&lt;br /&gt;                                             kecewamu berhari-hari&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;        &lt;br /&gt;adakah suatu hari&lt;br /&gt;engkau berharap orang-orang berkumpul penuh hormat memandangmu&lt;br /&gt;dan salah-satu berkata: terima kasih atas segala jasa&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;                                          dan ketika itu tak terjadi&lt;br /&gt;                            kau menyesalinya untuk waktu yang lama&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;adakah suatu hari&lt;br /&gt;dalam sepi kau berharap seorang singgah untuk menemanimu&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;                                          dan ketika itu tak terjadi&lt;br /&gt;                kau merasa seolah tak seorangpun lagi ramah padamu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;pandangan matamu ke arah pintu&lt;br /&gt;menunggu seseorang datang padamu, untuk sekedar menyapa atau&lt;br /&gt;berbincang tentang apa saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                         ada hari&lt;br /&gt;       yang setia menunggumu untuk datang padanya&lt;br /&gt;   ketika kau nanti harus bersendiri dalam waktu lama&lt;br /&gt;                      dalam sepi&lt;br /&gt;         yang engkau sendiri akan mendatanginya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; jangan datang kepadanya berbekal kecewa, sesal dan nestapa&lt;br /&gt;                karena kedatangannya&lt;br /&gt;   mengakhiri semua hari-hari yang pernah kau tunggu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;(menyambut kedatangan adik-adikku, teman bermainku di masa kecil dulu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5628200177339844527?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5628200177339844527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/adakah-suatu-hari.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5628200177339844527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5628200177339844527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/adakah-suatu-hari.html' title='adakah suatu hari'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4582121993635971036</id><published>2008-07-24T12:17:00.003+07:00</published><updated>2008-07-24T12:24:13.066+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Jambu Busuk</title><content type='html'>Di belakang rumah ada sebatang pohon jambu air, yang saat ini sedang lebat buahnya. Manis rasanya. &lt;br /&gt;Ketika malam hari, banyak buah berjatuhan menimpa lembaran seng di bawahnya yang belum sempat disingkirkan. Jatuhnya jambu-jambu tersebut mungkin karena lepas dari gigitan kalong dan sebagian lagi karena tangkai buahnya rapuh akibat dimakan ulat di dalamnya. Setiap malam terdengar bunyi jambu jatuh di atas lembaran seng.&lt;br /&gt;Entah kenapa, tiba-tiba saja terbayang rentetan berita pengungkapan beberapa kasus pemuka negeri, dari kalangan eksekutif, legislatif maupun yudikatif, yang kemudian berjatuhan seperti jambu busuk di belakang rumah.&lt;br /&gt;Buah jambu yang diharapkan dapat dimakan ketika matang di dahan-dahan pohon, ternyata sebagian berulat, dan baru akan ketahuan ketika dipetik dan dibelah. Atau ketahuan berulat ketika dia rontok.&lt;br /&gt;Dalam bayanganku, seperti ini pulakah ‘Para Buah Jambu’ yang pohonnya tertanam di negeri ini, berjatuhan karena berulat di dalamnya? Yang keberadaannya urung memberikan kesegaran dan rasa manisnya kepada segenap anak negeri yang menunggu matang buahnya?&lt;br /&gt;Ketika malam hari, setiap terdengar bunyi jambu jatuh, terngiang kembali kata-kata para tetanggaku : doa orang teraniaya, makbul adanya...., sambil mereka bersama-sama bekerja bakti membuat bangku-bangku untuk anak yang belajar mengaji di musala dekat rumah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4582121993635971036?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4582121993635971036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/jambu-busuk.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4582121993635971036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4582121993635971036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/jambu-busuk.html' title='Jambu Busuk'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3501109420522428515</id><published>2008-07-10T23:25:00.002+07:00</published><updated>2008-07-24T19:18:41.866+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Di Bawah Bendera Revolusi</title><content type='html'>Satu Tahun Ketentuan ( Year of Decision )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba renungkan saudara-saudara, betapa perlunya kita harus berani memerangi diri sendiri, memperjuangkan zelfoverwinning atas diri kita sendiri:&lt;br /&gt;Semula kita mencita-citakan satu kemakmuran dan keadilan yang merata. Dua belas tahun kemudian, puluhan juta rakyat masih belum dapat hidup layak sebagaimana pantasnya bagi rakyat sesuatu negara yang merdeka.&lt;br /&gt;Semula kita mencita-citakan Negara Republik Indonesia yang meliputi sekujur badannya bangsa Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke. Dua belas tahun kemudian, seperlima dari wilayah Republik Indonesia masih dijajah oleh Belanda.&lt;br /&gt;Semula kita mencita-citakan , bahwa di dalam alam kebebasan dan kemerdekaan, kita akan dapat mengembangkan segala daya-cipta kita untuk membangun sehebat-hebatnya: Membangun satu Pemerintahan nasional yang kokoh-kuat, membangun satu Angkatan Perang nasional yang kokoh-kompak, membangun satu industri modern   yang sanggup mempertinggi taraf-hidup rakyat kita, membangun satu pertanian modern guna mempertinggi hasil-bumi, membangun satu kebudayaan nasional yang menunjukkan kepribadian bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Tetapi dua belas tahun kemudian, kita telah mengalami tujuh-belas kali pergantian Kabinet; mengalami kerewelan-kerewelan dalam kalangan tentara; mengalami bukan industrialisasi yang tepat, tetapi industrialisasi tambal-sulam zonder overall-planning yang jitu; mengalami bukan kecukupan bahan makanan, tetapi impor beras terus-menerus; mengalami bukan membubung-tingginya kebudayaan nasional yang patut dibanggakan, tetapi gila-gilaannya rock and roll; mengalami bulan merdunya seni-suara Indonesia murni, tetapi geger-ributnya swing dan jazz dan mambo-rock; mengalami bukan daya-cipta sastra Indonesia yang bernilai, tetapi banjirnya literatur komik.&lt;br /&gt;Contoh-contoh ini adalah cermin daripada menurunnya kesadaran nasional kita dan menurunnya kekuatan jiwa nasional kita. Apakah kelemahan jiwa kita itu? Kelemahan jiwa kita ialah, bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar-negeri, kurang percaya-mempercayai satu sama lain padahal kita ini pada asalnya ialah rakyat gotong-royong, kurang berjiwa gigih melainkan terlalu lekas mau enak dan ‘cari gampangnya saja’. Dan itu semua, karena makin menipisnya ‘rasa harkat nasional’ - makin menipisnya rasa ‘national dignity’- , makin menipisnya rasa bangga dan rasa hormat terhadap kemampuan dan kepribadian bangsa sendiri dan rakyat sendiri.&lt;br /&gt;Ya, kemampuan dan kepribadian   r a k y a t  sendiri! Rakyat jelata, rakyat yang berpuluh-puluh juta, rakyat yang laksana semut mencari makan dan beranak dan tertawa dan menangis dan hidup dan mati, - rakyat yang dari sinar-mata mereka berpancar kekuatan dan kepribadian bangsa, rakyat yang dari tindak-tanduk merekalah tertampak gigih bangsa dan karakteristik bangsa. Berapa orangkah dari alam pemimpin Indonesia sekarang ini yang masih benar-benar-‘rakyati’ seperti dulu, masih benar-benar ‘volks’ seperti dulu?&lt;br /&gt;.................................&lt;br /&gt;Inilah yang banyak pemimpin kita telah lupakan! Bukan mereka think-and-rethink serta shape-and-reshape secara individualitet bangsa Indonesia sendiri, bukan mereka pulangkan segala persoalan kepada kepribadian obyektif daripada bangsa Indonesia sendiri, tetapi mereka, karena lepasnya kontak dengan rakyat, mengkopisaja dan menjiplak saja secara hantam-kromo apa yang mereka lihat sebagai satu polieteke wijsheid di negari orang lain!&lt;br /&gt;Akibatnya? Segala sesuatu lepas dari buminya, segala sesuatu lepas dari relnya! Segala sesuatu lantas rontok. Segala sesuatu peringisan, karena mukanya bukan lagi muka muka yang ia bawa tatkala keluar dari gua-garba Ibu Pratiwi.&lt;br /&gt;Sebenarnya, semua dasar-dasar daripada perjuangan kita dahulu,    t e t a p   b e r l a k u   bagi zaman sekarang. Hanya, sekarang, dalam alam kemerdekaan ini harus ditujukan kepada hal-hal yang lebih kongkret; ditujukan kepada hal-hal yang bersangkut-paut dengan penghidupan rakyat sehari-hari. Tetapi dasar-dasarnya harus tetap. Grongedachte-nya harus tetap. Kekuatan kita harus tetap bersumber kepada kekuatan rakyat. Apin kita harus tetap  apinya semangat rakyat. Pedoman kita harus tetap kepentingan rakyat. Tujuan kita harus tetap masyarakat adil dan makmur, masyarakat ‘rakyau untuk rakyat’. Karakteristik segenap tindak-tanduk perjuangan kita harus tetap karakteristik rakyat, yaitu karakteristik rakyat Indonesia sendiri dan karakteristik bangsa Indonesia sendiri. Tidak harus ada perubahan sedikitpun dalam hal itu. Tetapi ini tidak berarti bahwa dus pikiran kita harus beku, harus ‘itu-itu-lagi’ harus statis.&lt;br /&gt;Tidak! Fikiran kita harus dinamis! Apalagi jikalau kita mengingat, bahwa persoalan kita ialah persoalannya rakyat dalam alam perpindahan, yaitu persoalannya rakyat dalam alam ‘transsition’. Persoalannya rakyat dalam alam ‘Uebergang’. Perpindahan dari apa ke apa? Perpindahan dari alam penjajahan ke alam kemerdekaan. Perpindahan dari alam kolonial ke alam nasional. Perpindahan ini mengkonfrontir kita denga persoalan-persoalan yang jawabannya tak dapat kita    j i p l a k    begitu saja dari teorinya orang lain. Karena itulah, maka, walaupun dasar-dasar atau grongedachte-nya perjuangan kita harus tetap, kita tak boleh beku dalam fikiran, tak boleh statis dalam daya-cipta, tak boleh berhenti, tetapi harus dinamin dan tangkas dalam fikiran.&lt;br /&gt;Tiga persoalan-pokok harus kita pecahkan dalam alam perpindahan ini:&lt;br /&gt;Ke satu: Bagaimanakah dan dari manakah kita memperoleh modal bagi pembangunan yang harus kita tempuh?&lt;br /&gt;Ke dua: Bagaimanakah kita secepat mungkin dapat memperoleh kecakapan untuk membangun, yaitu memperoleh ‘technical and managerial know-how’ untuk pembangunan kita?&lt;br /&gt;Ke tiga: -last but not least- : Sistem politik apakah yang paling baik bagi Indonesia, paling cocok dengan dasar-dasar penghidupan rakyat Indonesia, - paling memberi atmosfir yang tepat bagi rakyat Indonesia dalam alam perpindahan ini?&lt;br /&gt;Ketiga-tiga persoalan ini tak dapat dipisahkan satu sama lain, tak dapat disuruh berdiri sendirian masing-masing. Yang satu ada hubungan erat dengan yang lain, yang satu adalah komplementer kepada yang lain. Bahkan ketiga-tiganya adalah berhubungan erat dengan perjuangan nasional kita yang masih dalam tingkatan ‘belum selesai’ itu. Siapa yang hendak memisahkan persoalan-persoalan ini dari perjuangan nasional kita yang masih dalam tingkatan ‘belum selesai’,  ia hanya menunjukkan kekerdilan belaka daripada pengertian-pengertiannya. Ia hanya menunjukkan keprimitivan belaka daripada ia punya denkwereld, kebekuan daripada ia punya alam-fikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1) dikutip dari  buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid ke dua cetakan ke dua 1965 halaman 283-287&lt;br /&gt;2) sebagian dari amanat Presiden Sukarno pada Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1957 di Jakarta&lt;br /&gt;3) ditulis ulang dengan penyesuaian ejaan dan letak,&lt;br /&gt;4) sebagian dihilangkan dengan tidak memutus konteks&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3501109420522428515?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3501109420522428515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/di-bawah-bendera-revolusi.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3501109420522428515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3501109420522428515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/di-bawah-bendera-revolusi.html' title='Di Bawah Bendera Revolusi'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5952104645209014413</id><published>2008-07-08T09:19:00.003+07:00</published><updated>2008-07-08T09:29:44.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Tujuhbelasan</title><content type='html'>“Saya usulkan supaya di mulut gang kita didirikan gapura, seperti RT sebelah..” usul pak Singkir dengan lantang pada rapat pengurus RT Tiga, “ jadi nantinya RT kita tidak ketinggalan dari RT  Empat, yang gapuranya bagus itu..”,  demikian lanjutnya.&lt;br /&gt;“Ya, saya sangat setuju dan mendukung pendapat pak Singkir. Masa’ kita kalah pamor dengan RT sebelah..”, pak Basirun menimpali dengan semangat.&lt;br /&gt;“Pak RT!, daripada uang kas RT nganggur ndak digunakan untuk apa-apa, lebih baik dimanfaatkan untuk gapura saja..., lha kalo masih kurang, kita urunan. Gimana Bapak-bapak? Setuju, kan ?”. &lt;br /&gt;Pak RT masih belum menanggapi apa-apa, pandangannya menyapu para peserta Rapat Pengurus RT, yang berjumlah lima belas orang.&lt;br /&gt;“ Sebentar.. sebentar.. “ salah seorang pengurus lain menyetop pembicaraan yang seru tersebut, “ sebenarnya uang kas RT kita itu ada berapa sih? Pak Bendahara mungkin bisa kasih informasi”&lt;br /&gt;“ Yang penting itu niatnya, pak! Soal uang bisa dicari, kan kita bisa minta sponsor dari warga kita yang mampu, lalu kekurangannya, seperti kata pak Basirun, kita urunan lah. Ini demi gengsi RT Tiga lho! Demi RT kita bersama, juga supaya Pak RT punya tinggalan kalo nanti sudah selesai masa jabatannya. Betul kan Pak RT?!!” demikian sambung pak Singkir lagi.&lt;br /&gt;Pak RT senyam-senyum sambil makan keripik melinjo.&lt;br /&gt;“ Jangan lupa, kalo ada gapuranya, ya perlu dikasih portal, biar orang mbambung, pemulung dan penjahat ndak mosak-masuk selonang-selonong di wilayah kita seenaknya sendiri...” mas Bladu yang purnawirawan KKO menimpali.&lt;br /&gt;“ Brik-brik-brik... lontong capgomek keluar... sekarang makan duluuu...” Piring berisi makanan yang baunya menggoda hidung, lidah dan alat pencernaan mulai beredar secara berantai. Sekejap terdengar bunyi sendok beradu dengan piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapat pengurus RT Tiga kali ini diselenggarakan di rumah Man Doplang, dengan menggelar tikar di teras rumah, semua duduk bersila. Acara pokok rapat kali ini sebenarnya adalah persiapan tujuh-belasan, demikian tertulis di undangan pada acara nomor satu. Nomor duanya, membahas iuran warga, entah tentang apanya: jumlahnya, bolong-bolongnya, atau cara pengumpulannya. Dan yang nomor tiga tertulis : Lain-lain.&lt;br /&gt;Tampaknya, tadi begitu sekretaris RT membuka acara yang kemudian pak RT menyampaikan pengantarnya, acara langsung berbelok ke Lain-lain. Nah, ketika masalah gapura ini muncul, sekretaris sempat membisikkan info ke telinga pak RT, bahwa rupanya beberapa hari belakangan ini di blok Kumis-kucing ( di blok itu, depan rumah  ditanami toga Kumis-kucing, karena sebagian orang di situ mengidap batu ginjal), di blok Kumis-kucing berlangsung kampanye gapuraisasi(?!), dengan promotor pak Singkir. Pak RT manggut-manggut mendengar info tersebut, meski sebenarnya dari isterinya dia sudah diberitahu tentang adanya ‘odo-odo’ seperti itu dari bu Basirun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bagaimana pak RT, bisa dilanjut ? “ Pak Singkir memulai diskusi sambil mengelap mulut dan hidungnya yang meler kepedasan dengan tisu. Semangat banget dengan usulan proyeknya. “ Saya dan teman-teman siap membantu pekerjaan tukang yang akan kita serahi mengerjakan gapura itu, pak. Pokoknya beressss....”&lt;br /&gt;“ Sebentar Pak RT, saya boleh bicara? “ Pakde Drajat yang pangsiyunan Sipil Pulisi yang menjabat sebagai kordinator seksi Sosial menyela. “ Kalo tidak salah, urutan acara rapat seperti yang ada di undangan dan dibaca oleh Pak Seketaris tadi kan nomer satunya persiapan tuju-belasan to?! Maaf lo Bapak-bapak semuanya, saya cuma kepengin rapat kita ini runtut. Poin demi poin selesai dengan tuntas.”&lt;br /&gt;“ Kayaknya kok betul Pakde Drajat, Pak RT! Saya setuju, mari kita bahas satu-satu, sampai nanti ujungnya lain-lain: gapura” Mas Helmi yang  Dosen Universitas Tekes Kurang Omil kordinator seksi Kebersihan mengamini apa yang disampaikan Pakde Drajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Pak RT diam. Semua pandangan mata tertuju kepada dia. Orang paling muda di RT Tiga, yang diplokotho secara berjamaah untuk jadi RT, karena yang tua-tua pada wegah rekoso meladeni penduduk dan meladeni tugas-tugas dari Kelurahan yang suka datang semaunya sendiri dan harus diselesaikan segera.&lt;br /&gt;“Betul, Bapak-bapak, sebaiknya mari kita mencoba untuk kembali kepada pokok urutan agenda rapat kita. Kepada Pak Singkir dan Pak Basirun serta Bapak-bapak yang mempunyai usulan tentang gapura, nanti kita akan membahas pada giliran berikut. Saya mohon dukungan agar acara rapat ini dapat berjalan dan menghasilkan kesepakatan bagi kebaikan RT kita bersama”.&lt;br /&gt;Poin demi poin dibahas. Untuk tujuh-belasan diperlukan dana dua setengah juta, yang akan dipenuhi dari kas RT, dan kas PKK akan dimintai partisipasi sebesar delapan ratus ribu untuk konsumsi pada malam syukuran tanggal 16-nya.&lt;br /&gt;Kas RT saat ini ada dua koma sembilan juta, yang tiga ratus ribu dicadangkan untuk partisipasi ke panitia tujuh-belasan tingkat RW. Jadi nantinya uang kas RT akan tinggal bersisa seratus ribu.&lt;br /&gt;Beberapa tunggakan iuran warga kalau dijumlah ada empat ratus ribu belum tertagih, karena mereka masih belum bisa membayar, sedangkan uang BLT yang mereka terima lebih dibutuhkan untuk keperluan bayar biaya sekolah anak-anaknya ketimbang untuk nutup iuran kampung yang bolong.&lt;br /&gt;“Jadi urusan gapura bagaimana, Pak RT? Bisa gagal kalo begini...” Pak Singkir kembali ke : laptop.&lt;br /&gt;“ Begini saja pak RT, cobak kita kalkulasi kasaran saja” Pakde Drajat urun-rembug   “ gapura yang mau kita bikin itu di sebelah mana? Kita kan punya tiga mulut gang; lantas apa kita mau bikin di tiga-tiganya, satu saja atau gimana....”&lt;br /&gt;“Ya kalo bisa tiga-tiganya, biar ndak ada yang meri” kata Pak Basirun.&lt;br /&gt;“ Saya kemarin ngitung kasaran, satu gapura biayanya kurang lebih tiga juta, itu kalo modelnya sederhana. Jadi; kalo mau tiga gapura ya sembilan juta” kata Pak Singkir.&lt;br /&gt;Sebagian pengurus ketawa. Ada yang kaget, karena ikut rapat sambil agak ngantuk gara-gara semalam jaga keponakannya yang opname di RSUD, habis operasi ambeien.&lt;br /&gt;“ Lho! Yang penting itu kan niatnya” Pak Singkir agak tersinggung, “ kita mau bikin RT kita lebih bergensi atau enggak! Mumpung ini menyongsong tuju-belasan, jadi sekalian nanti bisa diresmikan pas ha-u-te perokelamasi! Kalo soal duitnya kan gampang, bisa minta sumbangan Bapak-bapak yang rumahnya besar-besar itu, atao, kita tarik yang punya motor  duapuluh ribu satu motor, satu mobil seratus ribu, atao lagi “ Pak Singkir semakin merajalela” Kita minta seponsor dari bapak-bapak yang maju pilgub! Gampang itu, nanti saya bisa bantu menghubungi tim suksesnya!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Walah-walah pak Singkir! Diminta jadi Ketua RT saja menolak! Dimintai bantuan narik iuran yang bolong-bolong saja mbulet ndak jalan-jalan, kok ini ngoyoworo mau ke tim suksesnya para pasangan cagub-cawagub segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yang penting kan niatnya.....”&lt;br /&gt;Bagian ini betul, yang ruwet ada di pelaksanaannya, Paak, pak.&lt;br /&gt;Rapat dibubarkan jam setengah sebelas malem, urusan gapura dipending, dan acara ditutup dengan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Man Doplang jam sebelas malam ikut bantu isterinya cuci piring, nyapu-nyapu teras dan ringkes-ringkes tikar. Sementara saya masih kethap-kethip nulis ini, dan pengurus kampung yang lain : sudah mlungker tidur kaya kucing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5952104645209014413?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5952104645209014413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/tujuhbelasan.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5952104645209014413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5952104645209014413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/tujuhbelasan.html' title='Tujuhbelasan'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1588249970498456325</id><published>2008-07-02T20:13:00.001+07:00</published><updated>2008-07-02T20:16:29.193+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Mosaik</title><content type='html'>Di Jalan Gentengkali Surabaya, pada tahun 1970-an di sebelah timur dari Toko Siola yang terkenal itu ada sebuah gedung dua lantai yang berfungsi sebagai balai prajurit milik TNI-AL namanya Gita Tamtama. Bangunan tersebut sekarang telah bermetamorfosa menjadi Gedung Gita, yang lantai duanya digunakan sebagai restoran, sedangkan lantai satunya dapat disewa untuk hajatan.&lt;br /&gt;Ketika jalan Gentengkali belum dilebarkan menjadi dua jalur seperti sekarang, halaman Gita Tamtama cukup luas, sehingga tampang gedung tersebut tampak megah untuk ukuran kala itu, apalagi ketika di halaman tersebut dilakukan upacara militer, sepadan dengan predikatnya sebagai Balai Prajurit.&lt;br /&gt;Di sisi kanan dan kiri pintu gedung, terpasang dua pilar tembok berukuran kurang lebih lima meter lebar dan enam meter tinggi dengan mosaik berbahan keramik warna warni, yang satu dengan gambar kapal layar Dewaruci, dan pada pilar satunya bergambar kapal perang modern dengan tiga sosok prajurit TNI-AL di latar depan. Pada malam hari, kedua mosaik tersebut tampak sangat bernuansa karena disorot dengan lampu spot yang terang-benderang. Kilau yang ditimbulkan oleh potongan-potongan keramik yang membentuk citra kapal-kapal tadi terasa cukup monumental.&lt;br /&gt;Sepasang mosaik tersebut didisain oleh kelompok seniman dari Sanggar Bambu Jogjakarta, demikian seingat saya, karena saya sedikit terlibat membantu proses akhir penyelesaiannya, sebelum diresmikan oleh Panglima (Armada?). Tujuh puluh dua jam nyaris tanpa tidur,  saya, mas Slamet, mas Wietje dipandu oleh pak Narso dan kawan-kawannya, mengejar tenggat waktu peresmian.&lt;br /&gt;Entah di mana mosaik tersebut sekarang berada. Dibongkar atau ditutup dengan plesteran tembok, saya tak bisa memperkirakan lagi. Hanya, sungguh sayang bahwa sebuah karya yang setidaknya dapat digunakan sebagai penanda situs dan sekaligus penanda jaman, harus hilang untuk sebuah kepentingan yang lain, yang mungkin saya tidak atau belum memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula rupanya kehidupan. Sesuatu yang dipelihara, diperhatikan dengan penuh kepedulian, serta dicintai dengan segenap hati, digantungkan harapan yang begitu tinggi dan mulia, tiba-tiba tercerabut demikian saja dari dekapan indera dan hati kita.&lt;br /&gt;Semua adalah rahasia kehidupan, semua adalah rahasia yang ada dalam genggaman KuasaNya yang Mahaagung dan Mahabijak.&lt;br /&gt;Saya masih teringat benar nasihat almarhum ayah saya, di atas becak sepulang dari rumah calon mertua ketika saya memperkenalkan beliau.&lt;br /&gt;Kata almarhum:&lt;br /&gt;“ Bapak sudah memenuhi keinginanmu untuk diperkenalkan kepada Pak Effendi. Semoga semua harapanmu dapat terlaksana dengan baik. Hanya satu hal yang perlu kamu ingat dan camkan benar-benar. Bahwa yang Mahamempunyai hanyalah Tuhan. Dengan perkenalan tadi, bolehlah kamu beranggapan bahwa calon isterimu nantinya adalah milikmu, calon mertuamu adalah nantinya orang-tuamu yang lain. Tetapi Bapak berharap agar kamu jangan berlebihan anggapan terhadap hal tersebut, karena apabila nanti Tuhan berkehendak lain, kamu akan menjadi sedih dan kecewa. Sadarlah bahwa bahkan hidup kita inipun bukan milik kita. Hanya Tuhan yang memiliki segala sesuatu, baik yang wujud atau tidak,  yang tergelar maupun yang tidak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas becak yang melaju pelan di jalan Kranggan, sekitar jam sepuluh malam itu, almarhum ayah saya telah mengungkapkan sebagian dari mosaik dalam khasanah pemikiran dan pemahaman beliau akan kehidupan, yang saya rekam hingga saat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1588249970498456325?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1588249970498456325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/mosaik.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1588249970498456325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1588249970498456325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/07/mosaik.html' title='Mosaik'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-742967956934829750</id><published>2008-06-25T13:57:00.001+07:00</published><updated>2008-06-25T14:03:42.025+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di antara teman'/><title type='text'>Guruku Berkejaran dengan Waktu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya sedang terusik oleh sebuah cerita sedih tentang guru SMA saya yang sudah sepuh, yang ketika dua tahun lalu kami kunjungi bersama teman-teman, beliau baru saja pulang opname, dan harus ganti merawat isterinya yang sakit di rumah. Beliau adalah salah satu dari sekian mantan guru kami yang masih ada, dan memiliki hubungan cukup dekat dengan para bekas murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu teman-teman alumni SMA saya (dari beberapa angkatan kelulusan) berencana untuk meluncurkan sebuah buku yang berisi rekaman perjalanan selama 50 tahun usia sekolah kami. Peluncuran dilakukan di Jakarta - karena sebagian besar alumni berada di sana – dengan sebuah perhelatan besar yang barangkali dimaksudkan sebagai ungkapan terima kasih kepada sekolah yang telah mengantarkan teman-teman saya menjadi ‘orang’, dan mungkin juga dimaksudkan sebagai ungkapan rasa bangga luar-biasa.&lt;br /&gt;Cerita tentang guru saya, yang terselip di balik segala kemeriahan tersebut sungguh mengharukan hati saya. Dan baru dua minggu lalu cerita tersebut saya dengar dari seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru saya tersebut, ketika itu berhasrat benar untuk ikut datang menghadiri acara di Jakarta tadi. Keterbatasan-keterbatasan yang sangat dapat dimaklumi menyebabkan beliau mengalami kesulitan untuk dapat berangkat ke Jakarta. Sampai terucap sebuah pertanyaan kepada teman kami itu “ Mas, bagaimana ya caranya supaya saya bisa ikut ke Jakarta?”. Sebuah pertanyaan yang menurut saya lebih bernuansa sebuah permohonan kepada bekas muridnya, agar dapat difasilitasi untuk ikut menyaksikan acara besar yang diselenggarakan dan dihadiri oleh beratus-ratus para bekas muridnya. Sebuah kerinduan yang amat sangat untuk bertemu mereka, harapan yang demikian kuat untuk ikut menjadi saksi sebuah rekaman peristiwa teramat besar di mana beliau pernah menjadi bagian di dalamnya.&lt;br /&gt;Disampaikan dalam sebuah keluhan, sebuah permintaan setengah putus-asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau akhirnya tetap tak dapat berangkat.&lt;br /&gt;Pesta peluncuran buku konon berhasil dilangsungkan dengan sangat meriah, amat membanggakan dan meninggalkan kesan yang teramat dalam bagi yang menghadirinya.&lt;br /&gt;Mendengar cerita tersebut, hati saya merasa perih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru saya ini telah sangat lama berpisah dengan para muridnya yang sekarang entah sudah menjadi apa mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan teman-teman, kalau saya menjadi sentimentil mendengar kabar ini.&lt;br /&gt;Karena saya membayangkan bahwa diri saya adalah Guru Anda, guru renta yang ingin sekali menyaksikan sinar mata kebahagiaan di muka Anda sekalian di hari yang amat bersejarah itu, pada usia tua saya ini, pada sisa usia saya yang tinggal sedikit ini. Dan harapan saya ini tak dapat terlaksana, karena saya tak mampu ke sana. Tak dapat bertemu dengan Anda sekalian, yang sekarang sudah bak Laksamana Hang Tuah di anjungan kapal , di samudera raya kehidupan yang teramat luas, seperti yang dulu saya ceritakan ketika Anda masih menjadi murid saya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;empati untuk Mas Amir dan segenap teman-teman di Purworejo:&lt;br /&gt;berlalunya waktu untuk kita, adalah berlalunya harapan untuk beliau&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-742967956934829750?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/742967956934829750/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/guruku-berkejaran-dengan-waktu.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/742967956934829750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/742967956934829750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/guruku-berkejaran-dengan-waktu.html' title='Guruku Berkejaran dengan Waktu'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-8835135863130017985</id><published>2008-06-21T23:24:00.000+07:00</published><updated>2008-06-21T23:29:05.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Sudah Lupa Tuh!</title><content type='html'>Pada saat harga-harga menyelinap naik seperti ular merayap pindah tempat, kebanyakan orang sudah mulai lupa kepada kemarahan atas  penetapan kenaikan harga BBM tempo hari. Harga paku yang sebelumnya sekilo Rp 12 ribu, merambat malu-malu ke Rp 14 ribu lalu Rp 18 ribu di toko besi dekat rumah. Itupun, mbak pelayan tokonya bilang : entah besok. Artinya, sangat mungkin akan naik lebih tinggi lagi. Barang lainnya paling-paling juga idem saja.&lt;br /&gt;Kita seolah-olah mempunyai sikap yang seragam: mau apa lagi! Mentok sampai di situ.&lt;br /&gt;Kalaupun ketika harga  bensin baru naik, beberapa di antara kita berpikir dan berencana untuk melakukan pengiritan belanja, penggunaan lampu atau mengurangi intensitas penggunaan kendaraan bermotor, mungkin upaya itu sudah mulai kendor pula saat ini. Tidak sesemangat ketika diikrarkan di depan keluarga. Hidup sehari hari berjalan normal kembali. Tetapi benarkah?&lt;br /&gt;Di jalanan terlihat angkot yang berjalan lambat karena supirnya banyak menoleh kanan-kiri mencari kelebat calon penumpang. Penumpang yang berada di atas angkotnya kurang dari separo. Pedagang sayur keliling, bawaannya berkurang, karena mungkin kemampuannya mengulak barang turun, ditambah konsumennya mengurangi nilai belanjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, tampaknya tingkat kemarahan kita kepada Pemerintah  sudah tak lagi setinggi sebelumnya. Entah disebabkan terlalu capek untuk marah, merasa tak guna lagi untuk marah, bosan mencari sesama pemarah, atau karena sudah lupa bahwa tetap perlu marah.&lt;br /&gt;Atau takut pada isteri, karena marahnya terbawa sampai di dalam rumah, atau justru tak bisa lagi marah karena isteri marahnya lebih seru. Atau, dipikir: marah juga percuma karena seisi rumah sampai ke tetangga sekampung semua juga lagi rame marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Pemerintah senang?&lt;br /&gt;Pemerintah itu siapa, yang mana, lembaganya atau orangnya.&lt;br /&gt;Kalau lembaganya, saya kira tak ada lembaga yang punya perasaan, marah atau senang. (Jangan nyanyi: Lmbagaaa  jugaaa mnusiaa)&lt;br /&gt;Mungkin orangnya. Tapi yang mana, yang di mana. Wah, saya tak tahu. &lt;br /&gt;Hanya menduga-duga, bahwa rasa senang sedikit ada, karena mereka (beliao) tak lagi harus menjawab pertanyaan media yang pertanyaannya itu-itu saja dan harus dijawab juga dengan jawaban yang itu-itu saja. Senang karena tak ada lagi demo besar, yang menguras tenaga, emosi, keringat, perhatian, bensin, waktu. Dan uang.&lt;br /&gt;Barangkali benar kalau ada yang pernah menyampaikan bahwa kita ini bangsa yang pelupa. Mau buktinya:&lt;br /&gt;Jawab spontan ! : penetapan harga baru BBM pada tanggal berapa!&lt;br /&gt;Jangan menoleh ke kalender!&lt;br /&gt;Mikir?&lt;br /&gt;Anda pelupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati, TV dan PC Anda bisa mati tiba-tiba karena Djamali defisit pasokan!&lt;br /&gt;Ah, Ini Lagi! Lebih pinter bikin singkatan baru ketimbang menyingkat keborosan dan kebocoran.&lt;br /&gt;(Djamali itu siapa? Maksudnya apa?)&lt;br /&gt;Mbuh, wis! Sak-Kaaarepmu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-8835135863130017985?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/8835135863130017985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/sudah-lupa-tuh.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8835135863130017985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8835135863130017985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/sudah-lupa-tuh.html' title='Sudah Lupa Tuh!'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4994922563499260807</id><published>2008-06-19T12:00:00.004+07:00</published><updated>2008-06-19T12:18:37.421+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Di antara teman'/><title type='text'>Suasana Hati</title><content type='html'>Aku membayangkan, kalau nanti aku sudah pensiun, maka aku tak akan lagi menikmati pagi hari duduk rapi dengan gelas teh dan kopi bersama teman-teman di kantor ini * waduh, mencoba sebuah prosa berima*. &lt;br /&gt;Celoteh ramai ketika goreng pisang datang,  semua merubung dan mengambilnya lalu kembali ke meja kerja, melanjutkan aktivitasnya sambil sesekali bicara pada teman di sebelahnya. &lt;br /&gt;Ketika ada tamu datang, senyum dipasang dan tangan berjabatan. Ah ! Suasana yang sungguh akan sangat kurindukan nanti.&lt;br /&gt;Perdebatan dan pertengkaran kecil karena laporan yang lambat disampaikan, berkas dipinjam lupa dikembalikan, dan urusan yang dilempar-lempar ke orang yang semestinya tak berkaitan, seolah menjadi bagian yang mesti ada, kalau tidak ingin dibilang komunitas yang beku romantika.&lt;br /&gt;Lirak-lirik teman dari ruang sebelah yang datang bertandang, karena di ruanganku ini banyak yang sedap untuk dipandang-pandang lagian suka agak menantang-nantang, amboi! bikin pagi-pagi ingin bersicepat sampai di sini saja.&lt;br /&gt;Canda kebablasan, sampai-sampai sebuah kue terlempar hampir kena kepala bos yang untung saja bosnya nggak tahu, tapi akhirnya setelah tahu semua ketawa si bos juga ketawa dan justru pelemparnya pucat-pasi, mmmmm teman-teman yang sungguh menyenangkan.&lt;br /&gt;Suara dot-printer yang merengek-rengek seolah minta perhatian manusia sekitarnya untuk menunjukkan bahwa si empunya lagi bekerja keras, terdengar dari kebisingan yang timbul darinya *emang itu printer atau mesin potong keramik?*&lt;br /&gt;Duduk berhadapan untuk bicara kecil-kecil diseling dengan corat-coret kode rahasia, yang disampaikan gara-gara komunikasi yang buntu dan mencari saluran untuk penampungan dari luapan rasa sesak di dada, *aku sudah bilang kalau aku ini siap jadi tas kresek, wadah muntah iya, untuk wadah belanja apel-anggur-eskrim-nasi pecel-gado-gado pun juga iya, asal jangan sumpah-serapah yang ditumpah, itu bisa bikin aku murka semurka-murkanya*  banyak rahasia baru yang aku dengar dan harus aku simpan rapat-rapat, tapi akhirnya bocor juga karena si empunya rahasia mengobralnya di beberapa meja bahkan hampir semua dengan pesan yang sama ' ini cuma di antara kita saja'.&lt;br /&gt;Melihat ada yang bercuriga-curiga, karena kawatir ketahuan sesuatunya padahal aku tak peduli terhadapnya, lucu rasanya.&lt;br /&gt;Bertabrakan pendapat dan saling cari dukungan di antara sesama, macam kampanye pilkada saja agar idenya sukses diterima dan didukung semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi bos yang ribut memasalahkan titik dan koma, cuma karena selera dan tidak PD saja menghadapi rapat besar yang harus dihadirinya.&lt;br /&gt;Bos yang terkadang menjungkir balikkan norma dan kaidah di luar kompetensinya, semata agar hipotesisnya diterima melalui rasionalisasi yang begitu naifnya.&lt;br /&gt;Memandu yunior yang begitu semangat, maunya main bersicepat, kalau perlu dengan memotong sistem yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut ini, semua kupotret sefokus-fokusnya untuk nanti dipigura dalam ingatan menjadi sebuah kesan yang akan tetap kurindukan.&lt;br /&gt;Lalu dengan itu, bekerja terasa ringan dan menyenangkan, terasa sayang untuk ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm,&lt;br /&gt;pada saatnya, akan kutinggalkan itu semua.&lt;br /&gt;Dan hanya akan tertinggal jejaknya di memoriku yang semakin cekak speisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling-paling kalau rinduku sudah memuncak, nantinya aku akan datang ke sini menengok lagi semuanya. Itupun kalau teman-teman ini masih sudi menerima aku dan tak merasa terganggu oleh kedatanganku.&lt;br /&gt;Atau, masihkah aku punya cukup nyali untuk bertemu dengan mereka yang akan menerimaku dengan setengah hati karena toh aku sudah tak punya status lagi di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,&lt;br /&gt;Biar nantilah saja pada saatnya, kalau aku sudah berada pada saat pensiunku nanti.&lt;br /&gt;Yang jelas,  aku sedang sangat menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;di antara tumpukan berkas&lt;br /&gt; yang seperti tempat pembuangan akhir sampah kota&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4994922563499260807?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4994922563499260807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/suasana-hati.html#comment-form' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4994922563499260807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4994922563499260807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/suasana-hati.html' title='Suasana Hati'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6195415336345165076</id><published>2008-06-16T15:43:00.000+07:00</published><updated>2008-06-16T15:44:37.886+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Sang Guru</title><content type='html'>Ketika aku menghadap kepada Mahaguru Durna, Sang Apunjul Ing Kawruh, gemetar rasanya seluruh tubuhku, karena pada akhirnya aku dapat bersimpuh dihadapannya Yang Dimuliakan, yang tersohor sebagai mahaguru seluruh kesatria terkemuka. Hatiku  penuh rindu dan harap-harap cemas mendengarkan fatwanya, yang selama ini hanya aku dengar melalui kabar dan beberapa berita. &lt;br /&gt;Kerinduanku dipicu oleh keinginan yang lama terpendam untuk dapat diterima sebagai muridnya, agar aku dapat belajar segala ilmu sebagai bekalku menjadi Raja yang adil dan bijak, sebagai pemimpin dan pelindung bagi rakyat di kerajaan Paranggelung.&lt;br /&gt;Ilmu yang akan kupelajari, dan akan kumanfaatkan untuk menjadikan negeri ini sebuah negeri yang tenteram, yang rakyatnya saling menghormati satu sama lain; aman, terlindung dari gangguan dari manapun dan dalam bentuk apapun; dan makmur, bebas dari kepapaan.&lt;br /&gt;Memandang wajah Sang Pandita, terlaksana setelah aku menghadap beliau di pertapaan Sokalima yang teduh dan bermartabat, sangatlah menyejukkan hatiku dan menghalau segala kelelahan serta gundah hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Palgunadi, Raja Paranggelung, sangat berhasrat menjadi murid dari Pandita Durna, meskipun hanya diterima sebagai murid biasa atau bahkan menjadi abdi pembasuh kaki beliau, asalkan aku selalu dapat berada di dekatnya, melihat segala laku teladannya, ikut mendengarkan fatwa dan petuahnya kepada para muridnya yang dimuliakan, para kesatria Pandawa dan Kurawa. Cukuplah aku diterima sebagai abdi, itupun sudah akan aku syukuri.&lt;br /&gt;Keberangkatanku bersendiri dari kotaraja Paranggelung, dihantar dengan segala puji-basuki oleh seluruh rakyat, penata-praja dan para punggawa istana,  diiringi oleh senyum penuh kasih dari isteriku yang jelita, Anggrahini, seorang Ratu yang sangat dihormati serta dicintai oleh seluruh anak negeri. Perjalananku serasa ringan karena dukungan dan dorongan dari semua orang yang tulus berbakti dan mencintaiku. Akupun telah menyiapkan diri untuk meninggalkan segala kemuliaan sebagai Raja, bersiap bahkan untuk menjadi budak bagi Sang Pandita, agar dapat menyerap ilmunya yang akan aku persembahkan bagi negeri dan rakyatku nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Pandita menolak permohonanku.&lt;br /&gt;Serasa runtuh langit dan terbelah bumi yang kupijak. Terbayang roman muka kecewa seluruh rakyat, para punggawaku, bahkan isteriku. Betapa mereka akan merasa terhina, ketika mendengar rajanya ditolak ketika memohon untuk dapat menjadi murid Sang Guru Pandita, meskipun sebenarnya aku bahkan sudah memohon sekedar sebagai abdi suruhannya. Betapa tak terbayangkan ketika aku nanti akan menyaksikan para prajuritku marah karena rajanya telah dipermalukan dengan tiada sepantasnya, lalu mereka akan meledakkan kemarahannya dengan mengajakku berangkat membasmi pertapaan Sokalima karena rasa terhina. Sedangkan aku sama-sekali sangat tidak menginginkan adanya permusuhan, sebagaimana diamanatkan kepadaku ketika dinobatkan menjadi raja : menjadi pelindung rakyat, pembawa kedamaian dan kemakmuran, serta persahabatan di antara rakyat antarkerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesendirianku meninggalkan pertapaan Sokalima, aku berpikir keras mencari jawaban tentang sebab-sebab penolakan Sang Guru Pandita. Aku yang telah berikrar sebagai pemimpin yang cinta damai, mungkin belum cukup menjadi jaminan baginya, untuk tidak dianggap akan mengancam kedaulatan kerajaan keluarga Pandawa dan Kurawa. Kebesaran kerajaan keluarga Abiyasa ini, akan terusik di hadapan masyarakat dunia, karena seorang Palgunadi yang bukan siapa-siapa, apabila diterima menjadi muridnya. Kalaupun sementara ini aku dikenal sebagai raja yang sakti dan bijak, maka sebenarnya kesaktian dan kebijakanku semata-mata aku gunakan untuk memimpin negeriku, tanpa sedikitpun terbersit pikiran untuk meluaskan kerajaan, mengobarkan penjajahan ke negeri manapun juga. Dan pula, aku tak merasa bahwa diriku adalah seorang raja sakti yang ingin bertanding kesaktiannya dengan siapapun. Sama sekali tak ada pikiran semacam itu.&lt;br /&gt;Kuputuskan, dengan bekal sejenak pertemuan dengan Sang Pandita ini, dengan sejenak kesempatan untuk mendengar suaranya ketika berbicara, melihat kelebat langkah dan gerak-geriknya, mencium aroma rambut dan jubahnya, serta membayangkan tingkat ilmunya, aku tetap akan berguru kepadanya. Aku tak akan pulang ke Paranggelung, daripada hanya akan membuat kecewa orang-orang yang kukasihi. Aku akan mengasingkan diri, berkontemplasi di tengah rimba di tepian padang belantara. Aku akan menempa diri dengan belajar olah-keprajuritan dan olah-kearifan budi, dengan membayangkan bahwa Sang Pandita sebenarnya secara diam-diam membimbingku agar aku dapat menguasai segala ilmu yang diajarkannya. Kuyakini, bahwa sebenarnya Sang Pandita bukan menolakku, tetapi menguji kesungguhan hatiku, bukan mengusirku tetapi memerintahku untuk mencari tempat yang lebih sunyi dan tenang, agar beliau dapat mengajariku secara lebih khusus dan pribadi. Bagaimanapun Pandita Durna terlalu agung bagiku. Terlalu mulia, sehingga apa yang telah terjadi sebenarnya bukanlah penolakan, tetapi dia telah memperlakuan teramat khusus kepadaku. Sesungguhnya bagiku, dia sangatlah faham, bahwa dengan menjadi muridnya amat jauh keinginanku untuk sekedar menang perang ataupun cerdik dalam berolah-praja. Beliau adalah inspirasiku, sejak sebelum bertemu, ketika sejenak bersimpuh dihadapannya maupun ketika aku harus pergi darinya. Semakin kencang motivasiku untuk berguru, meskipun aku tidak berada di Sokalima, karena bagiku ini adalah isyarat rahasia yang telah kuterima dan dapat kubaca, bahwa Sang Pandita sangat memahami tingkat pemahamanku dan kemampuanku mengembangkan diri, dari pertemuan yang hanya sejenak itu. Aku hanya dapat bersimpuh dihadapannya dalam angan-angan, atas segala penghargaan dan kepercayaannya, bahwa aku akan mampu menjadi muridnya, meskipun dia tidak mengasuhku secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dengan caraku belajar ini, rasanya aku mempu lebih cepat menguasai ilmu keprajuritan yang diajarkannya. Kubayangkan, bagaimana Sang Pandita mengajari Bima, Duryudana dan  Dursasana berolah gada, sehingga mereka menjadi teramat mahir. Bagaimana Arjuna berolah panah, sehingga hanya mendengar gemerisik daun di semak, seekor kijang dapat dipanahnya tepat pada jantungnya.&lt;br /&gt;Aku juga membayangkan bagaimana Sang Pandita mengajarkan lontar dan kidung berisi nasihat utama bagi seorang kesatria, yang akan menjadi pedoman dalam bertindak dan berperilaku  luhur. Akan dicontohkannya sifat-sifat mulia agar menjadi acuan dalam setiap segi kehidupan seorang kesatria dan raja-raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam-malam yang sepi, di bawah terang bintang di tengah padang belantara di tepi hutan, aku memusatkan segenap inderaku, menyerap segala nilai utama yang diajarkan oleh guruku melalui anganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu. &lt;br /&gt;Rasanya masih belum selesai juga aku menyerap ilmu Sang Pandita, ketika aku menerima isyarat tentang kegundahan rakyatku, yang menunggu kedatanganku karena rasa rindu kepada rajanya. Terbayang wajah Anggrahini, yang meskipun tetap tegar sebagai seorang Ratu yang suaminya sedang berada di tempat jauh, bertanya-tanya pula dalam hatinya tentang keberadaanku. Rindu untuk dapat bertatap muka dan berbicara sebagaimana sedia kala.&lt;br /&gt;Kutahan hatiku untuk mencukupkan keberadaanku di tengah padang belantara sunyi ini, sampai suatu ketika, di siang yang sepi, keheningan belantaraku dirobek oleh suara salak murka dari sekawanan anjing yang berlarian menuju ke tempatku. Kutarik busur, kulepas sebatang anak panah ke arah gemerasak semak yang diterabas kawanan itu, dua-tiga suara lolong panjang terdengar, lalu suara salak menjauh. Sepi kembali.&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari sudut gerumbul semak muncul seorang kesatria berpakaian pemburu, yang wajahnya bercahaya, yang matanya berkejap laksana bintang kejora menggambarkan kecerdasannya yang amat sangat. Aroma yang kutangkap, mengisyaratkan bahwa beliau adalah Raden Arjuna, seorang kesatria tersohor di seluruh jagad yang kesaktiannya bahkan diandalkan para Dewa. Seorang kepercayaan Kahyangan Giriloka, yang beristeri seorang bidadari, Dewi Supraba. Aku takjub melihatnya, dan merasa sangat bahagia dapat berhadapan dengannya. Kulihat di tangannya sebuah busur dan sebatang anak panah berkilauan matanya, namun masih lebih menyilaukan lagi wibawa Sang Kesatria Lananging Jagad ini. Kusampaikan salam, kusapa namanya dengan takzim. &lt;br /&gt;“ Selamat datang wahai Raden Arjuna, Sang Kesatria Panengah Pandawa”. &lt;br /&gt;Tampak sejenak dia terkejut, ketika kusebut namanya, lalu pandangannya tampak menyelidik.&lt;br /&gt;“Siapakah engkau, wahai pemanah, yang telah membunuh tiga ekor anjing pemburuku dari kejauhan, dan apakah yang sedang kau lakukan di tengah padang belantara ini ?”&lt;br /&gt;“Aku adalah Palgunadi, seorang yang sedang mengasingkan diri, belajar dari Mahaguru Resi Durna”&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba Arjuna pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sejenak aku menjadi terheran-heran. Apa gerangan yang terjadi, sehingga dia meninggalkanku begitu saja, sebelum aku sempat meminta maaf kepadanya karena secara tak sengaja telah membunuh anjingnya. Aku sangat ingin berkenalan dengannya, dan kalau mungkin bersahabat dengannya, belajar darinya, bahkan aku ingin kalau bisa menjadi saudara setianya. Sungguh sebuah kehormatan tiada tara, apabila keinginanku dapat dikabulkannya. Menjadi teman dan saudara dari seorang murid terkasih Pandita Durna, yang akan menjadi penawar kegagalanku dalam berguru langsung kepada Sang Pandita. Tetapi belum sempat semua anganku kuwujudkan dalam sebuah permintaan kepadanya, dia pergi begitu saja tanpa sepatah kata diucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutuskan untuk kembali kepada rakyatku, ke kerajaanku di Paranggelung, kepada isteriku Anggrahini yang teramat setia dan kucintai. Namun, tanpa kuduga, tiba-tiba di padang belantaraku tercium aroma seribu kesturi, aroma penuh kemuliaan. Tanpa kuduga, tiba dihadapanku hadir Maharesi Durna diiringi oleh Raden Arjuna dengan pakaian kebesaran kesatria yang berkilauan. Segera aku tunduk bersimpuh dihadapan Sang Mahapandita. Kusampaikan baktiku serta rasa terima kasihku karena beliau telah sudi datang pada saat aku bersiap mengakhiri masa pengasingan diriku yang panjang, untuk belajar dengan ‘bimbingannya’. Kusampaikan pula:&lt;br /&gt;“Kiranya Sang Mahapandita sudi memaafkan kelancanganku, berani menerima kehadiran Paduka di tempat yang tidak semestinya. Sesungguhnya, aku sangat berterimakasih karena Sang Resi telah mengajarkanku segenap ilmu dengan cara yang luar-biasa selama ini. Aku, Palgunadi dari Paranggelung mohon dijauhkan dari kemarahan atas segala kekhilafan ini”&lt;br /&gt;Dan beliau menjawabnya:&lt;br /&gt;“Apakah tanda baktimu kepadaku, wahai Palgunadi, tanda bakti seorang murid kepada gurunya yang telah mengajarkan kepadamu segala ilmu ?”&lt;br /&gt;“Apapun yang kau minta, wahai guruku, akan kuserahkan kepadamu”&lt;br /&gt;“Permintaanku tidak terlalu banyak, bukan emas-permata, kerajaan ataupun sisa hidupmu, tetapi cukuplah Mustika Ampal Kombang Ali-ali yang ada di ibu jari tangan kananmu, wahai Palgunadi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serasa sejuta kilat-guntur meledak bersamaan di kepalaku. Sejenak aku tertegun. Lalu kemudian pelajaran dari Sang Guru yang selama ini kuperoleh dalam renungan-renungan panjangku terlintas dalam pikiran. Alam telah menunjukkan kebesarannya. Tanda-tandanya dapat kubaca dengan jelas. Pengabdianku kepada kehidupan telah tiba pada saat akhirnya. Aku harus meninggalkan hiruk-pikuk dunia beserta segenap isinya, untuk kembali kepada alam abadi. Terbayang wajah duka seluruh rakyatku, terbayang wajah duka isteriku, Anggrahini, yang dahulu ketika aku pamit pergi, telah mengantarku dengan segala doa-puji serta janji setia. Terbayang senyumnya yang menyejukkan, aku percaya dia akan menyusulku nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutetapkan hatiku. Ini adalah saat yang luhur dan mulia bagiku. Melepas segala nafsu duniawiku, melepas segala rasa khawatirku akan kehilangan terhadap sesuatu. Akan kulepas Mustika Ampal Kombang Ali-ali dari ibu-jari kananku, yang berarti pula dengan itu hidupku akan berakhir. Kupersembahkan milikku ini kepada guruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Wahai guru yang mulia, keinginanmu adalah sebuah kehormatan bagiku, mati demi guru yang kuhormati dan kumuliakan sungguh adalah kematian terindah yang tak pernah kubayangkan akan kujalani. Perkenankan aku bersimpuh untuk berterima kasih atas segala kemurahanmu, kebijakanmu dan kemuliaan hatimu. Aku tetap rindu untuk dapat menyertaimu, wahai guru, sebagaimana aku telah ‘bersamamu’ belajar segala kearifan selama ini, hingga aku mampu membaca segala tanda-tanda zaman. Ampunilah aku dengan keinginanku untuk tetap mengabdimu, wahai guru. Kalaupun aku harus pergi sekarang, aku akan tetap menantimu dengan segenap rindu dari seorang murid, aku akan menjemput kedatanganmu kelak setelah selesai dharmamu. Wahai guru, aku akan tetap menantimu di swargaloka”&lt;br /&gt;“Lakukanlah!”&lt;br /&gt;Kulolos cincinku dari ibu jari tangan kananku. Kuserahkan ke genggaman guruku yang mulia, yang tangannya baru dapat kusentuh pada saat akhir ini. Harum.&lt;br /&gt;Aku terkulai, jatuh tersimpuh.&lt;br /&gt;Lemas tepat di hadapan kaki  Guruku berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kulihat pelangi membusur dari arah rubuhku, membubung tinggi ke langit tujuh lapis.&lt;br /&gt;Akupun pergi ke arah cahaya-cahaya yang mempesona. &lt;br /&gt;Kulihat, di kejauhan sana, Anggrahini menyusulku dengan segenap kejelitaan dan kesetiaannya. &lt;br /&gt;Aku teramat bahagia......&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6195415336345165076?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6195415336345165076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/sang-guru.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6195415336345165076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6195415336345165076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/sang-guru.html' title='Sang Guru'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6494654434415582871</id><published>2008-06-15T00:45:00.000+07:00</published><updated>2008-06-15T00:46:46.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Kutipan Tengah Malam</title><content type='html'>"Siapa mencari enak tanpa mengenakkan tetangganya, sama dengan membuat tali untuk menjerat lehernya sendiri." &lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Kawruh Beja – Ki Ageng Suryomentaram - kutipan dari www.jawapalace.org)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6494654434415582871?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6494654434415582871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/kutipan-tengah-malam.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6494654434415582871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6494654434415582871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/kutipan-tengah-malam.html' title='Kutipan Tengah Malam'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2734372163253144877</id><published>2008-06-14T23:13:00.001+07:00</published><updated>2008-06-14T23:15:59.145+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Sarapan Semangat</title><content type='html'>Salah satu sahabat saya, Kang Deddi Jusuf Waldy pernah menyampaikan bahwa : hidup menjadi penuh semangat, karena adanya ketidak-pastian di dalamnya. Semula saya tidak faham apa yang dimaksudkannya, tetapi setelah saya runut akhirnya saya simpulkan bahwa ketidak-pastian akan segala sesuatu yang akan terjadi telah membuat setiap orang melakukan antisipasi agar hidupnya tidak tergulung habis. Antisipasi, melahirkan tindakan yang dilakukan (tentu) dengan semangat, karena semangat akan menghasilkan akselerasi.&lt;br /&gt;Pagi hari di kota-kota besar, berangkat ke tempat kerja atau ke tempat sekolah memerlukan sebuah perjuangan melawan kemacetan lalu-lintas terkadang juga cuaca (hujan, banjir) agar tiba di tempat tepat waktu. Persiapan yang dilakukan tentu cukup banyak. Mulai dari bangun tidur tepat waktu, mandi dan berdandan dengan cepat, bekal buku-pekerjaan-makanan yang sudah harus disiapkan dengan rapi, maupun kendaraan yang well-driven. Termasuk pintu pagar yang sudah bebas gembokan (maklum, maling sudah semakin canggih, kendaraan,tas kerja dan laptop di ruang tamu yang sudah disiapkan untuk berangkat kerja disamber justru pada saat-saat genting pagi hari). Semua tentu dilakukan dengan semangat, yang didorong oleh kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya hambatan dalam perjalanan menuju tempat kerja dan sekolah. Agar tidak terlambat sampai di tempat kerja dan sekolah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Semangat Sarapan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetisi sudah dimulai sejak bangun tidur, oleh yang bangun tidur maupun para stake-holder yang mempunyai kepentingan dengan  momentum bangun tidur ini.&lt;br /&gt;Sarapan pagi, ritual mengisi perut di pagi hari dimeriahkan dengan banyak pilihan. Minum air (cuma air?): di pikiran kita disajikan banyak pilihan, mulai dari air keran PDAM yang dimasak, atau air kemasan dengan segala merek. Dengan gula, mau yang biasa berwarna butek kecoklatan dan berbutir besar tak beraturan, yang putih lembut dijual curah, gula kemasan bermerek, gula cube, sachet atau gula bebas kalori dan gula khusus bagi orang yang merasa membutuhkan karena harus menjaga diri dari gejala kencing manis. Banyak pilihan. Demikian pula dengan teh, susu, coklat, kopi, jus buah sampai kepada roti, mi instan atau telur (dengan omega 3, bebas kolesterol, etsetera, etsetera). &lt;br /&gt;Pertanyaannya: bagaimana produk-produk itu pada pagi yang serba-tergesa itu dapat sampai ke depan mulut kita yang bersegera ngemplok ? Tentu karena produk tadi telah kita siapkan sebelumnya. Tetapi kenapa kita memilih produk tersebut ? Banyak alasan dan pertimbangan, mulai dari yang paling rasional atau dirasional-rasionalkan sampai yang tidak rasional gara-gara pesona iklan. &lt;br /&gt;Saya berpikir bahwa yang kita makan pada saat itu di samping makanan, juga  iklan! Iklan yang begitu canggihnya telah mengobok pikiran hingga hasilnya berupa keputusan untuk membeli dan mengkonsumsi makanan/minuman tersebut. Padahal, menurut yang saya pernah dengar, biaya iklan untuk bahan makanan seperti itu nilainya dapat sampai senilai harga pokok produksinya! sehingga umpama sebuah produk sekali makan berharga dua ribu rupiah, sebenarnya nilai fisik yang kita telan hanya seribu rupiah (atau separonya). Toh tetap dianggap murah saja. Seperti mi instan yang seharga delapan ratusan rupiah sebungkus, maka dengan asumsi seperti tadi sebenarnya nilai dari bahan-bahannya hanya empat ratus rupiah! Empat ratus rupiah sudah termasuk bumbu, minyak dan aksesoris pelengkap lainnya. &lt;br /&gt;Kompetisi antar produk ITU vs INI, iklannya selalu menyajikan kelebihan dari produk pesaing. Saya jadi berpikir, kelebihan-kelebihan tadi jangan-jangan dikompensasi dengan mengurangi jumlah, jenis dan mutu bahannya. &lt;br /&gt;Contoh: mi instan yang konon dibikin berbahan-baku tepung terigu (imporlah, pulak!). &lt;br /&gt;Dari 65 atau 85 gram per kemasan, berapa gram sebenarnya tepung terigu yang ada di dalamnya? Lalu ketika ditambahkan ‘kelebihan yang lain’ maka ‘kelebihan’ tersebut tentunya akan dikompensasi dengan mengurangi berat terigu, dan selanjutnya agar tetap 85 gram, maka sebagian terigu akan ditambah dengan ‘pengisi’ atau filler. Apa yang diisikan sebagai filler ? Pasti bahan yang lebih murah ketimbang terigu. Bisa tepung yang berasal dari biji-bijian sejenis, bisa juga ‘tepung-tepungan’. Jadi sebenarnya apakah yang kita sarap di pagi hari?&lt;br /&gt;Saya juga sesekali makan mi instan, yang diproduksi oleh banyak perusahaan dengan berbagai merek. Tetapi lama-lama ngeri juga mendengarkan cerita-cerita tentang penggunaan filler, penyedap, pewarna, bahan baku dengan grade ke sekian, sampai bahan pengawet yang digunakan. Yang saya bayangkan: mulut, tenggorokan dan perut saya laksana mulutnya pabrik besi, di mana dimasukkan berton-ton besi rongsokan berkarat bercampur tanah, ditelan oleh mesin dan kemudian diproses di dalam pabrik, dan hanya sepuluh-dua puluh kilo besi murni yang dihasilkan. Membayangkannya, menjadikan saya ingin muntah saja.&lt;br /&gt;Benar juga yang Kang Deddy Jusuf Waldy katakan. Hidup menjadi penuh semangat, karena adanya ketidak-pastian di dalamnya. Itulah rupanya yang mengilhami dunia dagang sehingga demikian hebatnya semangat tempur para pelakunya. Berusaha mati-matian agar produknya tetap survive di dunia usaha, agar begitu mata kita melek di pagi hari, produk yang dijualnya sudah tersenyam-senyum genit menggairahkan di depan mata kita , memancing hasrat untuk memilih dan menyantapnya penuh semangat.&lt;br /&gt;Selamat sarapan pagi dengan semangat, meskipun saya tidak ikut menemani Anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2734372163253144877?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2734372163253144877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/sarapan-semangat.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2734372163253144877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2734372163253144877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/sarapan-semangat.html' title='Sarapan Semangat'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1793261485017808901</id><published>2008-06-10T20:07:00.002+07:00</published><updated>2008-06-10T20:11:32.802+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Ratu Adil</title><content type='html'>Ratu Adil, adalah tokoh yang sering dan selalu dibicarakan ketika keadaan masyarakat (Jawa!) sedang berada dalam kesulitan dan hampir putus-asa. Ratu Adil adalah tokoh yang ditunggu kedatangannya untuk bertindak mengatasi keadaan dan kemudian mampu membebaskan rakyat dari kesulitan hidup dan kemudian memimpin dengan bijak serta memberikan kemakmuran.&lt;br /&gt;Ratu Adil adalah sebuah harapan, sebuah hiburan, sebuah motivasi sehingga kaum yang merasa hidupnya kepepet tetap mampu bertahan dan berjuang untuk tetap hidup, sambil terus menanti kehadiran Ratu Adilnya yang akan datang entah kapan waktunya.&lt;br /&gt;‘Akan tiba masanya Ratu Adil tiba, dan ... ‘ artinya, percayalah bahwa suatu saat akan datang perubahan, sehingga kalian jangan berputus asa, bersabarlah, sambil berjuang untuk tetap bertahan hidup, karena dengan kedatangan Sang Ratu ini keadaan akan menjadi baik, dan kesulitan akan hilang. Dan itulah saatnya kita menikmati hasil kesabaran kita.&lt;br /&gt;Beratus tahun sejak Ratu Adil dimitoskan sebagai tokoh tanpa wajah tanpa nama dan tanpa waktu, keadaan sulit telah terjadi berulang-kali di Negeri Ini, demikian pula kemarin dan saat ini, ketika banyak orang berada dalam kegamangan kepercayaan terhadap pemimpinnya. Sekarang pun kedatangannya tetap dinanti oleh sebagian orang yang mempercayainya.&lt;br /&gt;Memiliki motivasi untuk tetap survive dalam keadaan sesulit apapun, ternyata dapat diperkuat dengan mimpi terhadap kedatangan Ratu Adil, tokoh imajiner yang telah diciptakan oleh moyang kita yang arif dan bijak, yang demikian tinggi rasa cintanya kepada bangsanya, yang demikian tinggi harapannya agar bangsa ini tidak punah hanya karena rasa putus-asa .&lt;br /&gt;Moyang kita adalah motivator yang teramat hebat, bukan ? Ajarannya telah merasuk menjadi bagian dari budaya yang mampu melintas zaman dari abad ke abad, hingga sekarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1793261485017808901?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1793261485017808901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/ratu-adil.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1793261485017808901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1793261485017808901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/ratu-adil.html' title='Ratu Adil'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1420456736002363573</id><published>2008-06-08T01:51:00.002+07:00</published><updated>2008-06-08T03:17:56.741+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Di Bawah Bendera Revolusi:</title><content type='html'>Mencapai Indonesia Merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..........&lt;br /&gt;Marilah kita lebih baik membuka surat-surat kabar, dan kita saban hari bisa mengumpulkan beberapa ‘syair megatruh’ yang ‘menarik hati’, Yang melagukan betapa hidupnya Kang Marhaen, yang di dalam zaman ‘normal’ sudah ‘sekarang makan-besok tidak’ itu, di dalam zaman meleset sekarang ini menjadi lebih-lebih ngeri lagi, lebih-lebih memutuskan nyawa lagi, lebih-lebih megap-megap lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Darmokondo&lt;/span&gt;, 11 Juli 1932:&lt;br /&gt;Di kampung Pagelaran Sukabumi, ada hidup satu suami-isteri bernama Musa dan Unah, dengan iapunya anak lelaki yang ke satu berumur 5 tahun, yang ke dua 3 tahun dan yang ke tiga baru 1 tahun. Itu familie ada sangat melarat, dan sudah beberapa bulan ia cuma hidup saja dengan daun-daunan dalam hutan, yang ia makan buat gantinya nasi. Lama-kelamaan itu suami-isteri merasa yang ia tidak bisa hidup selama-lamanya dengan cuma makan itu macam makanan saja. Buat sambung ia punya jiwa serta anak-anaknya, itu suami-isteri telah dapatkan satu fikiran, yaitu ... jual saja anaknya pada siapa yang mau beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perca Selatan&lt;/span&gt;, 7 Mei 1932:&lt;br /&gt;Pegadaian penuh, sebab tidak ada yang menebus, semua menggadai. Sekarang gadaian kurang. Ini barang aneh! Sebab mustinya naik! Bagi saya tidak aneh. Ini tandanya barang-barang yang akan digadai sudah habis! Tandanya miskin habis-habisan!&lt;br /&gt;Di desa orang-orang 2 hari sekali makan nasi, selainnya makan ubi, tales, singkong, jantung pisang. Sudah sebagai sapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aksi&lt;/span&gt;, 14 November 1931:&lt;br /&gt;Di desa Banaran dekat Tulungagung kemarin-dulu orang sudah jadi ribut, lantaran ada orang gantung diri.&lt;br /&gt;Duduknya perkara begini: Sudah lama ia seanak-bininya merasa sengsara sekali, malahan anaknya yang masih kecil sering dieniskan nasi pada orang sedesa situ. Saben hari ia cari kerja, berangkat pagi pulang sore, tapi sia-sia, tidak ada orang yang butuh kuli. Kemarin-dulu ia tidak bepergian, cuma duduk termenung di rumah saja, rupa-rupanya sudah putus-asa dan bingung mendengarkan anaknya menangis minta makan. Tahu-tahu dia sudah ketemu mati (gantung-diri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siang Po&lt;/span&gt;, 23 Januari 1933:&lt;br /&gt;Di dekat kota Krawang sudah ada kejadian barang yang sanget bikin ngenes-ati. Ada orang janda namanya Upi, punya anak kecil. Diapunya laki barusan mati, sebab sakit keras cuma satu minggu lamanya. Upi memang dari sedari hidupnya diapunya laki ada sanget melarat sekali, tapi sesudah ia jadi janda, kemelaratan rupanya tida ada bates lagi. Lama-lama Upi jadi putus-asa, dan anaknya yang ia cintain itu sudah ia tawarkan sama Tuan LKB di Krawang. Ditanya apa sebabnya ia mau jual anaknya, ia tida jawab apa-apa, cuma menjatuhkan air-mata bercucuran. Tuan LKB sanget kasian sama dia, en kasih uang sekedarnya pada itu janda yang malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pewarta Deli&lt;/span&gt;, 7 Desember 1932:&lt;br /&gt;Di kota sering ada orang yang menyamperi pintu bui, minta dirawat di bui saja, sebab merasa tidak kuat sengsara. Di bui misih kenyang makan, sedang di luar belum tentu sekali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sin Po&lt;/span&gt;, 27 Maret 1933:&lt;br /&gt;Mencuri ayam sebab lapar, dibui juga 9 bulan.&lt;br /&gt;Malaise heibat yang mengamuk di mana-mana telah bikin sengsara dan kelaparan penduduk Trogong Kebayuran. Penduduk di situ suda tida bisa dapatken uang dan banyak yang kelaparan kerna tida punya duit buat beli makanan. Salah satu orang nama Pungut juga alamken itu kasukeren yang heibat. Ia ada punya bini dan dua anak, sedeng penghasilan sama sekali telah kapempet berhubung dengen jaman susa. Sementara itu ia punya beras dan makanan suda abis. Apa boleh buat, saking tida bisa tahan sengsara kerna suda 2 hari tida punya beras, pada satu malem ia bongkar kandang ayam dari tetangganya nama Jaya dan dari ia timpa 2 ekor ayam. Itu binatang kamudian ia jual di pasar buat 3 picis dan dari itu uwang ia beli beras 15 cent.&lt;br /&gt;Blakangan Pungut ditangkep dan dibui. Pada tanggal 3 Maret ia mesti mengadep pada landraad di Mr. Cornelis dan Pungut aku saja betul telah colong itu 2 ekor ayam sebab suda 2 hari ia tida makan. Landraad anggep ia terang bersalah ambil ayamnya laen orang dan Pungut dihukum 9 bulan. Anak bininya menangis diluar ruangan landraad! (Rep.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enz, enz, enz!...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan:&lt;br /&gt;1) dikutip dari  buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid pertama cetakan ke tiga 1964 halaman 271-272  tulisan Ir Sukarno – Maret 1933 &lt;br /&gt;2) ditulis ulang dengan penyesuaian ejaan dan letak&lt;br /&gt;3) bui : penjara&lt;br /&gt;4) landraad : pengadilan&lt;br /&gt;5) Mr. Cornelis : nama Jatinegara pada jaman dulu&lt;br /&gt;6) 1 picis = 1 ketip :  Rp 0,10&lt;br /&gt;7) cent =sen : Rp 0,01&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1420456736002363573?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1420456736002363573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/di-bawah-bendera-revolusi.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1420456736002363573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1420456736002363573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/di-bawah-bendera-revolusi.html' title='Di Bawah Bendera Revolusi:'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5419512997595321701</id><published>2008-06-06T00:53:00.002+07:00</published><updated>2008-06-06T01:01:59.596+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>Ha Ha Ha</title><content type='html'>lagi pengen tertawa&lt;br /&gt;tapi pake tulisan&lt;br /&gt;ditulisnya&lt;br /&gt;ha ha ha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padahal&lt;br /&gt;bisa hi hi hi&lt;br /&gt;atau ho ho ho&lt;br /&gt;h h h juga bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mentertawakan diri sendiri&lt;br /&gt;(kata orang bijak) adalah menyehatkan jiwa&lt;br /&gt;malah-malah kata ki ageng dari wetan merapi dulu sekali&lt;br /&gt;yang bukunya kucuri baca dari dalam lemari bapak&lt;br /&gt;nggleges&lt;br /&gt;adalah obat jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka&lt;br /&gt;kukoreksi ketawaku&lt;br /&gt;menjadi&lt;br /&gt;.. .. ..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;karena &lt;br /&gt;supaya jangan dikira sakit jiwa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5419512997595321701?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5419512997595321701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/ha-ha-ha.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5419512997595321701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5419512997595321701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/ha-ha-ha.html' title='Ha Ha Ha'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6614432089484047963</id><published>2008-06-04T14:58:00.003+07:00</published><updated>2008-06-04T15:04:34.706+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Tung !</title><content type='html'>‘ ... uang yang diklaim berjumlah Rp 100 juta ditumpahkan Tung dari pesawat ke Lapangan ...’  - Harian Jawa Pos,  Senin 2 Juli 2008 halaman 16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bisikan misterius dari mana dan kapan datangnya, yang telah mengilhami Tung Desem Waringin hingga mempunyai ide untuk menyebar uang berjuta-juta dari langit ke bumi sehingga diperebutkan masyarakat. Seratus juta rupiah, adalah senilai dengan :&lt;br /&gt;  - 10 ribu lembar uang sepuluh ribuan&lt;br /&gt;  - 20 ribu lembar uang lima ribuan&lt;br /&gt;  - 16,7 ribu liter premium Pertamina&lt;br /&gt;  - BLT @ Rp 400 ribuan untuk sebanyak 250 masyarakat penerima bantuan&lt;br /&gt;Bukan main.&lt;br /&gt;Barangkali Bapak Tung merasa gembira telah menyebarkan uang tersebut, barangkali pula masyarakat yang kebetulan mendapatkan satu atau beberapa lembar akan merasa suka-cita pula. Tetapi ketika membaca berita tersebut, pikiran dan perasaan saya menjadi tidak menentu. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;!! &lt;/span&gt;Heboh; ada orang kaya dermawan telah bermurah hati membagikan sebagian uangnya di saat orang (yang sedang mengalami kesulitan akibat naiknya harga bensin) membutuhkannya,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;!! &lt;/span&gt;Lucu; membayangkan bahwa yang Bapak Tung lakukan itu seperti yang pernah saya lakukan pada waktu kecil dulu, dengan menyebarkan kertas warna-warni bekas potongan perforator dari jendela bus yang melaju,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;!! &lt;/span&gt;Sedih; membayangkan banyak saudara-saudara lainnya yang sedang kebingungan untuk memenuhi kebutuhannya di tengah keadaan sulit seperti ini,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;!! &lt;/span&gt;Bingung; memahami jalan pikiran yang mendorong Bapak Tung melakukan aksi tersebut, sementara di koran yang sama saya membaca namanya diiklankan sebagai Motivator no. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh saya tidak mengerti, dengan menyebarkan uang seperti itu apakah beliau bermaksud memotivasi para jutawan yang lain untuk melakukan hal serupa ? Andaikata saya seorang jutawan sekelas beliau, rasanya saya tidak akan termotivasi untuk mengikuti langkahnya dengan cara seperti itu, karena saya memperkirakan bahwa akan banyak orang yang justru mencibir saya, baik para jutawan, BLT-wan maupun yang lainnya. Benar-benar saya tidak mengerti.&lt;br /&gt;Atau jangan-jangan beritanya yang salah ? Ah, tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘..... Warga pun berlari dan memanjat pagar lapangan. Bahkan, ada yang memanjat rumah. Sawah-sawah becek pun diterjang. Sejumlah warga terluka walau hanya lecet-lecet. Di akhir acara, seorang gadis pingsan. Lutut dan mata kakinya berdarah. Dia dilarikan ke rumah sakit dengan mobil petugas keamanan....’&lt;br /&gt;Bagaimana ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6614432089484047963?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6614432089484047963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/tung.html#comment-form' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6614432089484047963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6614432089484047963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/tung.html' title='Tung !'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5904529254511771135</id><published>2008-06-01T00:14:00.000+07:00</published><updated>2008-06-01T00:16:27.401+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Hari Minggu Itu</title><content type='html'>Namanya Panuroto, pekerjaan mbecak, anak ada lima, rumah petak kos-kosan.&lt;br /&gt;Hari Minggu (libur juga, mbecaknya) pagi jam sepuluh, sambil ote-ote tanpa baju dan cuma bercelana kolor komprang, duduk di becak. Sebatang rokok diisap berkepul-kepul asapnya. Becak diparkir di ujung jalan buntu yang dibuntu oleh kompleks kos-kosan. Tempat parkir yang teduh dan nikmat untuk bersantai menikmati hari libur. Dari dalam petak kos-kosan terdengar bunyi gending Jawa yang bergema lewat salon speaker. Panuroto menikmatinya sambil liyer-liyer, matanya setengah terpejam, kepala disandarkan di sisi dan kakinya methingkrang sebelah. Wah, seolah dunia adalah tempat laksana sorga, sayang untuk tidak dinikmati.&lt;br /&gt;Namanya Mehbuthak, juragan, punya rumah loteng, rukonya paling tidak ada dua, mobil dua, belum lagi yang lainnya. Anak ada dua. Kerja ndak kerja duit datang sendiri. Minggu pagi mukanya sedih, pandangannya menerawang jauh, ke sebuah tempat idaman yang bernama desa Entah Mana yang dia sendiri belum tahu tetapi ingin benar ke sana, untuk tinggal di sana sendiri. Angannya melayang untuk segera pergi meninggalkan semua yang dimiliki. Apapun. Rumah, mobil, harta, teman, saudara, bahkan anak dan isteri. Gelisahnya sulit difahami. Aku jangan kaucari, katanya, karena begitu aku pergi tak akan ada yang bisa menemukanku lagi.&lt;br /&gt;Dan misteri dalam perjalanan kehidupan setiap manusia terkadang baru terbaca setelah waktunya berlalu. &lt;br /&gt;Besok hari Minggu, berminggu-minggu setelah hari Minggu yang itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5904529254511771135?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5904529254511771135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/hari-minggu-itu.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5904529254511771135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5904529254511771135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/06/hari-minggu-itu.html' title='Hari Minggu Itu'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5896590491001382986</id><published>2008-05-31T23:34:00.001+07:00</published><updated>2008-05-31T23:36:55.345+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Kok Sepi?</title><content type='html'>Saya menerima beberapa kali SMS dengan kalimat seperti itu dari beberapa teman berbeda, seperti juga sering saya lakukan. Kebiasaan ber-SMS ria dengan topik-topik pendek dan ringan yang kadang-kadang berbuntut menjadi sebuah obrolan berseri telah mendatangkan keakraban dan kedekatan hati, sehingga ketika terputus untuk waktu yang panjang akan mendatangkan rasa rindu. Apa yang sedang terjadi dengan teman tersebut, sibukkah?   sakit? atau hp beserta nomor yang ada di dalamnya sedang dalam masalah gara2 kecebur di kuah soto?&lt;br /&gt;SMS adalah media yang cukup menarik untuk dipilih, karena kita dapat membaca kembali ungkapan-ungkapan yang lucu atau mengesankan, sesuatu yang tidak dapat dipenuhi melalui hubungan telepon (suara), kecuali pembicaraan tersebut direkam untuk dapat diputar kembali. &lt;br /&gt;Silaturahmi di zaman sekarang ternyata tidak kalah gayeng (mengasyikkan) dengan dulu ketika dilakukan dengan tatap-muka atau bersuratan, karena sekarang tersedia fasilitas komunikasi yang cukup canggih.&lt;br /&gt;Pada tahun 1970-an saya bertemu dengan teman akrab saya. Teman yang sudah seperti saudara ini sangat intens bersuratan dengan saya, karena tempat tinggal yang berbeda. Saya cukup terkejut ketika dia menawarkan kepada saya untuk mengajarkan sebuah cara komunikasi yang heboh. Katanya:&lt;br /&gt;Kamu mau, bisa omong-omong lewat kemampuan batin dengan aku? Supaya kita dapat saling berbicara secara mistik(maksudnya supranatural), jadi kita tidak perlu lagi berhubungan dengan surat.&lt;br /&gt;Teman saya ini memang ‘ngudi ngelmu jaya kawijayan’ atau gampangnya ilmu kesaktian, dan tampaknya dia menguasai ‘aji pameling’, sebuah kemampuan untuk menyampaikan pesan verbal kepada orang lain melalui media supranatural. Aji Pameling, semula saya kenal lewat cerita wayang dalam pementasan wayang wong atau wayang kulit yang disiarkan melalui radio. Biasanya seorang begawan, resi atau tokoh sakti ‘memanggil dan mendatangkan’ seseorang lainnya dengan mateg aji pameling ini, yang dilakukan dengan mengheningkan cipta dan melafalkan mantra tertentu, lalu beberapa saat kemudian tokoh yang diharapkan akan tiba atau merespon secara jarak jauh melalui aji yang sama. Di dunia nyata pada waktu itu (seperti juga sekarang), aji pameling dan beberapa kemampuan supranatural lainnya ada yang diiklankan melalui koran dan majalah untuk diajarkan dengan membayar sejumlah uang atau mengirimkan perangko ke alamat seorang guru atau lembaga tertentu.&lt;br /&gt;Ketika saya ceritakan kepada ayah saya mengenai tawaran belajar dari teman itu, komentar beliau pendek saja: “Lebih banyak tidak manfaatnya daripada manfaatnya. Jadi tawarannya tidak usah diterima saja”. Dengan pertimbangan dari beliau seperti itu maka tawaran teman akrab saya itu tidak saya terima, tetapi komunikasi di antara kami tetap berlangsung melalui surat yang ternyata lebih mengasyikkan. Sampai pada suatu ketika surat-menyurat jadi terputus karena kami kehilangan alamat masing-masing akibat perpindahan tempat tinggal yang tidak terkabarkan.&lt;br /&gt;Jadi seandainya saya dapat memperoleh nomor hpnya atau dia mempunyai nomor hp saya, mungkin kami akan berkirim sms : Kok sepi ?&lt;br /&gt;Seperti juga kalau teman-teman tak kunjung posting tulisan baru di blognya masing-masing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5896590491001382986?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5896590491001382986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/kok-sepi.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5896590491001382986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5896590491001382986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/kok-sepi.html' title='Kok Sepi?'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-315172249511932464</id><published>2008-05-30T19:50:00.002+07:00</published><updated>2008-05-30T19:57:58.396+07:00</updated><title type='text'>Ngepel lantai</title><content type='html'>“ Kegiatannya sekarang apa Pak ?”&lt;br /&gt;“ Ngepel lantai” &lt;br /&gt;“ Ah, Bapak ini becanda! Masa ngepel lantai....”&lt;br /&gt;“ Lhooo, nggak percaya kaaaan? Ayoo ke rumah, kalau pengen tahu buktinyaa...”&lt;br /&gt;“ Nah, pembantunya?”&lt;br /&gt;“ Pulang. Semua.”&lt;br /&gt;“ Tiga-tiganya ?”&lt;br /&gt;“ Lha iyak, dan tidak kembali lagik! Aku ini sekarang tinggal berdua sama Ibu (maksudnya: isterinya). Untung saja Ibu sekarang ndak ikut, di rumah;  makanya aku mesti cepet-cepet pulang”&lt;br /&gt;Kok terdengar seperti sebuah keluhan yang dilucu-lucukan.&lt;br /&gt;Tak terbayangkan andaikata yang disampaikan itu benar. Ibarat jendral, beliau ini sebelumnya menjadi pemimpin dari sebuah Perusahaan dengan  duapuluh ribuan karyawan. Sekarang pensiun : ngepel lantai sendiri.&lt;br /&gt;Yang jelas mesti bukan karena munculnya hobi atau kesenangan baru pasca pensiun, karena saya tidak pernah mendengar ada hobi ngepel lantai. Tentu ada musabab yang beralasan, mengapa ketiga pembantunya pulang untuk tidak kembali lagi.&lt;br /&gt;Nah?!&lt;br /&gt;Logical unit di pikiranku bekerja untuk mencari kemungkinan terdekat yang bisa menjelaskan kenapa ketiganya pulang. &lt;br /&gt;Jaman beliau dulu masih berada dipucuk kedudukannya, paling tidak ada tiga orang yang bila dipanggil (bahkan kadang cukup dengan bunyi bel) pasti akan datang untuk siap mendapat perintah tanpa membantah. Yaitu sekretaris, pelayan dan drivernya. Di samping itu, belasan manajer yang akan meninggalkan apapun aktivitasnya bila beliau memanggil, di manapun mereka (para manajer itu) berada, dan kapan saja (duapuluh empat jam sehari dalam setahun). Sebuah wewenang yang teramat hebat. Disposisinya di sepotong kertas memo,  sangat besar artinya bagi keberlangsungan aktivitas seluruh organisasi. Begitu terbiasanya beliau berpikir tentang hal yang besar, berdampak luas dan memberikan pengaruh yang dalam.&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba semua harus selesai karena pensiun. Power harus diserahkan kepada yang sekarang berhak menggantikannya.&lt;br /&gt;Saya percaya bahwa kematangan berpikir beliau sebagai “orang besar” tentu sudah lebih sempurna dibanding orang kebanyakan, apalagi kalau dikaitkan dengan usia beliau yang relatif lebih ‘sepuh’. Tetapi, manusia tetaplah manusia dengan segala keterbatasannya terutama dalam mengolah hati dan pikiran, sehingga perubahan keadaan sehari-hari yang demikian drastis mau tidak mau juga berpengaruh dalam cara menyesuaikan diri untuk menghadapinya. Demikian pula dengan mengelola perasaan tentang power yang sebelumnya dimiliki.&lt;br /&gt;Mungkin, para pembantunya mendapat kejutan-mental, karena begitu ‘Bapak’ yang biasanya jarang di rumah atau jarang sempat memperhatikan hal-hal kecil di rumah, tiba-tiba ini seharian ada di rumah bukan sekedar karena libur, tetapi untuk seterusnya, atau sampai waktu yang tidak ditentukan (artinya, sampai beliau mendapatkan aktivitas lain yang kontinyu di luar rumah).&lt;br /&gt;Maka dimulai dengan order-order tidak biasa, komentar-komentar yang tidak biasa terdengar, diteruskan dengan sentilan-sentilan yang semakin lama semakin mengganggu pendengaran dan perasaan,  sampai dengan ‘kemarahan-kemarahan’ yang sebenarnya tidak perlu kepada para pembantu tersebut, yang akhirnya membuat mereka menjadi merasa tidak lagi nyaman bekerja. Dan karena mereka bekerja juga tanpa dilindungi oleh Surat Keputusan layaknya pegawai, maka pertimbangan untuk berhenti bekerja bukanlah hal yang sulit dibandingkan dengan kemungkinan-kemungkinan apabila tetap melanjutkan bekerja ‘ndherek’ atau ‘ikut’ Bapak dan Ibu. Kesetiaan dan rasa pengabdian yang selama ini telah terpupuk dan terpelihara menjadi goncang, sementara untuk pindah atau berganti majikan atau kembali ke tempat (desa) asal relatif tidak terlalu mengkawatirkan masa depan mereka.&lt;br /&gt;Untuk berganti majikan, mereka telah mengantongi pengalaman sebagai PRT pada keluarga seorang eksekutif, sehingga calon majikan pasti akan lebih memilih mereka daripada calon pembantu yang belum berpengalaman. Untuk kembali ke tempat asal, bekal dan tabungan mereka relatif sudah lebih baik daripada kolega-kolega lain yang tidak sekelas mereka. Maka resign menjadi putusan terakhir yang lebih baik. Begitu perhitungan mereka kira-kira.&lt;br /&gt;Syahdan,&lt;br /&gt;Ketika serumah tinggal berdua, apalagi yang harus dilakukan sementara pembantu baru belum datang? Makan? Bisa di luar atau pesan-antar (call delivery). Tapi lama-lama bosan juga kan? Cuci-setrika? Masih gampang, ada jasa laundry. Menyapu, mengepel, membersihkan halaman, menata tempat tidur, merawat burung ikan ? Kalaupun bisa memanggil orang, maka tidak semudah itu menerima orang baru yang tidak dikenal, lalu  tiba-tiba berseliweran di dalam rumah dan ruangan serta kamar-kamar. Berarti, selain cuci-setrika dan makan? Ya kerjakan sendiri lah. Termasuk mengepel lantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian logika saya menjelaskan sebab-musabab kenapa beliau akhirnya mengepel sendiri lantai rumahnya. Mudah-mudahan yang seperti ini cuma sehari-dua hari saja, sehingga cukup menjadi ‘kenangan manis’ bagi beliau, sebagai bahan gurauan semata di kala hati sedang bergembira. Dan mudah-mudahan logika saya cuma isapan jempol semata yang terproses karena kejahilan pemikiran saya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-315172249511932464?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/315172249511932464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/ngepel-lantai.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/315172249511932464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/315172249511932464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/ngepel-lantai.html' title='Ngepel lantai'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6151449592845699208</id><published>2008-05-29T22:03:00.002+07:00</published><updated>2008-05-29T22:17:17.620+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Waktu Dulu Saya Masih ...</title><content type='html'>Di selasar belakang kantor, saya bertemu dengan seorang senior yang sudah pensiun beberapa tahun yang lalu. Wajah dan perawakannya tak jauh berubah, senyumnya juga. Saling bersapa dan menanyakan kabar masing-masing, lalu : “ bagaimana dik, tahun ini labanya berapa ?” – “ cukup bagus, pak, kecuali kalau nanti cuaca berubah menjadi tidak seperti yang diperkirakan”&lt;br /&gt;Perusahaan di tempat kami bersama bekerja bergerak di bidang agrobisnis (atau agribisnis?), yang sangat dipengaruhi oleh cuaca, terutama pada saat awal pertumbuhan tanaman dan saat panen.&lt;br /&gt;Beliau melanjutkan : “saya dengar sekarang ditanam jenis varitas xxx ya ?” – “ begitulah yang saya tahu dari teman-teman bidang produksi, dan ditanam pada lahan yang masih terbatas”, “ lho! varitas itu sebenarnya kurang cocok lho, untuk ... dan seterusnya.&lt;br /&gt;Lalu : “ waktu saya dulu masih memimpin bidang produksi dik, varitas ...” dan seterusnya, berlanjut : “ siapa sekarang yang jadi boss-nya “, saya jawab “ yunior bapak dulu, ....”, - “mestinya dia kan tahu, kalau ...” dan seterusnya.&lt;br /&gt;Senior saya ini, untuk ilmu teknisnya saya beri nilai delapan bulat. Pengetahuan teknisnya jempolan, alur pikirnya jernih, sehingga sebagai seorang yunior di lintas-bidang, saya merasa bahwa beliau adalah guru yang sangat baik bagi saya dan saya mendapatkan pengantar tentang ilmu budidaya tanaman secara cukup sehingga berani untuk ‘bicara’ dan berdiskusi dengan teman-teman yang kompeten di bidang ini. &lt;br /&gt;Mungkin pengaruh dari kedudukannya sebagai ‘kepala’ ketika masih bekerja, sehingga pada saat kami bertemu tersebut banyak disampaikan komentar (sebenarnya: kritik) terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pengganti-penggantinya yang notabene sebagian besar adalah para bekas yuniornya, yang notabene pula pernah di bawah perintahnya ( bahasa feodalnya: dibinanya).&lt;br /&gt;Saya beranggapan ini adalah salah satu wujud post-power syndromme, mengkritik kebijakan penggantinya karena dianggap bertentangan dengan pola pikirnya atau dianggap tidak melanjutkan dasar-dasar kebijakan yang pernah dirintis dan digunakannya ketika masih menjabat. Saya mencoba untuk melunakkan kritiknya : “jamannya sudah berganti, pak. Kondisi eksternal dan internal  sudah tidak sama lagi. Paling tidak, pemerintahnya juga sudah berganti, sehingga kebijakan pemegang sahamnya juga berbeda” “Tapi mestinya ..... “ beliau masih tidak bisa menerima rayuan saya, dan dengan semangat 45 masih ngotot melanjutkan “ apa bedanya, tanaman jaman saya dengan sekarang? cara menanamnya, siklus musimnya?... samaaa dikk! Saya jadi kawatir kalau adik-adik saya ini tidak .....” dan seterusnya.&lt;br /&gt;Wah. Ternyata kebiasaan menjadi bos yang di tangannya melekat power cenderung membuat orang lupa bahwa ketika power itu sudah tanggal dari tangannya maka bahkan berkomentarpun tidak akan membuat situasi akan berada pada kendalinya lagi.&lt;br /&gt;Itu menjadi catatan saya, sehingga ketika senior tersebut akhirnya berpamitan pulang setelah saya puas-puaskan beliau menyampaikan isi perut dan kepalanya (sadis amat, ah, bahasanya),  dan sebagai yunior yang baik saya doakan semoga beliau tetap sehat dan kami dapat bertemu lagi (untuk saya dengarkan lagi hal yang sama darinya).&lt;br /&gt;Kembali ke ruang kerja saya, dengan bergurau saya bicara sambil berdiri di tengah teman-teman kerja yang saya sayangi : “Wahai sekalian teman-teman, kalau tiba saatnya saya nanti pensiun ( mereka senyum-seyum dan ketawa), tolong ingatkan saya, kalau sampai saya nanti ketemu Anda sekalian dan lalu saya bicara begini : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;jaman saya dulu, dik...”&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Pecahlah tawa di siang hari itu dalam ruangan kami. Karena,&lt;br /&gt;beberapa kali kami ketamuan senior pensiunan yang biasanya saya persilakan duduk di depan meja saya, saya ambilkan minum sendiri (segelas plastik air mineral) lalu sebagai adat sopan santun dan penghargaan, teman-teman lain pada mendekat untuk say hi!&lt;br /&gt;Nah, ketika tamu senior tersebut sudah mulai bicara : “waktu saya duluuu... “ maka satu-persatu teman-teman pergi diam-diam atau pamit dengan alasan melanjutkan kerjanya. Tinggallah saya yang musti bersabar hati mendengarkan uraian repetitif tersebut.&lt;br /&gt;Maka ketika siang itu saya berbicara &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ingatkan saya&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, tawa pecah berderai. &lt;br /&gt;Mudah-mudahan ketika saatnya tiba, teman-teman nanti tetap tega untuk mengingatkan saya, dan saya akan berusaha mati-matian mengingatnya untuk tidak bicara seperti itu, meskipun barangkali akan lebih banyak lupanya daripada ingatnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Posting ini saya pikir mestinya judulnya Post-power Syndromme, dan saya tiba-tiba ingat bahwa ada hubungan antara post-power syndromme dengan PRT alias pembantu. Nanti diceritakan lagi)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6151449592845699208?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6151449592845699208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/waktu-dulu-saya-masih.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6151449592845699208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6151449592845699208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/waktu-dulu-saya-masih.html' title='Waktu Dulu Saya Masih ...'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5800808739562285216</id><published>2008-05-28T14:34:00.001+07:00</published><updated>2008-05-28T14:37:03.418+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Sampai Setengah Tiga</title><content type='html'>Para pensiunan sedang bercengkerama di teras samping rumah yang teduh di siang pukul 10 itu. Lima-enam orang yang rambutnya putih dan kelabu duduk menghadapi cangkir minuman dan tahu-tempe goreng di atas piring.&lt;br /&gt;“ Kita harus bisa menikmati masa pensiun ini dengan sebaik-baiknya. Jangan banyak berpikir tentang sesuatu yang sudah tidak mungkin kita lakukan, apalagi berangan-angan dan berpikir untuk mencapai sesuatu yang sifatnya materi. Salah-salah jadi makan hati dan malah berakibat stress atau sakit. Nikmati saja.”&lt;br /&gt;“ Bisa saling bertemu seperti ini saja, senangnya luar-biasa. Ngobrol, ketawa-ketawa, cerita tentang masa lalu, pengalaman-pengalaman....”&lt;br /&gt;“ Soal anak-anak, mereka sekarang sudah dewasa. Coba kita ingat kembali. Ketika kita masih seusia mereka, pernahkah kita berpikir bahwa orang-tua kita berpikir tentang kita ? Toh nyatanya kita bisa menjalani hidup kita sampai dengan saat ini ...”&lt;br /&gt;“ Kita bisa mengisi hari-hari ini ...”&lt;br /&gt;“Dengan apa, ya ? Bisnis ? Kita kurang pengalaman, dan itu perlu modal serta risiko yang belum tentu kita siap menghadapinya. Kerja ? Ah, bagaimanapun tenaga kita sudah tidak sepenuh dulu, dan pikiran kita sudah tidak cocok untuk menyelesaikan dan menangani hal-hal yang terjadi sekarang. Salah-salah keberadaan kita di tempat kerja justru akan mengganggu yang lainnya..”&lt;br /&gt;...... Bagaimana dengan kerja sosial semacam membacakan buku-buku di lembaga-lembaga tunanetra, misalnya? Atau membantu pak Lurah mengatur filing data penduduk yang ada di kantor kelurahan kita masing-masing? Dan kalau itu kita lakukan bersama-sama, bukankah menjadi lebih menyenangkan lagi acara dan bermanfaat ?....&lt;br /&gt;Pembicaraan ngalor-ngidul berlangsung dengan seru tapi asyik, meskipun terkadang melenceng-lenceng ke sana-sini. Saya, dari sebelah mengikuti pembicaraan itu diam-diam sambil sesekali mengamati ekspresi mereka masing-masing. &lt;br /&gt;Pukul setengah tiga siang pertemuan santai itu bubar, para pensiunan kembali ke rumah masing-masing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5800808739562285216?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5800808739562285216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/sampai-setengah-tiga.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5800808739562285216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5800808739562285216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/sampai-setengah-tiga.html' title='Sampai Setengah Tiga'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3625059849361026360</id><published>2008-05-27T04:05:00.002+07:00</published><updated>2008-05-27T04:12:25.155+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Pak RT dan BLT</title><content type='html'>Pak RT saya cukup dibikin pusing oleh dampak kenaikan harga BBM. Bagaimana tidak? &lt;br /&gt;Ketika oleh kantor kelurahan disampaikan daftar penerima BLT berikut kuponnya untuk dibagikan kepada warga, maka beberapa warga yang merasa berhak mendapatkan, berdatangan ke rumah pak RT untuk meminta jatah kuponnya, tetapi mereka tidak ada dalam daftar penerima kupon yang bertanda-tangan Menteri Keuangan itu.&lt;br /&gt;Protes, pertanyaan, dan keluhan dilontarkan, padahal sebenarnya urusan jawab-menjawab dan jelas-menjelaskan seharusnya menjadi kewajiban Pak Lurah dan jajaran karyawannya selaku kepanjangan tangan Pemerintah. Penjelasan yang diberikan oleh Pak RT-pun akhirnya mengambil referensi dari penjelasan Pemerintah seperti yang disampaikan dalam media massa, yakni :&lt;br /&gt;- data yang digunakan oleh Pemerintah berdasar data tahun 2005,&lt;br /&gt;  bukan data mutakhir dari pengurus RT&lt;br /&gt;- RT baru saja diminta membuat data mutakhir berdasarkan permintaan dari kelurahan, &lt;br /&gt;  dan data tersebut sudah diserahkan melalui RW&lt;br /&gt;- di koran dan TV diberitakan bahwa akan diserahkan BLT susulan &lt;br /&gt;  bagi warga yang berhak tetapi belum memperolehnya&lt;br /&gt;Meskipun pak RT saya adalah orang yang cukup sabar, akhirnya merasa sebal juga harus mengulang-ulang penjelasan dan berdebat dengan beberapa warga yang ngotot memprotes kebijakan BLT tersebut. Sebal, karena seharusnya bukan tugas beliau untuk berdebat dengan warga. Terlebih lagi karena turunnya kupon ke RT tidak disertai penjelasan tertulis yang dapat digunakan sebagai referensi resmi.&lt;br /&gt;Terasa benar bahwa sistem administrasi BLT yang digunakan untuk dalam memback-up dampak kenaikan harga BBM mendatangkan kesulitan lain bagi para pengurus RT terutama ketuanya. Berbagai pertanyaan lain timbul, yakni : mengapa yang digunakan adalah data BLT tahun 2005 ? apakah tidak pernah terpikir oleh Pemerintah tentang kemungkinan akan terjadinya kenaikan lagi sehingga pengalaman BLT tahun 2005 tidak pernah diikuti dan di-update datanya untuk berjaga-jaga menghadapi hal serupa ?&lt;br /&gt;Ketua RT yang bukan pegawai Pemerintah harus mewakili Pemerintah untuk memberikan penjelasan yang nota-bene tidak secara resmi disertakan dalam sebuah edaran atau surat atau apapun dari fihak Lurah, Camat atau Walikota ketika menyampaikan kupon-kupon BLT kepada yang berhak. Masyarakat yang sedang dilanda resah karena melihat dampak kenaikan BBM terhadap kenaikan harga barang dan jasa, mempunyai tafsir dan pendapat yang bermacam-macam sesuai dengan kepentingan dan kemampuan berfikirnya masing-masing. Yang paling terasa, masyarakat menganggap seolah-olah harus ada ‘seseorang’ untuk dimintai pertanggung-jawaban atas hal yang sedang berlangsung. Tanggung-jawab atas naiknya BBM, dan tanggung-jawab untuk memberi BLT. Dan pak RT-lah orang terdepan yang harus mendengarkan tuntutan atas hal tersebut, karena beliaulah yang telinga dan mulutnya berada paling dekat dengan masyarakat.&lt;br /&gt;Ketika saya berada di rumah pak RT saya melihat dan mendengarkan sendiri apa yang disampaikan oleh seorang warga serta penjelasan-penjelasan pak RT kepada warga tersebut, terasa benar oleh saya betapa menderitanya ribuan pak RT di seluruh Indonesia karena kenaikan BBM untuk kedua kalinya ini setelah tahun 2005. Sedangkan menurut saya, sesuai dengan namanya tugas beliau adalah membuat rukun antartetangga di lingkungan pemukimannya. Beliau adalah orang yang dipercaya untuk memimpin lingkungan Rukun Tetangga, bukannya untuk meladeni orang yang berkeluh kesah karena dampak kebijakan Pemerintah. Masih bagus bahwa di tempat saya tidak ada warga yang beramai-ramai melakukan tindakan anarki atas rumah pak RT (yang tidak ber’dosa’) seperti yang pernah diberitakan dalam kejadian pada tahun 2005 di suatu tempat dulu.&lt;br /&gt;Simpati saya untuk para ketua RT yang tetap tegar menjalankan tugasnya dengan benar di seluruh Indonesia. Mungkin keberadaan Anda sekalian tidak pernah diperhitungkan, namun tanpa Anda, negeri ini mungkin lebih tidak terurus dengan baik. &lt;br /&gt;Hormat saya untuk Anda sekalian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3625059849361026360?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3625059849361026360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/pak-rt-dan-blt.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3625059849361026360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3625059849361026360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/pak-rt-dan-blt.html' title='Pak RT dan BLT'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-1267377980241118766</id><published>2008-05-23T21:40:00.003+07:00</published><updated>2008-05-23T21:46:28.731+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Lukisan Kasih Sayang</title><content type='html'>Sebuah pigura berukuran 40x40 cm tergantung di dinding belakang tempat duduk Direktur Produksi. Di tengahnya terpasang sebuah lukisan coret-moret di atas kertas putih seukuran post-card, yang kentara sekali pelukisnya seorang anak balita. &lt;br /&gt;Setiap orang yang duduk di depan Pak Direktur pasti akan melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Lukisan bikinan cucunya, pak ?” tanya saya.&lt;br /&gt;Senyum mengembang penuh kebahagiaan terpancar pada wajah beliau “ Benar, Mas. Cucu saya yang pertama, usianya tiga tahun lebih sedikit.”&lt;br /&gt;“ Pengobat rindu ya Pak?”&lt;br /&gt;“ Begitulah. Juga pelepas lelah dan ketegangan pikiran”. Saya melihat senyum seorang kakek yang demikian bahagia.&lt;br /&gt;“ Bapak punya gambar seperti itu buatan putra Bapak waktu kecil ?” tanya saya mengusiknya, karena saya hampir yakin bahwa beliau tak punya atau tak menyimpannya.&lt;br /&gt;Beliau tertawa lebar menjawab pertanyaan saya tadi : “ Nah itu masalahnya. Waktu masih jadi bapak muda dulu, tak pernah terpikir untuk hal seperti ini, Mas” tertawanya terdengar seperti mentertawakan dirinya sendiri. “ Saya terlalu bodoh sehingga tidak melakukan hal itu karena pikiran saya sudah habis saya gunakan untuk memikirkan pekerjaan dan diri-sendiri”.&lt;br /&gt;“ Cucu ada berapa, pak ?”&lt;br /&gt;“ Ya, baru satu ini.”&lt;br /&gt;“ Ooooo, rasa sayangnya ditumplek habis, ya Pak?”&lt;br /&gt;Tertawanya berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pikiran saya, apakah setelah cucu bertambah menjadi dua, tiga, lima atau tujuh nanti beliau akan mengkoleksi lukisan-lukisan serupa? Saya tidak yakin.&lt;br /&gt;Dan saya membayangkan diri saya sendiri pada saat nanti saya seusia beliau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-1267377980241118766?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/1267377980241118766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/lukisan-kasih-sayang.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1267377980241118766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/1267377980241118766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/lukisan-kasih-sayang.html' title='Lukisan Kasih Sayang'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5160915014298746202</id><published>2008-05-22T23:18:00.001+07:00</published><updated>2008-05-22T23:20:37.472+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Ketika Kasih Sayang Berkabut</title><content type='html'>Setiap orang-tua mempunyai harapan agar anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dari dirinya. Apabila ada di antara anak-anaknya yang kehidupannya di bawah standar atau di luar harapannya, maka dia terharu-biru pikirannya.&lt;br /&gt;Sementara si anak tersebut, yang tumbuh dengan pikiran dan cita-cita, kemampuan yang dikuasai, kesempatan yang diperoleh dan kehidupan yang dijalaninya, terkadang merasa bahwa dirinya tidak mengalami masalah dan kesulitan apapun. Sehingga tak pernah terpikir untuk meminta penilaian dari orang-tuanya, apalagi bantuan.&lt;br /&gt;Karena si anak yang tenang-tenang saja, orang-tuanya akan menjadi semakin resah membayangkan bagaimana anaknya menjalani hidupnya pada saat ini dan kemudian nanti.&lt;br /&gt;Biasanya keprihatinan-keprihatinan seperti itu akan menjadi bahan diskusi dan perdebatan dengan isteri atau suaminya atau disampaikan kepada anaknya yang lain yang tingkat kehidupannya dinilai lebih baik atau mencocoki hatinya. Seolah-olah sebagai ungkapan rasa getun (kecewa pada diri sendiri)  atau dimaksudkan agar anak yang lain tersebut juga sedia untuk berbagi peduli terhadap saudaranya, sehingga hasil akhir yang dibayangkan ingin dilihatnya adalah kesetaraan tingkat kehidupan di antara anak-anaknya. Sebuah keinginan yang teramat manusiawi pada setiap orang-tua, dan memang begitulah seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sikap anak lainnya yang dicurhati ? &lt;br /&gt;Pengalaman hidup dan kedewasaan berpikir seorang anak terkadang berbeda atau bahkan melampaui kemampuan orang-tuanya. Demikian pula ukuran-ukuran tentang kemakmuran, kebahagiaan, kesejahteraan dan lain-lainnya sering berbeda antara orang tua dengan anaknya yang sudah dewasa atau sama-sama ‘tua’. Curhat atau diskusi yang terjadi antara anak-beranak dalam keadaan demikian ini biasanya tidak mudah untuk sampai kepada kesimpulan yang melegakan si orang tua. &lt;br /&gt;Orang tua biasanya hanya membutuhkan pembenaran atas pendapat yang dikemukakannya serta kesediaan untuk menerima tugas yang dilimpahkannya. Tetapi terkadang pendapat tersebut benar-benar tidak dapat diterima dan difahami oleh si anak, apalagi untuk menerima penugasan yang dilimpahkan. Sesuatu yang sangat membebani pikiran si anak.&lt;br /&gt;“ Ayah, biarkan kak Anu menjalani hidupnya dengan caranya, toh yang dijalaninya tidak ada yang melanggar norma apapun. Kami semua, para saudaranya tetap akan siap membantunya manakala suatu saat terjadi kesulitan pada keluarga kak Anu.”&lt;br /&gt;“ Tapi maksud ayah, seharusnya dia itu merubah cara mengatur hidupnya, seperti yang telah ayah-ibu contohkan sejak kalian masih kecil dulu..”&lt;br /&gt;........&lt;br /&gt;Demikianlah. Kasih-sayang antar-anggota keluarga dan saudara adalah sesuatu yang indah untuk dijalani dan dirasakan, tetapi terkadang pikiran mengganggunya dengan kehendak  sendiri yang belum tentu diterima oleh yang lain, sehingga keindahan kasih sayang tersebut tertutup kabut. Terasa adanya kasih sayang, tetapi untuk melihatnya terganggu oleh kehendak yang datang dari pikiran sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedang mengamati hal tersebut untuk belajar memahami, bagaimana seharusnya menyikapi  sehingga dapat melihatnya tanpa berkabut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5160915014298746202?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5160915014298746202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/ketika-kasih-sayang-berkabut.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5160915014298746202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5160915014298746202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/ketika-kasih-sayang-berkabut.html' title='Ketika Kasih Sayang Berkabut'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5200460797616082612</id><published>2008-05-18T22:18:00.000+07:00</published><updated>2008-05-18T22:20:36.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Satuu... duaaaaa... tigak!!!</title><content type='html'>Di desa, di kampung, di kota, di gubuk-gubuk kumuh, di geria-geria tawang dan di mana-mana, setiap anak kecil yang sudah mulai faham dan mampu merespon bahasa tentu pernah dikenalkan kepada aba-aba sederhana seperti itu.&lt;br /&gt;Aba-aba yang diserukan ketika seorang anak kecil belajar melompat, menangkap bola atau menyambut tepukan tangan. Sebuah pengajaran yang  kelak sangat berguna sebagai alat untuk bertahan hidup.&lt;br /&gt;Dimulai pada awalnya dengan nilai. Membaca : enam, menyanyi : delapan, berhitung: tujuh, dan seterusnya. Kalau ingin mendapatkan pengakuan maka si anak harus berusaha untuk mendapatkan nilai setidak-tidaknya tujuh atau tujuh puluh. Di luar itu, maka dia akan menjadi seorang anak yang tidak masuk hitungan dalam kelompok sosialnya. &lt;br /&gt;Guna memotivasi agar nilai menjadi bergengsi, tak jarang dijanjikan hadiah, mulai dari tas atau sepatu baru sampai tamasya ke sorga permainan, di pasar-pasar malam, tempat rekreasi, naik sepur (!) ke kota lain, ke game-zone di mal-mal, ke tempat yang bagaikan surga bagi mereka. Tetapi kalau nilai jeblog, juga sederet sanksi terkadang disertakan berupa larangan menonton televisi, larangan bermain sepulang sekolah,  sampai dengan dihapuskannya subsidi uang jajan.&lt;br /&gt;Untuk mendongkrak gengsi, terkadang pula si anak diharuskan mengikuti pelajaran-pelajaran tambahan di luar sekolah, mulai dari les matematika, piano sampai dengan kaligrafi dan menyanyi. Tentu akan dipilihkan lembaga-lembaga terpilih, agar keinginan tercapai.&lt;br /&gt;Benar, bahwa bermula dari hitungan dalam bermain yang sangat sederhana berupa kata-kata :  satuuuu... duuuuuaaaa... tigak !!!, perjuangan untuk meraih kehidupan yang layak telah dimulai, dan sejak itu pula seolah-olah aba-aba seperti itu menjadi ciri bahwa sesuatu sedang dimulai.&lt;br /&gt;Sebaliknya, ketika aba-aba dibalik : tigaaaa, duaaa, satu! Maka sebuah event harus diselesaikan. Ujian selesai, waktu untuk mengerjakan soal ujian telah habis, pensil harus diletakkan, kertas jawaban dijauhkan dari jangkauan, waktu telah habis.&lt;br /&gt;Kemampuan berhitung menjadi salah satu pilar utama yang harus dikuasai agar seseorang mampu menjalani hidupnya dengan baik. Memobilisasikan harta, menggalang dan meningkatkan jumlah dukungan, mengalokasikan sumber-sumber daya, memberikan imbalan yang proporsional, mengatur ritma waktu kehidupan, dan hampir semua segi dalam kehidupan yang harus ditata sesuai dengan kepentingan dan tujuan yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang kerabat yang bergiat sebagai anggota tim kampanye diberitakan jatuh sakit ketika proses kampanye pilkada sedang berlangsung. Kelelahan fisik dan mental telah berakumulasi dan menekan kesehatannya begitu rupa sehingga dia harus dirawat di RS untuk beberapa waktu. Tampaknya perjuangan untuk menang dalam pemilihan demikian hebatnya, sehingga seorang anggota tim jatuh dan tumbang kelelahan karena perhitungan energi dan kalori yang mungkin lolos dari kalkulasi. Padahal, rentang waktu masa kampanye serta rentang permasalahannya bisa dibanding hanya seupil apabila dibanding dengan waktu dan masalah yang harus ditempuh serta dihadapi setelah seseorang menjadi kepala daerah.. &lt;br /&gt;Saya tidak habis mengerti, apakah para Bapak dan Ibu yang sekarang sedang sangat bersemangat untuk terpilih itu telah benar-benar berhitung tentang segala-sesuatunya setelah nanti terpilih menjadi kepala daerah?&lt;br /&gt;Apakah studi dan kalkulasi ipoleksosbudhankamnas-nya menunjukkan posisi kuadran kesejahteraan yang lebih baik untuk rakyat di daerah yang akan dipimpinnya peningkatan pada akhir masa jabatan apabila dibanding dengan keadaan sebelum para beliau menjabat sebagai kepala daerah? &lt;br /&gt;Mungkin saya yang kurang mengerti, mungkin pula saya yang kurang mendapatkan informasi cukup tentang adanya penilaian akhir jabatan seorang kepala daerah kecuali bahwa yang bersangkutan: tidak mencalonkan lagi, mencalonkan diri kembali tetapi tidak terpilih lagi atau terpilih lagi. Semua tanpa parameter-parameter yang mudah dicerna dan dihitung dengan bilangan satu.. dua.. tiga  dan seterusnya.&lt;br /&gt;Tolok-ukur keberhasilan dan kegagalan sebenarnya amat mudah dilihat secara nyata, dan mungkin bahkan tidak memerlukan ukuran-ukuran yang rumit, misalnya apakah rakyat yang berada di RT 1000 RW 100 kelurahan Sejuta Pohon kecamatan Setengah Hati kabupaten Seratus Persen yang dahulunya tingkat konsumsi hariannya tiga ratus perak sehari atau senilai 60 gram beras sekarang sudah meningkat ? Apakah mengurus KTP sekarang tidak perlu biaya, cukup ditunggu sepuluh menit sambil menonton TV dan disuguh minuman dingin ? Apakah jalanan kota dan kampung-kampung terasa cukup aman bagi siapapun yang melintas tanpa cemas terjadi kecelakaan ?&lt;br /&gt;Dan yang paling penting, apakah semua merasakan adanya kecenderungan ke arah perbaikan yang berjalan secara ajeg dari waktu-ke waktu selama masa jabatan ? Bukan hanya menjelang masa kampanye berikutnya ?&lt;br /&gt;Kalaupun oleh beberapa lembaga ‘independen’ digelar even pemberian award keberhasilan daerah yang bermacam ragamnya, rasanya saya dan para kaum awam masih juga akan bingung karena parameter penilaiannya sulit saya mengerti, sementara yang lebih nyata adalah bahwa perubahan ke arah perbaikan masih juga tidak menyentuh akar rumput. Sehingga terkadang hanya menambah deretan pertanyaan baru: untuk siapakah sebenarnya award tersebut.&lt;br /&gt;Menjadi kepala daerah pada awalnya pasti akan dimulai sebagai kepala sebuah lembaga pemerintahan, Sebuah kantor dengan ratusan atau ribuan manusia yang harus digerakkan dalam sebuah sistem yang sudah ada sejak beliau berada di luarnya. Sistem inilah yang nantinya akan bekerja membuat perubahan, dengan kepala daerahnya sebagai motor utama dan sekaligus sebagai pengendali tunggalnya.&lt;br /&gt;Apakah kerja sistem ini sudah cukup difahami, sehingga pada saatnya dapat digerakkan dan dikendalikan tanpa kesulitan ?&lt;br /&gt;Seorang kepala daerah, menurut saya adalah orang yang harus dipilih karena memiliki kemampuan memimpin perangkatnya, pendukungnya, dan masyarakat yang dipimpinnya serta mampu merespon dengan baik kritik serta saran konstruktif yang semua diarahkan untuk bermuara kepada peningkatan kesejahteraan seluruh anggota masyarakatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, saya malah menjadi pusing karena membayangkan ketidakmampuan saya sendiri.&lt;br /&gt;Untung saya merasa tidak mampu, karena kalau saya merasa mampu jangan-jangan malah tergoda untuk mencalonkan diri jadi bacakada alias bakal calon kepala daerah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5200460797616082612?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5200460797616082612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/satuu-duaaaaa-tigak.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5200460797616082612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5200460797616082612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/satuu-duaaaaa-tigak.html' title='Satuu... duaaaaa... tigak!!!'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-8399136244683646762</id><published>2008-05-18T22:12:00.001+07:00</published><updated>2008-05-18T22:18:09.462+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Bahasa dan Budaya Jawa : Ungkapan tentang Keberanian</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kaduk wani kurang duga :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;keberanian yang berlebihan cenderung mengandung kekurangwaspadaan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wani angas:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberanian semu, yang ketika benar-benar diuji maka ketakutanlah yang datang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wani silit wedi rai:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hanya berani ketika menghadap pantat, tetapi takut ketika berhadapan muka, maksudnya : keberanian yang diungkapkan ketika belum datang tantangan, sedangkan ketika harus berhadapan menjadi hilang nyali.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jago kate, wanine ana kandhange:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Petarung lokal, yang hanya berani bertanding di tempat sendiri&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sedumuk bathuk, senyari bumi, ditoh-i pati:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya disentuh muka, atau digeser batas kekuasaan selebar jari, akan dipertahankan dengan nyawa, maksudnya : kehormatan dan harga diri adalah sesuatu yang sangat bernilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan dapat memberi inspirasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-8399136244683646762?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/8399136244683646762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/bahasa-dan-budaya-jawa-ungkapan-tentang.html#comment-form' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8399136244683646762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8399136244683646762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/bahasa-dan-budaya-jawa-ungkapan-tentang.html' title='Bahasa dan Budaya Jawa : Ungkapan tentang Keberanian'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3932065304730821980</id><published>2008-05-12T23:33:00.002+07:00</published><updated>2008-05-12T23:39:28.607+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Sepur Menthog</title><content type='html'>Dia bernama sepur, julukannya sejak kecil. Nama yang sebenarnya adalah Kereta Api.&lt;br /&gt;Pada saat ini keluarganya sangat menderita sekali. Tampaknya kehidupan mereka sangat jauh di banding dengan sesama saudaranya yang trah BUMN itu, meskipun di antara beberapa saudaranya juga berada pada kondisi yang memprihatinkan.&lt;br /&gt;Kurang lebih empat bulan yang lalu, saya terkejut ketika melihat salah satu rangkaian KRL yang ‘asing’ di stasiun Gambir. Aneh bentuknya dan aneh tampangnya. Pada mulanya saya kira ini adalah sepur tamu, yang mungkin lewat Gambir dari tempat asalnya entah Taiwan, Hongkong atau Korea. Tetapi setelah saya ingat bahwa antara tempat-tempat itu tidak ada jembatan langsung atau terowongan ke Gambir, sadarlah saya bahwa mungkin sepur itu sekarang memang sudah diadopsi sebagai anggota keluarga sepur kita sendiri.&lt;br /&gt;Sayang, karena keterpukauan saya, saya tidak sempat memotretnya agar dapat divisualisasikan di sini.&lt;br /&gt;Bodinya bercat silver metalik tapi agak kusem. Lampu-lampu di dalamnya lebih terang dibanding saudara sulungnya yang lain. Kelebihan lainnya, sepertinya ruangnya terasa lebih longgar dan bersih. Pada batang pipa melintang di sepanjang gerbong tergantung banyak ( ! apa namanya ?) tempat pegangan yang disainnya ergonomik.&lt;br /&gt;Yang paling menarik perhatian saya, pada sisi-sisi luar gerbong terdapat boks-boks berlampu yang mungkin penunjuk jurusan kereta tersebut. Saya benar-benar buta terhadap huruf yang tertera di gerbong tersebut, soalnya ditulis dengan tulisan Kanji. Mungkin bunyinya Seoul-Panmunjom, begitu kira-kira.&lt;br /&gt;Lumayan lah. Tambahan alat transportasi untuk memfasilitasi para saudara yang memerlukannya berangkat dan pulang antara rumah dan tempat kerja di Jakarta ini.&lt;br /&gt;Lumayan juga untuk tidak menambah kendaraan pribadi yang semakin menyesaki jalanan dengan jumlah dan polusinya. Dan lumayan pula untuk tidak menambah beban pak Polisi dalam mengatur, menjaga dan menertibkan lalu-lintas.  Lumayannya banyak sekali. Apalagi kalau dirupiahkan penghematan yang dapat dilakukan sebagai hasil dari datangnya sepur ‘asing’ ini.&lt;br /&gt;Saya berimajinasi bahwa di antara para penumpang pengguna KRL tersebut terdapat pula beberapa pegawai kantor Kementerian BUMN dan Departemen Keuangan yang berada di arah timur stasiun Gambir ini. Juga Departemen Perhubungan. Para pegawai kantor yang lembaganya pasti sangat berhubungan dengan mengurusi PT KAI, si pengelola sepur kita. Para pegawai yang (mungkin sekali) para bosnya tidak pernah melihat sepur ‘asing’ ini (kasihan ah, dibilang asing padahal sudah jadi anggota keluarga sendiri), karena ketidak-sempatan, ketidak-mungkinan atau ketidak-adanya dan ketidak-sampainya informasi bahwa kini sudah beroperasi sepur baru yang berasal dari ‘sana’. Sepur baru yang bekas, sepur bekas yang baru, atau bekas sepur baru, terserah menyebutnya.&lt;br /&gt;Bekas.&lt;br /&gt;Di sini saya menjadi trenyuh kepada PT KAI. Sedemikian miskinkah kita untuk bisa membeli serangkaian gerbong baru ? Atau, apakah sudah demikian rudinkah kita, sehingga bahkan untuk mengecat bodi sepur bekas tersebut kita tidak mampu? Tidak cukupkah uang untuk mengupah orang guna melepas beberapa boks penunjuk jurusan bertulisan Kanji dengan jurusan ngoyoworo tersebut?&lt;br /&gt;Kalau benar demikian miskinnya, wah, benar-benar daftar malu saya harus bertambah lagi, sehingga saya akan semakin berkurang  punya kebanggaan mengaku sebagai bangsa Indonesia di tanah air sendiri, apalagi kalau sepur yang wujudnya seperti itu di stasiun Gambir sampai diambil gambarnya dan tertayang di media luar-negri sana.&lt;br /&gt;Atau saya harus berdandan a la Pemimpin Besar Revolusi, lantas berpidato di atas podium Istora Senayan begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wahai sodhara-sodhara sebhangsa dhan setanah air, &lt;br /&gt;terutama yang beradha di Jakarta ibukota tercinta, &lt;br /&gt;terutama sodhara-sodhara yang berkantor sekilo jaraknya dari stasiun Gambir, &lt;br /&gt;saya mengajak sodhara untuk sejhenak mengheningkan cipta bagi sepur kita yang sedhang sangat mendherita ini :&lt;br /&gt;....................................&lt;br /&gt;Mengheningkan cipta : Selesai.&lt;br /&gt;Kita ini bhukan bhangsa tempe, saudhara-saudhara , tetapi sudah menjadhi bhangsa menthog,&lt;br /&gt;Untuk itu marilah sekharang bhersama sama khita menyanyikan laghu kebhangsaan menthog kita bhersama-sama dhengan penuh semangat :&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menthog, menthog, tak kandhani, &lt;br /&gt;Mung lakumu kang ngisin-isini&lt;br /&gt;Ambok aja ngétok,  ana kandhang waé &lt;br /&gt;Pénak-pénak ngorok,  ra sah tandang gawé                             &lt;br /&gt;Ménthog, ménthog mung lakumu, mégal-mégol gawé guyu ...... &lt;br /&gt;......&lt;br /&gt;Terima kasih, sodhara-sodhara&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Turun podium, pingsan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan sepur tersebut sekarang sudah disulap dan disolek menjadi tidak terlalu memalukan. Mudah-mudahan, karena saya tidak tahu keadaannya sekarang, karena tidak pernah ke Jakarta lagi akhir-akhir ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3932065304730821980?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3932065304730821980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/sepur-menthog.html#comment-form' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3932065304730821980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3932065304730821980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/sepur-menthog.html' title='Sepur Menthog'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-8331835824785971529</id><published>2008-05-11T00:13:00.001+07:00</published><updated>2008-05-11T00:16:59.850+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Dityo Kolokemaki</title><content type='html'>Namaku Dityo Kolokemaki, nama alias baru yang belum semenit lalu digelarkan oleh dhalangku untukku. &lt;br /&gt;Sebenarnya aku punya nama dan gelar lain, tergantung pada siapa aku bekerja, aku kan seorang profesional. &lt;br /&gt;Di tempat kerjaku yang lain, aku bernama Gendirpenjalin, terkadang juga bernama Klanthangmimis, dan ketika pada saat-saat awal karier profesionalku, namaku Kolomarico. Tetapi, oleh sebagian kenalan, aku biasa dipanggil dengan julukan Cakil. Buto Cakil. &lt;br /&gt;Jujur, aku paling tidak suka disebut sebagai buto, karena dari semua tanda-tanda fisikku tak satupun ada yang mirip dengan tanda fisik sebagai buto. Posturku biasa, tidak guedhe-mbadag seperti buto, kulitku juga sehalus wayang satria yang lain, bukan mbesisik kadhasen seperti kulit buto, atau garing kisut seperti kulit wayang yang ndak kopen, malah mungkin lebih halus kulitku, karena aku seminggu dua kali ke salon untuk luluran. Rambutku juga halus bak sutera, ndak kalah lembut dengan rambutnya mbak-mbak yang berprofesi sebagai manekin, rambutku tidak nggimbal dan penuh kutu seperti rambut buto alasan.  &lt;br /&gt;Pakaian dan aksesoriku ? Wayang biasa bajunya pasti kalah jauh dengan pakaianku, yang selalu dilondre licin lembut karena berbahan nomer satu dan bikinan rumah mode langganan para wayang selebriti.&lt;br /&gt;Salah satu ciriku yang menyebabkan aku disebut buto mungkin cuma rahang bawahku, yang sejak dari sononya sudah dicetak maju lebih jauh ketimbang rahang atasku, sehingga sebagian besar gigi bawahku berada di luar atap bibir maupun hidung. Tapi biarkan saja. Aku pede, kok. Dan aku samasekali tak pernah punya maksud untuk merevisi konstruksi uwangku ini. Biar saja, aku syukuri, toh juga pemberian dari yang mbikin aku. Justru aku punya kekhawatiran kalau asetku yang satu ini dibentuk seperti pada umumnya, karierku bisa hancur. Karena dengan bentuk rahang seperti inilah aku dikenal oleh publik. Unik, tiada duanya.&lt;br /&gt;Tapi aku juga punya aset yang lain, yaitu karakter yang aku miliki. Aku ini wayang yang over PD. Berhadapan dengan siapapun aku tak gentar. Sikapku cenderung agresif, termasuk juga caraku berbicara. Inilah barangkali yang menyebabkan dhalangku yang paling baru memberiku julukan Kolokemaki. Kemaki, menurut dia adalah suatu sikap sok menang dan cenderung merendahkan orang lain. Aku setuju dengan stetmennya, karena menurutku komunikasi yang paling cocok bagiku adalah komunikasi yang transparan tanpa tedheng aling-aling:&lt;br /&gt;Sampeyan ini siapa, punya mau apa, punya duit berapa, dan sebagainya sesuai dengan jenis kasus yang ditugaskan kepadaku untuk aku selesaikan. Dan aku adalah tipe profesionaL yang suka menyelesaikan tugas secara cepat dan bersih.&lt;br /&gt;Aku sangat tidak suka kepada orang yang peragu. Suka berlama-lama mengukur segala sesuatu yang semestinya bisa dilakukan lebih cepat, misalnya mengukur maunya orang lain. Bagiku, gak perduli dia itu kesatria pejabat tinggi, kalau datang ya langsung saja ditanya : sampeyan ini siapa, ke sini mau apa, KTP atau ID cardnya mana, tanpa perlu gentar dengan gaya, lagak dan penampilannya atau menggentari para pengawal dan ajudannya. Kalau identitasnya tidak jelas, maksud kedatangannya tidak jelas, ya tolak saja. Nggak usah mbulet-mbulet. Kalo ngeyel, ya usir saja. Kalo nglawan ya kepruk saja. Beres.&lt;br /&gt;Gayaku yang seperti ini sering menjadi bahan pergunjingan di lingkungan kerjaku. Ada yang terus-terang bilang bahwa aku kemaki (eh, betul 100% juga dhalangku ini). Sok pinter, sok berwenang, sok nyepelekan peran orang lain dan sok-sok-sok nggak enak yang lain. Di belakang punggungku ada pula yang bilang kalau aku ini ambisius, suka njatuhin kolega di depan pimpinan dan publik, suka cari muka, dan macem-macem lagi. Ah, acuhin, aja. Emang gue pikirin. Bagiku semua kesan di belakang punggung tentangku itu salah. Kerna mereka sirik saja. Kerna mereka tidak mampu tampil sepertiku, sehingga mengembangkan ketidaksukaannya padaku dengan mengarang hal-hal yang dimiring-miringkan.&lt;br /&gt;Faktanya, keberadaanku tetap diperlukan oleh para bos yang membayarku dengan bayaran tinggi, meskipun kerja dan kemunculanku relatif cuma sebentar. Itu bukti bahwa aku memiliki kualitas nomer satu sebagai wayang yang dibutuhkan eksistensinya di dunia perwayangan. Nomer satu dalam segala hal. Bahkan andaikata bosku kemampuannya cetek, bisa-bisa malah kalah pamor dengan keberadaanku.&lt;br /&gt;Jangankan itu, siapapun dhalang yang olah-sabet dan olah-vokalnya cuma pas-pasan, pasti akan dibilang dhalang bodo ketika tidak trampil memainkanku di depan kelir. Karena aku adalah salah satu tolok ukur kepiawaian seorang dhalang dalam memainkan wayang-wayangnya, meskipun aku cuma dimainkan pada  adegan perang kembang saja. Sebagai wayang-wong pun, tarip atau honor bermain sebagai Cakil juga cukup menggiurkan, malah lebih banyak ketimbang sebagai Patih atau Dewo sekalipun. Adegan pada saat kemunculanku adalah adegan paling dinamis dan bersemangat, penampilanku, gendhing pengiringku, dialogku, semuanya. &lt;br /&gt;Terbukti, kan. Jadi, apanya yang salah denganku ?&lt;br /&gt;Kalaupun pada setiap saat aku harus berhadapan dengan kesatria seperti Arjuno atau Ongkowijoyo lalu kemudian aku roboh tertusuk keris senjataku sendiri, bagiku bukan soal, wong memang pakemnya begitu. Orang terkadang bilang habislah aku, matilah aku. Padahal sebenarnya tidak. Aku tetap ada dan dibutuhkan di dunia wayang dari setiap lakon ke lakon, dari setiap jaman ke jaman wayang apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akhir-akhir ini, dhalang yang memberiku julukan Dityo Kolokemaki membisikiku: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Le, awakmu harus berhati-hati. Kamu harus mulai belajar agar kamu nanti benar-benar menjadi satriyo seperti yang kamu idamkan. Kalau kamu mampu merubah diri dari kebiasaan-kebiasaan ‘kasar’, merubah watak-wategmu menjadi lebih elegan, kamu ini bakal menjadi satriyo yang kualitasnya bahkan akan mengalahkan Raden Janoko, lho Le...&lt;br /&gt;Apa kamu ndak kepengin ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu disampaikan ketika kami sedang bersantai di Cafafafeserera Pararadisoso minum Capuccino berdua sambil ndengerin musiknya Balawan.&lt;br /&gt;Katanya lagi:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Potensi luar-biasamu ini rasanya sayang kalau tidak dikembangkan dan diprogram dengan lebih baik lagi. Seharusnya kamu ini tidak cuma muncul sak-keplasan terus mati terus masuk kotak, tetapi lebih dari itu.&lt;br /&gt;Rubahlah gayamu, tinjau lagi paradigmamu, niscaya kamu akan jadi tokoh yang ‘mateng’ dan bukan hanya jadi sekedar wayang yang numpang lewat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, jadi mikir nih. &lt;br /&gt;Tapi sebenarnya secara sengaja aku sudah mulai melakukan sesuatu, berupa perubahan gaya rambutku lho. Sekarang tak model kriting papan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh,lama juga ya, aku bicara dengan diri sendiri ini, hehehe, kebiasaan yang aku lakukan setiap aku nongkrong di kloset.&lt;br /&gt;Udah, ah nongkrongnya, Cakil udah selesai, klosetnya gantian mau dipakai .....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-8331835824785971529?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/8331835824785971529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/dityo-kolokemaki.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8331835824785971529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8331835824785971529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/dityo-kolokemaki.html' title='Dityo Kolokemaki'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3602367425322534185</id><published>2008-05-10T23:25:00.002+07:00</published><updated>2008-05-10T23:36:25.104+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>wajan penggorengan</title><content type='html'>inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;di mana minyak dan air dijerangkan&lt;br /&gt;makanan dimasak agar dapat dimakan dan menyehatkan&lt;br /&gt;di atas api,  di atas wajan bahan makanan dituang bersusulan&lt;br /&gt;dijaga agar masak benar tak kurang atau kebablasan&lt;br /&gt;hingga nikmat disantap hingga tak sia-sia terbuang&lt;br /&gt;kerna setengah matang atau gosong menghitam seperti arang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;bernama rumah tempat tinggal keluarga, dimana kasih-sayang ditumpahkan&lt;br /&gt;disertai segunung doa untuk kelangsungan garis keturunan&lt;br /&gt;penuh berlimpah martabat dan keselamatan&lt;br /&gt;dengan harapan agar senantiasa saling menjaga kedamaian dan kerukunan&lt;br /&gt;menjauhkan diri dari pertengkaran dengan saling bicara penuh kejujuran&lt;br /&gt;bukan sekedar mendahulukan keinginan sendiri dan memaksakan kemauan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;bernama sekolah bernama madrasah bernama tempat pendidikan&lt;br /&gt;di mana ilmu dan adab diajarkan&lt;br /&gt;di mana bermasyarakat diperkenalkan&lt;br /&gt;di mana pengetahuan dan wawasan senantiasa diuji&lt;br /&gt;kearifan dan sikap ilmiah setiap hari dikaji&lt;br /&gt;bukan sekedar nilai yang sebenarnya hanya sebuah alat untuk mawas diri&lt;br /&gt;apalagi hanya untuk sekedar pandai agar bisa dipamerkan kepada khalayak ramai &lt;br /&gt;di mana ujian hanyalah sebuah tolok ukur pencapaian&lt;br /&gt;sejauh mana ilmu pengetahuan mampu diserap dan diterapkan untuk memecahkan persoalan&lt;br /&gt;di mana kegembiraan digelarkan, agar sikap positif selalu menjadi pegangan&lt;br /&gt;di mana keyakinan akan kesetiaan pada nilai-nilai kebenaran dipercontohkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;bernama dewan perwakilan yang anggotanya disebut sebagai yang terhormat&lt;br /&gt;di mana setiap saat digelar sidang untuk bermusyawarat dengan menjunjung tinggi setiap pendapat&lt;br /&gt;dan menjalinnya menjadi keputusan-keputusan yang membawa manfaat&lt;br /&gt;bagi seluruh rakyat yang telah memberikan amanat&lt;br /&gt;dengan kepercayaan penuh untuk menjadi bangsa yang kuat&lt;br /&gt;di tengah pergaulan bangsa-bangsa di seantero jagad&lt;br /&gt;tempat musyawarat para anggota dewan yang terhormat yang takut kepada laknat&lt;br /&gt;yang akan jatuh secara lambat atau cepat apabila amanat ternyata disunat &lt;br /&gt;tak lagi ditunaikan dengan benar dan cermat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;bernama kabinet yang dipimpin oleh kepala negara&lt;br /&gt;yang bekerja keras menjaga agar kehidupan masyarakat terjaga dengan sempurna&lt;br /&gt;cukup makan, tersedia rumah, terjamin keamanannya&lt;br /&gt;seluruh rakyat hidup tenang dalam pekerjaannya&lt;br /&gt;tak lagi ada rasa cemas akan masa depannya berikut anak-anaknya&lt;br /&gt;menjaga agar bumi, laut dan udara beserta segala yang ada di dalamnya&lt;br /&gt;yang telah dikaruniakan dengan berlimpahan di seluruh nusantara tercinta&lt;br /&gt;diatur dan dikelola dengan baik  agar memberikan sebesar-besar manfaat untuk rakyatnya&lt;br /&gt;oleh kabinet yang bekerja secara solid dan kompak demi bangsa dan negara&lt;br /&gt;bukannya wakil kelompok yang lebih berat untuk membela kelompok asalnya&lt;br /&gt;kabinet yang cerdas dan peka dalam membaca keadaan dunia&lt;br /&gt;agar bangsa selamat sampai kepada tujuan sebagaimana amanat dasar negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;yang berada di gedung-gedung agung bernama mahkamah pengadilan&lt;br /&gt;di mana kesalahan dan kebenaran dalam bertata-masyarakat diuji&lt;br /&gt;melalui gelar persidangan perkara dengan menghadapkan yang diadili, saksi maupun para ahli&lt;br /&gt;yang saling beradu argumentasi pada masing-masing sisi yang diyakini&lt;br /&gt;yang senantiasa menjunjung tinggi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa dan bukan demi yang lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;berupa pentas pertunjukan kesenian di kampung-kampung, galeri dan jalanan&lt;br /&gt;di mana seni dan sastra digelarkan &lt;br /&gt;di mana caci-maki dan sanjung dapat diwujudkan &lt;br /&gt;menjadi sebuah hidangan yang menggugah kepekaan perasaan&lt;br /&gt;untuk membuka katup-katup yang buntu di dalam kepala, di hati dan perasaan&lt;br /&gt;lalu diwujudkan dalam karya yang indah, dramatik ataupun guyonan&lt;br /&gt;membuka kesadaran akan pentingnya nilai-nilai kehidupan&lt;br /&gt;yang perlu dijaga keseimbangannya agar tak meledak merugikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;bernama majelis, majelis kajian di mana berkumpul orang-orang alim&lt;br /&gt;yang tak akan pernah bosan-bosan bicara menggemakan pesan-pesan illahi&lt;br /&gt;untuk menyadarkan bahwa kehidupan setiap makhluk memiliki nilai&lt;br /&gt;dan diingatkan bahwa selayaknya harus dihormati&lt;br /&gt;bahwa tak ada kelahiran yang dimulai dengan cacimaki&lt;br /&gt;demikian pula kematian yang pantas disoraki&lt;br /&gt;semua selalu diantar dengan harapan dan puji&lt;br /&gt;ketika datang dan ketika pergi secara suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;yang berada di tempat-tempat di mana hati dan jiwa dihadapkan&lt;br /&gt;pada setiap saat siang, malam, pagi dan pada setiap kapan&lt;br /&gt;pada setiap perbuatan dan ukuran diperbandingkan dalam keheningan&lt;br /&gt;dalam setiap janji kesetiaan ketertundukan dinyatakan&lt;br /&gt;setiap penyesalan dan pertaubatan diserukan dengan diam&lt;br /&gt;dan kesadaran akan kefanaan digemakan dalam ingatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;yang bila rusak&lt;br /&gt;binasalah kehidupan yang diserahkan untuk dijaga sebaik-baiknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah wajan penggorengan&lt;br /&gt;adakah telah terlupakan ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3602367425322534185?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3602367425322534185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/wajan-penggorengan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3602367425322534185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3602367425322534185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/wajan-penggorengan.html' title='wajan penggorengan'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-8961109961916909604</id><published>2008-05-09T19:05:00.001+07:00</published><updated>2008-05-09T19:09:20.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Di Bawah Bendera Revolusi</title><content type='html'>Surat Saudara Ir. Sukarno dari Sukamiskin &lt;br /&gt;kepada Saudara Mr. Sartono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukamiskin, 14 Desember 1931&lt;br /&gt;Yth. Saudara Mr. Sartono&lt;br /&gt;Di Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara,&lt;br /&gt;Dari Saudara Thamrin yang kemarin pagi mengunjungi saya di dalam penjara Sukamiskin, saya mendapat berita, bahwa dari mana-mana tempat (jauh dan dekat) datanglah khabar, bahwa banyaklah sekali saudara-saudara kaum sefaham yang berniat menjemput saya beramai-ramai di muka penjara Sukamiskin nanti pada hari Kemis 31 Desember pagi-pagi.&lt;br /&gt;Berita ini sangatlah mengharukan hati saya, dan memenuhinyalah dengan rasa cinta dan terima kasih pada sekalian saudara-saudara yang begitu setia itu.&lt;br /&gt;Tetapi walaupun begitu, menurut fikiran saya, penjemputan itu kurang perlu. Zaman sekarang adalah zaman meleset, zaman kesempitan pencaharian rezeki, - uang yang akan dipakai untuk perongkosan itu, terutama bagi saudara-saudara yang dari jauh, lebih utamalah kalau digunakan untuk barang yang lebih berfaedah. Oleh karena itu, maksud untuk menjemput saya beramai-ramai itu seyogianya janganlah dilangsungkan.&lt;br /&gt;Untuk saudara-saudara dari Bandung sendiri dan sekitarnya, sepanjang Kemis 31 Desember itu, dari pagi sampai sore, toh ada cukup  kesempatan untuk berjumpa dengan saya. Sebab baru keesokan harinyalah saya berangkat ke Surabaya dengan kereta api eendaagshe untuk hadir dalam kongres Indonesia-Raya. Dan di dalam kongres itupun saya toh akan berhadapan muka juga dengan banyak dari saudara-saudara.&lt;br /&gt;Kawan-kawan yang lain haruslah sabar: Insya Allah, saya tiada akan lupa lekas-lekas menemui mereka.&lt;br /&gt;Di dalam zaman meleset ini kita harus berhemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan salam pergerakan,&lt;br /&gt;Saudaramu,&lt;br /&gt;Sukarno&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;1)dikutip dari buku: Di Bawah Bendera Revolusi jilid pertama cetakan ke tiga halaman 119 &lt;br /&gt;2)ditulis kembali dengan penyesuaian ejaan dan letak&lt;br /&gt;3)zaman meleset / zaman malaise : periode ketika Hindia Belanda terseret dalam kesulitan ekonomi global pasca Perang Dunia I&lt;br /&gt;4)kereta api eendaagsche : kereta api yang dalam menempuh jarak antara Bandung ke Surabaya memerlukan waktu sehari. Untuk zaman itu termasuk kereta api cepat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-8961109961916909604?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/8961109961916909604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/di-bawah-bendera-revolusi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8961109961916909604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/8961109961916909604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/di-bawah-bendera-revolusi.html' title='Di Bawah Bendera Revolusi'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-6048173438010569083</id><published>2008-05-06T23:43:00.001+07:00</published><updated>2008-05-06T23:45:20.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><title type='text'>Tampak Jauh</title><content type='html'>ketika tiba di persinggahan yang ke sekian kalinya&lt;br /&gt;tempat singgah yang lalu tampak jauh ada di sana&lt;br /&gt;di sebalik lembah gunung dan gelombang&lt;br /&gt;di sini tiba tanpa buah-tangan apa-apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ke mana lagi akan didatangi&lt;br /&gt;kalau tempat persinggahan nanti sudah pasti, mesti berkelok-kelok dijalani&lt;br /&gt;ke tempat segalanya kembali&lt;br /&gt;yang kadang tampak jauh, meski cuma berjarak setebal kuku jari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sebelah sini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-6048173438010569083?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/6048173438010569083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/tampak-jauh.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6048173438010569083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/6048173438010569083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/tampak-jauh.html' title='Tampak Jauh'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-868000600027426319</id><published>2008-05-06T22:46:00.001+07:00</published><updated>2008-05-06T22:53:05.481+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Pilkada</title><content type='html'>Sebuah lagu bagus yang sering dipakai sebagai bahan olok-olok adalah Indonesia Pusaka. Ketika beberapa kali kesebelasan sepakbola nasional kalah dalam beberapa kejuaraan regional maupun dunia, dikatakan  memang sudah cocok dengan lagunya (Indonesia Pusaka):&lt;br /&gt; ...... Eeeendoooneeeeeesya sejak dulu kaaaaalaaaahhhhh........&lt;br /&gt;Asem betul, memang.&lt;br /&gt;Lagu itu semakin terlupakan karena tertimbun oleh berbagai puing-puing persoalan yang semakin hari banyak bermunculan di tanah air, di negeri yang masih sangat dicintai oleh banyak orang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanasan menjelang pilkada di segenap penjuru negeri yang ulang-berulang, riuh-rendah dengan berbagai poster, bendera dan kaos serta janji-janji bagaikan bubble yang bermunculan di sekujur tubuh negeri, dilanjutkan dengan segala keramaian jalan santai (kampanye), pawai motor (kampanye), pengobatan dan sunatan gratis (kampanye). Semua seolah-olah tampak seperti luapan sukacita perayaan seperti ketika lebaran tiba. Semacam standar baku : semakin heboh semakin bagus, semakin jalanan macet semakin membuat kompetitor keder, semakin rakyat berbondong-bondong sebayi-bayinya semakin tinggi kans untuk terpilih. Semakin peserta bersemangat semakin bagus, semakin garang mereka, yaa semakin hebat pula kita. Semakin gila pantat penyanyi dangdut diputar-putar membelakangi muka dan wajah orang dari atas panggung semakin meriah pula acara kampanye ini. Semakin kelenger  pak polisi mengatur jalanan berarti acara ini sukses.&lt;br /&gt;Lupakan urusan orang-lain yang bukan simpatisan, jangan hiraukan pengguna jalan, persetan kelancaran distribusi minyak, sembako dan komoditi lain. Lupakan bunyi sirine ambulans, jangan urusi supir angkutan umum yang rit-nya terhambat karena jalanan macet. Biarkan orang pingsan kepanasan di lapangan.&lt;br /&gt;Semakin macet semakin bagus. Persetan urusan lain. Momentum ini milik kita. Dan berapa hari lagi kita bikin yang lebih heboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua untuk apa?&lt;br /&gt;Demi pembangunan ?&lt;br /&gt;Demi kemajuan ?&lt;br /&gt;Demi perbaikan ?&lt;br /&gt;Demi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran ?&lt;br /&gt;Atau demi dapat terpilih oleh rakyat ?&lt;br /&gt;Sedangkal itukah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah terlalu muluk dan jauh. Kata ustad, do’a orang teraniaya lebih didengar oleh Tuhan. Ribuan orang lewat yang terhalang berikut para stake-holdernya menggerutu panjang-pendek. Para pemasok sayur, sembako, ayam, telur dan lain-lain kebutuhan dapur dan seluruh pelanggannya di pasar dan di kampung-kampung, supir bus beserta kernet dan seluruh penumpangnya dan para keluarga yang ditinggal di rumah, para bisnismen yang sedang mengejar jadwal kereta, pesawat dan janji negosiasi, supir ambulans, pasien dan perawat yang berpacu dengan maut, semua merasa bahwa penyebab kemacetan ini pantas untuk tidak diberi simpati.&lt;br /&gt;Tetapi toh selalu saja terjadi serta dilakukan model seperti ini.&lt;br /&gt;Berliter-liter bensin dan solar terbuang dalam kemacetan yang berderet panjang dari berbagai arah. Pemborosan besar-besaran sementara konon BBM sedang diusahakan untuk dihemat.&lt;br /&gt;Dan kalaupun akhirnya segenap daya dan upaya ini memberi hasil dengan terpilihnya kontestan sebagai kepala daerah dan wakilnya, apakah dijamin bahwa janji-janji pasti akan dapat ditepati ? Karena bukankah segenap kebijakan yang dijanjikan masih perlu dukungan legislatif serta dijalankan dengan penuh tanggung-jawab oleh para bawahan yang bertugas membantunya ? Dijaminkah bahwa segampang itu menunaikan janji setibanya mereka di tampuk kekuasaan ?&lt;br /&gt;Saya tidak mampu membayangkan lagi seperti apa yang ada dalam pikiran  para kontestan yang kampanyenya memacetkan jalanan beberapa hari yang lalu, karena saya hanya dapat merasakan bahwa keadaan sudah sangat tidak membahagiakan bagi banyak orang, bahwa saya sudah sangat meragukan keberhasilan cara-cara seperti ini untuk membangun negeri, kota maupun daerah menjadi tempat yang  sejahtera dan makmur.&lt;br /&gt;Bahkan saya ngeri membayangkan kalau eksesnya dapat berupa pertikaian antar-pengikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya juga tidak tahu, ke mana pertanyaan-pertanyaan ini harus saya tujukan, seperti juga saya tidak tahu andaikata pertanyaan ini didengar akankah saya mendapatkan jawaban yang masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...... Eeeendoooneeeeeesya sejak dulu kaaaaalaaaahhhhh........&lt;br /&gt;Tetapi kali ini bukan lagi dalam sepakbola, melainkan dalam menjaga nilai-nilai sebagai bangsa yang cerdas dan bermartabat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-868000600027426319?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/868000600027426319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/pilkada.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/868000600027426319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/868000600027426319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/pilkada.html' title='Pilkada'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-4113244377271088084</id><published>2008-05-06T22:36:00.000+07:00</published><updated>2008-05-06T22:37:35.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Pesohor</title><content type='html'>Ternyata kata ini artinya adalah selebriti.&lt;br /&gt;Bagaimana seseorang kemudian menjadi pesohor ?&lt;br /&gt;Karena disohorkan oleh khalayak dan media,&lt;br /&gt;Karena ada sesuatu pada dirinya yang membuatnya layak disohorkan.&lt;br /&gt;Apanya ?&lt;br /&gt;Entahlah, yang jelas sekarang aku tahu bahwa pesohor adalah selebriti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-4113244377271088084?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/4113244377271088084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/pesohor.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4113244377271088084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/4113244377271088084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/05/pesohor.html' title='Pesohor'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3818322090876364489</id><published>2008-04-24T21:28:00.002+07:00</published><updated>2008-04-24T21:38:37.399+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Robohnya Surau Kami</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Itu adalah judul dari salah satu buku wajib yang harus (pernah) dibaca atau paling tidak pernah dimengerti oleh para siswa SMP dan SMA dalam pelajaran Sastra Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah menyaksikannya dalam wujud yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ambruknya sebuah BUMN. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Yang dua di antara beberapa episodenya membuat saya sangat-sangat terenyuh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Episode satu:&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kantor itu terdiri dari dua lantai, lantai bawah digunakan untuk kantor, dan lantai atas sebagai mess atau wisma tamu. Sebuah kantor yang sederhana namun cukup rapih. Kantor Litbang dari BUMN, yang pada akhirnya diputuskan untuk dilikuidasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Hari itu adalah saat penyerahan SK pemberhentian dan pembayaran pesangon. Tim saya mendapat tugas untuk melakukan pembayaran di kantor satunya lagi yang berdekatandengan kantor Litbang tersebut, dan itu sudah selesai. Kami kembali ke mess untuk menunggu kendaraan jemputan guna pindah ke kota lain untuk melanjutkan tugas. Dari lantai atas (mess) saya menyaksikan wajah-wajah gelisah para karyawan yang sebentar lagi harus mengakhiri pengabdiannya. Sendu, menahan sejuta beban yang tak terbayangkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Beberapa di antaranya sudah berumur, mungkin sudah mendekati usia pensiun, tetapi beberapa lagi adalah karyawan yang masih muda. Kesemuanya duduk rapi berseragam kerja, seragam yang sebentar lagi sudah tak mempunyai arti selain kenangan bahwa itu adalah sebuah seragam yang menggambarkan status sebagai karyawan dengan segudang tumpuan harapan masa depan bagi seluruh keluarga. Ada sepasang karyawan suami isteri duduk bersisian rapat. Suami merangkulkan tangan ke pundak isterinya yang beberapa kali tampak menyeka air-mata dengan sehelai saputangan. Ia mengandung entah anak yang ke berapa. Suaminya menatap kosong ke depan, ke arah seorang teman kami yang sedang membacakan surat keputusan tentang penutupan operasi Perusahaan. Orang-orang diam mendengarkan dan menerawangkan pandang, mungkin sedang berbicara dalam hati dengan perasaan masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ketika satu demi satu dipanggil untuk menerima SK serta uang pesangon, suara isak tangis tertahan mulai terdengar bersahutan, para karyawati, bahkan beberapa karyawan melelehkan air-mata dengan kesedihan yang mendalam. Akhirnya semua benar-benar berakhir. Pergi satu demi satu ke luar kantor. Beberapa sempat berjabatan dan berangkulan erat antara sesama teman. Besok mereka sudah tidak lagi punya kantor, besok mereka sudah tidak lagi punya hari gajian di akhir bulan. Tidak lagi dapat berharap adanya promosi kenaikan pangkat atau jabatan. Kantor ini ditutup, sebagaimana kantor-kantor di tempat yang lain di lingkungan BUMN ini. Meja, kursi, lemari, kipas angin, kalkulator, bahkan jam dinding tak perlu lagi dilihat saat pagi atau siang hari, karena tak ada lagi jam kerja yang harus dijalani dan harus ditepati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Langkah-langkah gontai meninggalkan kantor disertai helaan nafas panjang dan berat, untuk melepas sebagian beratnya beban pikiran ketika membayangkan isteri-isteri dan suami-suami di rumah. Membayangkan anak-anak yang masih di gendongan neneknya atau di dalam asuhan pembantu. Anak-anak yang hari ini masih bersekolah dan kuliah di luar kota. Membayangkan kata-kata yang akan diucapkan oleh para mertua atau orang-tua, adik, kakak, ipar dan kerabat lainnya, atau tetangga.&lt;br /&gt;Masing-masing mengepit satu kotak persegi: Jam dinding elektronik sebagai kenang-kenangan dari bekas Perusahaan tempat mengabdi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Besok pagi mereka tidak lagi bisa melakukan ritual berangkat kerja. Siangnya juga tak ada ritual pulang kerja.&lt;br /&gt;Sedih. Hanya itu yang terbayangkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;Episode dua:&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Beberapa saat kami menunggu kendaraan jemputan datang, yang akan mengantar saya dan Pak Rachmad Djuhari melanjutkan tugas yang sama ke kota yang lain. Keberangkatan yang direncanakan pada jam tiga sore agak tertunda sampai lepas jam empat, ketika akhirnya mobil datang menjemput kami. Pak supir yang ramah ini adalah salah satu karyawan yang tidak ikut diberhentikan, sebagaimana sedikit karyawan lainnya yang masih diperlukan untuk mengurus asset Perusahaan yang ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam perjalanan dia menyampaikan permintaan maaf atas keterlambatannya, karena dia terpaksa pulang sebentar menemui keluarga untuk berpamitan sehubungan dengan tugasnya mengantar kami berdua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kami sangat memahami keperluannya tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Di perjalanan dia bercerita, bahwa dia sudah dua puluh tahun lebih mengabdi di perusahaan ini. Sudut-sudut wilayah kerja sudah pernah didatanginya. Beberapa orang Bapak pernah dikenal dan dilayaninya, baik  Bapak yang menjadi atasan-atasannya maupun ‘Bapak’ dari Kantor Pusat Perusahaan. Beberapa ‘Bapak’ dipujinya, dan beberapa yang lain diceritakan perilakunya sangat menyakitkan hatinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pada saat sebagian besar karyawan berkumpul untuk memerima SK pemberhentian dan uang pesangon pagi dan siang tadi, dia ada di garasi menyiapkan mobil yang kami pakai ini, agar kondisinya siap untuk perjalanan jauh. Dia mempunyai anak yang masih usia TK, yang ketika dia pulang untuk berpamitan tadi,  menjemputnya di pintu pagar rumah dan bertanya kepadanya:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Pak 	! Mana jamnya ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Jam 	apa nak ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; 	&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Lho 	bapaknya si Anu, si Anu dan si Anu semua pulang bawa jam. Punya kita 	mana ?  Bapak kok nggak bawa ? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; 	&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Terhenti langkahnya. Ya Allah, ya Rabbi, polos benar pertanyaanmu nak. Mungkin kalau Bapak pulang membawa jam seperti bapak-bapaknya temanmu, emakmu justru akan sangat bersedih. Dipeluknya anaknya, digendong sambil diciuminya masuk ke dalam rumah. Kulo ambungi anak kulo, pak, mboten saged mbayangaken upami kulo katut kenging PHK. Tak terbayangkan seandainya saya ikut ter-PHK, demikian katanya. Isterinya meneteskan air-mata sembunyi-sembunyi sambil berdiri di ambang pintu rumah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Siapa yang bersalah?&lt;br /&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sebuah BUMN dibentuk dengan misi tertentu sebagaimana diamanatkan dalam anggaran dasarnya. Tetapi di antara misinya pasti terkandung di dalamnya : untuk meningkatkan kesejahteraan stake-holder secara berkesinambungan. Tugas inilah yang harus dijalankan oleh para pengurusnya yakni para Direktur, yang dibantu para pejabat yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam pelaksanaannya, tak jarang beberapa misi khusus harus dijalankan atas perintah pemegang saham, yakni Pemerintah melalui putusan dalam Rapat Umum Pemegang Saham di setiap tahun, atau dapat pula berkelanjutan sampai sasaran tercapai. Tugas yang teramat berat (namun mulia), yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya, melalui serangkaian pelaksanaan strategi yang dikemas dalam beberapa kebijakan dan program yang terukur dan selalu dikawal setiap saat dengan ketat. Kajian-kajian terhadap risiko bisnis (BUMN !) perlu dilakukan, dan kebijakan-kebijakan harus bersih dari sekedar ambisi pribadi untuk ‘menonjolkan diri’. Apalagi menggunakan kesempatan sebagai tunggangan untuk sebuah kedudukan yang lebih besar berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kelalaian kendali terhadap sistem yang seharusnya dijalankan dengan baik dan cermat akan dapat mengambrukkan Perusahaan, yang terdiri dari kumpulan manusia, benda dan uang dalam jumlah yang sangat besar. Apalagi kalau sistem sudah dibengkak-bengkokkan secara sengaja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Residu dari peristiwa yang terjadi pada seputar tahun sembilan puluhan tersebut sampai sekarang masih terasa. Puing-puingnya masih berdiri bisu di beberapa tempat. Kedukaan pada beberapa keluarga dan dampaknya saya yakin masih bersisa. Siapa yang bersalah ? Mungkin banyak orang yang sebelumnya ada di dalamnya. Orang-orang yang seharusnya berbuat tetapi tidak melakukannya dengan baik, orang yang berbuat melebihi kapasitasnya, orang-orang yang membiarkan sesuatu dilakukan tidak semestinya, orang-orang di luar sistem yang campur-tangannya tidak dapat dibendung, atau yang lain lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Tetapi siapa yang paling bertanggung jawab?&lt;br /&gt;Barangkali sekarang kita perlu belajar dari sejarah serupa, mempelajarinya agar hal yang sama tidak terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS,sans-serif;"&gt;Bekerja dengan hati secara lebih berhati-hati di tempat kita masing-masing, karena hati(nurani) kita adalah instrumen yang jujur dan tak pernah lupa. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="border-style: none none solid; border-color: -moz-use-text-color -moz-use-text-color rgb(0, 0, 0); border-width: medium medium 1px; padding: 0in 0in 0.01in; margin-bottom: 0in; font-style: italic;" align="right" lang="id-ID"&gt; &lt;span style=";font-family:Trebuchet MS,sans-serif;font-size:85%;"  &gt;(mengenang perjalanan bersama pak Rachmad Djuhari, teman baik)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3818322090876364489?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3818322090876364489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/robohnya-surau-kami.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3818322090876364489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3818322090876364489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/robohnya-surau-kami.html' title='Robohnya Surau Kami'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5384773495921535024</id><published>2008-04-16T01:49:00.001+07:00</published><updated>2008-04-16T01:52:46.096+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Mengapa ngeblog saja ?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saudara saya yang satu ini punya pengalaman yang banyaaaak sekali. Ngobrol, sms, kirim-kiriman sesuatu dengan saya dan selalu penuh kejutan. Terkadang saya berpikir: wah, andaikata tempat-tinggal saya berdekatan dengan beliau ini, pasti saya sering kunjungi beliau untuk belajar, ngangsu kawruh-nya yang teramat banyak itu. Tentang apa saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Beliau ini sampai sekarang masih sangat bersemangat untuk belajar, dan mengajar, tentu saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Nggak bikin blog to mas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Biar saya dan banyak teman lain bisa ikut kebagian ilmu dan ngelmunya. Dan juga buat tombo kangen, pengobat rindu, pelipur di kala hatiku sedang lara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Yaaaah sambil pura-puranya bikin sedikit story (bukan setori alias masalah) supaya di suatu saat nanti siapa tahu fragmen-fragmennya bisa digunakan untuk bahan riset sama mahluk luar angkasa dalam mempelajari gaya dan perilaku kita. Begitu bujuk saya, padahal :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebenarnya dengan beliau punya blog, saya bisa setiap saat ngintip blog-nya, sehingga saya bisa tahu: ooo, beliau sedang sibuk, eee sedang semangat, aaa sedang jatuh cinta (lagi), iii sedang gundah gulana, dan sebagainya. Singkatnya, melalui blog yang ditulis (nanti, atau mudah-mudahan segera saja) saya bisa bersilaturahmi dengan beliau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya juga malu untuk mengakui, bahwa saya butuh teman yang lebih banyak melalui sarana di dunia maya ini karena saya sekarang lagi kurang gawe, lagi jadi pengangguran tapi bergaya sok-sibuk saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Persoalannya, ketika kemudian saya ditanya bagaimana caranya bikin blog? Saya jadi celingukan. Mampus guah, lha wong saya cuma punya ilmu blog se-upil saja kok ngajak-ngajak teman bikin blog yah ? &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Karena kepepet, saya bilang : gabrug-gabrug saja. Istilah kocaknya mas Indro Saswanto srunthal-srunthul saja, yang penting go blogging ! Itu pula yang saya lakukan. Masih lagi ditambah semangat sama mas Indro : kita ini semakin tua, biasanya orang yang semakin tua itu butuh teman glenak-glenik, gojegan sesama orang tua, tutur-tutur sama yang dianggap lebih muda, dongeng-dongengan tentang maza laloe dan lain-lain. Betul juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Apalagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebenarnya beliau teman saya ini punya ‘sesuatu’ yang sangat layak untuk dibagi ke banyak teman dan sahabat dan bahkan siapapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Awang-awangen?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti waktu saya dulu mau mulai. Gamang. Banyak pertimbangan berkecamuk di dalam pikiran, persis seperti waktu kecil dulu mau dikhitan. Sakit nggak yah? Tapi kalau nggak khitan kan malu sama teman-teman yang sudah, apalagi mereka lebih kecilan dari saya? Begitu kira-kira gulananya. Tetapi ‘hasrat’ ini sudah tak terbendung lagi, akhirnya mak procot! Jadilah blog saya. Awalnya sih mencong semua. Wagu pol, sampai-sampai diketawain (kali, ya?!) mas Indro, begitu bayangan saya waktu itu. Tapi ternyata tidak. Saudara saya yang satu ini begitu arif-bijaksananya (ha-hak !!!) menggiring dan membimbing saya dengan lemah-lembut penuh kasih-sayang dan telaten. Setia mengintip sak-obahnya blog saya. Muntir-nggeblag selalu dibangunin lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Malah-malah, inter-koneksi (bener nggak istilah saya ini, wahai saudaraku?) kemudian mulai sedikit melebar dengan saling berkirim komen dengan teman-teman blogger yang ‘sudi’ berbagi komen. Eh, jadi besar hati nih, bangga lho kalau ternyata blog ini dibaca dan dikomentari oleh saudara kita di suatu tempat entah di mana yang tak terbayangkan akan menjadi teman baru. Demikian pula, saya &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bisa berkunjung ke blog lain, apalagi kalau diterima sebagai tamu yang baik, meskipun saya sering bersikap murang-toto dan nungkak-kromo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Demikian kiranya agar dimaklumi, kenapa saya kok demikian berhasrat mengajak saudara saya tadi bikin blog. Ada satu piwelingnya mas Indro kepada saya, yang saya camkan dengan baik hingga kini :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada dasarnya, ortu itu suka cerita, suka ngajari, golek konco ngobrol. Jadi blog memang pas untuk usia2 mereka, apalagi kesibukan wis jauh berkurang, keno kanggo olahraga otak biar nggak PDI&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saya pikir, bener dan pas untuk saya, padahal mas Indro ini masih sangat sibuk lho. Blebar-bleber ke sana kemari tetapi masih tetap mengkoberkan diri untuk ngintip posting-posting saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jadi saudaraku, aku menunggu blog-mu. Selalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;(Yang saya tulis ini betul ya pak dokter?) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5384773495921535024?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5384773495921535024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/mengapa-ngeblog-saja.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5384773495921535024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5384773495921535024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/mengapa-ngeblog-saja.html' title='Mengapa ngeblog saja ?'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-3266768695192346754</id><published>2008-04-15T18:23:00.005+07:00</published><updated>2008-04-15T18:29:03.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>De Maas</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aslinya adalah nama sebuah sungai di Negeri Belanda sana, tetapi kemudian diboyong oleh meneer Belanda sebagai nama pabrik gula di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Besuki, Jawa Timur. Pabrik gula ini sekarang sudah tidak beroperasi lagi, meskipun instalasi dan emplasemennya masih ada. Aktivitas di sana sekarang tinggal administrasi bahan baku berupa tebu yang kemudian pada musim giling akan dibawa ke pabrik gula Pandjie (ditulis namanya sebagaimana ejaan aslinya) yang berada di pinggiran timur kota Situbondo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pabrik gula (PG) De Maas adalah awal ‘persentuhanku’ dengan industri gula pada tahun 1975. ketika aku ditugaskan untuk stok-opname barang-barang di gudang tersebut kurang lebih satu bulan, tidur di mess bersama seorang senior.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Banyak hal baru mengawali perkenalanku di agro industri peninggalan Belanda ini, beberapa di antaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Mess yang ‘angker’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di antara anggota tim yang disebar ke enam PG secara serentak, aku paling yunior, seniorku yang paling muda berselisih 10 tahun di atasku sedangkan senior yang bertugas di &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;PG De Maas bersamaku usianya sekitar 18 tahun di atasku, seusia pamanku.&lt;br /&gt;Sebelum berangkat, beberapa teman senior ‘menakutiku’ bahwa mess PG De Maas adalah salah satu mess yang paling seru di antara keenam mess PG yang lain, terutama pada kamar-kamarnya di lantai atas. Wah, siap-siap mental nih. Aku bukan seorang penakut terhadap hal begituan, meskipun juga bukan pemberani pula. Yang jelas, kami harus tinggal di gedung tua yang umurnya lebih dari seratus tahun bekas tempat tinggal administrateur (boss) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pabrik Gula De Maas. Tetapi berhari-hari di sana kami berdua baik-baik saja. Memang ada yang aneh dan membuatku kikuk, tetapi ini adalah tentang pelayanan kepada kami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebagai petugas dari Kantor Direksi (Kantor Pusat Perusahaan) kami mendapatkan pelayanan khusus. Nah, ini yang membuatku sangat kagok. Bayangkan, setiap saat makan, di meja makan sudah disiapkan satu seri piring&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beserta sendok, garpu dan pisau, dengan serbet makan yang terlipat kaku berdiri di atas piring makan, seorang pelayan mess akan membuka serbet itu, mempersilakan kami makan sambil mencedokkan sup ke piring paling atas, lantas dia akan mundur ke sudut, berdiri takzim di sana, bersiap kembali untuk mengambil piring sup, lalu melanjutkannya ke menu berikut sampai seri terakhir. Seniorku amat menikmatinya, sementara bagiku rasanya tak tertelan dengan sempurna semua makanan yang melewati tenggorokanku. Memandang pak pelayan yang usianya lebih tua dariku pun tak tega. Beginikah adatnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pagi hari, sepasang sepatu kami telah tergosok mengkilap berjajar di ujung tempat tidur. Kapan pula mereka menggosoknya? Penderitaanku bertambah lagi ketika datang sore dari tempat kerja, pak pelayan sudah siap maju ke depan untuk melepas sepatuku ! Sehebat inikah diriku? Dan akan semenderita beginikah aku berhari-hari di sini? Ternyata keangkeran mess PG terletak pada diri kami, petugas dari ‘Direksi’ yang membuat mereka harus melipat derajatnya sebagai manusia di bawah bayang-bayang prosedur operasi standar sebagai pelayan mess.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada hari ke tujuh, aku memberanikan diri mengusulkan kepada seniorku untuk dimintakan dispensasi agar kami bisa kembali kepada jati-diri sebagai manusia normal yang boleh makan dengan sambal uleg dan menyuap pakai tangan telanjang. Bersyukur akhirnya usul dapat diterima oleh manajemen PG dengan catatan: Pak Pelayan masih menunggu di balik pintu ruang makan untuk bersiap menerima perintah darurat jika diperlukan. Takut kalau aku tersedak barangkali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Setap dan Non-setap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Maksudnya karyawan yang berstatus Staff dan yang bukan Staff. Kedua kasta ini sangat berbeda derajatnya. Dalam jam kerja, si non-setap harus melaksanakan setiap tugas tanpa boleh bertanya, cukup: laksanakan dan lapor kalau sudah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan di luar tugas, amat terlarang di antara kedua golongan ini berinteraksi, atau tepatnya: seorang setap dilarang berinteraksi dengan non-setap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Semula aku tidak tahu adanya norma-norma tak-tertulis seperti ini, sampai suatu kali pada saat break siang, beberapa pekerja aku ajak bicara. Biasa, pengen mengenal sedikit-sedikit lah, berapa lama sudah bekerja, di mana tinggal, ijazahnya apa dan lain-lain. Lalu, sore hari ketika usai kerja kami mampir ke kantor, seniorku bicara: dik, saya tadi ditegur pak ADM (maksudnya Administratur, big-bosnya PG) pesannya, adik ndak boleh lagi omong-omong dengan para kuli. Aku terkejut, beliau sampaikan norma tak-tertulis yang baru aku ketahui. Wah, penderitaan baru, nih!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Ketika sore aku ingin membeli rokok, beliau melarangku lagi : suruh pelayan saja dik ! Saya pengen jalan-jalan ke luar pak! Wah, jangan, suruhan saja, repot kita nanti kalau pak ADM tahu sampeyan ke warung beli rokok !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Susah, ya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pengkastaan ini juga menghilangkan sebagian keleluasaan komunikasi antara staf PG dan kami. Staf PG yang lain dilarang mengganggu saat istirahat malam kami di mess, kecuali Kepala Kantor Tata Usaha dan Keuangan (TUK) atau asistennya. Kalaupun mereka ini datang pada malam hari setelah makan malam,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka datang dengan bersepatu dan pakaian resmi. Kamipun wajib mengenakan atribut serupa. Wahai ! Habislah kebiasaan burukku bersarung dan kaos oblong bertelanjang kaki seperti di rumah !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Biliar dan Tenis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hiburan cuma ada dua: main biliar di Balai Pertemuan (biasa disebut Sos, mungkin kepanjangan dari Sociteit – tempat ajang sosialisasi jaman Belanda) atau main tenis sesama Staf pada sore hari. Yang lain tak ada. Sedang dua-duanya aku tak suka. Lebih celaka lagi: di mess tak ada pesawat televisi ! Jadi kami tak bisa nonton berita, acara Kamera Ria,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau Candra Kirananya mbak Diah Iskandar ! Untung aku bawa sebuah radio transistor saku. Yang tangkapan sinyalnya hilang-timbul dan cuma bisa menangkap siaran dari Jakarta (sayup-sayup) Surabaya atau Jember, itupun setelah mencari-cari gelombangnya dengan ‘teliti’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Karena rutinitas yang membuatku jenuh, suatu kali aku memprovokasi seniorku: Pak, di sini ada bioskop nggak? /&lt;br /&gt;Ada, dik, dekat alun-alun./&lt;br /&gt;Dekat?/&lt;br /&gt;Yaaa, nggak terlalu jauh/&lt;br /&gt;Bisa jalan kaki ? /&lt;br /&gt;O, ya bisa !/&lt;br /&gt;Bapak mau, kita nonton?/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kalau ketahuan?/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kita menyamar, pak !/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lalu, akibat dari provokasiku itu, kami berdua diam-diam meloloskan diri dari mess, bersarung memakai peci berangkat ke gedung bioskop satu-satunya di Kawedanan Besuki. Filem Indonesia. Gedungnya penuh asap rokok dan bau pesing, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bangku kayu, penontonnya berbahasa asing &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(madura logat Situbondo), banyak suit-suit dan teriak-teriak, filemnya banyak gerimisnya dan suka terputus, sound-sistemnya pakai corong TOA yang suaranya cempreng bikin sakit telinga. Dan kami kabur sebelum filem selesai karena amat tersiksa !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebulan tugas dan ‘petualanganku’ di pabrik gula ini ditutup dengan wisata bersama seluruh anggota tim yang tersebar di mana-mana, ke hutan Baluran. Nonton banteng, rusa dan burung merak di habitatnya. Beramai-ramai dengan konvoi empat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;jeep Willys. Kendaraan dinas resmi pabrik gula ketika itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dan tiga minggu sekembaliku dari sana, aku masuk ke Rumah Sakit karena hepatitis A yang diikuti dengan malariaku yang kambuh. Opname tiga minggu ditambah cuti sakit tiga minggu, padahal aku baru bekerja di Perusahaan ini satu setengah bulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pabrik Gula De Maas sekarang sepi. Tak ada lagi gemuruh mesinnya atau suara suling lokomotif penarik lori tebunya. De Maas menjadi sebuah pabrik yang tidur, atau lebih tepatnya koma. Tinggal keputusan ‘dokternya’ saja: diusahakan hidup kembali, dicabut selang infusnya atau disuntik mati saja agar sempurna nasibnya. Di sana aku punya nostalgia di dunia industri gula untuk yang pertama kalinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-3266768695192346754?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/3266768695192346754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/de-maas.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3266768695192346754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/3266768695192346754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/de-maas.html' title='De Maas'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-9208247436099206948</id><published>2008-04-14T10:09:00.005+07:00</published><updated>2008-04-16T02:02:58.762+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Petruk Grounded</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Petruk ini memang punokawan yang ndak punya wedi. ndak punya rasa takut, tetapi dia &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;juga seorang abdi yang taat dan setia pol kepada profesinya sebagai batur bagi para juragannya dari jaman ke jaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kedudukannya memang cuma abdi alias batur alias kethiplak, alias begundal. Tetapi kalau diurut-urut, derajat aslinya jauh di atas semua juragan bahkan di atas rajanya sekalipun lho! Karena ayahnya adalah Semar, dewa paling senior. Semar adalah kakak dari raja para dewa di kahyangan yang bernama Bethoro Guru, sehingga meskipun Petruk tidak menggunakan predikat Bethoro tetapi cukup hanya Ki Lurah, namun aslinya dia adalah sepupu senior dari seluruh dewa generasi ke dua di Kahyangan Salendrobawono atau Kahyangan Suroloyo. Begitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Bermula dari keluhannya tentang sulitnya mendapatkan gas elpiji dan minyak tanah kepada juragannya yang tidak mendapat respon, lalu dilanjutkan dengan berkirim surat ke Kahyangan Suroloyo (agak jauh sedikit dari Suroboyo), juga disepelekan, Petruk Kanthongbolong merasa tidak diperhatikan hak dan kedaulatannya secara tidak semena-mena. Seorang diri dia menyatroni Istana para dewa, meminta penjelasan atas keluhannya, dan ketika penjelasan yang diterima dirasa tidak masuk akal, berdebatlah dia dengan seluruh dewa dan akhirnya berubah menjadi adu fisik. Singkat kata, Petruk menang, Bethoro Guru disandera&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di suatu tempat tersembunyi, dan Petruk menyamar menjadi Bethoro Guru (palsu), menjadi penguasa kahyangan. Lupa kepada tuntutan semula karena di kayangan ndak pernah ada krisis elpiji maupun minyak tanah, setiap hari para dewa disuruh menyelenggarakan pesta-pora, para dewa&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; harus menyanyi dangdut&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; dan para bidadari  goyang ngebor. Di hari lain semua diajak wisata kuliner, ngicipi semua jenis makanan yang selalu maknyus, maknyesss, maupun maknyos. Terkadang pergi berwisata kliling-kliling naik segala macem tunggangan, mulai dari sepur kelinci, Adam Air sampai Jaguar dan Lamborghini. Suka juga ngundang artis manca kayangan, mulai dari Bon Jovi, Julio Iglesias sampai Siti Nurhaliza. Pokoke komplit-plit-plit-plit. Uenak tenaaan. Swargo kayangan. Ncen edddiiiaaaaan tenan kok Petruk ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Keadaan ini terdeteksi oleh kalangan intelijen, gara-garanya program inspeksi keliling dunia wayang yang biasanya dilakukan oleh para dewa pada akhir-akhir ini tidak berjalan sesuai jadwal. Para dewa sendiri sebetulnya merasa risih, tidak menjalankan misi tersebut, dan juga akhir-akhir ini merasa turun derajat kedewataannya karena instruksi Bethoro Guru yang serba nyeleneh nganeh-anehi. Goblognya para dewa, mereka tidak berusaha mengungkap keanehan ini dan tidak mengembangkan kecurigaan untuk membongkar misteri di baliknya. Dasar dewa, pikirannya terlalu lugu, ndak pernah mau mikir berat karena biasanya tahu beres. Mikirnya, sudah ada yang ngurus barang begituan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Dari laporan intel dan serse yang masuk, ditemukan pola aneh yang berulang. Bethoro Guru pada saat akhir-akhir ini sering pesen ayam panggang bumbu rujak dari resto Paramasari. Semar di pusat komando operasi rahasia bersama Gareng dan Bagong yang mengkaji keanehan ini curiga, karena penggemar berat ayam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;panggang bumbu rujak Paramasari, di seluruh dunia wayang cuma satu, yaitu Petruk. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Yang ke dua, Petruk sudah beberapa minggu absen, ndak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kerja tanpa keterangan yang jelas. Hpnya mati seg, YMnya tidak diaktifkan blas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Singkatnya ndalang (dalangnya molai pegel), Ki Lurah Semar Bodronoyo berangkat ke Suroloyo. Bethoro Guru yang hidungnya keliwat mancung dikabyuk, diithik-ithik, dikudang-kudang, terus dikentuti, dan akhirnya babar terbongkar bahwa itu memang Petruk, bukannya Bethoro Guru yang hidungnya dioprasi plastik. Petruk diblejeti kedoknya, penyamarannya dibongkar, para dewa dan widodari kaget-get-get kepati, selama ini ternyata dikadali oleh Petruk sang Gedibal elek. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tak sampai seumur kecambah jadi raja kayangan, Petruk dijewer telinganya oleh Kyai Semar, ayahnya sendiri, dicengkiwing, dibawa turun kembali ke dunia wayang: Ngarcopodo. Karena lakonnya memang harus begitu seperti yang telah dipakemkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Alkisah skandal Petruk yang telah mengguncang dunia atas dan dunia bawah tadi di bawa ke sidang para petinggi di kasatriyan Madukoro, tempat Petruk mengethiplakkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Segala pertanyaan dalam sidang dijawab oleh Petruk dengan gamblang, suara dan sikap yang jelas. Kesalahan-kesalahan diakui, karena memang sesuai dengan keadaan sebenarnya dan cocok dengan hasil kesaksian. Di akhir sidang yang berjalan dengan lancar akhirnya putusan jatuh. SK dari Kasatriyan Madukoro diterbitkan : Untuk sementara waktu Ki Lurah Petruk Kanthongbolong gelar Belgeduwelbeh Thongthongsot dirumahkan. Dibebastugaskan sampai waktu yang tidak ditentukan. Petruk menerima sanksi tadi dengan baik, apalagi sekarang pasokan minyak tanah, gas elpiji, minyak goreng dan barang-barang lain di seluruh pelosok kampung dan kotaraja sudah menunjukkan tanda-tanda akan mulai lancar. Warung-warung dan aktivitas para kawulo alit secara berangsur sudah normal kembali, disamping dia juga sudah mblenger berpesta dan puas bisa ngadali para dewa yang goblog-goblog itu. Petruk legowo menerima hukuman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Hari-hari grounded dijalani oleh Petruk di rumahnya, dukuh Pethuk Pecukilan dengan santai dan menyenangkan sekali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Menanam sayur, kacang kedele, padi, beternak ayam-bebek-kambing kerbau dan sapi, memelihara perkutut-bekisar-puter dan burung oceh-ocehan lain. Memelihara tanaman kembang melati-mawar-seruni-kanthil-kenongo yang semuanya berbau wangi, juga beternak ikan wader-gurami-welut dan ikan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Badannya yang tinggi besar semakin gemuk, meskipun kulitnya menjadi agak gelap karena hampir setiap hari berpanasan di sawah-ladang dan kolam ikannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Malam hari para tetangga berkumpul di halaman rumah kyai Petruk: hari Senin klenengan, Selasa belajar pencak, Rebo liwetan, Kemis mocopatan, Jumat boworoso, Sabtu berlatih menari, Minggu acara bebas yang sering diisi dengan pengalaman perjalanan kyai Petruk yang didongengkan secara menarik. Terkadang juga belajar tentang sejarah dan politik, hukum, pajak, sesekali juga yang lain, seperti ESQ dan komputer serta belajar ngeblog. Para tetangga dan penduduk desa senang bisa berdekatan dengan lurahnya, tidak seperti dulu, selalu ditinggal pergi dines tiba-tiba tapi ditinggali tugas yang sulit dan mboseni. Ndak pernah dimonitor lagi. Sekarang beda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Ki Lurah Petruk senang, para tetangga dan penduduk girang. Sungguh sebuah komunitas dinamis dan harmonis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Keadaan di dukuh Pethuk Pecukilan ini menarik perhatian para pengamat dan ahli dari kotaraja, mereka heran, seorang pejabat (padahal Petruk adalah abdi, kok katanya pejabat) yang dirumahkan kok malah menjadi lebih produktif ketimbang ketika menjabat. Fenomena apa ini ? Apa yang terjadi di sana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Kemudian, berangkatlah serombongan tim yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terdiri dari para pakar, pengamat, peneliti dan lain-lain, pokoknya orang-orang pinter lah, ke Pethuk Pecukilan untuk melihat dari dekat apa yang sebenarnya sedang terjadi di tempat ini. Dan yang terpenting, bagaimana Ki Lurah Petruk menyikapi pembebasan-tugasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tujuh hari tujuh malam seluruh anggota tim bekerja mengikuti segala aktivitas di tempat ini. Mereka berbagi tugas, memonitor setiap aktivitas Petruk, mengamati komunitas, mengkalkulasi cash-flow, meneliti dampak interaksi langsung Petruk dengan komunitasnya, mengukur perubahan sosial-ekonomis antara sebelum dan sesudah Petruk dirumahkan berbekal seabreg perangkat dan sistem untuk monitoring dan evaluasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tidak ada yang dihambat oleh Ki Lurah Petruk. Semua dipersilahkan, bahkan seandainya mau meneliti aktivitas Kyaine dalam kamarpun dipersilahkan, asal tahan, karena Petruk kalau tidur ngoroknya bikin horeg piring-cangkir di lemari dapur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Hari ke delapan, seluruh anggota tim menjadwalkan untuk wawancara akhir dengan lakone. Petruk. Sepuluh-limabelas orang duduk berkeliling mengepung Petruk yang jadi point of interest. Para tetangga duduk bersila ditikar menyaksikan kejadian luar-biasa yang baru sekali ini terjadi. Disiapkan alat rekam audio-video beserta lightingnya, lengkap lah pokoknya. Back-drop bertulisan “Perumahan Ki Lurah Petruk” terpampang di belakang tempat duduk Petruk yang jejer dengan ketua tim. Mungkin tepatnya seharusnya Pengrumahan Petruk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Pertanyaan pertama dibuka oleh ketua tim:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;... Bagaimana kyaine menyikapi penonaktifan ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Biasa saja, ndak ada masalah&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Tidak merasa ‘tidak terpakai’ ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Babar-blas &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Kenapa ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Kalaupun ndak dinon-aktifkan, saya malah akan minta untuk nonaktif kok&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;... Kok aneh? Ya terserah lah, faktanya ki lurah dinon-aktifkan to ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Bukan gitu. Faktanya adalah,  sebenarnya saya diselamatkan&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Kok ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Lha dengan gitu kan saya jadi orang mandiri seutuhnya, ndak ngrusuhi negoro&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;... Tapi kan kyaine terus tidak bisa mengabdi pada skala yang lebih tinggi dan mulia ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Ya rapopo, kan juga dengan begini saya ndak bisa korupsi lagi ...&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Kok ekstrim ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Pas kerja terpaksa jagongan, karena ndoro Janoko rapat. Pas saya mengikuti rapat para batur, saya ngrasani Werkudoro yang ganti potongan rambut. Kadang-kadang saya juga ngambil kertas yang utuh buat ngelap mejo karena mejane kotor ndak dibersihi sama OB. Pernah juga nyuruh OB ngurus sekolahnya anak saya. Daaaan lain-lainnya lagi. Wah pokoke banyak kalo mau diomongkan...&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... ???&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Sampeyan kok kamitenggengen ? Mau tanyak apa lagi ? &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Jawaban kyaine ekstrim dan vokal, menyakitkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Lho, wong saya ini ngomongke awakku dewe kok sampeyan bilang gitu ?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Itu nusuk prasa’an, kyai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Sik,sik, sik kosik. Ngko disik. Nantidulu. Sampeyan kan tanya, saya jawab. Terus-terang. Blak kotang raono sing tak tutupi. Salahnya di mana ? Kalo jawabannya seperti ini ditamggapi emosional, penelitian sampeyan nanti ndak utuh lho, presentasi sampeyan ndak komplit lho, laporan sampeyan ndak valid lho. Ini kan penelitian tentang Petruk to, bukan tentang Bagong, Gathutkoco, Sengkuni atau tentang Kolobendono to ?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... ??? !!! xzxzxz ffffff bbbbppppp ****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Apa sampeyan pengen : saya sambat minta bantuan untuk disudahi skorsingnya? Njut saya mbrebes-mili minta maaf sama juragan ? Lha tema penelitian sampeyan kan bukan itu, kok. Cobak judulnya ‘Penyesalan Petruk’ lha ya lain lagi. Betul to mas ? Cumak, dalam hal ini bagi saya tiada penyesalan dihati, kok.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tiga handicam yang diakses lewat note-book sudah menginjak angka dua gigabytes lebih, tiga orang kameramen merekam ekspresi setiap orang dengan cermat, close-up, long-shoot, berganti-ganti, terkadang juga kliwernya kalong untuk aksentuasi. Para tetangga diam tertib manggut-manggut geleng-geleng. Ada yang ndomblong ada yang takut. Untung ndak ada wartawan. Senyap. Tintrim. Semua tergambar lewat rekaman kamera. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Bagaimana ?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Anu kyai, kita sudahi dulu saja, dua minggu lagi saya kesini lagi, kita ganti topik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Lhaaaa, gitu lebih baik, tapiiii ...&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Gimana kyai ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Ini jangan tersinggung ya, betul-betul saya ini cobloko. Opo anane, ndak pake rahasiaan-rahasiaan. Gini. Seminggu rombongan sampeyan di sini ndak usah mbayar apa-apa. Semua akomodasi sampeyan di sini tanggungan saya.  Uang penelitiannya sampeyan bikin untuk yang akan datang di tempat lain saja. Pokoke kalo ke sini dua minggu lagi sampeyan tetep gratis. Toh kedatangan sampeyan juga memberi kontribusi besaaar buat membuka wawasan bagi sedulur-sedulur di sini, anak-anak di sini. Mereka jadi ngerti,  jadi punya cita-cita yang lebih tinggi, yaitu jadi orang pinter seperti sampeyan semua. Bukannya saya semugih, tapi ini adalah sebuah bentuk penghargaan saya yang tulus dari dalam nurani saya yang dalam atas jerih-payah sampeyan semua datang ke sini.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;... Wah, ya jangan nggunggung gitu to kyai, kita-kita ini apa to, ya orang-orang biasa seperti yang lain juga tooo ...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Sampeyan ini gimana, jangan merendah-rendah to, saya ini ngomong beneran, lho, kok seperti ndak kenal Petruk saja&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Nggih, nggih kyai, cuma itu ??&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Samaaaaa... itu; tulung saya dikasih copinya hasil rekaman sampeyan, anak saya mau minta duplikatnya buat bahan tesis atau opo gitu namanya, saya ndak seberapa mudheng&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;... Lho tapi penelitian ini lak batal to kyai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Tapi lak sudah diteliti dan sekarang direkam to ?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Lha baaatal, je....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Lak tentang Petruk to ?&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... Iyyyyyyaa, tapiiiii&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Yo wiiis, nek ndak boleh ya sudah&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;... *&amp;amp;^%$#@!?&gt;&lt;~`;’:”..... saya kasih tapi jangan dipublikasikan ya kyai ???!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;... Kenapa ? sampeyan takut ?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Petruk ngawur pol, ra urus, dasar udelnya bodong, wis, jan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;edan tenan kok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tahu gitu ndak usah saya tulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya embuh gimana tadi kawitannya kok jadi ndak karuwan gini ....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:11;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Inspirasi :buku Tuhan Tidak Tidur, Sukardi Rinakit – Penerbit Kompas Maret 2008)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-9208247436099206948?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/9208247436099206948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/petruk-grounded.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/9208247436099206948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/9208247436099206948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/petruk-grounded.html' title='Petruk Grounded'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-2515599210674429172</id><published>2008-04-10T13:28:00.002+07:00</published><updated>2008-04-10T13:33:42.015+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Persepsi'/><title type='text'>Air Mata</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Konon, air-mata tercipta secara amat luar-biasa untuk berbagai kepentingan. Sebagai akomodasi agar pelupuk dan bola mata tidak iritasi karena berkali-kali bergesekan karena harus berkedip, juga sebagai indikator emosi, ketika otak mendapatkan rangsangan yang memilukan hati atau sangat menggelikan. Bayangkan seandainya kita tidak memiliki air mata. Kacaulah sebagian hidup kita karena penderitaan pada indera penglihatan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu sekolah, pada pelajaran sastera Indonesia, sering kita membaca ungkapan : sudah habis air mata ini ....&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Wah, sebuah ungkapan dramatis untuk menunjukkan bahwa seseorang sudah sampai ke dasar jurang rasa derita, sehingga menangispun sudah tak mampu lagi. Sayangnya, ungkapan cantik ini tidak pernah disertai penjelasan, lantas ke mana perginya si air mata ketika dia tidak lagi dicucurkan atau dilinangkan oleh mata ? Jawabnya ternyata ditemukan di pertunjukan bioskop.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Begini ceritanya:&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Di istana diputar sebuah filem yang katanya sangat bagus. Filem genre baru. Sebuah filem yang diangkat dari sebuah novel super laris, yang royalti pengarangnya konon lebih dari dua koma delapan miliar. Begitu haibatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pada pertunjukan tersebut hadir para petinggi negri, dan singkat kata, filem tersebut mendapat pujian. Sebuah filem yang sangat bagus dan layak ditonton – tentu begitu buntutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, beberapa koran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menulis yang intinya: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kepala Negara melelehkan air mata menyaksikan filem tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Demikian menyentuh hati filem tersebut, sehingga sejenak, media dipenuhi berita tentang tumpahnya airmata keharuan karena sebuah filem.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ya, filem yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengharukan banyak orang mulai dari Kepala Negara yang mbrebes-mili sampai rakyat kebanyakan, mulai yang nangis beneran sampai yang dari rumah sudah siap-siap mau nangis karena diberitahu teman bahwa filemnya mengharukan sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Di tempat lain di negeri yang sama,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sudah berhari-hari dan bermalam-malam di sudut-sudut daripada rumah, ibu-ibu mbrebes mili sembunyi-sembunyi memprihatinkan daripada keadaan keluarganya yang mungkin akan menjadi semangkin sengsara hidupnya karena keadaan daripada ekonomi yang mangkin menghimpit. Warung nasinya yang buka pagi-siang-sore-malam di kakilima pojok kantor kecamatan sudah diobrak, mereka terpaksa pindah. Warung sekaligus tempat berteduh anak-beranak digeser ke sepetak kecil tanah yang sedikit menjorok ke dalam kuburan di samping kantor kecamatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Besok mereka mungkin tidak bisa berjualan nasi lagi, karena tak ada minyak-tanah. Habis. Kosong. Sudah tiga hari suaminya terpaksa tidak mendapat uang dari menarik becak karena harus berkeliling berburu minyak tanah, itupun tak pernah kebagian. Tidak narik becak, tidak jualan nasi, tidak ada uang, tidak ada minyak tanah. Itu artinya adalah: tidak makan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Si suami yang sangat bertanggung-jawab pun, diam-diam terlihat meneteskan mata ketika pada malam hari menyaksikan anak-bininya tidur melipat tubuh di hamparan tikar. Entah apa yang dimakan tadi sementara dia berburu minyak. Suami yang seperkasa itu menangis tanpa ada yang tahu. Menetes airmatanya deras di malam yang baru berjalan sepertiga. Dan akan lebih deras lagi nanti di tengah malam, ketika dia bersujud di pojok musala kantor kecamatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Begitu siang mulai merambat naik, rupanya airmata sudah habis karena &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;naik ke kepala, dibakar panasnya pikiran, menguap lewat banyak ubun-ubun yang terpanggang matahari di antrian minyak tanah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Lalu terdengar serapah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sudah butakah mata, tulikah telinga melihat keadaan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seperti ini ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Entah kepada siapa kekesalan itu ditujukan, dia sudah tak peduli lagi, serapahnya adalah akumulasi dari airmata yang sudah menguap, dan tak lagi bisa mengalir lewat matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Sementara,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Berjuta-bermilyar rupiah terbaca di koran mengalir kemana-mana, di ruang-ruang sejuk ber-ac, kamar-kamar hotel, tunai maupun dalam bentuk deretan angka &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;seiring dengan derasnya aliran airmata ketika semakin banyak orang menonton filem yang tiketnya berlipat harganya dari sekaleng minyak dan setabung gas elpiji.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Negeri berangkat menuju sore, mendung, redup, sebentar lagi gelap, hujan, dan banjir. Airmata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-2515599210674429172?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/2515599210674429172/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/air-mata.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2515599210674429172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/2515599210674429172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/air-mata.html' title='Air Mata'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7985490496723473341.post-5695167279060933793</id><published>2008-04-08T20:45:00.002+07:00</published><updated>2008-04-08T20:52:34.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Yang Takut Itu Sampeyan atau Saya?</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Mas Santo tiba-tiba bertanya kepada saya : Ndak merasa ada post-power syndrome ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Secara diplomatis saya jawab : Menurut penglihatan sampeyan, saya ini kelihatan seperti itu atau ndak ?&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;... Kok ndak kelihatan ya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;... Lha kok nanya ? saya balik tanya sambil ketawa di telepon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Saya tidak tahu kenapa tiba-tiba masalah ini menjadi pertanyaan teman saya tersebut, teman yang baru saya kenal tatap-muka kurang lebih dua jam, ditambah omong-omong lewat telepon sejam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dalam bayangannya, saya dulunya adalah power rangers. Orang yang punya power, orang yang bekerja dengan power, atau orang yang bekerja memanfaatkan power, atau lagi orang yang sebelumnya hidup tergantung power yang disandangnya. Sehingga ketika pensiun “biasanya” mengidap post-power syndrome.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga mas Santo melihat adanya orang-orang yang masih ngebos ketika pensiun, atau dia punya pengalaman di-bos oleh orang yang seharusnya bukan lagi bos bagi dia, atau melihat ada bekas bos yang sekarang nggak laku. Dan mereka membuat ribet suatu urusan dengan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sikapnya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali kemungkinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Mungkin juga mas Santo ingin mengkonfirmasi kebenaran &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hipotesisnya pada diri saya,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bahwa seorang yang baru saja pensiun biasanya terkena sindroma itu. Agar untuk selanjutnya beliau dapat tetap berkomunikasi dan berinteraksi dengan saya secara aman, tidak menyinggung atau tersinggung. Suatu sikap yang sangat bijak dan terus-terang. Dan saya hargai sepenuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Tapi diam-diam saya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mikir dan merenung, karena pertanyaan dari mas Santo itu. Benarkah saya TIDAK mengalami post-power syndrome ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bagian kanan hati saya mengatakan pasti tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bagian kiri, bisik-bisik bilang : iya juga sih, cuman ditutup-tutupin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bagian tengah tegas: YA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bagian atas bilang : yang perlu kan aktingnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Bagian bawah : ngapain diurus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Lha kok jadi rame begini ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Sepertinya ada hal penting yang harus dikaji dan dicermati. Pensiun bukan berarti masuk ke dalam kapsul kemudian dilempar ke ruang angkasa, mengorbit di atas sana dan putus komunikasi dengan sesama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pensiun cuma berarti putusnya hak formal atas segala kewajiban dan tanggung-jawab pada tempat kerja sebelumnya. Yang mengikuti biasanya adalah perubahan sumber dan jumlah penghasilan dari saat ketika bekerja. Selain hal-hal tersebut, semua seharusnya berjalan seperti biasa dan dikelola sebagaimana mestinya. Waktu, energi, pikiran, kesehatan, potensi dan kompetensi, network dan semuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yang tadinya bersemangat harus tetap bersemangat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yang tadinya sehat, harus tetap sehat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yang tadinya rajin, harus tetap rajin. Pintar, harus tetap pintar. Kocak, ya tetap kocak. Merdu, jangan sampai hilang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kalau bisa, yang baik-baik ditingkatkan, yang nggak baik dikurangi atau dihilangkan, yang sempat tertinggal dikejar, yang tadinya terlupakan diingat-ingat kembali dan sebagainya-dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dulunya suka tetapi nggak sempat bersepeda sehat, nah ini kesempatan, senang masak tapi terlalu capek sepulang kerja, sekarang waktunya berdapur-ria, dan seabreg keasyikan baru lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Whaduh, ternyata pertanyaan mas Santo cukup asyik untuk diseminarkan. Atau malah dijual !!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Saya malah punya dugaan, jangan-jangan ‘post-power syndrome’ adalah sejenis hantu atau monster yang populer di kalangan para calon pensiunan, sehingga malah menakutkan diri-sendiri karena percaya hal itu akan ada karena &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;: Banyak orang cerita bahwa ..... dst-dst&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Ketika masih bujang dulu, mas guru Slamet, teman kakak saya pernah punya guyonan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Barang-siapa berbicara tentang ular, berarti dia sudah menginjak ekornya ! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Jadi kalau post-power syndrome ini ibarat ular :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;yang takut itu sampeyan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;atau saya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;sih ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;Terima kasih mas Santo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7985490496723473341-5695167279060933793?l=selagibisa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://selagibisa.blogspot.com/feeds/5695167279060933793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/yang-takut-itu-sampeyan-atau-saya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5695167279060933793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7985490496723473341/posts/default/5695167279060933793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://selagibisa.blogspot.com/2008/04/yang-takut-itu-sampeyan-atau-saya.html' title='Yang Takut Itu Sampeyan atau Saya?'/><author><name>paromo suko</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04744980113539581920</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_Y9lUlZPoRMM/R42lBa8hB9I/AAAAAAAAAA8/HWQOu_zFmkE/S220/merapi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
